
"... lona..."
Elona mengerjap-ngerjapkan matanya sebelum akhirnya kelopaknya membuka sempurna. Saat ini ia berada di kamarnya kembali, setelah berhari-hari tidak sadarkan diri.
"Elona..."
Sayup-sayup terdengar sebuah suara yang memanggil nama gadis itu. Suara yang sangat ia rindukan, kini berada di hadapannya.
"Kak Stefan..."
"Elona! Syukurlah kamu sudah sadar!" Stefan yang bergembira langsung memeluk tubuh adiknya itu.
Elona mencoba bangun dari tidurnya dan bersandar. Di hadapannya, ada kakaknya dan Art yang setia menunggunya untuk pulih dari pingsannya.
"Kakak ada di sini...? Mana Kak Iris?" Elona bertanya dengan nada yang masih terdengar lemah.
"Iris tidak bisa kemari, Sayang. Dia sedang mengandung sekarang, tidak bisa pergi terlalu jauh."
"Kak Iris hamil?"
"Benar! Sebentar lagi, kamu akan punya keponakan!" sahut Stefan. "Maka dari itu, ksmu harus cepat sembuh, ya!"
Elona tersenyum getir menanggapinya. "Aku senang sekali kalau itu yang akan terjadi. Tapi... aku tidak akan bisa bertemu dengan keponakanku itu..."
"Apa maksudmu, Elona?"
"Kakak... aku bukan Tara... ini aku Elona, adikmu yang sebenarnya..."
Begitu terkejutnya Stefan saat mendnegar pernyataan yang keluar dari mulut adiknya itu hingga ia terpaku tak bergeming. Samoai pada akhirnya, ia bersuara,
"Ka-kamu bukan Tara...?! Elona... kamu masih hidup?!!"
Elona menganggukkan kepalanya dengan lemah. "Iya, Kak... tapi hanya saat ini saja. Aku akan pergi sini. Dan setelahnya, Tara akan hidup sebagai diriku untuk selamanya..."
"Tunggu! Tunggu!!" Art yang sedari tadi diam, akhirnya membuka suara. Lelaki itu bolak-balik menatap Stefan dan Elona bergantian dengan heran.
"Elona, siapa itu Tara? Apa maksudmu kalau kamu akan pergi dari sini??"
Mendengar pertanyaan Art barusan, Elona jadi tersenyum. Kemudian, ia menatap Art lekat-lekat.
"Hai, Art... akhirnya aku bisa bertemu denganmu. Salam kenal ya, namaku Elona..."
"Apa maksudmu dengan 'salam kenal'?! Kita sudah saling mengenal sejak lama kan, bahkan sudah setahun berlalu!" ucap Art tak mengerti.
"Hehe, Art, gadis yang kamu cintai itu bukan aku, tapi Tara. Selama ini, ia merasuki tubuhku dan hidup sebagai diriku menggantikanku..." jawab Elona sambil terkekeh.
"Tunggu! Apa maksudmu? Aku semakin tidak mengerti!" Art terlihat semakin bingung dengan perkataan Elona.
"Ceritanya cukup panjang. Kamu bilang waktu itu pada Tara, kamu pasti akan mengerti kan, kalau diceritakan yang sebenarnya?"
Art mengangguk meski hatinya tidak yakin.
Elona pun melanjutkan, "Nah, ijinkan aku yang mengatakan seluruhnya padamu sekarang..."
__ADS_1
*****
Sementara itu, di bumi.
Suara mesin rumah sakit berbunyi pelan dalam ritme yang konstan. Seorang gadis terbujur lemas di atas sebuah ranjang selama setahun lamanya. Gadis itu tak kunjung jua membuka mata.
Di sisi ranjang, duduklah seorang pemuda yang memakai setelan pakaian kasual, dengan ransel yang baru saja ia turunkan dari punggungnya. Pemuda itu baru saja menyelesaikan mata kuliah terakhirnya hari itu, dan langsung pergi ke rumah sakit setelahnya, untuk menemui gadis yang terbaring koma itu.
Pemuda itu menatap sendu pada gadis itu. Dibelainya rambut panjang milik gadis itu dengan penuh kasih sayang, dan dikecupnya tangan yang sedang digenggamnya.
"Tara... Ini aku, Geri... aku datang lagi untuk menjengukmu..." ucap pemuda itu pelan.
Beribu penyesalan hadir di dalam hati pemuda itu. Geri benar-benar tidak habis pikir pada pengkhianatan yang dilakukannya pada gadis sebaik Tara. Padahal, dulu dirinyalah yang mengejar Tara meski sudah berkali-kali ditolak olehnya. Padahal, Tara telah membuatnya berjanji untuk membahagiakannya karena itu adalah pengalaman pacaran pertama bagi gadis itu.
Tetapi, dengan bodohnya Geri terlena akan pesona Ira, sepupu Tara. Menurut Geri saat itu, Ira lebih bisa diajak untuk bersenang-senang di luar rumah ketimbang Tara yang selalu berkutat pada buku. Tadinya, Geri hanya ingin bersenang-senang sejenak. Jalan bersama Ira di malam kecelakaan itu pun yang pertama kalinya. Ia tak menyangka bahwa Tara akan memergokinya dan malah mengalami kejadian naas itu.
"Tara... maafkan aku... maafkan aku..."
Lagi-lagi, pemuda itu menangisi yang telah terjadi, seperti yang ia lakukan setiap malam semenjak gadis itu tak juga terbangun dari tidur panjangnya.
Tiba-tiba, Geri merasakan tangan yang sednag digenggamnya itu bergerak. Jemari lentik gadis itu terangkat sedikit, membuat pemuda itu langsung menyambutnya dengan sumringah. Ditambah lagi dengan kelopak mata Tara yang mulai membuka perlahan.
"Tara...? Tara! Kamu sudah sadar?!"
Geri berusaha memanggil-manggil nama gadis itu untuk memastikan bahwa penglihatannya tidak salah.
Tara membuka mata dan merasakan sakit di sekujur tubuhnya, meskipun telah diberi obat peredam rasa nyeri. Kemudian, ia melihat Geri yang benar menungguinya, seperti yang dilihatnya dari mimpi bersama Elona.
"Iya, Tara! Ini aku! Syukurlah! Akan kupanggilkan dokter dulu, ya." ucap Geri yang lalu hendak beranjak dari kursinya dan memanggil, "Dokter! Dok-"
"Geri... ngga usah dipanggil... aku ngga bisa lama-lama..." Tara mencegah tindakan Geri yang ingin memanggil dokter untuk memastikan kesehatannya. Namun Tara sendiri mengetahui bahwa ia tidak akan berada lebih lama lagi di sana.
Geri pun mengurungkan niat sambil mengernyitkan dahinya kebingungan. "Apa maksudnya, kamu ngga bisa lama-lama? Jangan ngomong yang ngga-ngga! Jangan bercanda!"
"Aku serius, Geri... waktuku udah ngga lama lagi di sini..."
"Tara... jangan ngomong kayak gitu..."
Air mata kembali menetes di kedua pipi lelaki itu, setelah tadinya perasaannya sudah bergembira karena pikirnya, ia bisa menebus kesalahannya dan mengulang lagi waktu-waktu bersama kekasihnya itu. Tetapi, ucapan Tara membuyarkan harapannya.
"Aku minta maaf... aku yang salah... aku ngga akan selingkuh lagi... tapi tolong jangan pergi..." ucap Geri dengan nada yang begitu memelas.
"Geri... aku udah maafin kamu... jangan nangis lagi, ya... semuanya udah berlalu..."
"Tara..."
"Aku minta tolong satu hal ya..."
"Apa? Apapun akan kulakukan!" sahut Geri. Tara pun tersenyum mendengarnya.
"Ambilkan hapeku... tolong carikan, di situ ada nomor telepon Om Wijaya, pengacara orangtuaku... telepon dia dan katakan untuk segera datang kemari, ya..."
"Oke, tunggu sebentar, ya."
__ADS_1
Geri pun mengambilkan handphone Tara yang tergeletak di meja di sisi ranjang. Handphone tersebut telah kesana kemari dan menjadi bukti kepolisian atas kasus kecelakaan yang Tara alami, hingga sekarang sudah kembali ke pemiliknya. Layar LCDnya tampak retak karena terlempar saat tabrakan terjadi, tapi masih bisa berfungsi. Dengan segera, Geri membuka menu kontak dan mencari nama Wijaya.
Lelaki itu kemudian menelepon orang yang dimaksud. Selang beberapa puluh menit kemudian, seorang pria paruh baya dengan kepala setengah botak dan setelan jas hitam datang tergopoh-gopoh memasuki ruangan. Begitu melihat Tara yang sudah siuman, wajahnya langsung sumringah.
"Tara! Kamu sudah sadar! Kata Geri, kamu memanggil Om?"
"Om Wijaya... ini soal harta peninggalan orangtuaku... aku akan langsung ke intinya saja ya...
Aku ingin minta tolong... agar Om membantuku melunasi biaya rumah sakit ini seandainya ada yang terkendala... Kemudian, bantu aku membayarkan biaya kamar kontrakanku di Jl. Melati...
Lalu... aku ingin mendonasikan seluruh harta sisanya ke yayasan panti asuhan...
Kumohon Om, jangan sampai ada sepeserpun yang jatuh ke tangan salah satu kerabatku..."
Tara mengambil nafas dalam-dalam dari masker oksigen yang terpasang di mulut dan hidungnya. Wijaya sedari tadi mencatat semua keinginan putri mendiang kliennya itu dengan seksama.
"Tara, kenapa kamu mau menghabiskan semua hartamu untuk donasi?!" tanya pria itu tak mengerti. Tara hanya tersenyum lemah.
"Waktu yang kupunya di sini ngga akan lama lagi, Om..."
Tara memejamkan mata sejenak. Sayup-sayup, ia mendengar suara Stefan yang memanggil-manggil namanya di dalam pikirannya.
Wijaya menyerahkan selembar kertas pada Tara dan berkata, "Tandatangani lah surat-surat ini, maka permintaanmu yang barusan akan sah di mata hukum sebagai surat wasiat."
Dengan bantuan Geri yang membantu memegangkan pulpen, Tara bisa menandatangani semua berkas tersebut.
Setelah selesai, Tara kembali tersenyum. Ditatapnya satu persatu antara Wijaya dan Geri. Hanya tinggal mereka berdualah yang ia punya saat ini.
"Om Wijaya, terimakasih udah mau datang... terimakasih udah menyampaikan amanat sejak orangtuaku masih ada hingga sekarang..." ucap Tara. Wijaya pun membelai kepala gadis itu dengan penuh kasih dan tetesan air mata.
"Sama-sama. Kalian semua orang baik, saya senang bisa kenal dengan keluargamu..." Wijaya menganggukkan kepala.
Tara berpaling pada Geri. "Hey, jangan menangis, ya..."
"Tara..."
"Geri... teruslah hidup dengan baik, jadikan semua ini pelajaran... nanti pada saatnya kamu bisa jatuh cinta lagi, jangan sakiti pasanganmu ya...
Jangan lupa makan yang teratur... kamu kadang marah kalau aku ingatkan, hehe... mulai besok, aku udah ngga bisa ngingetin kamu lagi... jangan lupa selesaikan kuliahmu dengan semangat juga ya..."
"Iya... iya... aku janji, Tara... aku janji..."
Di dalam kepalanya, suara Stefan semakin terdengar meski masih samar-samar. Tara tahu, inilah saatnya dia pergi.
Perlahan, Tara pun menutup mata, dan pergi dari dunia asalnya itu untuk selamanya, diiringi tangisan yang pecah dari mantan kekasihnya itu.
*****
...\=\= original writing by @author.ryby \=\=...
...\=\= cover art by @fuheechi_ \=\=...
((Ryby: ciee yang ikutan sedih~💃))
__ADS_1