
Pagi ini aku terbangun seperti biasa, pukul setengah lima pagi. Hal pertama yang aku lakukan tentu saja mengagumi pahatan karya ciptaan Tuhan yang masih terlelap di sampingku.
Mas prasetyo masih lelap sekali, tangannya hangat melingkar mendekap pinggangku. Semalaman Aku tidur nyenyak dalam dekapan usai beberapa babak percintaan kami lakukan.
Aroma wangi maskulin begitu merasuk indera penciumanku, wajah tampan nan matang saat ini tengah lelap seperti bayi.
Tanganku meraih mengusap pucuk kepala , menyingkirkan surai rambut yang menutupi kesempurnaan pria gulaku.
Gemas sekali rasanya kala aku menangkup rahang seksi yang setiap malam memberiku kepuasan tersendiri, aku menyentuh bibir penuh mas Prasetyo dengan ibu jariku.
Tidak ada maksud lain, aku hanya sedang ingin mengagumi saja saat tiba tiba,
Cup~ sebuah kecupan singkat nan dalam mendarat di bibirku.
"Mas ?" aku berkata lirih tak menduga jika bayi besarku sudah bangun.
"Morning kiss baby~" kata mas Prasetyo sambil tersenyum dan kembali mendekap erat tubuhku .
Kami kembali berpelukan dibalik selimut tebal dengan tubuh yang masih sama sama polos. Permainan cinta kami semalam memang terbilang liar dan menguras banyak tenaga sehingga pada akhinya kami sama sama malas untuk membersihkan sisa percintaan dan memilih tidur berpelukan.
"Mas nakal ahh~" aku men de sah pelan saat merasakan tangan mas Prasetyo menjamah payu dara ku.
"Sekali setelah itu kita mandi , sayang~" tiba tiba saja mas prasetyo masuk ke dalam selimut lalu memainkan kelihaiannya dalam menyusu seperti bayi.
Aku mengusap kepala, memainkan rambut mas Prasetyo yang model mandarin, sesekali dia menggigit kecil sengaja membuat tubuhku bereaksi.
Nafasku mulai tidak beraturan, adegan menyusu ini membuat sesuatu di bawah sana terasa gatal bercampur geli.
__ADS_1
Aku ingin disentuh~
Mas Pras sepertinya paham bahasa tubuhku yang terus menggelinjang sesekali membusungkan dada.
"Sshh ahh mas~" aku melenguh menikmati sapuan jemari tangan mas Pras yang kini bermain di lembah basahku.
Sisa percintaan semalam masih terasa sedikit nyeri tapi aku tidak ingin menolak momen ini, ahh~
Mmpphh~ mmpphh~ mas Prasetyo membuang selimut yang tidak berguna lagi dan mulai mencumbu bibirku.
Kami saling berciuman, mengu lum bibir satu sama lain disertai lidah yang saling membelit mengobrak abrik ke dalam mulut satu sama lain.
Tubuh atletis mas Pras mulai menindihku, aku merasakan batang tak bertulang namum tegak mulai menggesek mencari jalan untuk mengobrak abrik liang basahku.
Aku ikut bergerak membantu supaya milik mas Pras bisa masuk dengan leluasa.
Satu hentakan kuat dan, jleb~
Beberapa jam kemudian,
Anak anakku berangkat ke sekolah diantar oleh mas Pras yang sekalian pergi ke kantor.
Saat ini aku baru saja kembali dari pasar modern dan membeli beberapa bahan masakan. Aku berencana membawakan menu makan siang untuk mas Pras.
Aku memasak dengan penuh cinta, tentu saja aku ingin membuat orang yang aku sayangi juga merasakan cinta lewat masakanku hehe~
Sekitar pukul sebelas siang kini aku sudah berada di sekolah anakku , sedikit berbincang dengan bu guru yang sebelumnya sudah mengirim pesan.
__ADS_1
"Seperti apa pria yang mendatangi anak saya bu ?" tanyaku serius.
Aku sampai tunggang langgang membungkus bekal makan siang kala membaca isi pesan yang dikirim bu guru.
Bagaimana aku tidak panik jika ada orang asing yang tiba tiba mengajak anakku membeli es krim saat jam istirahat ?
"Loh , bukankah itu suami ibu Kumala Dewi ? Dia nunjukin foto keluarga tadi bu. Kami pikir yaa mungkin memang ayahnya ingin sedikit menghabiskan waktu bersama putranya. Tapi kami tidak ijinkan beliau membawa anak anak keluar sekolah kok bu." ucap bu guru Lely dengan tenang.
"Lain kali tolong jangan kasih ijin sama pria itu buat nengokin anak anak bu. Kami sudah pisah bertahun tahun, selama ini saya juga berjuang sendirian mengurus anak anak. Dia suami tapi tidak bertanggung jawab, saya mohon sekali bu jangan biarkan pria itu datang lagi." akun berucap serius dengan ekspresi tegas.
Mungkin bu Lely melihat aku seperti sedang marah, dia mengangguk dan tidak membahas pria itu lagi.
Setelah sedikit berbincang-bincang dengan bu guru aku pamit karena sebentar lagi sudah masuk jam maka siang.
Aku kan sudah berencana makan siang bareng di kantor mas Pras. Sengaja aku tidak mengirimkan pesan karena ingin memberi kejutan.
Mobil mewahku melaju dalam kecepatan sedang , pikiran ku terusik tidak bisa tenang. Sebisa mungkin aku tidak membahas kejadian tadi.
"Nanti jangan cerita apapun sama om Pras ya nak. Anggap saja ayah kalian tadi adalah orang asing. Lain kali jangan mau kalau ayah datang ke sekolah dan ngajak kalian main, mengerti kan ?"
"Mengerti bu, tapi kenapa ya bu tadi beneran ayah tapi kok beda. Ayah kelihatan lebih tua banyak rambut putihnya" ucap Rasya polos.
"memang yang tadi itu beneran ayah kita ? Arsya gak ingat wajah ayah. Arsya maunya yang jadi ayah kita itu om Pras aja." timpal Arsya yang tidak paham apa apa.
"Pokoknya pria yang tadi itu adalah orang asing, kita gak boleh deket sama orang asing. Rasya dan Arsya tahu kan banyak kejadian penculikan anak gara gara dekat sama orang asing ? "
"Iiihh serem bu. Lain kali Rasya sama Arsya janji gak bakalan mau kalau diajak pergi sama ayah tadi." ucap Rasya seakan mengerti maksud dari kalimat ku sebelum nya.
__ADS_1
"Anak pintar ~" aku tersenyum menatap keduanya yang duduk di kursi belakang.
Kembali aku memfokuskan diri melajukan mobil yang sebentar lagi tiba di perusahaan tempat mas Pras bekerja.