
"Art, setelah ini kita ke Kafe Satu Sesapan, ya!" Elona mengajak pemudia di hadapannya yang sedang makan camilan stik kentang goreng yang dibelinya di jajanan festival.
"Ya, baiklah..." sahut Art sambil menghela nafas panjang. Lelaki itu tadinya berharap bahwa Elona telah melupakan tujuan utamanya ke Kota Rudiyart ini, yaitu mengecek tanggapan pembeli kafe secara langsung mengenai susu kedelai buatannya. Tetapi ternyata gadis itu masih mengingatnya, bahkan setelah mereka berdua menikmati berbagai pertunjukan di festival ini.
Bukannya Art tidak mau mengajak Elona ke kafe miliknya. Hanya saja, lelaki itu ingin sesedikit mungkin bertemu dengan orang-orang yang mengenalnya. Tetapi Art memang sudah menyiapkan sesuatu juga di kafe, untuk berjaga-jaga barangkali Elona tetap ingin pergi ke sana.
Letak Kafe Satu Sesapan berada tidak jauh dari area festival seni diadakan. Hanya selang beberapa menit, Art dan Elona telah sampai di sana. Langit telah menunjukkan waktu senja. Pelayan kafe membawa mereka berdua menuju meja makan spesial untuk dua orang yang terletak di lantai atap bangunan. Hanya orang-orang naratetama saja yang dapat memesan di lantai ini.
"Eh? Apa tidak apa-apa, kami menempati meja ini?" Elona bertanya dengan khawatir begitu mendapatkan kursi naratetama dengan mudahnya, padahal bangsawan lain mengantri mendapatkannya sampai masuk daftar tunggu sepanjang tiga bulan.
"Tidak apa-apa Nona. Ini semua permintaan pemilik kafe ini." ucap si pelayan dengan polosnya. Elona menatapnya heran, sedangkan Art membelalakkan matanya begitu mendengar perkataannya.
Padahal para staff sudah dipesankan supaya jangan menyebut apapun soal hal itu. Terlebih lagi, pelayan polos di hadapannya ini ternyata masih bisa mengenalinya bahkan saat dia telah mengenakan penutup mulut dari kain.
"Permintaan?" tanya Elona heran.
"Eh, iya, katanya tadi pagi dipesankan apabila si pemilik kafe Tuan Arthur datang maka-"
"Arthur? Siapa itu?" Elona bertanya kembali.
"Eh, maksudnya pasti Nyonya Nania, kan dia pemilik kafe ini! Mungkin Nyonya yang minta supaya apabila kamu datang, langsung berikan kursi terbaik, begitu pasti!" Art menyela terburu-buru. Lalu dengan cepat dia mendorong pelayan tersebut untuk mengajaknya pergi.
"Aku mau ke toilet! Pelayan, ayo tunjukkan toiletnya!"
"Eh, eh??" sang pelayan polos itu pun kebingungan saat diseret oleh Art tiba-tiba. Begitu Elona menghilang dari pandangan, Art segera memanggil pelayan lainnya.
"Ah, Tuan Arthur, ada apa?" pelayan yang lain itu bertanya setelah mendekat.
"Kau urus temanmu ini! Sudah kubilang kan, jangan sebut nama asliku saat ada Elona!" dengan kasar Art mendorong si pelayan polos itu ke arah pelayan yang lain.
"Ah, ampuni kami, Tuan! Dia ini tidak masuk saat pemberian instruksi tadi pagi, dan baru bisa datang sore ini!"
"Maafkan aku Tuan! Aku tadi terburu-buru menerima instruksinya, aku lupa sebagian!"
Kedua pelayan itu minta maaf sambil menundukkan kepala dengan takut-takut. Art mengibaskan tangannya.
"Ya sudahlah, jangan diulangi lagi! Oh ya, pesankan makanan terbaik di kafe. Dan dua susu kedelai, siapkan juga."
"Baik, Tuan!!"
*****
"Wah, ini enak sekali!" Elona berseru senang ketika menikmati gigitan daging steak empuk di hadapannya.
"Art, apa kamu yakin ingin mentraktirku daging steak ini? Ini pasti mahal, kan?" tanya gadis itu cemas. Karena dalam pikirannya, seorang pemuda desa tidak mungkin mampu membayar steak seenak ini. Selain daging steak, di atas meja pun juga tersedia beberapa makanan dan pencuci mulut yang enak lainnya.
"Oh, ini semua gratis, tenang saja." sahut lelaki itu.
__ADS_1
"Gratis lagi?! Apa jangan-jangan karena mereka mengenalmu dekat dengan Duchess Nania Eckart?" mata Elona terbelalak. Art menganggukkan kepalanya.
"Bukan itu, tapi karena kamu yang datang. Sudah kubilang kan, ini hari keberuntunganmu."
"Tapi... aku jadi tidak enak dengan semua hal ini..."
"Sudahlah, dinikmati saja! Tidak perlu dipikir sulit, oke?"
"Baiklah..."
Art bersyukur dalam hati mendengar ucapan Elona. Jangan sampai semua yang telah dilakukan untuk hari ini berakhir sia-sia hanya karena gadis itu merasa tidak enak untuk menerimanya.
"Oh, susu ini ternyata enak sekali, ya! Susu apa ini?"
Sebuah suara terdengar dari meja sebelah. Dua orang nyonya bangsawan sedang menikmati hidangan mereka di sana. Elona melihat penasaran begitu kedua wanita tersebut mencoba susu buatannya.
Seorang pelayan yang berdiri di sebelah mereka menjelaskan, "Ini adalah susu kedelai, Nyonya. Sangat baik untuk kesehatan Anda!"
"Kedelai bisa dibuat menjadi susu seenak ini?! Pasti bisa membuat gemuk juga ya?"
"Ah, tidak seperti susu sapi, yang ini bisa menjaga bentuk tubuh anda yand indah karena rendah kalori!"
"Ah, benarkah? Waah! Aku bisa minum susu kedelai ini sebanyak apapun yang aku mau!"
"Sayang, ya, tidak bisa dibawa pulang. Aku ingin sekali membelinya untuk persediaan. Yang tanpa rasa juga tak masalah. Aku kan tidak bisa ke kafe ini setiap hari..."
Elona mendengarkan semua percakapan dengan seksama. Saat ini memang Kafe Satu Sesapan memiliki hak eksklusif untuk menjual susu kedelai dengan rasa. Susu kedelai tanpa rasa bisa didapatkan lebih murah di kedai-kedai makanan biasa. Tetapi itupun hanya susu yang bisa dinikmati di tempat.
Setiap harinya, pabrik susu kedelai Elona menyediakan drum-drum berisi susu untuk diantarkan ke kedai-kedai dan Kafe Satu Sesapan. Susu tersebut hanya dibuat untuk konsumsi pada hari itu juga. Jadi harus habis di hari yang sama, atau kalau tidak sisanya akan terbuang semua.
"Hmm, susu yang bisa dibawa pulang, dan camilan yang gurih, ya..." gumam Elona.
Art memperhatikan sedari tadi apa yang dilakukan gadis di hadapannya. Ia melihat Elona sedang berpikir keras, dan setelahnya gadis itu pasti akan membuat suatu terobosan yang besar lagi. Sesuatu yang tidak pernah terpikirkan oleh masyarakat sebelumnya. Pantas saja ayahnya ingin sekali menjodohkannya dengan gadis di hadapannya itu.
Tetapi Art tidak ingin dijodohkan dengan Elona seperti itu. Dia memang ingin dekat dengan Elona, tapi dia juga mau kalau gadis itu mencintainya kembali dengan perasaannya sendiri yang tulus, tanpa ada tekanan perjodohan.
Mencintaiku kembali? Berarti... yang aku lakukan sekarang ini, karena aku sedang jatuh cinta?!
Art terkejut dengan pemikirannya sendiri. Di saat orang-orang terdekatnya, bahkan pelayan dan prajurit Eckart, telah mengetahui kenyataannya, Art malah baru menyadarinya sendiri. Rona wajahnya merah seketika.
"Kamu kenapa? Kok tiba-tiba wajahmu merah? Sakit flunya makin parah?" tanya Elona cemas. Gadis itu teringat alasan Art memakai penutup mulut dan hidung karena dia sedang sedikir flu katanya.
"Tidak ada apa-apa!" seru Art cepat sambil memperbaiki penutup kainnya. "Kamu sedang memikirkan sesuatu?" Art bertanya supaya perhatian Elona teralihkan.
"Ah iya, aku berpikir untuk membuat supaya susu kedelai ini bisa dibuat di rumah, supaya orang tidak perlu pergi ke kafe untuk meminumnya." jawab Elona.
"Oh ya? Bagaimana caranya?" tanya pemuda itu lagi.
__ADS_1
"Aku bisa saja membuat susu kedelai ini sebagai bubuk. Tapi nanti kalau aku menjualnya secara pribadi, hak eksklusifitas yang dimiliki kafe ini akan berkurang, karena nanti para bangsawan bisa membuat susunya sendiri di rumah. Yah, meskipun yang kujual ini hanya versi bubuk yang tanpa rasa, sih."
"Hmm..." Art juga jadi ikut berpikir keras. "Kalau begitu, biarkan pihak kafe yang menjual versi bubuknya itu. Kamu yang buat bubuknya, dan kafe yang akan menyediakan kemasannya supaya terlihat eksklusif."
"Kita jual dengan harga lebih mahal dari susu cair tanpa rasa, tapi lebih murah dari susu cair yang memiliki rasa. Dengan begitu, para bangsawan bisa membelinya untuk diminum di rumah, tapi mereka harus menambahkan rasanya sendiri. Kalau mereka tidak ingin repot menambahkan rasa sendiri, ya pergilah ke kafe untuk bisa meminum yang sudah ada rasanya. Kalau begitu, bagaimana?" lanjut Art seraya meminta persetujuan pendapat.
Elona membelalakkan matanya. "Art! Itu ide yang bagus sekali! Aku setuju!!"
"Nanti biar aku yang menyampaikannya pada Duchess Nania." ucap Art lagi. "Lalu, bagaimana soal camilan? Sepertinya tadi kamu memikirkan hal itu juga?"
"Oh iya, ada satu jenis makanan yang bisa dibuat dari kedelai juga. Biasanya dibuat sebagai lauk dan dimakan dengan nasi, tapi sebagai camilan yang disantap dengan garpu juga bisa..." gumam Elona.
"Apa maksudmu dengan 'biasanya'? Memang pernah dibuat sebelumnya?" tanya Art tak mengerti.
Elona langsung kebingunan menjawabnya, "Eh itu... ah tak usah dipikirkan!"
"Hmm?" Art memandanginya tak mengerti. Ia merasa seperti ada yang disembunyikan dari gadis di hadapannya itu.
"Intinya, ada satu jenis makanan yang bisa kubuat dari kedelai. Tapi untuk makanan yang satu ini perlu tempat pembuatan khusus lengkap dengan penampungan sisa air buangannya." jelas Elona.
"Sisa air buangan? Maksudmu limbah? Apa tidak bisa dialirkan ke tanah atau sungai saja?" tanya Art.
Elona menggeleng dengan cepat, "Oh, jangan. Sangat tidak bisa. Karena limbah pembuatan makanan yang satu ini sangatlah-"
Psiuuuu... DUAARR!!
Art dan Elona terkejut. Sebuah kembang api meluncur dan meledak tepat di sebelah mereka menikmati makan malam. Pantas saja lantai atap ini sangat eksklusif, karena dari tempat inilah bisa terlihat kembang api festival seni Rudiyart yang terkenal itu.
Para pengunjung mendekatkan diri mereka ke pagar balkon, termasuk Elona dan Art. Gadis menganga saking takjubnya.
"Kembang api?! Cantik sekali!!"
"Iya, setiap hari pertama dan hari terakhir festival, kembang api akan dinyalakan untuk menandai mulai dan berakhirnya festival tersebut." jelas Art.
"Art, ini cantik sekali! Dan lantai atap kafe ini strategis sekali untuk melihatnya! Apa ini alasanmu memilih hari ini untuk jalan-jalan denganku?"
"Ya, bisa dibilang begitu, hehe." sahut Art. Pemuda itu memang sengaja mengulur waktu untuk menemani Elona berjalan-jalan di Rudiyart sampai hari ini. Selain memang karena acara kembang api ini, Art pun juga jadi bisa mempersiapkan semua keberuntungan gratisan yang didapatkan Elona hari ini.
Elona mengalihkan pandangan pada pemuda di sebelahnya dan menatapnya dengan berbinar-binar.
"Terima kasih, Art! Hari ini aku senang sekali! Terima kasih banyak!"
Art menatap Elona lekat-lekat. Gadis itu mengalihkan perhatiannya kembali pada serentetan kembang api yang masih dinyalakan setelahnya. Tetapi mata Art tidak dapat lepas dari wajah Elona. Ada sesuatu yang hangat mengalir dalam dirinya. Jantung yang berdegup kencang sudah tidak dapat terkontrol lagi.
Sesuatu yang selalu disangkal lelaki itu sebelumnya, mau tidak mau sekarang harus diakuinya. Dan Arthur Eckart pun mengucapkannya, meski hanya dalam hati.
Elona Locke, aku memang sudah jatuh cinta padamu.
__ADS_1
*****