
Sebelumnya..
Perjalanan berjam jam yang melelahkan, setelah pesawat landing di bandara salah satu kota besar di pulau Kalimantan, kami masih harus naik transportasi darat yang menuju ke sebuah tempat.
Mirip pelosok desa , sangat kontras dengan daerah perkotaan yang cenderung modern. Tempat dimana Mas Heri mengajakku ini sangat jauh ke pedalaman, bahkan setelah turun dari alat transportasi darat mirip angkutan umum, Mas Heri dan aku masih harus berjalan kaki sekitar beberapa ratus meter.
"Mas gila " aku mengumpat kesal karena Mas Heri sedikit pun tidak mengajak aku beristirahat meski sejenak. Perutku lapar , tubuhku gemetar dan juga haus.
"Sedikit lagi sampai, diam lah sayang." ucap Mas Heri yang berjalan di depanku.
Dengan pergelangan kami yang terborgol mau tidak mau aku harus terus melangkah mengikuti Mas Heri.
Langkahku sedikit di seret, padahal sudah aku bilang capek, aku butuh istirahat sebentar. Tapi Mas Heri seperti tidak mendengarkan, apa dia sengaja~
Memasuki sebuah perkampungan, eh entah apa ini bisa di sebut kampung jika jarak satu rumah dengan rumah lainnya berjauhan.
Setiap rumah berbentuk bangunan kuno terbuat dari bahan kayu, di sekelilingnya banyak pohon mirip hutan kecil, jarak satu rumah dengan rumah lainnya bisa belasan meter bahkan puluhan.
Jalan setapak yang aku dan mas Heri lewati masih berupa tanah, ya tempat ini jauh lebih primitif dibanding perkampungan yang ada di Jawa.
Semakin jauh kami masuk ke perkampungan, aku semakin mengerutkan kening. Ternyata Mas Heri tidak tinggal di perkampungan tetapi di mess khusus pegawai perkebunan kelapa sawit.
Lokasi Mess sendiri lumayan jauh dari perkampungan yang tadi aku lewati.
Sesampai nya di mess yang ditinggali Mas Heri waktu sudah menunjukan sore hampir malam.
Alat penerangan hanya menyala di beberapa sudut Mess, ini seperti aku sedang berada di alam rimba.
Sepi , sunyi dan hanya terdengar suara binatang malam.
Krriikkk~ kkrriikkk~ kkrriikkk~
Setelah melewati gerbang dengan penjagaan beberapa orang security, kami tiba di Mess tempat tinggal Mas Heri selama ini .
Ceklek~ begitu kami berada di dalam ruangan Mas Heri menyeletuk,
__ADS_1
"Kita akan tinggal disini, biasakan dirimu. Listrik hanya akan menyala saat pukul 17.00 sampai pukul 05.00 setiap harinya. Kamu akan kembali ke fungsi asalmu yaitu istriku, aku ingin kamu persiapkan segala kebutuhan ku mulai dari makanan dan pakaian dan kamu juga bertanggung jawab atas kebersihan rumah ini." ucap Mas Heri enteng sambil merogoh saku celana untuk mengambil kunci borgol.
Fyuhh~ akhirnya borgol terlepas.
Aku mengusap pergelangan tanganku yang memerah, sedikit terasa nyeri seperti ruam.
"Kamu bawa aku cuma untuk kamu jadikan babu mas, tega sekali !" aku menatap tidak suka pada Mas Heri.
Apa apaan ini, dia ingin aku mengurus hidupnya di perantauan ??!! Enak saja cih~
Aku tidak bisa begini, tempat ini jauh lebih ketinggalan jaman dibanding kampung asalku. Bagaimana bisa aku bertahan jika terlalu primitif begini ??
"Aku lebih rela kamu seperti babu mengurus suami sendiri, ketimbang berlagak seperti ratu tapi melayani ranjang pria lain. Aku peringatkan kamu Kumala Dewi, Mess ini ada penjagaan ketat yang mana tidak ada seorang pun yang bebas keluar masuk . Aku sudah lapor pada security untuk tidak mengijinkan kamu melangkah melewati gerbang apapun alasannya. Hahaha~" Mas Heri tertawa congak, seakan dirinya begitu puas telah berhasil menyeretku kembali ke dunianya.
"Kamu lebih brengsek dari bajingan manapun mas !! Kamu jahat sekali !!" aku mendengus kesal.
Kenapa seolah dia tahu jika aku berencana kabur dari tempat ini ? Kenapa seolah olah Mas Heri sudah mengatur segalanya agar aku terjebak dan tidak bisa bebas ?
Ini sangat tidak adil !!!
Kami berdua selesai makan malam, tadi Mas Heri memintaku memasak yang praktis saja karena sudah terlalu capek di perjalanan.
Makan malam dengan mie instan rebus, hanya mie kuah tanpa embel embel nasi , sayur, apalagi telur.
Sebuah ranjang tempat kami berada sekarang ini hanya berukuran kecil, mana mungkin aku bisa tidur berdesakan dengan Mas Heri ?
Pintu kamar dikunci oleh Mas Heri, entah di mana dia menyimpan kunci tersebut. Aku masih duduk ditepi ranjang, aku belum mandi dan ganti baju.
Rasa lengket ditubuh membuat aku tidak nyaman, biasanya aku selalu membersihkan diri sebelum tidur. Berendam air hangat sambil sesekali waktu berendam bersama mas Adam prasetyo. Melakukan aktivitas yang sama sama kami sukai, begitu romantis nan manis.
Ah memori itu begitu indah~
Bagaimana kondisi pria gulaku saat ini ? Apa mas Pras juga merindukan aku ?
Seketika aku menitikkan air mata saat mengingat tiga pria yang jadi masa depanku, Rasya.. Arysa.. Mas Adam..
__ADS_1
Semoga kalian baik baik saja ya nak~ Kalian dua jagoan ibu yang kuat dan pintar.
Ibu kangen kalian tapi entah kapan kita bisa berkumpul lagi dan hidup bahagia bersama ?
Ibu tahu kalian pasti juga kangen sama ibu, anak anakku.
Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat .
Seminggu kemudian,
Sudah seminggu aku berada di Mess perantauan mirip penjara.
"Dewi !! Mana kopi aku !!" seru suara pria yang tidak lain adalah Mas Heri.
Padahal aku sudah siapkan kopi sejak setengah jam yang lalu, tapi dasar Mas Heri malas saja. Dia terus memanggil dari arah ruang depan, sedangkan aku saat ini masih di dapur menyiapkan masakan untuk sarapan.
"Kopi tinggal ambil di belakang aja apa susah nya ! Mas Heri kelewatan malesnya ih." aku meletakkan secangkir kopi di atas meja tepat di samping mas Heri yang sedang membaca koran.
"Kok udah dingin sih , aku mau kopi panas !! Bikin yang baru sana !! Suami mau berangkat kerja kok malah dibikin senewen sama pelayanan kamu." ucap Mas Heri sedikit membentak tanpa beranjak dari membaca koran.
What the fu*ck !!! Ingin aku cekik dia sekarang juga.
"Mas , aku sudah nurut semua yang kamu mau. Setidaknya mas Heri bisa mikir kan, aku sibuk nyiapin sarapan di belakang. Apa susah nya ambil sendiri kopinya. Atau kalau gak mau diminum ya mas Heri bikin sendiri aja sana !" aku berucap ketus enggan membuatkan kopi yang baru.
"Berani sekali kamu melawan suami , dasar istri bego gak tahu diri !!" umpat kasar Mas Heri.
"Terserah mas Heri , aku malas debat pagi pagi !"
Dengan cepat aku melangkah masuk kembali ke belakang, masakanku hampir saja gosong kalau aku terus perang mulut sama Mas Heri.
Hiks~ aku tidak kuat untuk menahan lebih lama air mata ini.
Baru seminggu kami tinggal bersama, tapi Mas Heri bukannya memperbaiki sikap untuk meluluhkan hatiku agar mau rujuk dengan nya.
Malah dia semakin menjadi jadi , memperlakukan aku layaknya babu .
__ADS_1
Mending jadi babu beneran ada duitnya. Lah ini ??