Isekai: Putri Marquess Jadi Pengusaha Tempe

Isekai: Putri Marquess Jadi Pengusaha Tempe
Bab 24. Botol Minum


__ADS_3

"Baiklah! Akhirnya tiba juga hari ini. Selamat pagi semuanya!"


"Pagi, Nona Elona!"


"Salam hormat, Nona Elona Locke!!"


Elona menyapa para pekerja yang telah berkumpul bersamanya pagi-pagi sekali di lahan bekas galian yang sedang digarapnya, bahkan sebelum matahari terbit. Elona sudah mempersiapkan dirinya agar bangun tidak terlambat pagi ini dan langsung menuju ke lokasi.


Tentunya hal ini membuat takjub para pekerja, yang memang adalah warga biasa dengan status sosial rendah. Mereka tidak menyangka bahwa seorang bangsawan seperti Elona mau untuk bangun begitu pagi supaya bisa memberikan instruksi dan memimpin mereka dalam pertanian ini.


"Jadi, hari ini kita akan mulai menanam benih kedelai. Aku tahu sebagian besar dari kalian sudah pernah menanam tumbuhan tersebut. Tetapi sekarang, aku ingin mencocokkan pemikiranku dengan kalian tentang cara menanam tumbuhan kedelai supaya tidak terjadi kesalahpahaman."


"Baik, Nona!" warga serempak menjawab pembukaan instruksi dari Elona. Gadis itu lalu meminta Ryndall untuk menyiapkan sebuah papan tulis dan kapur supaya Elona bisa menggambarkan ilustrasi sederhana tumbuhan kedelai dan informasi lainnya.


"Satu tumbuhan kedelai akan kita beri jarak 40 cm dikali 25 cm. Jadi, satu hektarnya kita buat sebanyak 251 baris tanaman. Dan di dalam tiap barisnya ada 401 lubang tanam." jelas Elona panjang lebar, sembari terus menuliskan informasi di papan tulis.


"Nona, saya ingin bertanya." seorang warga mengacungkan tangan. Elona pun mempersilahkan.


"Kenapa jarak tanamnya harus ditentukan sampai seperti itu? Sepanjang kami menjadi petani, kami tidak pernah mengatur jarak tanam kami dengan tepat persentimeter seperti yang Nona katakan tadi."


"Oh, itu karena supaya setiap tumbuhan yang kita tanam mendapatkan unsur hara dan sinar matahari yang cukup sama banyaknya. Kalau tidak diberi jarak yang sama, nanti salah satunya bisa tumbuh lebih kecil atau lebih besar dibanding yang lain."


"Ooh..." para warga mengangguk-angguk tanda mengerti.


Elona lalu memberikan penjelasan lebih lanjut bahwa satu lubang tanam diisi dengan dua sampai tiga benih kedelai saja. Tetapi sebelum melakukan semua itu, gadis itu menyarankan untuk melakukan pemupukan terhadap tanahnya terlebih dahulu, menggunakan daun-daun kering dari tanaman yang gagal panen sebelumnya.


Elona menunjukkan karung-karung berisi daun-daun kering yang telah diubah menjadi pupuk kompos, yang ia bawa dari kediaman Locke menggunakan gerobak sapi. Dengan bantuan larutan nasi aking dan air sebagai pengurai sebagai pelembab, Elona memasukkan daun-daun kering tersebut ke dalam karung selama tiga minggu. Setelah tiga minggu, jadilah pupuk kompos yang berbentuk seperti pasir hitam, yang sangat baik bagi tanaman.


"Oh, aku tidak pernah tahu kalau nasi yang sudah mengeras bisa jadi pupuk. Selama ini kuberikan pada ternakku saja!"


"Iya, ya... Nona Elona hebat ya, bisa tahu hal ini..."


Warga mulai sibuk membicarakan cara baru yang Elona perkenalkan dalam membuat pupuk.


"Ehem!" Elona berdeham guna menghentikan bisik-bisik warga. Gadis itu sedikit takut kalau semakin orang membicarakan ilmu pertanian bumi yang diterapkannya, maka akan semakin ketahuan kalau dia bukanlah penghuni asli dunia fantasi tempatnya berada sekarang.


"Err... yuk, kita mulai saja!" ucap Elona terburu-buru mengalihkan perhatian mereka.


Proses pengerjaan pun dimulai. Elona berharap proses penanaman benih berjalan lancar, hingga satu hektar bisa dikerjakan dalam sehari. Jadi total butuh empat hari saja untuk mengerjakan lahan tersebut.


*****


Elona melihat Art dari kejauhan, sedang ikut mengerjakan lahan bersama dengan sepuluh orang teman yang dibawa oleh pemuda itu. Elona sebenarnya cukup heran melihat tingkah dari lelaki itu. Padahal, dia bukan warga Armelin, tapi mau saja membantunya mengerjakan lahan di wilayah ini. Bahkan, membawa sepuluh orang teman dengan stamina besar yang sangat bisa diandalkan.


Art itu... dia belum pernah bercerita tentang dirinya. Aku bahkan tidak tahu dia tinggal dimana. Apa dia benar-benar karakter figuran ya, di webtoon Cerita Hati itu?

__ADS_1


Elona mengambil sebotol minuman dan berjalan menghampiri lelaki tersebut. Terlihat Art sedang mengobrol dengan teman-temannya sembari menanam benih.


"Art..."


Yang dipanggil, dengan kecepatan sepersekian detik, menoleh ke arah sumber suara. Yang tidak diketahui Elona adalah, bahwa suaranya dapat membuat lelaki itu menahan nafas saking senangnya.


"I-iya?"


"Ini minum dulu." Elona menyodorkan minuman tersebut.


Art menerima botol flask yang terbuat dari kulit tersebut dan meminum isinya. Setelah dirasa cukup, ia mengembalikannya pada Elona.


"Terima kasih..."


"Sama-sama! Kalian ada yang mau juga?" Elona menawarkan minum seraya mengedarkan pandangan ke arah teman-teman Art.


Satu di antara mereka terlihat senang, lalu menghampiri Elona dan ingin mengambil botol minuman tersebut dari tangan gadis itu.


"Terima kasih, Nona! Kebetulan aku juga sedang sangat ha-"


"Aku masih haus! Ini untukku saja!" dengan cepat Art menyela perkataan temannya dan mengambil alih botol yang sudah hampir Elona berikan ke yang lain.


Teman Art melongo saat kehilangan botolnya. Ia menatap Art. Namun pemuda itu memberikan isyarat dengan pelototan matanya, yang membuat temannya itu bergidik ngeri.


Begitulah kira-kira arti dari tatapan Art pada temannya itu. Tentunya, Elona tidak mengerti saat melihatnya.


"Kok kamu begitu, sih, Art?"


"Tidak apa-apa, biar dia ambil sendiri di sana." Art menunjuk ke arah tempat peristirahatan yang berjarak cukup jauh dari mereka.


"Tega sekali anda, Tuan Muda!" temannya membalas tatapannya dengan mata nanar.


"Oh ya, aku belum pernah bertanya, kalian semua datang dari mana?"


"Dari Kota Rudiyart, Nona!" jawab mereka semua hampir serempak.


"Oh, kota sebelah? Kamu juga, Art?" tanya Elona. Art menganggukkan kepala.


"Lalu, kalian tinggal di sebelah mana?" tanya gadis itu lagi. Salah satu dari mereka menjawab.


"Di sebelah barat kota Rudiyart, Nona, tepatnya di kediaman Eck-"


"Di pedesaan di bagian luar kota!" Art cepat-cepat memotong pembicaraan, membuat Elona terkejut.


"O-oh, kalian semua warga desa? Ya, ya, pantas ya kalian kuat dan staminanya besar. Ternyata memang warga desa ya? Berarti kalian sering bertani juga?"

__ADS_1


"I-iya, Nona..." kali ini jawaban mereka menuruti pelototan mata Art.


*****


"Nona Elona!"


Dari kejauhan, Ryndall memanggil majikannya seraya berlari-lari kecil ke arahnya. Elona menoleh ke arah sekretaris kakaknya itu.


"Ini laporan keuangan dari semua pengerjaan lahan ini, mulai dari pembelian kapur, gaji para pekerja, dan pembelian benih, serta penyediaan peralatan dan perlengkapan lainnya."


Ryndall menyerahkan dua lembar kertas laporan keuangan pada nona mudanya itu. Elona dengan cepat memahami apa yang tertulis di dalamnya. Benar-benar pengeluaran yang besar, terutama saat ia harus meminta kakaknya untuk menyediakan total 60 ton kapur limestone untuk menaikkan pH tanah.


"Semoga semuanya ini nanti bisa balik modal saat kita sudah panen biji-biji kedelai ini dan menjualnya di pasar." kata Elona berusaha untuk optimis.


Namun keoptimisan tersebut tidak disambut dengan baik oleh Ryndall. Raut wajahnya menunjukkan adanya masalah dalam perkataan Elona.


"Ada apa, Kak Ryndall?" tanya Elona memastikan. Ryndall membetulkan letak kacamatanya di hidung.


"Mungkin sebaiknya kita ke pasar di kota sekarang untuk mengecek harga biji kedelai saat ini." Ryndall memberi usul.


Bersama dengan Mai dan Ryndall, Elona berangkat ke pasar Armelin detik itu juga. Dia melihat harga jual kedelai di sana tidak jauh berbeda dengan harga di bumi.


Menurut perhitungan kasar dalam otak Elona, dengan harga segitu seharusnya bisa menutup, bahkan memberikan untung 50 persen lebih banyak dalam satu siklus panen.


"Memangnya kenapa, Kak? Aku tidak melihat ada yang aneh." kata Elona begitu mereka melihat harga kedelai di pasar. "Kita masih bisa mendapatkan keuntungan 50 persen dari total seluruh pengeluaran."


"Tapi kita tidak mendapatkan keuntungan 100 persen." sahut Ryndall.


"Tapi tidak apa-apa, kan? Kalau nanti di siklus panen kedua keuntungan kita juga 50 persen lagi, kita sudah bisa mengembalikan modal dari Kak Stefan sebanyak seratus persen di siklus ketiga! Kakakku tidak perlu lagi memodaliku saat itu tiba, karena sudah tercukupi dari hasil panen kedelai itu sendiri!"


Elona berseru dengan sumringah, membayangkan nantinya di siklus panen ketiga, ia dapat meraup untung dan mencegah keluarga Locke dari kebangkrutan. Tujuan utamanya akan tercapai bila saat siklus ketiga itu sudah tiba.


Tetapi, Ryndall menatap nona mudanya itu dengan gelisah. Lalu, ia mengeluarkan segulung kertas surat dari dalam tasnya, dan menyerahkannya pada nona majikannya itu.


"Ada surat dari Tuan Stefan. Sebenarnya ini adalah surat untukku, dan aku tidak boleh memberitahukan isinya pada Anda. Tapi..."


Ryndall menyerahkan dengan ragu-ragu surat di tangannya. Elona menatapnya dengan bingung.


"Tidak boleh diberitahukan isinya padaku? Memangnya, Kak Stefan mengatakan apa?"


"Bacalah sendiri." jawab Ryndall dengan lemah. Elona segera meraih surat itu dan membuka gulungannya, lalu membacanya dalam hati.


"Apa...? Kak Stefan tidak bisa lagi memberiku modal untuk siklus kedua?"


*****

__ADS_1


__ADS_2