
"Bangun Dewi, bangun~ kita sudah sampai."
Suara seseorang terdengar mengusik diriku, aku menggeliat membuka mata, secara perlahan namun pasti aku merasa saat ini tengah berada di dalam sebuah ruangan.
Tempat asing yang tidak aku kenali, ruangan dengan minim pencahayaan, hanya terdapat beberapa perabot mirip..
Ya, ini mirip seperti sebuah kamar penginapan, hanya ada satu ranjang tempat dimana aku tertidur, sebuah meja lalu sofa dan jendela yang tertutup rapat.
Jam berapa sekarang ini~
Sembari mengumpulkan kesadaran, keping keping kejadian yang aku alami mulai menyatu dan membuat diriku tersadar sepenuhnya.
"Tolong !!!" aku tiba tiba panik turun dari ranjang berteriak minta tolong.
"Percuma sayang, jangan buang energimu karena tidak akan ada yang menolong mu haha~" suara mas Heri terdengar begitu pekat.
Ternyata ini bukan mimpi, sosok mas Heri beneran ada di dekatku, dia berdiri tepat di belakang ku yang saat ini tengah mencoba membuka pintu.
ceklek~ ceklek~
Sial, pintu terkunci~
Mas Heri mencekal tubuhku, seperti berusaha menenangkan. Aku tetap berontak kala mas Heri menyentuh lenganku karena rasanya tidak nyaman, aku tidak suka.
Meski kami masih berstatus suami istri namun aku tetap teguh meyakini jika hubungan kami telah selesai dan sekarang dia adalah orang asing.
"Apa sih yang kamu mau, mas ?? Kenapa tiba tiba muncul setelah bertahun tahun mencampakkan aku !!" aku menatap tajam ke arah Mas Heri yang justru bersikap santai sambil menyesap sebatang rokok.
"Aku kembali untuk menjemput kamu sayang, " ucap mas Heri singkat.
Mas Heri menarik tubuhku agar kembali ke atas ranjang, aku kalah tenaga dan saat ini aku memilih duduk di tepian ranjang dengan ekspresi kesal yang tidak aku tutupi.
"Diam dan jangan berisik atau aku tidak akan segan sakiti kamu Dewi." ucap dingin Mas Heri saat mencekal lenganku lebih kuat sampai aku meringis kesakitan.
__ADS_1
Uhuk~ Mas Heri kembali menyesap rokoknya lalu sengaja meniup ke arahku sampai aku terbatuk -batuk.
Asap rokok mengepul disekitar wajah Mas Heri yang tampak jauh lebih tua dari seharusnya. Penampilan mas Heri seperti tidak terawat, bulu bulu halus tumbuh menutupi rahangnya dan ahh~ aku sama sekali tidak mengenalinya lagi.
Dan , sejak kapan kamu merokok mas~
Tampilan fisik Mas Heri sekarang lebih mirip preman, sikapnya juga lebih kasar dan wajahnya tampak menyemburat tegang.
Entah apa yang membuat Mas Heri seperti ini, aku mencoba untuk tidak peduli tapi tetap saja aku terus menelisik penampilan nya.
Tidak sedikitpun aku melihat sosok mas Heri yang dulu, dulu sekali sebelum dia pergi merantau.
Dulu Mas Heri selalu menjaga pola hidup sehat, meski bekerja di lapangan tapi Mas Heri tidak merokok, 'Merokok cuma bikin boros, mending uangnya di tabung' aku masih ingat kalimat yang dia ucapkan dulu.
Sekarang semua berubah~
Tatapanku nanar menahan getir, terbesit sebuah pikiran untuk menyerang Mas Heri menggunakan benda yang aku lihat ada di meja. Setidaknya pasti akan membuat dirinya lumpuh sejenak dan aku bisa melarikan diri.
Tampak Mas Heri memainkan ponselnya, entah apa yang dia lakukan tapi aku sendiri harus memikirkan cara untuk kabur dari situasi ini.
Waktu sudah menunjukkan larut malam, bagaimana dengan Rasya dan Arsya ? apakah kedua jagoanku baik baik saja ? Semoga Mas Pras menjaga mereka sampai aku kembali.
Aku sibuk dengan pemikiran ku sendiri dan Mas Heri juga tampak sibuk dengan ponselnya.
"Iya juragan, saya akan kembali secepatnya. Saya sedang berusaha mendapatkan tiket juragan ~" ucap Mas Heri dalam sambungan telepon.
"Iya iya juragan, saya tahu. Baiklah~" Mas Heri tampak menghela nafas panjang sesaat setelah mengakhiri panggilan.
Aku hanya diam dan memilih menatap ke arah lain.
"Kita naik pesawat besok pagi, kamu ikut mas kembali ke perkebunan." ucap Mas Heri .
"Gak sudi aku mas !! Kenapa sih kamu gak biarin aku hidup tenang ? Toh aku juga sudah gak peduli kamu mau hidup seperti apa !! Aku gak mau ikut denganmu mas !" ucapku ketus.
__ADS_1
"Dan aku juga gak akan biarkan kamu kembali ke pria itu sayang. Kamu istriku, milikku. Kamu harus kembali padaku bagaimana pun caranya." ucap Mas Heri sengit.
"Cih~ omonganmu seakan akan kamu suami yang bertanggung jawab ! Padahal selama ini apa huhh ?? Aku berjuang hidup sama anak anak, kami sengsara mas !! Dan sekarang kamu tiba tiba muncul seolah kamu tidak melakukan kesalahan, cuih~" aku meludahi Mas Heri saking kesalnya.
Apa semua makhluk berjenis kelamin laki laki itu sama saja ?? Apa mereka sengaja diciptakan tanpa punya rasa bersalah dan menyesal ?? Apa mereka memang sengaja di setting untuk hanya bersikap angkuh dan maunya menang sendiri ?
Dia tidak mau di salahkan tapi juga tidak mau bertanggung jawab sama keluarga. Dia gak mikir gimana kelangsungan hidupku dan anak anak kala itu.
Aku masih sangat ingat bagaimana kala itu Mas Heri hanya memberi uang bulanan satu juta, setelah itu bulan berikutnya dia bagai lenyap di telan bumi.
Sendirian aku kelimpungan menghidupi anak anak, Mas Heri gak bisa dihubungi sejak saat itu. Aku ini tulang rusuk bukan tulang punggung, tapi dia sengaja memaksa aku menjadi tulang punggung keluarga.
Mas Heri tidak tahu bagaimana rasanya aku, aku yang setiap hari bekerja keras jadi babu . Hanya demi bisa makan sehari dua kali dengan Rasya dan Arsya.
"Mas Heri gak tahu kan ? Seperti apa aku berjuang untuk hidup saat mas menutup akses komunikasi kita ? Apa mas Heri tahu jika kala itu aku ingin memilih mati saja ketimbang hidup dalam kesulitan yang sangat jauh di bawah garis kemanusiaan?? Mas Heri lempar batu sembunyi tangan , sadar gak sih mas ?? Aku udah anggap kamu mati !!" aku berucap penuh amarah dan,
Plak~ satu tamparan keras mendarat di pipiku.
Panas sekali rasanya nyeri, tapi itu tak sebanding dengan rasa sakit hati yang dia torehkan.
"Jangan sekali kali kamu menyalahkan aku Dewi, ingat satu hal. Aku tidak pernah menceraikan kamu, itu artinya kamu masih milikku. Tapi apa ?? Kamu rela naik ranjang bersama pria lain demi uang , kamu wanita murahan Dewi !!"
Plak~ satu lagi tamparan keras di pipiku yang satunya.
Aku menatap mas Heri dengan nanar, kedua netraku panas ingin mengeluarkan bulir air mata. Seumur hidup baru sekali ini aku ditampar.
"Kamu pria brengsek mas !!"
"Dan kamu pe la cur tak tahu diri !!"
Netra kami saling beradu dengan sorot penuh amarah dan emosi. Mengingat masa lalu memang selalu membuat aku menjadi lebih emosional.
Di cap sebagai wanita pe la cur oleh seorang pria berlabel suami tak bertanggung jawab, aku memang salah tapi semua ini karena dia juga kan ??!!!
__ADS_1