Imperfect Wife

Imperfect Wife
BAB 43 PULANG KAMPUNG


__ADS_3

Pesawat kami mendarat dengan aman di bandara ibu kota propinsi, aku dan suamiku turun bersama para penumpang lain dan saat ini kami tengah mengantri di tempat pengambilan koper.


Mas Heri terus menggenggam tanganku, genggaman tangan yang masih terasa dingin seperti seseorang yang sedang gugup.


"Mas kenapa ?" aku bertanya lirih, tapi mas Heri hanya menggeleng kepala dan berkata, "Tidak apa apa."


Usai mendapatkan tas koper, kami melangkah keluar dari bandara. Sekelebat bayangan kembali mengusik otakku.


Awshh~ aku meringis pelan menahan sakit saat melihat tangan kami yang bergandengan.


Gambaran akan situasi yang hampir sama, dimana tangan kami saling bertautan tetapi, awsshh~


Seketika bagai tertancap satu paku tepat di memory otakku, aku berkeringat dingin saat melihat gambaran itu lagi.


Kenapa aku melihat borgol ? Dan kenapa Mas Heri tampak tidak sebaik ini dalam adegan itu ? Apakah yang muncul adalah bagian dari memori yang terlupakan? Atau hanya ilusi semata ?


"Kenapa berhenti, ayo kita harus naik bus untuk pulang ke rumah." ucap Mas Heri yang langkahnya sedikit tertahan karena aku berhenti mendadak.


"Mas, apa kita pernah seperti ini sebelumnya ? Aku merasa pernah dalam situasi mirip ini dimana mas narik tangan aku secara paksa . Bahkan tangan kita saling terborgol mas. Aku gak bisa mengingat dengan pasti, aku.. Aku.. apa aku berhalusinasi ? Apa mas Heri pernah berbuat jahat padaku, mas ?"


Tiba tiba saja aku melontarkan banyak pertanyaan yang membuat mas Heri tampak mengeraskan rahang.


"Sudah pasti itu hanyalah ilusi sayang, sedikit pun mas tidak pernah berbuat kasar sama kamu. Jika ilusi buruk itu kembali muncul kamu harus tolak, lawan agar tidak merubah perasaan kamu ke mas, mengerti kan ? Mas sangat cinta sama kamu sayang."


Mas Heri mencium keningku , berusaha menenangkan kondisi hatiku yang tampak meragu.


"Baik mas, seperti nya aku gak boleh telat minum obat biar ingatanku pulih seutuhnya. Maaf ya sudah membuat mas tersinggung."

__ADS_1


Aku tersenyum meminta maaf dan mas Heri mengangguk memaafkan. Selanjutnya kami berjalan menuju sebuah halte yang akan mengantar kami ke terminal.


Saat tiba di terminal, mas Heri tampak memesan tiket lalu kami masuk ke dalam bus , kami menunggu keberangkatan sesuai jadwal maskapai.


Aku duduk bersandar sambil menatap ke luar jendela, aku merasa seperti seorang asing yang tersesat di lingkungan yang lebih asing.


Dalam hati kecilku berkata, ini bukan seperti yang seharusnya aku rasakan. Perasaan ini, sungguh membuat hati kecilku gelisah.


Anganku melamun entah kenapa, kenapa sampai detik ini aku belum mendapatkan ingatanku seutuhnya~


Mas Heri tampak bercengkerama dengan seorang petugas terminal diluar sana, mereka menikmati merokok sembari menunggu kursi penumpang terisi.


Kepulan asap rokok mengiringi percakapan mereka,


Aku tidak suka bau rokok, aku menolak saat tadi mas Heri mengajakku menunggu di luar. Aku lebih nyaman berada di dalam bus ,


Kenapa aku merasa tenang saat berjauhan dengan mas Heri ? Apakah perasaan ini juga salah ?


Ayolah Kumala Dewi, kamu harus bersikap baik layaknya seorang istri. Biar bagaimanapun dia adalah suamimu. Kamu harus mengabdikan jiwa dan ragamu dalam kesetiaan sampai mau memisahkan.


Aku berusaha menerima segala perasaan yang terasa janggal, aku harus memilih untuk tetap berada di jalur kesetiaan seorang istri.


Huft~ otakku seperti sedang berperang dengan batinku.


Aku membuang nafas kasar, seiring perasaan janggal yang harus disingkirkan.


Aku memilih untuk memejamkan mata, sambil menunggu mas Heri kembali naik ke dalam bus.

__ADS_1


Entah sudah berapa lama perjalanan kami, aku tertidur lama sekali ternyata, mas Heri menepuk pelan pundakku dan berkata jika kami sudah sampai.


"Kamu pasti lelah, sebentar lagi kita tiba di rumah , ayo sayang ~" ucap mas Heri membangunkan aku dari tidur.


"Iya mas, aku pingin lekas rebahan di kasur. Capek sekali mas." aku mengumpulkan kesadaran lalu mengikuti mas Heri yang berjalan di depanku sambil membawa koper kami.


Begitu turun dari bus, kami masih harus naik becak untuk sampai di rumah.


"Rumah kita pelosok sekali ya mas, tapi suasana asri, sejuk. Aku suka." aku tersenyum menatap mas Heri yang juga tersenyum padaku.


"Iya sayang, ini rumah kita yang baru. Hadiah pernikahan dari mas buat kamu."


Aku tersenyum tersipu malu, saat mas Heri mengusap pipiku pelan.


Sekitar lima belas menit becak berhenti di depan sebuah rumah, bukan rumah mewah seperti yang aku lihat di kota.


Melainkan rumah sederhana, tidak lebih bagus dari rumah di sekitarnya.


"Ini rumah kita, mas ?" aku bertanya sedikit terheran.


Sedemikian sulit kah kondisi ekonomi keluarga kami , sampai rumah kami harus tampak begitu usang ?


Bilik terbuat dari kayu, bahkan alas rumah masih plesteran sebagian. Benar benar rumah kampung.


Aku melangkah masuk ke dalam rumah, Sedikit merasa miris akan kondisi di dalam rumah yang jauh dari kata layak huni.


"Maaf, mas baru bisa beli rumah seperti ini. Nanti kita bangun supaya lebih bagus, mas akan bekerja lebih giat sayang~" ucap mas Heri yang kemudian berjalan ke arah sebuah kamar untuk meletakkan koper.

__ADS_1


"Iyas, semoga saja kita bisa punya rejeki lebih buat benerin rumah ini , mas." aku berucap lirih.


Miris sekali ternyata kondisi kami masih jauh dari kata layak. Huft~


__ADS_2