
Adam Prasetyo menghubungi asisten kepercayaan untuk melanjutkan pekerjaan nya. Ancaman sang ibu membuat Adam Prasetyo akhirnya menurut dan saat ini dirinya sedang berada di sebuah mall bersama Retno.
Hanya berdua seperti yang diinginkan oleh Retno. Nyonya Amalia pulang duluan karena mendapat telpon dari teman sosialitanya.
Adam Prasetyo hanya berjalan mengikuti kemana Retno menginginkan. Saat sedang berada di lantai tiga mall, tiba tiba saja Retno menghentikan langkahnya dan menatap sebuah toko tas mewah merk internasional.
"Mas Adam, kita kesitu yuk~" ajak Retno yang langsung menarik pergelangan tangan Adam Prasetyo tanpa persetujuan.
Adam hanya menghela nafasnya menahan kesal, waktunya terbuang sia sia karena menemani Retno berkeliling mall.
Tidak sekedar berkeliling dan melihat lihat , nyatanya saat hari mulai gelap beberapa paper bag sudah di tenteng.
Uang memang bukan masalah bagi seorang Adam.prasetyo yang bisnisnya sedang dipuncak kesuksesan.
Retno tampak terus tersenyum senang saat berhasil mendapatkan semua barang yang dia inginkan. Mulai dari tas , sepatu, aksesoris mewah dan lainnya.
"Anak kita nanti pasti perempuan deh mas, lihat saja dari masih janin aja ngidamnya udah barang barang feminim begini." ucap Retno polos sambil mengusap perutnya yang tampak sedikit menonjol.
"Jangan jadikan bayi tak berdosa sebagai alasan atas ambisi keinginanmu Retno. Aku sudah muak dengan drama yang kamu mainkan." Adam Prasetyo memutar bola matanya malas.
__ADS_1
"Maaf mas~" seketika raut wajah Retno menjadi melas merasa bersalah.
Tentu saja itu adalah akting~
"Kita langsung pulang. Kamu makan saja di rumah ibu nanti. Aku gak lapar ." Tolak Adam Prasetyo saat Retno ingin mampir makan malam dulu sebelum pulang.
"Iya mas gak apa apa , lain waktu kita masih bisa agendakan untuk makan malam romantis berdua saja." ucap Retno tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Dalam mimpimu !" jawab singkat Adam Prasetyo yang kemudian berjalan mendahului Retno yang membawa sendiri tas belanjaan bernilai total hampir ratusan juta.
'Terserah kamu mas, tapi yang jelas aku gak akan melewatkan kesempatan untuk kembali menghabiskan hartamu hahaha~' suara hati rubah betina yang tak punya malu.
Waktu tengah menunjuk pada pukul sepuluh malam hari.
Segelas kopi sudah tandas aku habiskan, aku memang mengkonsumsi kafein saat sedang gelisah. Kafein membuat tubuhku lebih tenang meski tidak menyelesaikan gejolak batin yang aku rasakan.
Ting tong~
Suara bell pintu berbunyi saat aku sedang menonton acara tivi, bergegas aku bangkit dari sofa untuk membukakan pintu .
__ADS_1
"Mas kok baru pulang ?" ucapku saat pertama kali melihat sosok pacar pertama ku di hadapan.
"Kangen ya ? Maaf mas tadi ada urusan mendadak jadi gak sempat ngabari kamu sayang." ucap mas Adam yang langsung saja mendorong tubuhku masuk ke dalam kamar setelah pintu apartemen tertutup.
"Wangi sekali kamu sayang, apa kamu sengaja nungguin mas heum ?" mas Adam bicara sambil mendusel ceruk leherku.
"Mas mandi dulu gih, biar aku siapin baju gantinya. Bau asem tau !" aku mendorong tubuh mas Adam yang masih gemas mendusel membuat aku kegelian.
Mas Pras menurut dan sekarang ini dia sedang mandi membersihkan diri. Aku menyiapkan pakaian ganti yang aku letakkan diatas kasur. Setelah itu aku juga menyiapkan secangkir minuman hangat sebelum tidur.
Lima belas menit kemudian, mas Pras sudah mengenakan setelan rumahan yang aku siapkan. Kini kami berdua duduk disebut sofa sambil menikmati minuman hangat.
Mas Adam banyak bertanya tentang kegiatan ku hari ini, tentu saja aku menjawab semua lancar lancar saja bahkan aku menghabiskan banyak sekali uang dari kartu platinum yang mas Pras berikan.
"Gunakan kartu itu untuk kebutuhan kamu dan anak anak sayang. isi nya tidak akan pernah habis tenang saja heumm~" lagi lagi mas Pras berucap sambil gemas memeluk tubuhku.
"Mas memang yang terbaik, makasih honey~" nada suaraku sedikit manja sambil mengecup bibirnya singkat.
Kini posisi kami sedang duduk menghadap keluar jendela, Aku duduk dipangkuan mas Pras yang melingkar kan kedua tangannya erat di perutku.
__ADS_1
Dia banyak bertanya tentang kegiatan ku tapi saat aku ganti Bertanya tentang kegiatannya, mas Pras selalu menjawab singkat.
Dalam hatiku berkata, 'oke mungkin dia belum ingin aku sepenuhnya masuk ke dalam hidup nya. Masih ada sekat yang dirahasiakan mas Pras dan aku gak mungkin memaksa dia untuk sepenuhnya jujur. Bukankah sama saja denganku yang juga menyimpan rahasia dan belum ingin aku bagi dengannya~'