
Aku gegas berlari kecil menuju lift. Aku menangis saat berada di dalam lift yang membawaku turun ke lantai satu. Begitu pintu lift terbuka segera aku mencari toilet, ya setidaknya aku harus merapikan penampilan ku dulu sebelum mencari anak anak.
Beruntung situasi sedang lengah, aku tidak berpas pasan dengan karyawan lain.
Begitu aku masuk ke dalam toilet, aku menatap wajahku di dalam cermin wastafel. Mataku tidak bengkak, hanya sedikit merah. Aku membasuh wajahku dengan air , kemudian merapikan riasan make up agar tampak seperti sebelumnya.
Huft~
Berkali kali aku menarik dan menghembuskan nafas berusaha menenangkan diri. Sekitar Sepuluh menit aku berada di dalam toilet hingga,
Baru saja kakiku melangkah keluar dari toilet saat tiba tiba seseorang menarik kasar tubuhku hingga membentur dinding.
"Apa yang kamu lakukan !!" aku berontak ingin segera kabur saat menoleh ke arah orang tersebut yang tidak lain adalah mas Heri.
"Diam dan ikut aku, atau pisau ini tidak segan untuk bersarang di tubuhmu !" mas Heri mengarahkan pisau tepat di bagian perut ku.
"Bagaimana mas Heri bisa masuk ?" aku bertanya dengan bibir gemetar, bagaimana bisa mas Heri masuk ke dalam gedung perusahaan tanpa kartu akses ??
"Diam dan ikuti aku, ayo." ucap Mas Heri yang tidak menjawab pertanyaan ku tapi justru menekan ujung pisau tepat disisi perutku bagian samping.
Kebetulan lorong sepi karena semua karyawan sedang sibuk bekerja, saat ini waktu menunjukkan sore hari, Satu jam lagi sebelum jam pulang kantor.
Mas Heri bersikap biasa saat menuntunku berjalan keluar dari loby gedung perusahaan. Dalam hatiku ingin sekali melawan tapi membayangkan pisau itu bersarang di tubuhku membuat nyaliku menciut.
__ADS_1
"Dimana anak anak kita sayang ?" ucap mas Heri pelan berbisik.
"Bukan urusan kamu mas !! Sampai kiamat pun aku gak akan ijinkan kamu menemui mereka !!" Aku menjawab ketus membuang muka.
"Kamu semakin cantik saat marah, aku suka~" ucap mas Heri sambil tersenyum menyeringai.
Mas Heri membawa kami ke arah parkiran, dengan gesit mas Heri mengambil kunci mobil dari dalam tasku.
"Masuk, diam dan jangan melawan atau aku bunuh kamu !" ancam mas Heri begitu aku duduk di kursi depan.
Mas Heri membawa mobilku pergi menjauh dari lokasi perusahaan. Aku tidak tahu mobil mengarah kemana tapi, jujur saja perasaan ku tidak enak.
"Mas mau bawa aku kemana mas ?? Apa sih yang sebenarnya mas Heri inginkan ?"
"Sudah bertahun tahun mas, kamu tidak bertanggung jawab sebagai suami dan ayah. Berani sekali sekarang kamu muncul yang ingin aku dan anak anak kembali padamu !"
"Diamlah Kumala Dewi !!" mas Heri menengadahkan pisau nya lagi, meminta aku agar tetap diam.
"Brengsek !" aku bersandar kasar pada kursi, sejenak aku memejamkan mata memikirkan Rasya dan Arsya.
Semoga pengawal mas Pras menjaga mereka..
Mobil mewahku melaju semakin jauh dari ibukota, kami mengarah ke luar kota entah mau dibawa kemana aku.
__ADS_1
Mas Heri mengendarai mobil dalam kecepatan yang tinggi, seandainya dia melajukan mobilku dalam kecepatan sedang pasti aku berani meloncat keluar.
Sekedar memar dan lecet tidak masalah asal bisa terlepas dari mas Heri. Sayangnya aku tidak bisa, kecepatan mas Heri dalam menyetir mobil terlalu tinggi. Jika aku melompat paksa pasti bakal parah kondisiku .
Bisa bisa aku mati~
Sementara itu di tempat lain..
Sudah dua jam berlalu sejak kepergian Kumala Dewi yang tiba-tiba. Adam Prasetyo tidak bisa menghubungi ponsel Kumala Dewi , Adam Prasetyo hanya menduga jika kekasih gelapnya itu sedang marah.
'Kamu salah paham sayang, aku harus membujukmu dengan manis setelah pulang dari kantor ' gumam Adam Prasetyo.
Baru saja dirinya membatin sang kekasih gelap, tiba tiba terdengar suara anak kecil masuk ke dalam ruangannya.
Ya, anak kecil itu adalah Rasya dan Arsya. Mereka sudah puas bermain dan makan es krim, kini mereka mencari keberanian ibu mereka.
"Loh, om kira kalian sudah pulang sama ibu kalian nak." suara Adam Prasetyo terdengar seperti terkejut.
"Kami gak ketemu ibu om, apa ibu sudah pulang duluan ya om?"
Sepersekian detik kemudian Adam prasetyo justru tersenyum teduh, menenangkan dua calon anak tirinya dengan kalimat bijak ,
"Yaudah, nanti kalian pulang bareng om ya. Kita kasih kejutan buat ibu kalian karena tadi dia bilang sedang tidak enak badan, bagaimana ?"
__ADS_1