Isekai: Putri Marquess Jadi Pengusaha Tempe

Isekai: Putri Marquess Jadi Pengusaha Tempe
Bab 68. Qitara


__ADS_3

Keesokan harinya.


“Kenapa kereta kudanya berhenti?”


Louis yang sedang berada dalam perjalanan pulang dari sekolah menuju ke rumahnya merasa heran, ketika roda-roda yang berada di bagian bawah kabin kereta kuda yang dia naiki saat ini berhenti berputar. Lelaki itu membuka jendela dan melongokkan kepala, lalu bertanya pada seorang pengawal yang berjalan di sebelah menaiki kuda. Air hujan turun cukup deras, tetapi tidak menutupi raut wajah kebingungan dari sang pengawal.


“Ada yang pingsan, Tuan Muda. Di tengah jalan.” jawab sang pengawal.


“Hah? Siapa?”


“Sepertinya dia adalah duke yang baru saja dinobatkan.”


“Apa?!” Louis terperanjat mendengarnya. “Ambilkan payung. Aku ingin melihatnya sendiri.”


Louis berjalan ke luar dari kabin kereta kudanya menuju sosok yang pingsan tersebut, ditemani sang pengawal yang memayunginya dari belakang. Setelah mendekat, tampak sosok Arthur Eckart yang baru saja dinobatkan menjadi duke, pingsan dengan tubuh yang terkulai lemas di jalanan.


“Hoi, Eckart! Bangunlah! Hei!”


Louis berushaa membangunkan Arthuir dengan cara menepuk-nepuk pundaknya, tapi sia-sia. Kemudian, dengan menempelkan telapak tangannya di dahi Arthur, guna mengecek suhunya. Dahinya terasa begitu membakar.


“Dia demam… Lagipula sedang apa dia di sini sampai pingsan begini?”


Louis mengedarkan pandangan ke sekitar, dan tampaklah sebuah mansion yang pemiliknya dia kenal, berada tak jauh dari tempat pingsannya Arthur ini.


“Oh… dasar…” Louis mengangguk-angguk tampak mengerti. Kemudian, Louis menoleh ke arah pengawalnya.


“Pengawal, angkut dia ke dalam kabin, dan antarkan dia pulang ke kediaman Eckart. Setelah itu kembalilah kemari. Sementara itu, aku ingin singgah sebentar di sini.”


*****


Di kediaman Locke, di ibukota.


"Elona, buka pintunya, Sayang! Maafkan Kakak ya, aku tidak bermaksud membuat kamu sedih!"


Iris berteriak sambil menggedor-gedor pintu kamar Elona, namun jawaban yang diterima sama seperti Arthur sebelumnya. Hening.


"Elona...! Buka dulu pintunya! Elona... ugh! Perutku..."


Teriakan bersemangat dari Iris berubah menjadi erangan kesakitan. "Pelayan... perutku sakit...! Bayiku..."


Pintu kamar Elona tiba-tiba terbuka, dan penghuninya menghambur keluar. Elona mendapati kakak iparnya sudah tersungkur di lantai dengan memegangi perutnya sambil terus meringis kesakitan.


"Kakak... kenapa? Perutnya sakit, ya? Mau kupanggilkan dokter?" tanya Elona panik. “Ayo, Kak, duduk dulu di kamarku!”


Elona menuntun tangan Iris yang masih meringis kesakitan sampai ke tempat tidurnya. Begitu mereka berdua telah duduk di tepian, tiba-tiba tangan Elona dicengkeram dengan kuat oleh Iris. Wanita itu pun menatap wajah adik iparnya itu dan menyeringai dengan licik.


"Nah, kena kau! Hehehe!"


Elona terperanjat ketika menyadari dirinya sedang dijebak. Iris ternyata hanya sedang berakting supaya Elona mau membukakan pintu.


Gadis itu menepuk tangan Iris. "Kakak! Jangan membuat orang lain panik begitu!"


"Soalnya kamu itu keras kepala! Kalau tidak dengan cara begini, mana mungkin kamu mau keluar!"


"Tch"


Elona mendecakkan lidahnya, sebelum akhirnya mereka berdua berdiri dari posisinya.


"Dengar, aku tidak bermaksud membantunya menyembunyikan identitasnya. Pertemuan kami di ladangmu waktu itu yang memulai semuanya. Tadinya aku tidak tahu apa-apa." jelas Iris.


"Yang waktu itu, Kak Stefan bertengkar dengan Art?" tanya Elona. Iris pun mengangguk.


"Kakakmu itu yang paling menentang saat aku membantu Arthur menyembunyikan identitasnya darimu. Arthur itu sangat mencintai kamu, makanya dia rela melakukan semua itu demi kamu."


“Tapi…” Elona ingin menyangkal perkataan Iris, tapi dia sebenarnya juga tidak meragukan tentang perasaan tulus lelaki itu padanya. Hanya saja, dia kecewa mengapa Art tidak mengabari dia setelah sekian lama dan begitu bisa bertemu, Elona langsung mengetahui kebohongannya.


Apa ini, rahasia yang waktu itu Art ingin katakan padaku? Tentang identitas yang sebenarnya, kalau dia adalah seorang putra duke?

__ADS_1


Dia adalah seorang putra duke selama ini… dan aku memperlakukannya seperti rakyat biasa, dan menyuruhnya kesana kemari untuk membantuku di ladang?


Dan aku bahkan memberinya upah harian seperti pekerja lainnya?!!


Seketika itu juga, wajah Elona memerah. Gadis itu menutupi wajahnya dengan kedua tangan lalu setengah berteriak, “Tetap saja! Ini menyebalkan! Aku jadi malu karena selama ini memperlakukan dia seperti warga biasa, Kak!”


Iris begitu tergelak mendengar perkataan adik iparnya itu. “Jadi sebenarnya, kamu bukannya marah padanya saat ini, tapi justru malu? Hahahaha!”


“Ya, iya! Aku memperlakukannya seperti pekerja lain! Aku bahkan memberinya upah harian! Tapi ternyata dia malah jauh lebih kaya daripada keluarga kita! Agh! Aku malu!”


Elona berlari ke arah jendela diiringi gelak tawa dari Iris. Elona mengintip sejenak ke luar jendela. Hujan sedang turun dengan derasnya di luar sana. Elona berpikir kalau Art masih berdiri di sana menunggunya, setelah semalaman lelaki itu dibiarkannya begitu saja di jalanan kedinginan. Tapi nyatanya, Art sudah tidak berada di tempatnya.


Kemana dia? Apa dia menyerah lalu pulang?


“Dia tidak ada di sana.”


Sebuah suara datang dari arah pintu kamar yang terbuka lebar. Louis Vandyke datang dengan ujung jasnya yang sedikit basah terkena percikan air hujan.


“Louis? Kamu di sini?!”


“Maaf, aku langsung naik ke kamarmu ini tanpa memberitahu.” ucap Louis sembari tersenyum, lalu memandangi sekitar. Dulu saat mereka masih kecil, Louis seringkali diajak Elona untuk main ke kamarnya ini.


“Boleh masuk?” tanya lelaki itu meminta izin.


“Tentu, silakan! Duduklah!” sahut Iris.


“Ah tidak perlu. Aku hanya sebentar. Aku cuma mau mengabari saja, kalau pacarmu itu barusan pingsan di jalan dan suhu tubuhnya panas sekali. Sepertinya terkena demam karena hujan semalam.” jelas Louis, membuat Elona terperangah.


“Apa?! Art pingsan?”


“Iya. Baru saja pengawalku mengantarkannya pulang dengan kereta kudaku.”


Elona tertegun mendengar penjelasan Louis. Lelaki yang dia cintai sampai harus pingsan hanya karena dia bertahan di luar sana, di bawah derasnya hujan, hanya untuk menunggu gadis itu membukakan pintu supaya dia bisa memberikan penjelasan.


Louis memperhatikan tingkah mantan tunangannya itu, lalu menghela nafas. “Kalau aku boleh memberi saran, temuilah dia.”


“Ingatlah semua kebaikan yang pernah dia lakukan untukmu. Semua ketulusannya, jerih payahnya, hanya supaya identitasnya tidak terbongkar. Karena dia takut, sikapmu akan berubah setelah mengetahui yang sebenarnya, maka dia selalu merahasiakannya.”


“Louis…”


“Jangan sampai kamu menyesal, Elona… Jangan sampai kamu menyesal hanya karena kamu tidak bisa menurunkan egomu sedikit saja untuk memaafkannya.”


Elona tertegun mendengar perkataan Louis. Ingatannya langsung melayang, mengenang saat-saat pertama kali gadis itu bertemu dengan Art yang terluka saat itu, bagaimana Art membantunya bekerja tanpa pamrih, ketika Art rela pulang malam hanya supaya ladang kedelainya cepat selesai, ketika Art menyelamatkannya saat terjatuh dari tebing air terjun… semua terkenang begitu saja seolah sedang menyaksikan presentasi slideshow.


“Kamu benar, Louis. Baiklah. Aku akan menemui dia sekarang.” ucap Elona, diiring sorakan kecil dari Iris. Louis pun tersenyum mendengarnya.


“Kalau begitu aku pamit pulang dulu, ya. Ingat, jangan bertengkar lagi saat bertemu dengannya.”


“Hehe, iya, aku janji!”


Louis pun keluar dari kamar Elona, kembali menuju ke halaman depan, tempat kereta kudanya telah kembali menunggunya. Setelah menaiki kabin, Louis melirik sekilas ke arah jendela kamar Elona.


Jangan sampai menyesal, Elona. Jangan sampai seperti aku, yang hanya karena egoku sendiri, sekarang harus kehilangan kamu.


Louis menatap cukup lama jendela kamar tersebut, suatu ruangan yang mungkin tidak akan pernah didatanginya lagi di kemudian hari. Louis pun tersenyum merelakan, lalu dia menutup jendela kabin, dan kereta kuda pun berjalan menuju arah kediaman Vandyke.


*****


Di kediaman Eckart, di ibukota.


“Ya ampun, suamiku! Arthur badannya panas sekali!”


Nania berteriak histeris seraya menyentuh dahi putranya dengan telapak tangannya. Wanita itu terkejut begitu menyadari suhu tubuh Arthur sangat tinggi. Saat ini keluarga Eckart sedang berada di kamar Arthur, setelah seorang pengawal dari keluarga Vandyke mengantarkan tuan muda rumah ini dalam keadaan pingsan dengan demam yang tinggi.


“Iya sabar, Nania. Sudah kupanggilkan dokter terbaik di ibukota.” jawab Ron Eckart yang berada di sebelahnya.


Mendengar jeritan histeris ibunya, Arthur jadi tersadar dan mengerjap-ngerjapkan mata. Begitu lelaki itu menyadari kalau dia sedang berada di kamar tidurnya sendiri, Arthur langsung berusaha untuk bangun. Rasa pusing di kepalanya menyerang begitu ia mencoba untuk beranjak dari tempat tidur.

__ADS_1


“Arthur, kamu mau kemana?? Badanmu sedang demam!”


“Mau ke rumah Elona… sampai dia mau membukakan pintu kamarnya dan memaafkan aku…” sahut putranya dengan suara parau karena demam.


“Tunggu sampai demammu sembuh, ya. Jangan sekarang!” seru ibunya.


Wanita itu mengetahui kalau putranya itu langsung kabur dari acara penobatan begitu upacaranya selesai, dan ternyata pergi ke rumah Elona karena gadis itu secara tak sengaja datang ke acara tersebut. Lalu Arthur tidak pulang semalaman, belum makan apapun, dan terbasahi hujan deras semalaman di luar rumah.


Berkali-kali Nania meminta pengawal dan pelayan untuk mengajaknya pulang ke rumah, namun hasilnya nihil. Arthur bersikeras ingin menunggu Elona di bawah siraman air hujan sampai kondisinya jadi seperti ini.


“Tidak bisa… aku ingin bertemu dengan Elona sekarang…”


“Tapi, Nak-“


“Aku ada di sini.”


Sebuah suara seorang gadis terdengar dari arah pintu, memotong perkataan Nania. Elona Locke datang dengan sekeranjang buah di tangan.


“Elona…” wajah Arthur langsung terlihat ceria begitu melihat gadis itu, meski matanya masih tampak kuyu.


Elona berpaling menghadap pasangan duke Eckart dan berkata, “Apa boleh, aku berbicara berdua saja dengan Arthur?”


“Tentu, Sayang. Silakan!” ucap Nania yang ikut sumringah. Gadis yang digadang-gadangnya sebagai calon menantu telah datang untuk putranya.


Nania langsung menarik lengan suaminya untuk keluar dari kamar Arthur lalu menutup pintu. Sembari berjalan di koridor, wanita itu berkata pada Ron, “Batalkan kedatangan dokternya. Tidak ada dokter terbaik bagi seorang pria yang sedang sakit cinta, kecuali kalau wanitanya sendiri yang datang!”


*****


Elona dan Arthur saling bertatapan, sebelum akhirnya gadis itu melangkah dengan kesal ke sisi tempat tidur dan meletakkan keranjang buahnya dengan kasar di meja yang ada di sebelahnya.


Brak!


Suara keranjang buah yang dihentakkan ke atas meja cukup mengejutkan Arthur. “Elona… kamu masih marah…?”


Arthur bertanya ragu-ragu karena takut. Dan gadis yang ditanyainya itu mendelik sebal ke arahnya.


“Tentu saja! Bisa-bisanya kamu melakukan ghosting padaku!”


“Ah? Gho- apa?” tanya Arthur tak mengerti.


“Ghosting! Sebutan di dunia asalku dulu untuk laki-laki yang pergi begitu saja dari perempuannya tanpa memberi kabar, tanpa memberi kepastian, menghilang begitu saja, seperti ghost alias hantu! Seperti yang kamu lakukan kemarin-kemarin!!”


Elona mendaratkan pukulan telak pada lengan Arthur, membuat lelaki itu mengaduh. “Hey, Elona…. aku sedang sakit, jangan malah tambah dipukul! Iya, iya, aku salah… aku minta maaf, ya…”


“Aku tidak peduli!”


Dengan gerakan cepat, Arthur menangkap tangan Elona yang sedang memukulnya, dan menautkan tangannya sendiri, mengubahnya menjadi berjabat tangan dnegan gadis itu.


“Kita mulai lagi semuanya dari awal perkenalan, kamu mau?” tanya Arthur lembut. Elona pun mengangguk perlahan.


“Aku dulu ya. Namaku Arthur Eckart, saat ini menjabat sebagai duke di Kerajaan Lightz ini, salah satu dari 3 duke yang ada di negeri. Aku memimpin provinsi Nuuburg yang berada di selatan negeri, itu berarti aku juga memimpin kota-kota di dalamnya, yang mana dua di antaranya adalah Rudiyart dan kotamu, Armelin.


Sekarang perkenalkan, siapa namamu yang sebenarnya?”


Elona mengambil nafas dalam-dalam sebelum menghembuskannya. “Ceritanya akan sangat panjang.”


“Aku punya waktu selama hidupku untuk mendengarkan kamu.” sahut Arthur tanpa segan.


“Baiklah… di dunia asalku, aku memiliki nasib yang sama seperti Elona Locke. Tidak punya orangtua, tidak punya teman. Perbedaannya, Elona masih punya kakak, sedangkan aku anak tunggal. Dan di sana aku rakyat biasa, tidak seperti Elona yang bangsawan.


Oh ya, di dunia sana orang-orang memanggilku Tara. Nama panjangku adalah Qitara Putri Ariwilaga…”


Siang itu, Arthur dan Elona menghabiskan waktu bersama saling bercerita satu sama lain tentang identitas mereka yang sebenarnya, hingga matahari hampir terbenam.


*****


...\=\= original writing by @author.ryby \=\=...

__ADS_1


...\=\= cover art by @fuheechi_ \=\=...


__ADS_2