Isekai: Putri Marquess Jadi Pengusaha Tempe

Isekai: Putri Marquess Jadi Pengusaha Tempe
Bab 37. Camilan


__ADS_3

Jatuh cinta itu berjuta rasanya. Berderet kata romantis terlintas dalam puisi, berima-rima syair dinyanyikan dalam lagu. Kalau tidak bertemu rasanya hampa seperti ada yang hilang. Rasanya seperti banyak hal yang ingin dikatakan saat bertemu.


Dan itulah yang dirasakan oleh Arthur Eckart saat ini. Dirinya menjadi lebih sering uring-uringan sejak ia menyadari perasaannya pada Elona Locke. Tetapi, gadis pujaannya itu semakin sibuk dengan waktunya justru di saat keinginan Arthur untuk bertemu melebihi yang sebelum-belumnya.


Hari ini sudah tiga bulan sejak Elona mengajukan penawaran pada Duchess Nania Eckart tentang pemasaran susu kedelai dalam bentuk bubuk. Tentu saja sang nyonya Eckart itu sangat antusias mendengarnya. Ia bersedia menyediakan modal pengemasan. Duchess Eckart bahkan bersedia untuk membantu Elona mendapatkan hak merek dagang dan memasarkannya.


Sebelumnya, hanya Kafe Satu Sesapan di cabang Kota Rudiyart saja yang bisa menyediakan menu susu kedelai. Sekarang, semenjak ada versi bubuknya, kini susu kedelai buatan pabrik kecil Elona bisa dipasarkan di seluruh cabang kafe di kota-kota lainnya karena mudah dibawa dan lebih tahan lama dalam penyimpanan.


Hasil penjualan susu kedelai cair rasa asli dan rasa varian serta versi bubuknya, telah meraup untung sebanyak berkali-kali lipat dari pengeluaran sebenarnya. Elona pun bisa melanjutkan penanaman kedelai untuk siklus kedua, dan juga membantu menyicil hutang pinjaman bank sebelumnya yang dipakai kakaknya untuk membayarkan limestone sebanyak 60 ton.


Kesibukannya Elona yang begitu padat di ladang dan pabrik susu kedelainya itu membuat Elona bahkan tidak ada waktu untuk berolahraga sore lagi di tepian danau seperti dulu. Pertemuannya dengan Arthur di festival seni Kota Rudiyart itu adalah yang terakhir dalam tiga bulan ini.


Yah, Arthur memang masih akan bertemu dengannya di ladang, tapi itupun bila Elona datang menjenguk tanaman-tanaman kedelainya.


Sekarang ini, gadis itu lebih sering menghabiskan waktunya di ruang kerja untuk mengelola bisnis perputaran produksi dan distribusi kedelainya secara menyeluruh. Bahkan pada saat malam hari pun, Elona terlalu lelah dan sering tertidur lebih awal sebelum Arthur bisa datang menghampirinya lewat jendela seperti dulu.


"Kenapa setelah aku menyadari perasaanku, justru gadis itu malah jadi susah ditemui, sih! Argh!!" teriak Arthur gusar di ruang kerjanya di kediaman Eckart.


Sekretarisnya, David, yang sedari tadi memperhatikan tingkah tuan mudanya itu, hanya bisa geleng-geleng kepala dan menghela nafas. Usianya sebaya dengan tuannya itu, namun David tidak pernah mengalami apa yang Arthur rasakan. Baginya yang memiliki kepribadian acuh, perasaan dan pekerjaan seharusnya tidak tercampur baur seperti ini. David memang belum pernah mengalami jatuh cinta itu sendiri, tapi paling tidak ia tahu kapan harus bersikap profesional.


Tetapi tuan mudanya itu sulit sekali untuk diingatkan. Yang ada malah David akan kena cipratan gusarnya Arthur, dan seluruh pekerjaannya tetap akan berantakan. Jadi, daripada menasihati, lebih baik David memilih untuk diam. Sekarang ini, David hanya fokus di meja kerjanya, duduk diam dan mengerjakan pekerjaannya sebagai sekretaris, berusaha untuk tidak tahu menahu soal tuan mudanya itu.


"David! Aku harus apa?!!"


Sudah daritadi diam, masih harus direpotkan juga, ucap David dengan keki dalam hati.


"Tulis surat saja." sahut David singkat dan sekenanya. Arthur menatap sekretarisnya dengan takjub.


"Ah, cerdas!"


Sang tuan muda segera mengeluarkan secarik kertas kosong dari laci mejanya. Arthur pun mulai menulis sesuatu. Tak lama kemudian, ia merobeknya. Wajahnya terlihat gelisah. Lalu mengambil secarik kertas lagi, dan menulis lagi. Lalu dirobek lagi. Begitu seterusnya hingga lantai di sekitar mejanya penuh dengan gumpalan kertas. Tangannya menggaruk-garuk kepalanya.


"David! Aku harus tulis apa?!"


Ya Dewa selamatkan aku dari orang ini...


David menghela nafas panjang berkali-kali dan meratapi dirinya sendiri.


"Tanyakan saja kabarnya. Tanyakan kegiatannya saat ini. Kapan dia ada waktu luang. Lalu katakan kalau sedang luang ajak dia bertemu lagi di suatu tempat."


Seperti seorang guru yang sedang mendikte muridnya, Arthur menurut saja apa yang disarankan oleh David. Ia menulis dengan cermat, lalu tersenyum senang. Kemudian, Arthur memasukkan kertas tersebut ke dalam amplop.


"Ini, antarkan ke kediaman Locke." Arthur menyodorkan amplop tersebut pada sekretarisnya. David sampai terperanjat.


"Aku?! Aku sedang sibuk, Tuan!"

__ADS_1


"Aku juga sibuk. Nanti kukerjakan sekalian bagianmu. Cepatlah sana!" Arthur mengibaskan tangan mengusir sekretarisnya dari ruangan.


David pun hanya bisa bersungut-sungut. Ia tidak bisa menolaknya, apalagi setelah tuan mudanya itu menawarkan mewakili pekerjaannya. Walaupun majikannya itu sering bertingkah konyol, tapi dia bisa bekerja dua kali lebih cepat daripada David.


*****


"Ingin bertemu dengan Nona Elona? Ada perlu apa?"


Kedatangan David disambut oleh seorang pelayan wanita yang berdiri dengan tegas di halaman depan. Tag nama bertuliskan 'Mai' tersemat di dadanya. David turun dari pelana kudanya dan menyodorkan sebuah amplop.


"Ingin mengantarkan surat dari Tuan Arthur." jawab David. Mai mendelikkan matanya dengan heran.


"Apa isinya?" tanya gadis pelayan itu. David mengangkat bahunya.


"Entahlah." jawabnya acuh tak acuh.


"Katakan pada tuanmu itu, jangan sampai ia berani mempermainkan Nona Elona!" Mai menerima amplop dari tangan David sembari melemparkan ancaman.


"Tidak akan. Tuanku itu sudah terjerat hatinya oleh Nona Elona." David menyahut, lalu mengernyitkan dahinya, "Lagipula, kenapa kamu yang repot?"


"Apa kamu tidak pernah merasa harus melindungimu majikanmu dari segala macam bahaya?"


David terkekeh geli mendengarnya, "Tuanku sudah sekuat itu, untuk apa aku melindunginya lagi! Apa nonamu itu perlu perlindungan sampai sebegitunya? Apa dia selemah itu?"


David memang tidak pernah keberatan tuannya menjalin hubungan dengan siapapun, tapi dia juga tidak pernah begitu menyetujuinya. Baginya, cinta dan perasaan itu hal yang fana dan tidak logis sama sekali. Jadi, dia tidak dapat melihat apa pentingnya Elona Locke di mata sang Arthur Eckart dan seorang pelayan di hadapannya ini.


"Kuperingatkan kau sekali ini saja, jangan pernah coba-coba untuk menghina nona mudaku! Bagiku, dia adalah nyawaku!"


Mai menatap tajam lelaki di hadapannya. Sebagai seorang oelayan pendamping keluarga marquess, selain dilatih untuk melayani, Mai juga dipersiapkan dengan ilmu beladiri apabila sewaktu-waktu Elona dalam bahaya.


"Baiklah, baiklah. Aku minta maaf. Lagipula aku tidak menghinanya. Maksudku, percayalah pada Nona Elona-mu itu, kalau dia tidak selemah itu."


Setelah David meminta maaf, Mai memasukkan kembali pisau kecil itu di tempat penyimpanannya seraya berkata, "Kamu tidak tahu apapun."


"Hmm, iya. Maafkan aku." ucap David lagi. Ia akan berbohong apabila tidak mengakui bahwa ia cukup ketakutan tadi. Selama ini ia tidak begitu berkespresi terhadap apapun. Tetapi baru kali ini ada seseorang yang bisa mengancamnya sampai seperti itu.


"Baiklah, aku pergi dulu." David segera menaiki kembali kudanya. Tetapi sebelum pergi, ia menatap Mai lekat-lekat, lalu menyunggingkan senyum. Sebuah senyuman yang sangat langka, mengingat David terkenal akan sikapnya yang acuh dan dingin.


"Hmm..."


"Apa?" Mai mendelikkan mata ke arahnya.


"Kamu ternyata cantik juga kalau sedang marah-marah dan judes begitu."


"...!!"

__ADS_1


"Sampai nanti." David melenggang pergi dengan kudanya sembari mengibaskan tangan. Ucapan acuhnya yang baru saja itu berhasil membuat wajah Mai sangat merah hingga ke telinga. Tetapi ia tidak bisa berkata apapun. Bahkan ketika telah mengantarkan surat pada nona mudanya pun, wajahnya masih sangat merah.


Seumur-umur belum pernah ada yang memujinya seperti itu.


*****


"Mai, kamu kenapa? Kamu sakit?" tanya Elona cemas begitu melihat pelayan pendamping kesayangannya datang mengantarkan surat dengan wajah yang begitu merah seperti tomat. Namun Mai menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Tidak apa, Nona! Saya permisi dulu!" ucap Mai setenagh berteriak, lalu tergesa-gesa pergi setelah meletakkan surat Arthur di atas meja. Elona sampai keheranan melihatnya.


"Hmm, Nona. Untuk laporan pengecekan peralatan dan perlengkapan pabrik sudah saya kerjakan."


Kenapa dengan Mai?


Elona segera tersadar dari lamunannya tentang Mai ketika Ryndall menyerahkan hasil laporan pabrik ke mejanya. Ryndall emletakkan laporan tersebut di atas meja, tepat di atas surat Arthur yang belum sempat dilirik oleh Elona.


"Terimakasih Kak Ryndall. Nanti aku akan cek." ujar Elona.


"Oh ya, Nona, bagaimana dengan camilan yang Nona katakan tempo hari itu?"


"Oh, soal itu." Elona memandangi sekretaris kakaknya itu. "Iya, ada satu camilan yang cara membuatnya sama seperti susu kedelai. Perbedaannya yang ini ditambahkan cairan asam, lalu dipadatkan. Jadi seperti susu kedelai tapi versi padatnya."


"Cairan asam?"


"Iya, kita bisa memakai perasan buah lemon untuk itu." jelas Elona, mengingat kalau di dunia tempat tinggalnya sekarang tidak memiliki cuka, maka gadis itu harus mencari alternatif cairan asam yang lain.


"Apa nama camilan ini?" tanya Ryndall.


"Namanya tahu."


"Tahu... Kalau begitu, karena caranya hampir mirip dengan susu, apa kita akan membuatnya di pabrik kecil kita?"


Ryndall bertanya seraya menunjuk ke arah luar jendela, tepatnya ke bagian bawah kediaman Locke. Tampak di sana beberapa pekerja dan pelayan berlalu lalang untuk membuat dan mendistribusikan susu kedelai buatan Elona.


"Oh, jangan. Untuk pembuatan tahu ini harus diperhitungkan dengan cermat, terutama soal kemana nanti limbah buangannya akan dialirkan." Elona segera mencegah ide dari Ryndall.


"Memangnya ada apa dengan limbah dari pembuatan makanan tahu itu? Bukankah kita bisa mengalirkannya saja ke sungai?"


Elona menghela nafas dan menatap Ryndall, "Kak, limbah tahu itu sangat bau dan dapat mencemari lingkungan. Ikan-ikan di sungai akan mati bila tercemar limbah ini hanya dalam hitungan hari."


"Limbah ini beracun...?" tanya Ryndall, ia berusaha mencerna apa yang dikatakan majikannya barusan.


"Iya beracun, dan bahkan bisa meledak bila gasnya dikumpulkan dan dipercikkan dengan api."


"Apa?!"

__ADS_1


Elona mengangguk. Ia tidak sadar telah melupakan sesuatu, yaitu surat Arthur yang saat ini telah tertimpa berbagai macam dokumen dan laporan bisnisnya di atas meja.


*****


__ADS_2