Isekai: Putri Marquess Jadi Pengusaha Tempe

Isekai: Putri Marquess Jadi Pengusaha Tempe
Bab 44. Menjadi Seorang Kakak


__ADS_3

Sepuluh tahun yang lalu.


"Ibu... mau kemana... kok aku tidak diajak..."


Seorang gadis kecil tampak menangis ketika melihat kedua orangtuanya telah bersiap-siap hendak berpergian jauh dengan koper-koper besar. Air matanya mengalir deras di pipi. Wanita yang dipanggilnya ibu itu pun membungkuk di hadapannya dan memeluknya.


"Sayang... Ibu tidak akan pergi lama. Ayah ada urusan di luar kota, dan Ibu harus menemaninya. Benar kan, Yah?"


Wanita yang bernama Reina Locke itu mencari pembelaan dari suaminya. Sang suami pun mengulurkan kedua tangannya dan menggendong putri kecilnya tersebut. Wajah dingin yang selalu ia tampilkan di hadapan orang-orang sebagai Marquess Edward Locke tidak begitu berlaku di depan putri kecilnya itu. Wajahnya berubah menjadi sangat lembut setiap kali ia berurusan dengan gadis yang usianya belum genap 7 tahun tersebut.


"Elona, putri ayah yang cantik. Ayah janji, Ayah dan Ibu akan cepat pulang ke rumah setelah urusan kami selesai. Sampai nanti Ayah tiba kembali, kamu main sama Kak Stefan dulu, ya. Jangan nakal dan turuti apa katanya. Mengerti?"


Elona kecil pun menganggukkan kepala meskipun matanya masih saja tampak sembab.


"Tapi Ayah dan Ibu janji akan pulang cepat kan? Janji kelingking dulu!"


Edward Locke pun tersenyum, lalu mengeluarkan jari kelingking di tangan kanannya, lalu menautkannya pada kelingking kecil milik putrinya, "Ayah janji."


Selesai mendamaikan putrinya, Edward Locke pun menghampiri putranya yang saat itu baru saja menginjak usia remaja. Putranya ini memiliki sifat yang tidak jauh berbeda darinya, dan selalu menjadi yang terpandai dalam pelajaran maupun latihan fisik. Hal itu membuat Edward sangat bangga padanya.


"Stefan, Ayah dan Ibu pergi dulu. Jagalah Elona baik-baik, ya. Jangan dibuat menangis. Tanggung jawab mengurus Elona sepenuhnya ada padamu. Kalau terjadi sesuatu, uruslah dulu untuk sementara waktu.


Saat Ayah dan Ibu pergi, kamu yang memiliki hak dan kewajiban penuh untuk menggantikan posisi Ayah. Kalau sangat mendesak dan kamu tidak tahu apa yang harus dilakukan, kirim surat pada Ayah. Kamu paham?"


"Iya, Ayah."


"Bagus." Edward tersenyum mendengarnya. Ia dan istrinya memeluk putra kesayangannya itu bergantian.


"Jaga dirimu baik-baik, Ayah, Ibu. Cepatlah pulang." ucap Stefan.


Baik Edward maupun Reina mengetahui bahwa meskipun dari luar anak itu terlihat kuat dan tegar karena telah ditempa sebagai seorang pewaris Locke, di dalamnya tetaplah Stefan putra kecil mereka yang sangat menyayangi keluarganya, meskipun ia tidak bisa mengungkapkannya.


Selesai semua barang dikemas dengan rapi dan dinaikkan ke atas kereta kuda, pasangan Edward dan Reina Locke pun melambaikan tangan dari dalam kabin sebagai salam perpisahan.


Stefan dan Elona pun berdiri di halaman depan kediaman Locke bergandengan tangan, sambil menatap kereta kuda yang dinaiki ayah dan ibunya yang semakin lama semakin menjauh.


Tak ada yang mengetahui bahwa itu adalah saat-saat kakak beradik tersebut melihat kedua orangtua mereka untuk yang terakhir kali.


*****


Saat ini.


"Jagalah Elona baik-baik, ya. Jangan dibuat menangis. Tanggung jawab mengurus Elona sepenuhnya ada padamu."


Pesan terakhir yang ditinggalkan ayahnya untuk Stefan masih saja terngiang-ngiang di kepalanya hingga setelah sepuluh tahun berlalu sejak kematian kedua orangtuanya. Saat ini, ia duduk di tepian tempat tidur di kamarnya di Kota Armelin, mengingat semua kejadian yang pernah dialaminya selama ini. Tampak istrinya, Iris, telah tertidur pulas di sebelahnya.


Setelah berita kematian suami istri Marquess Locke tersebut sampai ke telinga anak-anaknya, saat itu merupakan waktu-waktu terberat yang harus dilalui oleh Stefan. Usianya baru menginjak 13 tahun, dan remaja tersebut harus langsung terbebani dengan segala macam tugas dan kewajibannya sebagai seorang marquess dan sebagai pemimpin wilayah Kota Armelin.


Berbagai macam hal harus Stefan pelajari dalam waktu yang sangat singkat. Ia berusaha supaya nama keluarga Locke tidak sempat jatuh karena kehilangan kepala keluarga. Dengan bantuan seluruh teman-teman dan para karyawan ayahnya saat itu, Stefan langsung bangkit dari keterpurukan dan menjabat gelar marquess termuda di kerajaan saat itu.

__ADS_1


Tetapi hal yang sama tidak terjadi pada Elona. Adiknya itu begitu rapuh, dan saat itu ia memang masih sangat kecil sekali, baru berusia 7 tahun. Di saat Stefan begitu sibuk mempelajari banyak hal untuk bisa segera menggantikan kedudukan ayahnya, Elona hanya bisa terdiam di kamar, kesepian dan menangis.


Baru beberapa bulan setelahnya, pelayan pendamping Elona yang bernama Mai melaporkan kebiasaan baru adiknya yang janggal, yaitu memakan semua persediaan di dapur orang kelaparan yang sedang kalap.


Stefan teringat pesan ayahnya untuk menjaga Elona, namun dia sendiri pun sangat sibuk, dan ia juga tidak punya pengalaman untuk mengurus anak kecil secara keseluruhan, terutama anak perempuan. Yang ia tahu bahwa anak kecil akan senang bila kemauannya terpenuhi.


Oleh karena itu, Stefan selalu menuruti keinginan Elona, membelikan berbagai macam pakaian dan makanan yang ia sukai, termasuk menjodohkannya dengan Louis Vandyke, saat adiknya menyatakan ia menyukai anak lelaki itu dari pandangan pertama.


Kesibukan Stefan membuatnya tidak pernah mengecek keadaan Elona sering-sering. Kemudian, ia menikah dengan Iris, teman sekelasnya di sekolah yang terkenal memiliki banyak teman. Salah satu yang menjadi pertimbangan Stefan memilih Iris sebagai istrinya adalah, berharap kalau nantinya wanita itu bisa menjadi teman baru bagi Elona.


Tetapi hal itu tidaklah terjadi jua. Selama satu tahun pernikahannya dengan Stefan, Iris tak kunjung bisa mendekati Elona. Istrinya itu mengatakan bahwa adiknya lebih memilih melakukan semua hal di dalam kamar. Pulang sekolah ia langsung pergi ke kamarnya. Iris pun pernah mengajaknya mengobrol di dalam kamar Elona, namun ia hanya menjawab pendek-pendek dan terlihat gugup sekali berada di dekat Iris.


Dari seluruh hal yang telah terjadi, tiba-tiba semuanya berubah beberapa bulan yang lalu. Elona mulai sering keluar dari kamarnya untuk berolahraga menguruskan badan. Iris menjadi lebih ceria karena bisa dekat dengan adik iparnya itu. Dan Stefan pun juga jadi lebih mengerti tentang Elona.


Tak ada yang tahu kalau ternyata sebenarnya saat itu, tubuh Elona sudah dirasuki oleh seseorang dari dunia lain. Tak ada yang menyadarinya hingga hari ini, sampai Stefan mendengar semuanya.


Pantas saja semuanya terasa berbeda tiba-tiba. Lalu, adikku yang sebenarnya...


"Jagalah Elona baik-baik, ya..."


Pesan ayahnya kembali terngiang, dan seketika itu pula air mata menetes di pipi Stefan. Lelaki yang selama ini berusaha untuk bersikap kuat dan tegar demi keberlangsungan keluarga Locke, malam ini akhirnya meneteskan air mata. Terakhir kalinya Stefan menangis adalah saat kedua orangtuanya dimakamkan.


Air mata hangat mengalir di pipinya. Stefan pun menutup kedua matanya dengan tangan yang dipangkukan ke paha. Ia hanya bisa menunduk, dan punggungnya bergetar.


"Suamiku... ada apa?"


*****


"Stefan? Ada apa?? Kamu kenapa?" Iris begitu terkejut melihat keadaan suaminya. Seumur-umur ia mengenal Stefan, tak sekalipun ia pernah melihat lelaki itu menangis.


Stefan mengambil nafas, berusaha menenangkan dirinya. Kemudian pelan-pelan, ia menceritakan segala kenyataan yang ia baru saja terima dari Elona di malam itu.


Iris begitu terperanjat mendengar hal tersebut. Tangannya menggenggam erat lengan suaminya. "Dari dunia lain, katamu? Elona kita?"


Stefan mengangguk. "Elona yang bertekad supaya badannya kurus, Elona yang mulai membuka dirinya padamu dan padaku, dan Elona yang menawarkan dirinya untuk pergi ke Armelin untuk menyelesaikan permasalahan di sini. Itu semua bukan Elona adikku yang sebenarnya..."


Iris menahan nafasnya, ia menatap suaminya tak percaya. "Lalu, Elona adikmu yang asli..."


Stefan mendekap tubuh istrinya tiba-tiba, dan mulai menangis kembali di pundak wanita tersebut.


"Dia bilang bahwa ingatannya menyatu dengan Elona yang sebelumnya. Itu berarti... itu berarti adikku yang sebenarnya sudah tiada..."


Iris membalas pelukan suaminya itu dengan erat, "Stefan, tenangkan dirimu!"


"Aku tidak bisa menjalankan pesan orangtuaku yang terakhir kali untuk menjaga adikku! Aku sudah gagal! Elona adikku sudah tiada! Aku-"


"Stefan! Tenanglah! Kamu tidak gagal! Kamu sudah jadi kakak yang sangat baik bagi Elona!"


"Tidak, Iris... aku sudah gagal... adikku sudah tiada..."

__ADS_1


"Stefan!!" Iris melepaskan pelukan suaminya itu, lalu menatapnya lekat-lekat. Wanita itu menghapus air mata Stefan dari pipinya.


"Tatap mataku, dan dengarkan!" Iris meminta dengan tegas. Stefan pun menurutinya. Hal ini sangat terbalik, ketika biasanya Stefan lah yang bertindak paling tegas di antara mereka berdua selama ini.


"Maafkan aku karena tadi menanyakan Elona yang asli. Maksudku, tidak ada yang asli ataupun palsu. Elona tetaplah Elona! Siapapun jiwa yang ada dalam tubuhnya saat ini, ia tetaplah adikmu, adik iparku juga! Jadi, berhenti mengutuki dirimu sendiri!"


Stefan mulai tersadar setelah mendengar perkataan istrinya. Ia pun mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.


Setelah melihat suaminya tenang, Iris pun melanjutkan, "Dia bilang kan, kalau ingatannya dan Elona menyatu. Itu berarti, adikmu masih ada di sini, bersama kita. Mungkin sifatnya sedikit berbeda, tapi tidak masalah, kan? Sifatnya yang berbeda itu justru membuat tubuhnya semakin sehat dan terhindar dari penyakit psikologisnya itu.


Ia sudah meninggalkan kehidupannya di dunia sebelumnya, dan bertekad untuk memperbaiki kehidupannya yang sekarang. Semua itu pasti berat baginya. Terlebih lagi, ia terbiasa tidak memiliki keluarga selama ini. Jadi, kita harus membantunya, sebagai satu keluarga.


Kamu mau kan, jadi kakak bagi Elona sekali lagi?"


Stefan menganggukkan kepalanya, lalu menghapus sisa-sia air mata yang masih ada di pelupuk matanya. "Iya, kamu benar. Baiklah."


Iris tersenyum senang mendengarnya. "Sebaiknya kita tidur sekarang. Lihat, matamu bengkak, ini!"


Stefan menatap wajah istrinya lekat-lekat dan bergerak mendekat dengan cepat. Satu ciuman yang hangat dan dalam mendarat di bibir wanita jelita itu.


"Wah, tumben sekali, suamiku jadi romantis begini tiba-tiba." cibir Iris menggoda Stefan. Biasanya apabila digoda seperti itu, Stefan jadi gengsi memperlihatkan perasaannya.


Tetapi malam ini berbeda. Stefan tersenyum lembut, membuat Iris mengernyitkan dahinya.


"Kenapa?"


"Aku mungkin tidak pernah mengatakan hal ini sebelumnya, tapi..."


"Apa?" Iris bertanya penasaran.


"Aku sangat mencintaimu."


"Eh?"


Begitu terkejutnya Iris mendengar hal itu, hingga rona merah di wajahnya tidak bisa dikendalikannya. Memang benar, selama pernikahannya, Stefan tak pernah menyatakan cinta, dan Iris pun tak pernah mempermasalahkannya.


Pernikahan mereka sebenarnya terbilang cukup unik. Stefan mencari seseorang yang bisa menjadi teman bagi adiknya, dan Iris pun bosan berhadapan dengan para lelaki yang selalu menggodanya kemanapun ia pergi.


Lamaran Stefan untuknya datang tiba-tiba pada keluarganya, dan sebagai putri viscount, ayahnya tidak mungkin menolak lamaran pernikahan yang datang dari seorang marquess.


Apalagi sebenarnya Iris pun cukup mengagumi sosok Stefan saat masa sekolah yang dingin, arrogan, dan tak pernah tertarik pada hal lain kecuali masa depannya. Sangat cocok untuk Iris yang memiliki sifat terlalu cerdik untuk kalangan perempuan sebayanya. Bisa dibilang, mereka menikah atas dasar pertemanan dan karena kesepakatan. Malam pertama pun tak pernah terjadi di antara mereka selama setahun pernikahannya.


Jadi, tiba-tiba dinyatakan cinta oleh Stefan benar-benar membuat Iris kehabisan kata-kata. Wanita itu pun tak bisa menutupi perasaanya yang begitu gugup di hadapan suaminya saat ini.


"K-ka-kamu... kenapa tiba-tiba... a-aku- hmmph!"


Sebuah ciuman lagi-lagi mendarat di bibir lembut Iris, membuat wanita itu harus mengatur nafasnya. Malam pertama yang selama ini tak pernah ada, Iris tak menyangka akan terjadi malam ini. Waktu terasa begitu panjang bagi pasangan yang pada akhirnya tidak jadi tidur tersebut.


*****

__ADS_1


...\=\= original writing by @author.ryby \=\=...


...\=\= cover art by @fuheechi_ \=\=...


__ADS_2