Isekai: Putri Marquess Jadi Pengusaha Tempe

Isekai: Putri Marquess Jadi Pengusaha Tempe
Bab 43. Prediksi


__ADS_3

Dua bulan yang lalu, di ibukota.


"Stefan, ada yang mencarimu!"


Iris masuk ke dalam ruang kerja suaminya itu dengan tergopoh-gopoh. Tetapi wajahnya memancarkan senyuman.


"Siapa?" Stefan pun ikut panik begitu melihat istrinya seperti sedang terburu-buru begitu.


"Para wartawan! Mereka ingin mewawancaraimu tentang bisnis kedelai Elona di Armelin!" seru Iris, membuat Stefan terperanjat.


"Apa?! Tapi aku tidak tahu apapun tentang bisnisnya Elona. Ryndall memang mengirimi perkembangan di sana melalui surat, tapi aku tidak tahu detailnya!" seru Stefan yang jadi ikut panik.


"Lalu, apa yang harus kujawab pada para wartawan itu? Mereka semua sudah di halaman depan!"


"Tunggu..." Stefan berpikir sejenak. "Elona mengatakan kalau ia tahu semua ilmu pertanian tersebut melalui buku, kan? Kalau begitu, mungkin buku itu masih ada di dalam kamarnya..."


"Kalau begitu, cepatlah kamu mencarinya. Untuk sementara, aku akan menahan para wartawan di ruang lobi." usul Iris.


Stefan pun bergegas menuju kamar Elona yang berada di lantai dua mansion Locke. Sudah berbulan-bulan kamar tersebut kosong sejak ditinggal oleh penghuninya. Kamar itu masih dalam keadaan rapi dan bersih, untuk berjaga-jaga bila sewaktu-waktu putri keluarga Locke pulang ke rumah.


Stefan mencari-cari buku yang dibicarakan adiknya itu di rak buku dan juga lemari pakaian di kamar itu. Hasilnya nihil. Hanya ada beberapa buku tulis dan buku-buku pelajaran sekolah yang tidak ada hubungannya. Bahkan di atas meja tulisnya tak ada buku satupun.


Stefan pun membuka laci meja tersebut. Terdapat secarik kertas, dengan berbaris-baris tulisan adiknya di sana.


Stefan pun membaca isi kertas tersebut dalam hati, dan terperanjat.


"Ini... apa ini?!!"


*****


Saat ini, di kamar Elona di Armelin.


"Jawablah dengan jujur. Siapa kamu sebenarnya?"


"Eh?!"


Elona terperanjat mendengarkan pertanyaan Stefan. Gadis itu sangat tak menyangka bahwa kakaknya itu akan menanyakan identitas yang sebenarnya.


"A-apa maksud Kak Stefan? Aku Elona, adikmu!" Elona berusaha menjawab dengan tenang, namun kepanikan tidak dapat disembunyikannya.


Stefan melepaskan sunggingan dari bibirnya. Ia tersenyum ketika melihat gadis di sebelahnya itu menjawab dengan panik. Lalu Stefan mengalihkan pandangannya kembali ke arah jendela.


"Kamu tahu, aku mungkin tidak begitu mengenali adikku selama ini karena kesibukanku, tapi bukan berarti aku buta segalanya tentang dia."


Stefan berjalan ke arah jendela dan menatap rembulan di atas sana. Kemudian, ia berbalik lagi menatap Elona yang matanya mulai terlihat panik.


Stefan merogoh kantung celananya dan mengeluarkan secarik kertas. Ia membuka lipatan kertas tersebut.


"Aku menemukan ini di laci meja kamarmu."


"A-apa itu?" Elona berusaha mengingat benda apa saja yang berada di laci meja kamarnya di ibukota. Tapi berbagai macam kesibukannya di Armelin membuatnya lupa sama sekali.


Stefan tersenyum tipis saat melihat gadis di hadapannya itu malah bertanya tentang kertas tersebut. Pria itu menghela nafas.


"'Alur cerita Elona Locke dalam webtoon Cerita Hati'." Stefan membaca isi kertas tersebut, dan hal itu membuat Elona sangat terkesiap.


Gadis itu menahan nafasnya. Ia benar-benar lupa kalau pernah menulis sesuatu di secarik kertas tentang alur cerita Elona Locke, dulu sekali saat ia baru tiba di dunia ini pada hari pertama.


"Ka-kakak... itu-"


"'Louis Vandyke melabrak Elona Locke di sekolah karena Elona telah mendorong Kiara Perez hingga terjatuh.'" Stefan memotong perkataan gadis tersebut dan terus membaca isi kertas.


"'Keluarga Locke mengalami kebangkrutan karena Kota Armelin mengalami penurunan pendapatan pajak. Tidak tahu kapan terjadinya. Kakak Elona yang bernama Stefan berusaha mengatasinya namun gagal.'


'Di bab terakhir cerita, Elona Locke berusaha meracuni Kiara Perez dan akhirnya mati dipasung di depan warga kota, disaksikan oleh keluarga yang menangisinya. Nama Locke sebagai marquess akan jatuh dan bangkrut'."


*****


Stefan menatap tajam pada gadis di hadapannya. Ia bahkan sudah tak memercayai lagi kalau gadis itu adalah Elona Locke adiknya. Perlahan tapi pasti, ia melangkah maju, membuat gadis itu secara refleks terus mundur ke belakang. Hingga pada suatu titik, ia sudah tidak bisa mundur lagi karena terhalang oleh tembok kamar.


Stefan mengangkat kertas tersebut, dan menyodorkannya pada gadis di hadapannya itu "Jelaskan apa maksud dari semua ini! Kamu bisa memprediksi masa depan! Siapa kamu?? Dan kemana Elona?! Jawab!!"


Stefan menghentakkan kakinya di hadapan Elons, membuat gadis itu terperanjat dan mengucurkan peluh dingin di dahi. Ia tampak seperti ingin menangis.


"Ta-tapi, aku tidak-"

__ADS_1


"Sudah jangan mengelak lagi! Lagipula adikku Elona tidak mungkin mengetahui tentang gas yang bisa terbakar seperti yang kamu tunjukkan tadi siang. Hal itu belum ada di dunia ini saat ini!"


Skak mat! Elona tidak bisa lagi mengelak setelah mendengar pernyataan terakhir kakaknya itu.


Stefan sebenarnya ingin sekali mencecar gadis di hadapannya ini dengan berbagai pertanyaan. Namun hatinya entah mengapa menjadi tidak tega, terutama setelah ia melihat gadis itu seperti ingin menangis dibuatnya.


Bagaimanapun juga, entah sejak kapan, yang selama ini dikenalnya dengan baik sebagai seorang adik adalah gadis di hadapannya ini, bukan Elona adik sebenarnya yang selalu menyendiri dalam kamarnya.


Stefan menghela nafas panjang, berusaha menenangkan dirinya. Begitu ia merasa cukup tenang, ia meraih tangan adiknya itu dan menariknya, mengajaknya duduk di sebuah kursi dengan meja bundar dekat jendela. Kursi yang biasanya digunakan Elona untuk menyambut Art apabila lelaki itu sedang main ke kamarnya pada malam hari.


"Kemarilah. Ayo kita duduk dan bicara." ajak Stefan.


"Tapi..."


"Tenanglah, aku tidak akan marah, meskipun kamu mengatakan kejujuran yang pahit sekalipun."


Elona pun duduk di kursi yang berseberangan dengan Stefan. Kepalanya menunduk dengan takut. Ia meletakkan kertas yang jadi perkara tersebut di atas meja.


"Sekarang, aku akan bertanya pendek-pendek saja." Stefan memulai pembicaraan. Ia menunjuk pada kertas di hadapannya. "Apa benar kamu yang menulis di kertas ini? Iya atau tidak?"


Gadis di hadapannya itu pun mengangguk, "Iya, benar."


"Lalu tentang keadaan di Armelin, apakah kamu bisa memprediksi masa depan?"


Elona menatap ke arah Stefan, "Umm, tidak bisa dikatakan sebagai prediksi masa depan. Tapi aku memang tahu apa yang akan terjadi..."


Stefan mengambil nafas sejenak. Ia memang telah bersiap akan menerima semua jawaban yang akan diberikan gadis itu olehnya, tetapi pada faktanya ia tetap saja sulit menerimanya.


"Lalu soal Louis Vandyke," lanjut Stefan. "Di sini dikatakan kalau Elona Locke akan mati dipasung di akhir cerita. Apa benar?"


Sekali lagi Elona mengangguk, "Kalau terus melihat Louis bersama dengan Kiara, Elona akan kalap dan berusaha mencelakai Kiara. Sebagai akibatnya, perbuatannya itu akan ketahuan, lalu hidup Elona akan berakhir di tiang gantungan."


"Jadi, karena kamu mengetahui apa yang akan terjadi pada diri Elona dan pada keluarga Locke, kamu berusaha mencegahnya?"


"Iya... itu sebabnya aku memutuskan pertunangan dengan Louis. Aku juga berusaha membangkitkan Kota Armelin, supaya keluarga Locke tidak mengalami kebangkrutan di akhir cerita..."


Stefan terkesiap dan menahan nafasnya. Begitu banyak yang gadis itu lakukan untuk keluarganya tanpa ia sadari, padahal mereka tidak saling mengenal. Ia menyesali kenapa dirinya justru membuat gadis itu ketakutan saat ini.


Stefan meraih tangan Elona di atas meja dan menggenggamnya. Matanya menatap lekat-lekat pada orang yang sudah berpura-pura menjadi adiknya selama ini.


"Kalau aku ceritakan yang sebenarnya, apa Kak Stefan akan percaya?"


Stefan tersenyum dan menghela nafas, "Siapapun kamu yang sebenarnya, aku sudah menganggapmu seperti adikku sendiri. Dan aku tidak mungkin menganggap adikku seorang pembohong. Katakanlah sejujurnya."


Elona memejamkan matanya, berusaha mencerna semuanya. Ia berpikir mungkin inilah saatnya ia berbagi kisah dirinya pada satu orang saja di dunia ini. Selama ini gadis itu selalu menahan semuanya sendirian.


"Aku... bukanlah berasal dari dunia ini..."


Stefan sangat terperanjat, namun berusaha menyembunyikannya.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi. Terkahir kali yang kuingat, di duniaku aku mengalami kecelakaan tertabrak sebuah mobil, lalu-"


"Mo... apa? Mobil? Apa itu?" tanya Stefan tak mengerti.


"Sebuah kendaraan. Seperti kereta kuda tapi dengan mesin. Dan lajunya sangat cepat. Jarak dari ibukota ke Armelin bisa ditempuh hanya dalam kurun waktu kurang dari 3 hari saja."


"Wah..." Stefan menjadi takjub. "Lalu, kamu tertabrak oleh kendaraan bernama mobil ini?"


"Benar. Dengan kecepatan setinggi itu, seharusnya aku sudah mati. Tapi aku malah terbangun dan berada di tubuh orang lain... yang aku tahu setelahnya adalah Elona Locke."


"Lalu, kenapa kamu mengenalku dan yang lainnya di dunia ini? Kenapa kamu bisa tahu akhir hidup Elona? Dan apa itu Cerita Hati?"


Stefan memberondonginya dengan pertanyaan dan rasa penasaran yang tinggi.


"Pertama-tama, Cerita Hati adalah judul dari sebuah webtoon favoritku. Aku senang sekali membacanya-"


"Apa itu webtoon?" Stefan memotong lagi. Elona terlupa kalau smartphone saja tidak ada di dunia ini, apalagi webtoon.


"Webtoon bisa dikatakan adalah novel, atau buku cerita, tapi ada gambarnya. Setiap adegan ada gambar dan dialognya."


"Oh..." Stefan mengangguk-anggukkan kepala berusaha untuk mengerti. "Lalu, apa hubungannya dengan dunia ini?"


"Itu... mungkin Kakak tidak akan percaya, tapi..."


"Tapi apa?"

__ADS_1


"Kalian semua adalah karakter dari webtoon tersebut."


"Karakter... maksudnya?"


"Louis Vandyke adalah karakter pria protagonis. Lalu Kiara adalah protagonis wanita. Sedangkan Elona Locke adalah tokoh antagonisnya..."


"Tunggu! Tunggu! Jadi maksudmu... kami semua adalah pemain dalam cerita yang kamu baca itu?!!"


Elona menganggukkan kepala. Stefan memandanginya tak percaya. Lalu Elona menjelaskan alur cerita tersebut secara singkat. Mulai dari prolog, awal-awal cerita tentang kehidupan Kiara, percintaan Kiara dengan Louis, dan yang terakhir tentang kematian Elona si antagonis. Kemudian, tentang seluruh ingatan Elona yang menyatu dengan dirinya setelahnya.


"Tadinya aku juga tidak percaya dengan semua ini. Tapi apa yang terjadi di sekolah pada Elona, aku mengingatnya dengan jelas dan semuanya sama seperti yang terjadi dalam cerita! Jadi, aku berusaha untuk mengubah alurnya!"


Stefan terdiam kehabisan kata-kata. Ia tak habis pikir pada apa yang diucapkan gadis itu padanya. Pria itu memangkukan kepalanya dan menutupnya dengan telapak tangan di atas meja. Pandangan matanya mengarah ke bawah.


"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud jahat! Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Elona yang sebenarnya. Aku hanya berusaha mengubah takdirnya yang mengenaskan, itu saja! Aku... *hiks*"


Tanpa sadar, air mata menetes di pipi Elona. Stefan adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki sekarang. Dan gadis itu takut sekali kalau sampai ia kehilangan semuanya.


Stefan terkejut begitu adiknya itu menangis di hadapannya. Dengan panik, ia menghapus air matanya, "Kenapa kamu menangis? Aku tidak marah!"


"Jangan buang aku... kumohon jangan buang aku... aku takut..."


Stefan segera beranjak dari duduknya dan memeluk Elona. Dekapan hangat yang gadis itu rasakan membuatnya sedikit tenang saat ini.


"Katakan, siapa namamu?"


"Tara..."


"Tara... nama yang bagus." Stefan membungkuk, hingga wajah adiknya bisa sejajar dengannya.


"Sekarang jawab pertanyaanku." lanjut Stefan seraya menatap Elona dalam.


"Siapa aku di matamu?"


"Kak Stefan...?" Tara alias Elona menjawab tak mengerti.


"Apa aku hanya karakter figuran bagimu?"


"Tentu saja bukan! Kakak dan Kak Iris adalah keluargaku sekarang! Aku tidak punya keluarga di dunia asalku, karena itu aku-"


"Kalau begitu sudah cukup, kan?" potong Stefan, "Elona memang adikku, dan kamu pun juga. Lagipula, ketimbang adikku yang sebenarnya, aku lebih mengenal kamu yang sekarang, benar kan? Jadi jangan menangis lagi..."


"Kakak..."


Malam itu, di bawah sinar rembulan yang memasuki jendela kamar, Elona telah membagi kisah hidup terdalamnya dengan seseorang. Ia tak menyangka bahwa Stefan bisa menerima cerita yang sejujurnya ia sendiri tidak akan percaya apabila berada di posisi Stefan.


"Eh, tunggu sebentar." Stefan melepaskan pelukannya. "Kalau kamu mengenali kami semua dari cerita yang kamu baca itu, kenapa kamu tidak mengenali temanmu itu?"


Elona menatap kakaknya dengan bingung, "Temanku...? Maksud Kakak, si Art?"


Stefan mengangguk. Elona malah semakin tidak paham.


"Aku juga bingung, dari cerita yang kubaca dan dari ingatan Elona sebelumnya, aku tidak bisa mengingat ataupun mengenali wajahnya... Memangnya dia siapa, Kak?"


Ditanya balik begitu, Stefan mengibaskan tangannya, "Dia hanya orang yang tidak perlu kamu pedulikan!"


"Tapi dia kan temanku!"


"Iya, sebatas teman saja, ya! Jangan dekat-dekat lebih dari itu!"


"Tapi, kenapa sih, Kak? Kenapa benci sekali dengan Art?!"


"Sudah turuti saja perkataanku! Kamu adikku, kan?!"


"I-iya..." Elona menatap Stefan dengan bingung. Pria itu mengutarakan sikap overprotektif pada adiknya dan tidak peduli meskipun orang yang dimaksud adalah sepupu istrinya sendiri.


Jauh di Kota Rudiyart sana di kediaman Eckart, Art alias Arthur sedang bersin-bersin di tempat tidurnya.


"Ada apa ini? Kenapa perasaanku jadi tidak enak begini? Seperti ada yang membicarakan aku..."


*****


...\=\= original writing by @author.ryby \=\=...


...\=\= cover art by @fuheechi_ \=\=...

__ADS_1


__ADS_2