Isekai: Putri Marquess Jadi Pengusaha Tempe

Isekai: Putri Marquess Jadi Pengusaha Tempe
Bab 51. Kabut


__ADS_3

Graaoo!!


"Kyaaa!!"


"Nona, awas!!"


Mary berteriak ke arah Elona yang refleks menutup matanya ketakutan begitu ada hewan buas yang terbang ke arahnya. Seketika itu juga, kuda Mary melompat ke arah hewan tersebut dan prajurit wanita itu dengan sigap menghunuskan pedang ke tubuh serigala bermata merah darah itu.


Jleebb!


Groaaarrrll!!


Serigala tersebut menutup matanya setelah ditebas oleh Mary dengan bilah tajam pedangnya. Matanya nyalang mengawasi sekitar. Setelah dirasa cukup aman, ia kembali memastikan kondisi Elona.


"Anda baik-baik saja, Nona?" tanya Mary. Elona pun mengangguk.


"Aku baik-baik saja. Terima kasih, ya!"


Elona mengatakan demikian, meski jantungnya masih berdetak sangat kencang. Baru kali ini ai pergi ke dalam hutan, dan baru kali ini juga dia melihat hewan buas yang ada di dunia fantasi ini.


Daripada hewan buas, lebih pantas dikatakan sebagai monster, karena mereka begitu liar dan ganas. Hal ini tidak diketahui gadis itu sebelumnya, termasuk dari apa yang dia ingat di dalam webtoon Cerita Hati. Dalam webtoon tersebut tidak pernah diceritakan makhluk apa saja yang ada di hutan, karena memang tidak pernah ada adegan yang terjadi di sana.


Bentuknya mirip seperti hewan-hewan di bumi, hanya saja sebagian dari mereka memiliki mata merah yang menyala bagaikan api. Elona bergidik ngeri begitu tadi ia sempat menatap mata salah satu monster tersebut. Dan sejauh ini rombongan mereka berjalan memasuki hutan, sudah total 8 monster yang menyerang.


"Art... aku..." Elona masih saja menatap ngeri pada bangkai serigala yang baru saja ditebas oleh Mary. Ia menoleh sejenak ke arah Art yang mengendarai kuda di sebelahnya. Sesaat kemudian, bangkai tersebut mengeluarkan darah berwarna ungu kehitaman. Sesuatu yang benar-benar mengejutkan gadis itu.


"Lho, darahnya?? Kenapa bukan merah?" tanya Elona.


"Karena hewan buas yang tadi sudah mengonsumsi mana hitam cukup banyak. Makanya darahnya jadi kehitaman begitu." jelas Art.


"Mana hitam??" Elona terperangah.


"Iya. Kalau dijelaskan, semacam kekuatan sihir jahat. Biasanya memang ada di hutan yang jarang terjamah seperti ini. Kamu lihat kan, kalau daritadi ada kabut tipis warna gelap di sepanjang perjalanan kita? Itu mana hitam."


Elona melihat lebih seksama keadaan sekitarnya. Dan benar saja, ada selimut kabut hitam yang benar-benar tipis hingga hampir tak terlihat mata. Seingat gadis itu, tentang mana hitam ini juga tidak ada dalam cerita webtoon yang dibacanya.


Tapi, ia bisa mengingatnya sekilas dalam pelajaran yang diterima oleh Elona yang sebelumnya di sekolah. Di sana dijelaskan kalau mana hitam ini tidak ada di perkotaan karena lahannya selalu sudah disucikan oleh sihir putih pendeta grand magus sebelum dijadikan kota. Gadis itu tidak pernah menyangka, kalau ternyata ia tinggal di dunia yang mengandung sihir meski hanya sedikit.


"Ini... mana hitam yang hanya mempengaruhi hewan saja, kan?" tanya Elona memastikan.


Art pun mengangguk, "Iya, karena hewan tidak berakal, tidak seperti manusia."


"Tapi kuda kita..."


"Kuda-kuda ini sudah lama di perkotaan yang sudah disucikan tanahnya, jadi bisa bertahan lama sebelum terkena pengaruh. Kamu tenang saja, tapi tetap waspada, ya!"


*****


Sir William menyamakan langkah kudanya dengan Elona dan Mary. "Nona, biar aku yang berada di baris depan. Mary, kamu terus jaga Nona dari samping."


Sir William memberikan perintah singkat, yang langsung dituruti oleh prajurit wanita tersebut dengan anggukan kepala. Sir William mengedarkan pandangan, dan tertuju pada keempat prajurit Eckart yang terlihat mengendarai kuda di barisan belakang.


"Hey, kalian berdua yang paling belakang! Jaga yang benar!!" teriak Sir William, mengejutkan para prajurit Eckart.


"Baik, Senior!!" jawab mereka serempak. Namun setelahnya, mereka berbisik-bisik.


"Rasanya seperti kembali lagi ke jaman akademi. Senior Will tidak berubah ternyata. Masih galak!"

__ADS_1


"Shh, nanti dia dengar lho!"


"Yang galak bukan cuma dia. Tuh, yang itu juga!" ucap seorang prajurit Eckart menunjuk ke arah Mary yang berjalan di sisi Elona. "Padahal cantik, tapi galaknya luar biasa!"


"Ehem!" Art berdeham pelan. Ia melambatkan kudanya agar bisa berjalan sejajar dengan para prajuritnya.


"Kalian bisa tenang, tidak? Kita di sini untuk membantu Elona, bukan bergosip!" seru Art dengan suara tertahan supaya tidak terdengar oleh Elona yang berjalan di depannya.


"Siap, Tuan."


Tak lama, Mary juga melambatkan kudanya supaya bisa sejajar pula dengan Art dan para prajuritnya. Matanya mendelik marah pada mereka berlima.


"Jangan kalian pikir aku tidak dengar ya, yang barusan!" Mary berkata dengan emosi yang ditahan juga. "Dan kau, Tuan Muda! Jangan kira aku ikut penelusuran hutan ini karena aku merestui hubungan anda dengan Nona, ya! Sampai kapanpun, aku benci dengan lelaki pembohong seperti anda!"


Art terkejut dengan perkataan Mary yang mengancamnya seperti itu. "Aku pembohong?"


Mary menatap Art dengan kesal. "Menyembunyikan identitas seperti itu, kalau bukan pembohong lalu apa namanya?!"


"Tapi aku melakukannya juga kan demi Elo-"


"Tidak ada alasan!" potong Mary. "Gelar anda memang jauh lebih tinggi daripada saya, tapi saya bekerja untuk keluarga Locke. Dan kami semua menyayangi Nona Elona. Kalau sedikit saja anda membuat Nona menangis, bahkan sebelum Tuan Stefan sempat mendatangi anda, saya yang akan menghabisi anda terlebih dahulu!"


Mendengar hal itu, para prajurit Eckart jadi naik pitam terhadap Mary. "Hey! Beraninya kau mengancam Tuan Muda kami-"


"Apa?!! Berani kalian padaku, hah?!"


"E-eh... tidak jadi... maafkan kami..." para prajurit Eckart langsung beringsut ketakutan begitu diancam sekali oleh Mary.


"Mary, Art, kenapa kalian malah di belakang? Ayo kemari!" Elona memanggil kedua orang tersebut untuk kembali berjalan lagi di sisinya.


Sebelum kembali ke sisi Elona, Art menatap kepada para prajurit Eckart. "Kalian memalukan. Masa' sama perempuan saja kalah?!"


"Jangan banyak alasan. Kalian ini prajurit duke. Jangan mau kalah sama prajurit marquess!"


Setelah berkata begitu, Art kembali berjalan di sisi Elona, meninggalkan para prajurit Eckart di belakang dengan bersungut-sungut kesal.


Begitu dirasa tuan mudanya itu sudah kembali ke sebelah Elona, prajuritnya berbisik-bisik lagi, "Tuan Muda bisa saja menasehati kita, padahal sendirinya juga tidak berkutik kalau di hadapan Nona Elona!"


"Benar itu! Sendirinya, si putra duke juga kalah sama putri marquess!"


"Hihihi!"


Sebuah ranting pohon tiba-tiba melesat ke arah para prajurit Eckart dan mengenai salah satu helm yang mereka pakai.


"Aduh!!"


Rupanya Art yang melempari mereka. Pendengarannya yang tajam membuatnya geram pada para prajurit tersebut dan mendelik marah. Lalu Art mengisyaratkan gerakan tebas leher dengan tangan kanannya. Sontak para prajurit Eckart tidak berani bicara sembarangan lagi.


*****


Rombongan saat ini berjalan tak jauh dari sungai yang mengalir. Art memperhatikan pepohonan di tepian sungai tersebut. Matanya tertuju pada sekumpulan pohon dengan batang yang tidak terlalu besar dan berdaun hijau cukup lebat.


"Elona, itu pohon waru, kan?" tanya Art pada Elona untuk memastikan. Gadis itu mengalihkan pandangan ke arah yang ditunjuk. Lalu ia mengangguk dan tersenyum ceria begitu melihat pohon yang puncaknya menjorok ke arah aliran sungai tersebut.


"Iya, benar! Itu pohon waru! Kita tinggal mencari yang daunnya berwarna putih-putih saja!" ucap Elona.


Rombongan pun berhenti di dekat sekumpulan pohon waru tersebut. Suara aliran sungai terdengar di telinga mereka. Sungainya tidak begitu besar, tapi alirannya cukup deras. Dan di ujung kejauhan yang tak begitu tampak oleh mata, aliran sungai ini berakhir sebagai air terjun setinggi 30 meter.

__ADS_1


"Kamu tunggu sini saja, biar teman-temanku yang mengambilkan daun-daunnya." kata Art.


Para prajurit Eckart pun dengan sigap mengeluarkan gergaji dari dalam tas persediaan mereka untuk memotong dahan-dahan pepohonan waru tersebut. Mereka tidak begitu mengerti daun mana saja yang harus mereka ambil, oleh karena itu mereka memotong semua dahannya sekaligus.


"Hey, kita tidak akan sanggup membawa semua kalau cara kalian memotongnya seperti itu!"


"Tapi, kami tidak tahu mana daun yang Nona Elona inginkan."


"Paling tidak, dipilih-pilih sedikit!" Art menjadi gusar atas tingkah laku para prajuritnya. Ia pun bantu memberi komando pada mereka.


Sedangkan Sir William dan Mary beristirahat sejenak untuk minum dan membersihkan pedang di sungai, karena merekalah yang paling banyak membunuh para hewan buas yang menyerang sejauh ini. Pedang yang mereka gunakan jadi kotor bersimbah darah kehitaman.


Elona memperhatikan kerja teman-teman Art sambil terus duduk di atas pelana kudanya. Ia lalu mengedarkan pandangan ke sekitar dan mengambil nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Meski ada kabut tipis hitam di sekitarnya, ternyata hal itu tidak mempengaruhi jernihnya oksigen yang ia hirup.


Semuanya begitu memperhatikan pepohonan waru yang akan mereka ambil daunnya, dan mendengar suara aliran sungai yang deras. Tanpa mereka sadari, sepasang mata jahat berwarna merah menyala bagaikan api yang berkobar telah memperhatikan Elona dan kudanya sedari tadi.


Sepasang mata merah tersebut mengendap-endap berjalan dari arah belakang kuda Elona. Dan dalam satu lompatan, seekor serigala berhasil menggigit kaki belakang dari kuda Elona.


Hieeeee!!!


Sang kuda pun terkejut dan menjerit kesakitan. Lalu dengan secepat kilat, kuda tersebut berlari pontang-panting menjauh dari rombongan. Elona pun terbawa oleh kuda tersebut dengan tangan yang masih memegang tali kekang yang tak dapat dikendalikannya lagi.


"Waaahh!!"


Seluruh prajurit termasuk Art terkejut begitu mendengar sang kuda berteriak lalu berlari menjauh mengikuti aliran sungai.


"Elona!!"


"Art!! Tolong!!"


Art dengan sigap menaiki kudanya kembali, dan segera memerintahkan kudanya untuk beelari mengejar kuda Elona. Ia tidak peduli lagi dengan para prajurit yang ditinggalkannya di belakang.


Hingga satu titik, kudanya berhasil menyamai laju lari kuda Elona.


"Elona, loncat kemari!!" teriak Art yang telah bersedia menangkap tubuh gadis itu. Tapi Elona menggeleng ketakutan karena ia tak yakin bisa sampai pada Art dengan selamat.


"Ayo, percaya padaku!! Lompat!!"


Dengan seluruh keberanian yang tersisa, Elona memejamkan mata dan berusaha melompat ke arah Art.


Namun naas, yang terjadi adalah sebaliknya. Kuda Elona tiba-tiba tersandung batu dan tersungkur jatuh. Dan lompatan Elona tidak sampai pada Art. Justru tubuh gadis itu malah terpental ke ujung tebing air terjun.


"Elona!!"


Tubuh Elona melayang di udara. Matanya menatap putus asa pada Art yang kembali menatapnya dengan ngeri.


Tapi Art tidak menyerah. Ia mengambil ancang-ancang, lalu ikut melompat ke arah Elona yang masih melayang di udara, memeluk tubuhnya, dan ikut terjatuh bersamanya ke arah tebing air terjun yang curam.


"Nona Elona!!!"


"Tuan Muda!!!"


*****


...\=\= original writing by @author.ryby \=\=...


...\=\= cover art by @fuheechi_ \=\=...

__ADS_1


...follow IG author di @author.ryby...


((Ryby: Ciee tegang tuh. Sabar. Ambil nafas dulu ya gaes. Lanjut besok. Syalalala~ ))


__ADS_2