Isekai: Putri Marquess Jadi Pengusaha Tempe

Isekai: Putri Marquess Jadi Pengusaha Tempe
Bab 38. Sendirian


__ADS_3

"David, ada balasan surat dari Elona untukku?"


Arthur bertanya tergesa-gesa ketika membawa masuk tumpukan surat yang datang untuk keluarga Locke. Sudah hampir satu minggu sejak Arthur mengirimkan surat, namun tak satupun balasan yang ia terima. Jarak Armelin dan Rudiyart cukup dekat. Seharusnya, bagi bangsawan yang memiliki pengantar pesannya sendiri, surat dari Elona bisa sampai ke tujuan kurang dari tiga hari.


David sang sekretaris sebal sekali melihat tuannya seperti itu. "Sebentar."


David pun membuka satu persatu surat-surat yang ia letakkan di atas meja dan membacanya.


"Ada surat-surat yang datang dari berbagai bangsawan, ingin memperkenalkan putrinya padamu, Tuan Arthur. Hmm satu, dua, tiga..."


David tampak menghitung surat-surat yang berisi lamaran pertunangan dari para bangsawan untuk Arthur dengan putri-putri mereka.


Arthur langsung menampiknya dengan gusar ketika David menyerahkan surat-surat lamaran tersebut dan langsung memasukkannya ke tempat sampah.


"Aku tidak peduli! Yang aku ingin tahu, apa ada balasan surat dari Elona atau tidak?!"


David menghela nafas berat dan mulai mencari-cari nama Elona di bagian pengirim yang tertera di bagian belakang amplop surat. Akhirnya David menemukannya, sebuah surat dengan nama pengirim Elona Locke, terletak di tumpukan paling akhir.


"Ada, Tuan Muda."


"Ada?!"


Arthur segera beranjak menghampiri sang sekretaris. Tapi wajah David menunjukkan raut yang bingung.


"Iya, ini dari Elona Locke, tapi... bukan untuk anda, Tuan Muda."


"Apa?!"


Arthur merebut surat tersebut dari tangan David dan membaca bagian depan amplop. Tertera surat tersebut ditujukan untuk ibunya, Duchess Nania Eckart, dan bukan dirinya.


"Kok malah untuk ibu, sih?!" Arthur berteriak gusar. Kemudian, dia membuka surat tersebut. Isinya adalah penawaran kerja sama untuk produk kedelai selanjutnya dari bisnis Elona.


"David! Kau yakin kan, kalau suratku benar sampai ke Elona?!" tanya Arthur dengan kesal dan curiga.


"Benar, Tuan. Kemarin aku sudah ke mansion Locke, di sana ada pelayan pendamping Nona Elona, jadi dia yang-"


"Jadi, tidak kamu sampaikan ke orangnya langsung, hah?!" Arthur bertanya seraya memegang lengan atas David dan mengguncang-guncangnya. Seketika itu juga sang skretaris merasa pusing dibuatnya.


"Kan Tuan sedang menyamar jadi pemuda desa! Kalau aku, sekretaris keluarga Eckart, menyampaikannya langsung, Nona Elona pasti curiga!"


Arthur melepaskan genggamannya dan bergumam, "Jangan-jangan dia belum baca...?"


David hanya bisa diam dan bersungut-sungut pergi ke mejanya untuk melanjutkan pekerjaan, dengan lengan yang kesakitan.


*****


Satu minggu sebelumnya.


Setelah mendiskusikan tentang jenis camilan baru bernama tahu dengan Ryndall, Elona memutuskan untuk pergi ke sekitaran lahan kedelai beberapa hari berikutnya. Gadis itu, bersama dengan sekretaris kakaknya, ingin mengecek keadaan di sekitar lahan apakah cocok untuk didirikan bangunan untuk sebuah pabrik tahu.


"Nona, sepertinya di area ini cocok untuk didirikan bangunan." Ryndall menunjuk sebuah area kosong dengan rerumputan setinggi betis. Area tersebut tidak jauh dari wilayah lahan garapan. Terdapat beberapa kayu masih menancap di sana, seperti memang pernah ada bangunan sebelumnya.


"Ini..." Elona memeriksa kayu-kayu tersebut. Selain kayu, ada pula batu-batu besar yang ditumpuk seperti membentuk kompor.


"Dulunya area ini adalah tempat tinggal sementara untuk para penambang. Mereka membuat rumah sementara dari kayu untuk menginap dan beristirahat." jelas Ryndall.


Elona mengedarkan pandangan ke sekitar. Tak jauh dari area tersebut ada sungai kecil yang mengalir.


"Hmm, kita harus membuat penampungan limbah menjauh dari sungai, Kak." Elona memberikan pendapat.


"Limbahnya berbentuk cairan kan? Bagaimana kalau dibuat pipa saja dan dialirkan ke dalam tanah?" usul Ryndall. Elona menggelengkan kepalanya.


"Tidak bisa kak, efek beracunnya sama seperti kalau dialirkan ke sungai. Kita harus membuat penampungan seperti tangki, lalu nanti dialirkan ke sana."


"Kalau tangkinya di dalam tanah?" tanya Ryndall lagi.


"Itu bisa. Tapi tangkinya harus cukup dalam supaya baunya tidak tercium sampai ke luar. Mungkin sekitar... tiga meter."


"Kalau begitu, kita perlu pergi ke ahli tembaga untuk memesan tangki setinggi itu. Tapi, apa kita hanya akan menampungnya saja?"

__ADS_1


"Nanti itu akan kupikirkan."


*****


Seminggu setelahnya, yaitu saat ini. Di dapur, Elona telah mempersiapkan bahan-bahan untuk membuat tahu. Proses dan bahan yang digunakan hampir sama dengan kedelai. Hanya saja kali ini, Elona juga menyiapkan perasan buah lemon untuk mengentalkan susu kedelai menjadi tahu.


Setelah susu kedelai mulai hangat, tambahkan air perasan lemon ke dalam cairan susu. Gumpalan-gumpalan bakal tahu akan muncul. Kemudian Elona mengaduknya dengan sangat pelan supaya gumpalan tersebut tidak hancur.


Setelah dirasa air sisanya mulai terlihat bening, Elona menyiapkan wadah kotak berlubang dan sebuah kain saringan. Gumpalan bakal tahu dimasukkan ke dalamnya, dan sisa kain dilipat ke atas menutupi adonan. Kemudian Elona menutupnya dengan kayu dan menindihnya dengan beban berat di atasnya.


Setelah 20 menit, sekotak tahu putih telah siap. Bentuknya memang tidak serapi tahu kotak yang diproduksi pabrik tahu di bumi, karena yang ini dibuat dengan cetakan sederhana.


Tapi paling tidak, tahunya sudah jadi tanpa kendala apapun.


*****


Langit telah menunjukkan malam hari. Elona kembali ke kamarnya yang berada di lantai dua. Gadis itu membawa sepiring tahu yang sudah dipotong kotak-kotak seukuran tusukan garpu kecil di atasnya.


Biasanya, tahu dimakan dengan nasi sebagai lauk pauk. Tapi di dunia ini, Elona ingin mencoba hal yang berbeda. Gadis itu ingin melakukan eksperimen dengan menyajikan tahu dalam bentuk potongan kecil-kecil yang bisa dimakan dalam sekali suap saja dengan garpu kecil. Hal itu dilakukannya karena para bangsawan memiliki etika meja makan yang tinggi, terutama para wanita. Mereka tidak akan mau terlihat tidak elegan dengan memakan makanan dengan potongan besar-besar.


Elona mencoba menyuap sepotong tahu ke dalam mulutnya. Saat ditusuk dengan garpu, gumpalan tahunya tidak cukup kuat untuk menahan tusukan.


"Hmm, saat ditusuk malah terpotong dua... berarti gumpalannya kurang padat. Mungkin aku bisa mendiamkannya dengan tambahan sepuluh menit lagi sebelum adonannya siap dibuka."


Elona menggumam pada dirinya sendiri. Ia berpikir bila tahunya lebih padat, makan akan lebih cocok disajikan sebagai camilan teman minum teh atau bahkan susu kedelai buatannya.


Tok!


Elona terperanjat begitu mendengar ketukan dari jendela yang khas, di tengah lamunannya dalam membuat tahu selanjutnya. Gadis itu sampai hampir loncat dari tempat duduknya. Sudah lama sekali ia tidak mendengarkan ketukan lemparan batu di jendela kamarnya itu.


Elona segera mengalihkan pandangan. Ia melihat Art sedang bertengger di dahan sama seperti malam-malam lalu. Tetapi kali ini, wajahnya terlihat sedang kesal.


Elona membuka daun jendela kamarnya. "Art!"


Art dengan cepat meloncat ke bingkai jendela dan masuk ke kamar gadis itu.


Belum selesai Elona berbicara, tiba-tiba lelaki di hadapannya berjalan menghampiri gadis itu dan menarik lengannya ke dalam pelukan.


*****


Arthur melakukan semuanya dengan cepat dan tanpa sadar. Kali ini, rasa rindunya mengalahkan gengsinya. Lelaki itu mendekap Elona erat dalam pelukannya, seakan-akan tidak mau membiarkan gadis itu pergi lagi selamanya.


"Art...?" Elona begitu terkejut ketika lelaki itu mendekapnya dengan erat. Wajahnya berhadapan langsung dengan dada lelaki itu yang bidang dan hangat. Elona baru menyadari kalau lelaki di hadapannya itu cukup tinggi setelah berpelukan seperti ini.


Arthur tidak menjawab pertanyaan Elona yang terdengar kebingungan. Ia juga tidak kunjung melepaskan pelukannya.


"Ada apa, Art-"


"Diamlah!" Art berkata dengan ketus. Bukannya mengatakan kalau dia rindu, ia malah menyahut dengan ketus.


Elona mengernyitkan dahinya, "Kamu kena-"


"Sudah, diam saja! Biarkan aku seperti ini lebih lama lagi!"


Elona memutuskan untuk dia. Samar-samar, ia bisa mendengarkan suara jantung lelaki di hadapannya itu.


"Kenapa kamu tidak membalas suratku?!" Arthur akhirnya bersuara. Ia bertanya dengan gusar.


"Eh, surat?" Elona malah balik bertanya dengan bingung. Arthur melepaskan pelukannya dan menatap gadis itu lekat-lekat.


"Iya, surat! Apa pelayanmu Mai tidak menyampaikannya padamu?"


"Surat... oh! Jadi itu surat darimu? Maaf, tak sengaja tertumpuk dengan kertas-kertas lain di atas meja kerjaku. Maafkan aku!"


Elona menundukkan kepalanya berkali-kali.


"Sudahlah. Kenapa akhir-akhir ini kamu jadi susah ditemui, sih? Aku sampai tidak bisa ke kamarmu lagi karena kamu pasti tidur lebih awal!"


Arthur masih saja mengungkapkan kekesalannya.

__ADS_1


Elona menggandeng tangan lelaki di hadapannya itu dan mengajaknya untuk duduk.


"Maaf ya, akhir-akhir ini aku semakin sibuk. Aku bahkan tidak punya waktu untuk bersantai lagi sekarang. Aku harus mengurus lahan dan pabrik sekaligus, dan juga..."


Elona terus bercerita tentang kesibukannya. Arthur semakin kesal mendengarnya.


Kenapa dia gila kerja begini, sih!


"Aku tidak mau dengar alasan apapun. Pokoknya, aku ingin kamu meluangkan waktu untukku setiap hari! Setiap hari kita harus bertemu paling tidak satu jam, aku tidak mau tahu!" Arthur mulai menuntut, membuat gadis itu kebingungan.


"Kenapa harus begitu?"


Ditanya begitu, Arthur mulai gelagapan menjawabnya. "Ya-yaaa pokoknya harus begitu! Tidak ada alasan apa-apa!"


"Hmm? Baiklah..." Elona berusaha untuk memahami lelaki di hadapannya. Gadis itu tidak ingin teman satu-satunya itu jadi kesal padanya. Elona mengalihkan pandangan ke arah sepiring tahu di atas meja. Ia menusuk sepotong dan menyodorkannya ke mulut lelaki di hadapannya.


"Maafkan aku, ya. Ini, makanlah."


Arthur yang masih kesal, melirik sekilas pada apa yang disuapkan Elona padanya. Sepotong makanan kecil berwarna putih disodorkan dengan garpu kecil.


"Apa ini?"


"Namanya tahu. Makanlah, ini enak!"


Arthur mengambil garpu tersebut dari tangan Elona dan menyuapnya. Rasa gurih yang lembuy di dalam mulut cukup membuatnya terkejut.


"Enak juga..."


"Iya kan?! Makanlah, sebagai permohonan maafku. Kamu orang pertama yang mencobanya!"


Merasa dispesialkan, Arthur langsung melahap semua potongan tahu yang ada. Saat telah habis, ia melihat Elona telah tertidur di dengan kepala terkulai lemas di atas meja.


Tsk! Baru saja bertemu, sudah ditinggal tidur lagi!


Arthur mendecak dalam hati. Sinar rembulan masuk melalui jendela, menerpa wajah Elona yang tertidur pulas tanpa pertahanan apapun.


Dan Arthur melihatnya dengan sangat gemas.


Gadis ini benar-benar tidak tahu ya, kalau dia bisa diserang kapan saja olehku?!


Tahan... aku harus tahan...


"Elona! Bangun!" Arthur berusaha membangunkan gadis itu, namun ia tetap saja terlelap dalam tidurnya. Posisinya terlihat tidak begitu nyaman.


"Apa kupindahkan saja ya, ke tempat tidurnya?" Arthur menggumam sendiri.


"Ayah... Ibu..."


Terdengar suara lirih dari bibir Elona. Gadis itu masih memejamkan matanya, namun terlihat ada setetes air mata mengalir di pipinya.


"Elona... kamu mimpi?" Arthur bertanya pelan. Ada rasa menyengat dalam hatinya ketika melihat gadis itu meneteskan air mata.


"Ayah... Ibu... jangan pergi... nanti aku sendirian... hiks..."


Sendirian?


Arthur memang telah mendengar banyak tentang Elona, dari sepupunya Iris maupun ayahnya. Orangtua gadis itu meninggal sejak ia masih kecil karena kecelakaan. Yang Arthur herankan adalah, kenapa gadis itu mengatakan kalau ia sendirian? Padahal jelas kalau ia masih memiliki seorang kakak laki-laki bernama Stefan.


"Kenapa kamu bilang sendirian...? Kan ada Stefan, Iris, dan juga aku..." Arthur menjawab pelan meski ia tahu gadis itu tidak mungkin menyahut perkataannya dari dalam mimpi.


"Ayah... Ibu... aku takut... semuanya jahat padaku... Tara takut, Ayah... Ibu... Tara sendirian..."


Arthur mengernyitkan dahinya. Ia sangat kebingungan dengan apa yang diucapkan oleh Elona.


Tara...? Siapa itu Tara?


Namanya kan Elona Locke?


*****

__ADS_1


__ADS_2