Isekai: Putri Marquess Jadi Pengusaha Tempe

Isekai: Putri Marquess Jadi Pengusaha Tempe
Bab 27. Intoleransi Laktosa


__ADS_3

"Maaf Nona, bukannya saya tidak mau menerima pemberian dari Anda, tapi saya tidak bisa minum susu..."


Seorang pria datang menghampiri Elona saat gadis itu menanyakan pada para pekerjanya siapa di antara mereka yang tidak meminum susu pemberiannya sama sekali.


Pria itu berkulit cokelat gelap dan memakai tunik sederhana. Tinggi badannya tidak jauh berbeda dari Elona. Agak aneh, karena di dunia fantasi ini rata-rata yang Elona lihat adalah laki-lakinya memiliki tubuh tinggi tegap seperti Art atau Pak Stan. Yah setidaknya, lebih tinggi dari Elona. Tapi pria di hadapannya ini tingginya hampir sejajar dengannya.


"Kenapa?" Elona bertanya penasaran.


"Sejak kecil saya tidak bisa minum susu, karena setelahnya saya pasti diare." pria itu mencoba menjelaskan, sambil memandang drum susu yang dibawa Elona dari kediamannya dengan tatapan ketakutan.


"Oh, ya? Sudah pernah diperiksakan ke dokter?" Elona bertanya lagi. Otaknya berputar dengan cepat memikirkan sesuatu.


"Belum pernah, Nona. Tapi ibu saya juga mengalami hal yang sama."


Jadi, kelainan genetik? Elona mengambil kesimpulan dalam hatinya.


"Selain susu, apalagi yang tidak bisa Paman makan?" tanya gadis itu lagi.


"Keju, Nona. Efeknya pada saya sama seperti habis minum susu."


"Kapan itu terjadi?"


"Dulu sekali, waktu mendiang Tuan Edward, ayah Nona, mengadakan perjamuan di balaikota dan mengundang warga desa. Ada banyak makanan yang mengandung keju saat itu, tapi aku tidak bisa menikmatinya." ucap pria itu seraya tatapannya menerawang pada kejadian masa lalu. "Diare yang kurasakan setelahnya sangat menyiksa!"


Setelah mendengarkan semua hal itu, Elona terdiam sejenak dan berpikir.


Kalau ibunya juga mengalami, berarti ini menurun dalam keluarga. Tapi, keju juga dia tidak bisa makan?


Oh, apa jangan-jangan...


"Lalu selama ini tidak pernah minum susu sekalipun?" Elona menanyakan hal-hal pelengkap meski sebenarnya ia sudah mengetahui apa yang terjadi pada pria itu.


"Tidak... tapi orangtua saya menggantinya dengan air rebusan beras,"


"Air rebusan beras... oh, tajin!" sahut Elona, disambut dengan tatapan heran para warga yang ikut mendengarkan percakapan gadis itu dengan si pria tua.


"Tajin? Apa itu?"


Oh iya, mana mungkin mereka tahu istilah dalam bahasa bumi untuk air rebusan beras.


"Maaf, bukan apa-apa..." gumam Elona. "Jadi selama ini, tidak pernah minum susu selain dari sapi?"

__ADS_1


"Tidak, Nona. Aku juga tidak sanggup minum susu kambing." jawab pria itu, namun Elona mengibaskan tangannya.


"Bukan yang dari kambing, maksudku yang dari kacang-kacangan! Misalnya, susu kedelai begitu."


"Apa?! Susu kedelai?" para warga serempak bertanya, lalu sedetik kemudian mereka tertawa.


"Nona Elona ini ada-ada saja! Sejak kapan kedelai bisa diperah susunya, hahahaha!"


Elona jadi bingung sendiri melihatnya. Karena dari pengalamannya di bumi, meminum susu yang terbuat dari kacang-kacangan itu hal yang sangat umum sekali.


"Oh, bukan itu maksudku..." kata Elona mencegah tawa mereka berlanjut. Lalu gadis itu tersadar akan sesuatu. "Oh, tunggu. Memangnya selama ini, bagaimana cara kalian mengonsumsi kacang kedelai?"


"Maksudnya?" salah satu warga balik bertanya tidak mengerti, "Tentu saja kami memakannya, secara langsung sebagai kacang biasa atau dijadikan pelengkap sup."


"Tidak pernah diolah sebagai benda lain...?" tanya Elona ragu.


"Memangnya, apa lagi kegunaan kacang kedelai selain untuk pelengkap sup?"


Elona membelalakkan matanya setelah mendengar pertanyaan balik tersebut.


Ini dia!


*****


Dan inilah dia, si nona muda sedang berada di dalam dapur, di kediamannya Kota Armelin. Satu kilogram kacang kedelai telah siap di atas meja, bersamaan dengan gula pasir, panci, garam, dan air siap minum.


Elona mengedarkan pandangan pada bahan-bahan di hadapannya. Ia berpikir sejenak.


Aku agak lupa... bagaimana ya, cara membuat susu kedelai? Cukup direbus saja, kan?


Setelah mendengarkan penjelasan seorang pekerja yang tidak bisa minum susu sapi sejak beliau masih kecil, Elona mengambil kesimpulan.


Pria tua tadi itu menderita intoleransi laktosa, yaitu tidak bisa mengonsumsi gula yang terkandung dalam susu hewan. Jadi, dia juga tidak bisa mengonsumsi produk makanan turunan hewan yang mengandung laktosa seperti keju atau yoghurt.


Kalau di bumi, anak-anak yang mengidap intoleransi laktosa akan diberikan alternatif minum susu selain dari hewan, yaitu susu yang terbuat dari kacang-kacangan. Yang paling umum adalah kedelai. Sebenarnya dikatakan sebagai susu pun memang kurang tepat, karena benar yang dikatakan para warga tadi. Kedelai tidak dapat diperah susunya. Susu kedelai sebenarnya adalah saripati kedelai. Karena warnanya putih mirip susu maka sering disebut sebagai susu kedelai.


"Tinggal direbus saja supaya empuk, lalu dihancurkan sampai menjadi cair... benar kan, ya?"


Elona menggumam pada dirinya sendiri, sembari mengambil sebanyak 250 gram kedelai, lalu dimasukkannya pada panci. Kemudian ia menambahkan air, dan menyalakan api. Para pelayan yang juga berada dalam dapur saat itu membantunya menyalakan api dengan kayu bakar.


"Nona, sedang memasak apa? Nona ingin makan sesuatu? Biar kami saja yang menyiapkan!"

__ADS_1


"Tidak usah, aku belum lapar. Aku sedang membuat percobaan dengan kacang kedelai, hehe." Elona menjelaskan sembari tersenyum. Para pelayan pun menganggukkan kepala.


"Oh, begitu... semoga berhasil, Nona. Kalau butuh bantuan, panggil kami saja, ya!"


"Terima kasih!" ucap Elona, lalu mengalihkan pandangannya kembali pada panci di hadapannya.


Sejujurnya Elona tidak begitu mengingat resep dari susu kedelai. Yang ia tahu, kalau untuk mendapatkan saripati makanan, ya tinggal dihancurkan saja. Saat ini gadis itu sangat menyesali kenapa smartphone tidak ada di dunia tempatnya tinggal sekarang. Karena kalau ada, ia bisa dengan cepat memastikan lewat situs mesin pencarian apakah yang dia lakukan ini sudah tepat atau belum.


Setelah merebus kacang kedelai dengan air mendidih selama lima menit, Elona mengangkat pancinya.


"Nona ingin menghancurkan kacang kedelai itu?" tanya seorang juru masak begitu melihat majikannya itu mengambil satu set cobek dan ulekan dari rak piring.


"Eh? Iya, Paman."


"Pakai penggiling bumbu saja." usul si juru masak. Lalu ia mengeluarkan sebuah mesin manual yang terbuat dari perunggu. Bentuknya seperti gelas panjang dengan mangkuk di bawahnya, dan ada tangkai pemutar di atasnya.


"Oh, bisa juga ya pakai itu... terimakasih, Paman!"


Elona mengembalikan lagi set cobek ulekan tersebut ke dalam rak. Lalu gadis itu memasukkan kacang kedelai yang telah disaring dari air rebusannya ke dalam penggiling, dan menambahkan air.


Dengan bantuan seorang pelayan yang memutarkan tongkat penggiling, Elona mendapatkan satu mangkuk penuh kacang kedelai yang telah menjadi bubur.


Gadis itu kemudian menyiapkan sebuah panci bersih dan kain penyaring. Diletakkannya bubur kedelai tersebut ke atas kain, dan Elona membungkusnya. Lalu dengan


perlahan, Elona memeras gumpalan bubur dalam kain tersebut. Sejumlah cairan keluar dari dalam sana. Elona memastikan tidak akan ada ampas kacang yang ikut masuk ke dalam panci, sehingga hanya menyisakan saripatinya saja.


Sekali lagi, Elona membawa panci ke atas kompor. Kali ini, isinya adalah cairan putih tanpa ampas. Setelah meyalakan api, perlahan gadis itu menambahkan garam dan gula secukupnya, lalu mengaduknya supaya tercampur rata dengan susu kedelai. Ada buih-buih yang muncul selama perebusan. Elona mengangkat buih-buih tersebut dan membuangnya. Setelah lima menit, ia menuangkan isi panci tersebut ke dalam sebuah gelas.


Mata Elona seketika itu juga menjadi berbinar.


"Waahh! Sudah jadi!"


Elona membiarkan susu kedelai tersebut terlebih dahulu supaya suhunya menjadi normal dan bisa diminum olehnya. Gadis itu tidak sabar dan mengipasi cairan putih tersebut supaya cepat dingin. Ia ingin segera meminum hasil percobaannya tersebut.


Setelah beberapa lama, Elona menyentuh permukaan gelas. Suhunya sudah normal. Dengan cepat, gadis itu meraih susu kedelai tersebut, bersiap menenggaknya langsung.


"Oke! Selamat minum!"


"..."


"*HOEK!! Apa-apaan ini?! Kenapa bau sekali??"

__ADS_1


*****


__ADS_2