
"Uhh... ini sudah rapi belum, ya?"
Elona berkali-kali meluruskan dress yang ia kenakan, berharap tidak ada yang kusut sama sekali. Mai sang pelayan pendamping juga ikut meluruskan pakaian nona majikannya itu.
"Sudah, Nona. Sudah rapi," sahut Mai.
"Duh, aku takut..." ucap Elona yang juga tidak beranjak turun dari kabin kereta kuda yang dinaikinya.
Hari telah menjelang sore. Saat ini, Elona sedang berada di depan pagar kediaman Duke Eckart. Wajahnya begitu gelisah, meskipun sebenarnya gadis itu telah mempersiapkan segalanya.
Elona memakai pakaian yang baru, karena berat badannya sudah turun dengan drastis setelah kerja kerasnya di lahan selama ini. Pakaian-pakaian lamanya sudah terlalu kebesaran sekarang. Sekarang, tidak ada lagi Elona si gemuk yang sering sekali berkeringat karena lemak.
Di samping pakaian baru, gadis itu juga telah dirias oleh para pelayan dengan sangat cantik. Rambut cokelat terangnya ia biarkan tergerai, dengan bandana di kepala berwarna senada dengan dressnya. Riasan natural yang ada di wajahnya pun menampilkan kecantikan alaminya. Elona memastikan bahwa ia hanya mau dirias tipis-tipis saja, karena jangan sampai dandanannya mengalahkan riasan si nyonya rumah. Begitulah salah satu cara meraih strategi investor dari buku yang pernah ia baca sewaktu di bumi. Entah nantinya bisa dibuktikan benar atau tidak.
Di tangannya Elona juga sudah mempersiapkan keranjang kayu berisi susu-susu kedelai sebagai produk contoh, yang ia tutupi dengan kain. Tak lupa, gadis itu juga membawa surat undangan minum teh bersama dari Duchess Eckart, yang menuliskan bahwa lokasi minum tehnya ada di kediaman Eckart itu sendiri.
Tentu saja Elona gelisah saat ini. Negeri kerajaan tempatnya tinggal ini hanya memiliki tiga keluarga Duke, dan Eckart adalah salah satunya. Keluarga Eckart menguasai wilayah di bagian selatan kerajaan, dan Kota Armelin adalah salah satu wilayahnya. Kalau di bumi, ini seperti berhadapan dengan seorang menteri.
"Nona, tenanglah." ucap Mai saat ia menuadari nona majikannya itu tidak kunjung turun dari kabin. "Semuanya akan baik-baik saja, percayalah. Kalau pun terjadi sesuatu, ada aku di sisimu. Ada Tuan Art juga, kan?"
Sebenarnya Mai telah mengetahui identitas Art yang sebenarnya dari Wilson si kepala pelayan. Namun ia tetap diam, karena Mai merasa kehadiran Art cukup penting untuk membuat nona mudanya itu selalu ceria. Apapun akan Mai lakukan, asalkan pengalaman gangguan makan berlebih Elona karena stress itu tidak terulang lagi.
"Hmm, iya. Baiklah..." sahut Elona. Keraguan di hatinya mulai terkikis. Perlahan, seorang prajurit yang mengawalnya membuka pintu kabin kereta kuda, dan Elona pun menuruni anak tangganya.
Aku harus bisa. Ini seperti presentasi di kampus dulu waktu di bumi. Jangan panik. Jangan panik. Aku harus bisa.
Elona merapal kata-kata itu dalam hatinya berulang-ulang seperti sedang membaca mantra.
*****
"Nona Elona Locke, kedatangan anda sudah ditunggu oleh nyonya di gazebo taman. Mari saya antarkan,"
Salah seorang pelayan menyambut Elona begitu ia menginjakkan kakinya masuk ke dalam kediaman Eckart. Elona menganggukkan kepalanya, kemudian berjalan mengikuti sang pelayan pergi ke taman.
Sesosok manusia terlihat sedang mengintip dari pagar balkon lantai dua rumahnya. Matanya mengikuti kemana Elona berjalan dan pergi. Siapa lagi kalau bukan Arthur Eckart. Supaya tidak diketahui identitasnya oleh Elona, lelaki itu saat ini tidak berani turun ke lantai satu.
Tapi Arthur sangat penasaran sekali dengan pembicaraan apa yang ibunya akan lakukan dengan gadis itu. Maka dari itu, saat ini ia sedang mengendap-endap di belakang dinding, di mana ia bisa melihat gazebo taman dengan jelas dari jendela di sebelahnya.
Begitu melihat wajah Elona yang terpapar sinar matahari, dan muncul dari balik dedaunan di taman, Arthur dalam sekejap menahan nafas. Riasan wajah Elona dan dress yang dikenakan gadis itu saat ini, berhasil mencuri hatinya sekali lagi.
Agh! Kenapa dia tidak pernah secantik itu di hadapanku?! Kenapa justru di depan ibu dia malah merias dirinya jadi sangat cantik begitu! Tidak adil!
Arthur berteriak dalam hati sambil menggenggam erat daun-daun yang ada di pinggiran luar kusen jendela. Melihat putranya bertingkah tidak jelas begitu, ayahnya sang duke Ron Eckart menghampirinya, ikut melihat apa yang diintip oleh Arthur.
"Oh, putrinya Edward sudah datang rupanya."
__ADS_1
"Ayah!" Arthur menoleh terkejut ketika ayahnya tiba-tiba berbicara. "Bikin kaget saja!"
Kini kedua ayah dan anak itu asyik mengintip dan mencuri dengar pembicaraan sepasang perempuan di taman.
*****
"Salam hormat, Duchess Nania Eckart," ucap Elona dengan sopan seraya membungkuk sedikit untuk melakukan curtsy. Nania Eckart menganggukkan kepalanya.
"Salam hormat, Nona Locke. Silakan duduk."
Elona duduk di kursi yang berseberangan dengan Nania Eckart. Ia menghela nafas sejenak. Takut. Itulah yang gadis itu rasakan saat ini. Wanita di hadapannya itu terlihat sangat berwibawa. Elona jadi takut salah bicara kalau dia membuka mulutnya.
"Haha, tenanglah. Aku tidak menggigit, kok." Nania tertawa sembari menutup mulutnya dengan kipas. Wanita itu melihat kegugupan Elona dan merasa lucu karenanya.
"Ah, maaf, aku... gugup sekali." jawab Elona dengan jujur.
"Ah, gadis yang sangat jujur ya, haha." Nania menatap mata Elona. "Aku sudah mengenal semua tentangmu. Putraku- umm, maksudku Art, sudah menjelaskan semuanya."
"Benarkah?"
"Iya. Jadi walaupun kita akan membicarakan bisnis, kita berbincangnya santai saja ya, seperti hubungan apa ya?" Nania menerawang, mencari kata yang pas.
"Seperti seorang teman, begitu?" tebak Elona. Nania sedikit menggelengkan kepalanya.
"Ah, aku tahu! Bagaimana kalau seperti hubungan antara mertua dan menantu saja?"
"Ah, suara apa itu?" Elona sontak hampir loncat dari kursinya ketika ia mendnegar suara batuk yang entah datangnya dari mana. Tetapi Nania tahu, kalau itu adalah suara putranya yang mengintip dari balik jendela.
"Oh itu suara kuda." jawab sang nyonya rumah.
"Eh, kuda?"
"Iya, ada kuda yang kadang suka batuk tidak jelas di sekitar sini." Nania mengarang cerita. Elona menganggukkan kepalanya berusaha untuk bersikap sopan, dan Nania berusaha untuk menahan tawa melihatnya.
"Ya sudahlah. Kita langsung ke inti pembicaraan saja, ya?" ucap Nania. "Seperti yang kamu ketahui dari Art sebelumnya, kalau para bangsawan menghindari untuk mengonsumsi kedelai."
"Ah, iya Nyonya Eckart, aku sudah menyiapkan-"
"Shh!" Nania menyela penjelasan Elona. "Jangan panggil Nyonya. Panggil saja aku dengan sebutan Ibu."
"I-ibu?" Elona bertanya dengan bingung.
"Iya. Mama juga boleh! Aku sudah menganggapmu sebagai putriku sendiri." Nania tersenyum penuh arti. Tetapi Elona tidak dapat menangkap maksudnya. Sedangkan Arthur yang ada di balik jendela wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus saat ini.
"Oh, baiklah... Ibu." Elona pun kembali menjelaskan dengan perasaan bingung yang sebenarnya belum hilang.
__ADS_1
"Jadi Nyo- um, Ibu, aku sudah menyiapkan sesuatu." Elona meletakkan keranjang kayu yang sedari tadi dibawanya ke atas meja. Gadis itu membuka kain penutupnya. Tampak beberapa botol minuman dengan warna yang berbeda-beda ada di dalamnya.
"Oh, apa ini?" tanya Nania, lalu ia mengambil sebotol. "Susu kedelai?"
"Iya. Ini adalah solusiku. Kalau kalangan bangsawan tidak ingin mengonsumsi susj kedelai karena tidak mau disamakan dengan rakyat biasa, maka kita buat susu kedelai tersebut berbeda." jelas Elona.
Kemudian, gadis itu mengeluarkan semua botol berwarna tersebut dari dalam keranjang sambil memperkenalkannya satu persatu.
"Yang pink ini rasa strawberry. Yang kuning rasa jahe. Yang cokelat rasa cokelat. Yang jingga ini rasa jeruk." Elona menunjuk botol-botol tersebut sesuai dengan warnanya.
Nania Eckart melihat semua botol tersebut dengan rasa takjub. Wanita itu pun mencoba membuka salah satu botol yang berwarna kuning dengan rasa jahe dan meminumnya. Rasa manis bercampur hangat sedikit pedas memenuhi kerongkongannya, membuatnya segar.
"Dengan rasa-rasa yang berbeda ini, menjadikan susu kedelai untuk bangsawan lebih eksklusif ketimbang susu dengan rasa yang asli." Elona menutup penjelasannya.
"Menarik. Ide yang sangat menarik! Aku suka ini!" Nania Eckart, kemudian memanggil seorang pelayan dan membisikkan sesuatu. Sesaat kemudian pelayan itu pergi, dan kembali bersama seorang pria muda yang Elona kira seumuran dengan kakaknya, Stefan.
"Nah, Elona, perkenalkan ini manajer kafe, namanya Hansen." ucap Nania begitu Hansen berdiri di sebelahnya.
"Oh, salam hormat." Elona memberikan salam.
"Hansen inilah yang akan membantumu membuatkan surat perjanjian dengan kafe. Hansen, kau bantulah Elona."
"Baik, Nyonya." Hansen pun menganggukkan kepala, lalu mengalihkan pandangan pada Elona dan bercakap-cakap sebentar dengannya.
Elona pun segera menandatangani surat perjanjian yang telah dibuat oleh Hansen tersebut. Di sana tertera bahwa Elona bersedia menitip jualkan produk susu kedelainya dalam sistem konsinyasi, dengan 30 persen keuntungan dipotong untuk pihak kafe Satu Sesapan. Untuk soal harga, keputusan berapa harga yang akan dipasang untuk produk tersebut menjadi hak pemilik kafe.
*****
Beberapa saat kemudian, Elona tersenyum sumringah setelah menyelesaikan semuanya. Ternyata Duchess Eckart tidak sebegitu menyeramkan seperti yang ia pikir. Malahan, kharisma yang wnaita itu perlihatkan memang seperti seorang ibu pada anaknya.
"Aku sudah salah sangka. Ternyata Nyo- um, Ibu, memang sangat baik sekali ya!" puji Elona, membuat sang nyonya rumah tertawa.
"Hahaha, terimakasih!"
"Tidak heran kalau Art bilang dia kenal dekat dengan keluarga ini. Padahal, dia hanya anak penjaga kuda di sini." celetuk gadis itu. Mendengarnya membuat Nania menghentikan tawanya.
"Apa? Penjaga kuda?"
"Iya. Art bilang, kalau ayahnya dulu seorang penjaga kuda di kediaman Eckart ini." ucap Elona dengan polosnya.
Sepulangnya gadis itu dari kediaman Eckart, Nania segera menjewer kuping putranya, hingga Arthur terseret.
"Aduduh aduh aduh!! Apa-apaan sih, bu?!" Arthur berteriak kesakitan.
"Kamu itu yang apa-apaan!! Kamu bilang ayahmu ini penjaga kuda? Jadi aku ini istri penjaga kuda, begitu?! Anak kurang ajar!!"
__ADS_1
"Sakit, Bu! Aku terpaksa mengatakannya! Aku bisa jelaskan!!"
*****