
Flashback selesai.
"Siapa ya ?" aku bertanya sopan usai berhasil mengendalikan rasa terkejut ku.
Pria itu melangkah semakin mendekat hingga jarak kami saling berdiri berhadapan.
Aku menelisik sorot mata itu, pria dengan penampilan sedikit urakan, tidak rapih dan terkesan seperti preman.
"Ini aku, suami kamu~" ucap pria itu sambil tersenyum miring lalu ingin memelukku.
"Suami ?" aku menahan pria itu yang ingin memelukku, aku mundur satu langkah lalu kembali mengamati sambil mengerutkan kening.
"Iya Kumala Dewi, aku adalah suami kamu, Heri Santoso. Ingat gak ?"
"Mas Heri ?" aku berusaha mencari memori di dalam pikiran ku tentang pria itu.
Netra kami saling beradu pandang, cukup lama hingga , aku menyerah dan menggeleng pelan. Tidak sedikit pun aku ingat akan pria yang mengaku sebagai suamiku.
"Aku tahu kamu sedang tidak baik baik saja , istriku. Ketahui lah satu hal, kita ini suami istri. Apa kamu mau bukti heum ?" pria itu masih tersenyum.
Senyum yang seharusnya menawan tapi entah kenapa aku justru merasa senyum nya tidak tulus.
Aku melihat bagaimana saat pria itu mengeluarkan selembar foto dari dalam dompet nya. Dengan gerakan pelan dia memperlihatkan sebuah foto yang berisi sepasang suami istri dalam balutan busana pengantin khas Jawa.
Aku mengenali sosok wanita itu adalah diriku, namun kenapa otakku masih sulit mengingat jika benar dia adalah suamiku ?
Bagaimana ini, apa aku harus menerima pria asing bernama Heri Santoso ini ?
"Kamu suamiku ? Apa benar begitu ? Tapi kenapa aku sama sekali tidak mengingatmu ? Apa kamu bisa menceritakan lebih banyak hal tentang hubungan pernikahan kita, mas Heri ?"
"Tentu saja, tujuanku mencari kamu adalah karena aku ingin bawa kamu pulang ke Jawa. Sebelum nya kita ini dalam perjalanan liburan, namun entah bagaimana seseorang berhasil menculik kamu saat aku lengah. Aku sampai menghubungi kantor polisi untuk bantuan. Syukurlah kamu selamat. Tidak apa jika saat ini kamu belum ingat, kita akan jalani bersama sayang~"
Pria itu berucap sambil menatap aku intens, aku berusaha mencari kebohongan namun nihil.
Setiap kata yang dia ucapkan terdengar begitu tulus.
"Aku diculik ?" aku sampai menunjuk hidungku sendiri.
Untuk apa seseorang menculik aku ?
"Iya sayang , ada orang yang sangat tergila gila padamu sampai membuntuti acara liburan kita. Maaf karena aku lengah menjagamu sampai kamu harus terluka dan hilang ingatan."
"Ada banyak hal yang ingin aku ketahui, maaf jika sebelumnya aku meragukan kamu mas. Sekarang sebaiknya kita temui dokter dulu."
Aku tidak bisa mengingat apapun, tapi pria itu punya bukti kuat jika kami adalah pasangan suami istri.
Mungkin sebaiknya untuk saat ini aku percaya saja meski dalam hatiku merasa masih ada yang janggal.
Mas Heri dan aku menunggu dokter di ruangan. Dia terus menggenggam tanganku seolah berusaha menyalurkan kekuatan.
__ADS_1
"Apapun kata dokter, kita tetap akan pulang ke Jawa. Kita akan melanjutkan hidup dengan baik sayang, percayalah."
"Jika itu yang terbaik maka aku akan menurut mas, aku harap mas Heri terus bersabar sampai ingatanku pulih dan kondisi ku kembali normal seperti sedia kala."
Aku tersenyum tipis, menatap mas Heri yang tampak begitu perhatian meski genggaman tangannya terasa agak dingin.
Akhirnya kami berhasil mendapatkan ijin Kepulangan dari pihak rumah sakit dan tim dokter yang menangani aku selama di sini.
Aku berpamitan dengan Ina, satu satunya temanku yang baik hati dan selalu ceria.
Aku mengucapkan banyak banyak terima kasih kepada tim medis yang sudah mengijinkan aku tinggal di rumah sakit sampai suami menemukan aku.
Mas Heri tidak mau menunda lebih lama, malam itu usai pemeriksaan terakhir yang dilakukan dokter padaku kami pamit.
Mas Heri menyimpan semua resep obat yang harus rutin aku konsumsi sampai sembuh. Dia juga membantu membawakan semua barang barang ku.
Manis sekali sikapnya, seperti suami yang sangat bertanggung jawab pada istri.
Kami mendapat tiket kepulangan di pagi hari, malam ini mas Heri mengajak aku menginap di salah satu hotel dekat bandara.
"Penerbangan kita pagi, jadi kita menginap dulu disini agar tidak terlambat check in."
"Iya mas.."
Mas Heri terus menggandeng tanganku erat sekali , seperti takut kehilangan.
Langkah kakiku berusaha mengimbangi langkah mas Heri yang lebih lebar , hingga kami berada disebuah kamar saat ini.
Kami tidur seranjang berdua ,Mas Heri memeluk tubuhku dan aku tidak menolak meski terasa sesak di dalam diriku.
Entahlah, kenapa seharusnya aku nyaman justru merasa serba tidak enak begini.
Saat aku hampir terlelap dalam tidur ku tiba tiba, aku merasa tangan Mas Heri mengusap punggung ku lalu ,
Jemari tangan Mas Heri mengusap lembut bibirku dan hal itu membuat aku kembali membuka mata.
"Kenapa mas ?"
"Mas cuma kangen sayang~"
Netra kami saling bertumpu, untuk beberapa saat situasi menjadi hening .
Pandangan mas Heri terus terarah padaku sambil sedikit mengangkat dagu ku agar lebih menatapnya.
Debaran itu kian mengusik, aku bisa merasakan jantung mas Heri berdegup lebih kencang.
Cup~ satu kecupan mendarat di pucuk kepalaku .
Lalu semakin turun bibir mas Heri menciumi setiap jengkal permukaan wajahku sampai berakhir mengu lum bibirku dengan lembut.
__ADS_1
Tubuhku merasa sesak tapi aku tidak mungkin menolak, dia suamiku.
Aku mulai membalas ciuman itu meski kaku dan tidak seagresif mas Heri.
Hmmpphh~ hhmmpphh~
Pertukaran saliva kami semakin intens, bibir itu menyesap bibirku begitu dalam hingga aku terbuai.
Ciuman yang semakin terasa panas ditambah gerakan tangan mas Heri yang mulai menyusup ke dalam pakaian yang aku kenakan.
Sentuhan itu semakin kemana mana, seiring ciuman kami yang semakin dalam .
Sshh ahh~
satu de sa han lolos begitu saja dari mulut ku saat tangan Mas Heri meremas gundukan kenyal yang mulai tegang.
Lama tak disentuh membuat aku mulai menginginkan hal yang sama, aku membusungkan dada dalam dekapan mas Heri.
Tubuhku beraksi, gatal dan geli bersamaan.
"Mas kangen sayang, bolehkan ?" tanya mas Heri meminta persetujuan.
"Boleh, kan kamu suamiku mas. Tapi lakukan dengan pelan oke ?"
Malam ini aku merelakan tubuhku di jamah oleh suamiku,
Rasa ingin melayang saat sentuhan Mas Heri mulai mencapai bagian sensitif ku.
Jemari mas Heri bermain di bawah sana, sengaja memancing hasrat bercinta yang lebih besar.
"Buka sedikit sayang~"
Bisik mas Heri saat dia membuka dua kaki ku lebih lebar.
Awshh mas~ aku merinding saat mas Heri meniup bagian yang sudah basah itu.
Aku hanya bisa menggelinjang akan sensasi kenikmatan rang sa ngan mas Heri.
Entah sudah berapa menit berlalu namun Mas Heri masih belum selesai menikmati liang surgawi ku.
Aku sampai menggoyang pinggulku karena sentuhan nya benar benar gila
Ahh mas iya disitu mmpphh~
Aku menggigit bibir bawahku kala Mas Heri menggerakkan ujung lidahnya semakin cepat memainkan kli to ris ku .
Ditambah tusukan dua jari yang maju mundur memperlicin jalan bercinta.
Tubuhku bergetar, aku tidak tahan lagi saat merasakan mulut Mas Heri menyesap bagian itu.
__ADS_1
Ngilu bercampur geli, benar benar membuat aku ingin dimasuki ahh mas~