Isekai: Putri Marquess Jadi Pengusaha Tempe

Isekai: Putri Marquess Jadi Pengusaha Tempe
Bab 42. Biogas


__ADS_3

"Nih, angkat semua batu ini, pindahkan ke sana! Cepat!"


"Kakak, apa-apaan sih?! Kan masih ada pekerja lain yang sedang menganggur, kenapa harus Art yang melakukannya?!"


"Pokoknya aku mau dia juga kerja!"


Selama di Armelin, Stefan membantu memimpin para pekerja dalam pembangunan pabrik kedelai milik Elona. Selama itu pula, ia sengaja mengganggu Art, menyuruhnya kesana kemari, mengangkat barang ini dan itu, supaya Stefan puas saja. Ia sengaja mengerjai Art sebagai balas dendam atas kenakalan yang sepupu istrinya itu lakukan dulu.


Tentu saja, Elona yang tidak tahu-menahu tentang masa lalu yang terjadi antara Stefan dan Art menjadi sangat heran dan marah pada kakaknya. Gadis itu merasa kalau kakaknya itu tidak suka pada temannya dan sedang menindasnya.


"Kakak kenapa, sih, selalu mengganggu Art?! Memangnya dia salah apa sama Kakak?"


"Salahnya dia? Coba kamu tanyakan saja padanya langsung." cetus Stefan sambil memandang Art mengejek. Ia tahu sekali kalau Art tidak mungkin berani membocorkan kenakalan yang dilakukannya dulu pada Stefan.


"Kalian pernah bertemu sebelumnya? Kalian saling mengenal?" Elona kembali bertanya dengan sangat penasaran. Namun sesuai permintaan istrinya, Stefan hanya mengangkat bahu dan tak mau menjawabnya.


"Kamu tanyakan sendiri saja pada 'temanmu yang dari desa' itu!" Stefan mencibir seraya memberi penekanan.


Begitu Elona menoleh ke arah Art, pemuda itu tidak bisa memberikan penjelasan apapun.


"Sudahlah, aku tidak apa-apa." jawab Art dengan senyum yang dipaksakan. Padahal dalam hatinya ia sebal sekali dan ingin membalas perbuatan Stefan.


"Tuh kan, dia sendiri tidak apa-apa. Benar kan, 'Art si pemuda dari desa'?" Stefan menantang dengan senyum jumawa.


"I-iya, Tuan Locke..."


Awas kau ya, Stefan!, Art berteriak dalam hati.


*****


Selang sebulan, pabrik kedelai Elona sudah jadi. Bentuknya seperti sebuah gedung empat lantai, yang dilengkapi dengan berbagai ruangan. Elona ingin membuat lantai satu sebagai lantai pengelolaan dan manajerial pabrik, lantai dua untuk pembuatan susu kedelai, lantai tiga sebagai pembuatan tahu, dan lantai empat yang belum difungsikan untuk apapun dan saat ini hanya sebagai penampungan kacang-kacang kedelai dari ladang.


Sebenarnya, Elona sudah memikirkan tentang produk lain yang bisa ia ciptakan dari kedelai selain susu dan tahu. Tetapi permasalahannya, salah satu bahan baku untuk membuat benda tersebut tidak ada di dunia ini.


Tetapi hal itu tidak terlalu Elona pikirkan saat ini. Karena sekarang yang jadi fokus utamanya adalah bagaimana supaya limbah yang keluar dari pabrik kedelainya bisa mengalir dengan baik ke arah tangki besar yang sudah dibenamkan di dalam tanah sedalam 3 meter. Butuh kerja keras dari para penambang untuk bisa menggali tanah sedalam itu tanpa mesin di dunia fantasi ini.


Elona pun memulai usaha tahunya beberapa hari setelah pabriknya selesai dibangun. Tetapi pertama-tama, ia membuat beberapa aturan bagi para pekerja pabrik yang sudah direkrutnya selama beberapa hari terakhir. Kebanyakan dari mereka adalah para warga dari Kota Armelin sendiri. Kota tersebut jadi semakin maju dan angka kemiskinannya menurun sejak Elona membuka lapangan pekerjaan bagi mereka di pabrik dan lahannya tersebut.


"Baiklah Bapak dan Ibu semuanya. Peraturan kerjanya adalah, kita harus selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungan kerja. Karena kita menproduksi makanan, kita harus bisa sebersih mungkin dalam menyajikan apa yang kita buat untuk masyarakat.


Satu, selalu mencuci tangan pakai sabun. Kedua, pakai penutup kepala dari kain supaya tidak ada rambut yang masuk ke makanan. Ketiga, pakai celemek. Keempat, selalu pakai sepatu. Kelima, bersihkan lingkungan kerja seperti lantai dan meja produksi setiap kali kotor. Keenam, selalu buang sisa produksi seperti limbah padat dan cair ke saluran ini, ya."


Elona menunjukkan sebuah saluran yang disediakan, yang terdambung dengan pipa besar yang mengarah ke luar pabrik menuju tangki limbah dalam tanah. Bahkan gadis itu sudah menuliskan besar-besar peringatan 'Selalu Buang Limbah Ke Sini' di atas lubang saluran tersebut.


"Jangan lupa ya. Selalu dibuang kemari."


"Kenapa, Nona?" salah seorang pekerja bertanya dengan penasaran.


"Karena limbah ini beracun. Jadi kita akan menampungnya ke dalam tangki bawah tanah." jelas Elona.

__ADS_1


"Beracun...? Jadi makanan yang akan kita buat ini..."


Mulai terdengar bisik-bisik ngeri di antara para pekerja. Elona pun berdehem keras untuk membuyarkannya.


"Tenang saja. Hanya limbahnya yang beracun, tapi makanannya aman. Jadi kalian tidak perlu khawatir ya."


Selesainya Elona memberikan instruksi, para pekerja pun mulai mengerjakan bagian pekerjaan mereka masing-masing. Ada yang mulai mengupasi kedelai dari kulitnya, memeras buah lemon, ada pula yang menumbuk kacang kedelai supaya halus dan menjadi bubuk. Ada pula yang mulai mengemasi produk jadi dengan bungkus dan botol kemasan yang telah dipersiapkan oleh pihak Kafe Satu Sesapan untuk pabrik Elona.


Meskipun Stefan masih keki dengan keberadaan Art di sisi Elona, tapi ia harus tetap mengakui bahwa bantuan yang diterima oleh Elona dari Kafe Satu Sesapan pasti merupakan hasil pertemanannya dengan Art juga. Tidak mungkin produk kedelai Elona ini bisa hadir sebagai menu di kafe nomor satu dalam negeri tersebut, kalau bukan karena adanya bantuan dari orang dalam.


Dan kalau bukan karena bantuan Art dan keluarga Eckart, Elona juga tidak akan bisa membangun kembali lahan terbengkalai ini menjadi lahan produksi kedelai, dan otomatis juga adiknya itu tidak bisa membantu kondisi keuangan keluarga Locke hingga sukses seperti sekarang ini.


Menyadari semua hal tersebut, Stefan menatap Art yang sedang memperhatikan Elona yang menginstruksi para pekerja dalam pembuatan tahu. Stefan menghampiri lelaki tersebut.


"Terima kasih atas bantuanmu kepada Elona selama ini," ucap Stefan saat berada di sebelah Art, sembari memandangi Elona yang tersenyum senang berada di tengah-tengah para pekerja.


Art terkejut hingga menoleh ke arah Stefan, "Apa ini berarti, aku dapat restumu untuk bisa dekat dengan Elo-"


"Bukan berarti kau boleh dekat-dekat dengan adikku, ya! Awas kau!" ancamnya dengan nada yang dalam supaya Elona tidak mendengar. Lalu Stefan melangkah keluar pabrik. Art memandangi punggung Stefan dengan sangat gusar.


Cih, kupikir dia sudah merestuiku...


*****


"Limbah yang sudah ada di tangki ini nantinya mau kamu apakan, Elona?"


Elona menggelengkan kepalanya dan berkata, "Aku bisa memberitahu Kakak tentang fungsinya, tapi tidak sekarang. Tunggu sebulan lagi."


Stefan hanya menatap adiknya dengan bingung. Tapi ia hanya terdiam.


Sebulan kemudian, sesuai dengan janjinya, Elona mengajak Stefan, Art dan Ryndall untuk pergi bersamanya ke area tangki limbah.


"Jadi cara kerja tangki ini adalah, limbah tahu masuk dari saluran pipa ke dalam tangki. Lalu limbahnya mengendap dan setelah sebulan akan muncul gas. Gas akan naik ke atas, melalui pipa yang ini," Elona menunjukkan jalur pipa kecil yang ada di bagian tutup tangki.


Pipa kecil tersebut panjang hingga ke area dalam pabrik kembali. Elona bersama ketiga orang lainnya ikut masuk ke dalam pabrik mengikuti arah jalur pipa gas.


Di bagian ujung akhir, pipa tersebut membelok ke atas, dan terdapat keran di sisinya. Elona memegang kerang tersebut.


"Ada yang bisa menyalakan api?" tanya Elona. Ryndall mengacungkan tangan.


"Aku punya batu flint." ucap Ryndall. Kemudian, ia menggesek pisau besi dengan batu flint, dan menyalakan sebuah lilin padam yang ada di tembok pabrik. Lilin yang sudah menyala dengan api tersebut lalu dibawanya ke arah Elona.


"Kak Stefan tahu, di dalam udara, selain gas yang kita hirup saat ini untuk bernafas, ada jenis gas lainnya yang bisa meledak?" tanya Elona.


Stefan menggelengkan kepala. "Memangnya ada, gas yang bisa meledak?"


Elona lalu membuka keran di hadapannya. Tidak ada apapun yang keluar dari sana. Namun saat gadis itu mendekatkan api lilin di atasnya, api tersebut terus menyala dari lubang pipa tersebut meskipun lilinnya telah menjauh.


Baik Ryndall, Stefan, maupun Art terkesiap. Mereka bertiga menatap Elona tak percaya sekaligus takjub.

__ADS_1


"Elona, ini..."


"Ini namanya gas metana. Bisa diciptakan dari limbah, disebut sebagai biogas. Bila disulut dengan api akan terbakar. Dan ini bisa menggantikan sumber api yang selama ini hanya berasal dari pembakaran kayu. Tapi ya, karena limbah itu tidak stabil, gasnya juga cuma keluar segini saja. Nantinya hanya akan kupakai untuk mengeringkan kacang kedelai saat sedang tidak ada matahari, lalu..."


Elona terus menjelaskan tentang gas yang ia sebut sebagai metana itu. Stefan masih saja menatapnya tak percaya. Tanpa Elona sendiri sadari, ia telah menciptakan suatu terobosan baru sebagai sumber api di dunia ini.


*****


*Tok tok!*


"Elona, ini aku."


"Kak Stefan? Masuklah."


Malam itu, Elona sedang berada di kamarnya untuk bersiap-siap tidur ketika Stefan mengetuk pintu kamarnya. Gadis itu pun membukakan pintu.


Cukup jarang sekali Elona menerima tamu selain Art malam-malam seperti ini, terutama setelah ia tinggal di Kota Armelin.


"Ada apa, Kak? Ada yang ingin dibicarakan malam-malam begini?"


Elona menatap penasaran pada Stefan. Mereka berdua sedang duduk di tepian kasur, sembari memandangi jendela kamar Elona. Sinar rembulan masuk dari arah sana.


Kakaknya itu pun mengelus kepala gadis itu. Lalu Stefan menatap ke arah luar jendela. Pria itu menghela nafas.


"Kamu sudah berubah ya sekarang," kata Stefan seraya tersenyum.


"Berubah? Maksud Kakak, aku jadi kurusan begitu?" tanya Elona. Stefan pun tertawa.


"Hahahah bukan hanya itu. Tapi secara keseluruhan. Padahal dulu kamu selalu menyendiri sejak orangtua kita tiada, sekarang kamu lebih membuka diri menerima orang lain. Dulu kamu tidak percaya diri, sekarang kamu jadi lebih berani."


Elona tersenyum mendengarnya. "Itu karena bantuan semua orang! Kak Ryndall, Art, Mai, Paman Wilson, Paman Stan, Paman Bran, semuanya! Mereka semua membantuku!"


"Iya, kamu benar. Banyak orang yang membantumu. Tapi... lebih dari itu."


"Maksud Kakak...?" Elona mukai tidak mengerti ke arah mana pembicaraan Stefan ini menuju.


Stefan menghela nafas, lalu menatap adiknya lekat-lekat. Elona pun merasa gugup dibuatnya.


"A-ada apa, Kak...? Kenapa menatapku begitu?"


"Jawablah dengan jujur, siapa kamu sebenarnya?"


"Eh?!"


*****


...\=\= original writing by @author.ryby \=\=...


...\=\= cover art by @fuheechi_ \=\=...

__ADS_1


__ADS_2