
"Tara... maafkan aku... gara-gara aku, kamu sampai bertengkar dengan Art."
Malamnya, Tara bertemu lagi dengan Elona di dalam mimpi. Tampak Elona tengah memohon maaf pada gadis yang berbeda dunia darinya itu.
"Sudahlah. Lagipula, itu bukan salahmu." jawab Tara. Ada kelesuan di balik nada suaranya.
"Apa kubatalkan saja acaranya?" tanya Elona, yang langsung dicegah oleh Tara.
"Jangan! Sudahlah, tidak apa. Kamu harus menyelesaikan apa yang mengganjal di hatimu segera. Jangan pedulikan aku ataupun Art saat ini. Aku bisa bicara padanya nanti, setelah semua ini selesai."
Elona menatap Tara, memastikan keyakinan akan penjelasannya. Tara menganggukkan kepalanya.
"Jadi, pagi ini saat bangun, aku akan berada dalam pikiranmu?" tanya Tara lagi.
"Sepertinya begitu. Nanti kita coba, ya." ucap Elona.
"Baiklah. Aku hanya ingin berpesan, kalau apapun yang terjadi nanti, jaga dirimu baik-baik. Jaga kesehatan mentalmu, jangan terlalu stress. Kamu tahu kan, apa yang akan terjadi pada tubuh kita ini, kalau terlalu depresi?!" Tara mrngingatkan. Elona pun tersenyum mendengarnya.
"Tenang saja, aku akan berhati-hati." ucap Elona.
*****
Pagi harinya, tubuh si tokoh antagonis Cerita Hati terbangun dengan jiwa pemiliknya yang sebenarnya. Elona Locke yang asli mengerjap-ngerjapkan mata, sebelum akhirnya kelopaknya membuka sempurna. Elona turun dari tempat tidur dan berjalan menuju kaca rias.
"Wah... ini aku?? Tubuhku ringan sekali...!! Sudah lama aku tidak sekurus ini!" Elona tertawa senang sambil memutarkan tubuhnya. Ia mengangkat kedua tangannya yang tidak lagi gembul. Kemudian, gadis itu menghadapkan wajahnya ke depan cermin dan mencubit pipinya yang telah tirus.
"Ehem! Tes tes! Satu dua tiga!" sebuah suara terdengar dalam pikirannya. Suara Tara.
"Eh, Tara? Kamu bisa bicara denganku dari dalam pikiranku??" tanya Elona. Kalau dilihat dari sisi lain, gadis itu seperti sedang berbicara sendiri.
"Iya, ternyata bisa. Baguslah, aku masih bisa berkomunikasi denganmu."
Tok! Tok!
"Nona Elona, ini saya Mai." ucap sang pelayan pendamping dari luar kamar. Mai pun masuk membawakan sarapan.
"Sarapannya saya letakkan di meja ya, Nona... eh?! Kenapa anda menangis?!"
Mai begitu terkejut melihat nona mudanya itu meneteskan air mata saat melihatnya. Cepat-cepat Mai meletakkan nampan di atas meja, lalu menghampiri majikannya itu.
"Ada apa, Nona? Ada hal yang membuat anda bersedih?" tanya Mai begitu perhatian. Seketika itu juga, Elona memeluk pelayan pendampingnya itu dengan sangat erat.
"Mai, aku sangat merindukanmu! *hiks!"
"Lho, tapi kan baru kemarin malam kita bertemu terakhir kali, saat saya bawakan susu ke kamar. Apa Nona lupa?!" tanya Mai dengan bingung.
Elona tidak lupa. Jelas sekali dia mengingatnya. Namun, yang bertemu dengan Mai setiap hari adalah Tara dna bukan dirinya. Bagi Elona, pertemuan terkahirnya dengan Mai adalah benar setahun yang lalu, saat dirinya mengalami sesak nafas di sekolah dan posisinya digantikan oleh Tara.
"Hei, jangan kelamaan menangis begitu! Kasihan Mai, dia jadi bingung melihatnya!" ucap Tara memperingatkan dari dalam pikiran Elona.
Elona pun tertawa geli mendengar ucapan Tara. Kemudian, ia menghapus air matanya.
"Hehe, benar juga, rasanya seperti setahun tidak bertemu, ya!" ucap Elona, membuat pelayannya itu mengernyitkan dahinya.
Elona pun bersiap-siap untuk pergi ke kota. Semenjak orangtuanya tiada, selama bertahun-tahun Elona selalu berbadan gemuk. Kini, berada di tubuh yang kurus, berkali-kali Elona hampir terjatuh karena kehilangan keseimbangan.
"Nona, ada apa? Dari tadi sepertinya langkah Nona tidak seimbang?" tanya Mai lagi. Elona menggelengkan kepalanya.
"Tidak apa-apa, aku hanya belum terbaisa dengan tubuh yang tiba-tiba langsing begini."
"Eh? Maksudnya?"
__ADS_1
"Ah, bukan apa-apa." jawab Elona tersenyum. Beruntung dia bisa mengelak dari pertanyaan Mai yang kebingungan.
Elona lalu memilih aksesoris, dan tangannya meraih bandana biru yang senada dengan dress yang dipakainya sekarang.
"Nona, anda yakin ingin pergi dengan Tuan Louis?" tanya Mai. Wajahnya menyiratkan kekhawatiran yang teramat sangat.
Elona tersenyum lembut ke arah pelayannya itu. "Iya, Mai."
"Tapi, nanti-"
"Tenang saja, ini untuk yang terakhir kalinya, oke?" sela Elona.
"Sungguh?"
Elona menganggukan kepalanya dan berkata, "Iya, ini untuk yang terakhir kalinya. Lagipula... ingin bertemu lagi di kedepannya pun aku sudah tidak bisa..."
Ada nada sendu di balik suara Elona, yang lagi-lagi membuat Mai kebingungan. Gadis pelayan itu merasa ada yang berbeda dari majikan di hadapannya itu. Dia tidak seperti Elona yang kemarin malam diantarkan susu olehnya. Tetapi lebih seperti Elona yang dulu.
Mai pernah merasakan adanya perubahan dari diri Elona setelah mengalami pelabrakan di sekolah. Elona yang selalu mengurung diri di kamar, akhirnya mau keluar kamar dan melakukan perubahan. Jelas gadis pelayan itu melihat perubahan tersebut, hanya saja ia tidak berkomentar selama ini. Nona mudanya jadi seperti orang lain, tapi ia berpikir tidak mengapa selama perubahannya positif. Tapi sejujurnya, ada sedikit rasa rindu dari diri Mai pada Elona yang sebelumnya.
Dan sekarang, nona muda di hadapannya itu seperti telah kembali pada dirinya yang dulu. Tapi lagi-lagi, Mai tidak berani berkomentar apapun soal itu.
Satu jam kemudian, sebuah kereta kuda dengan simbol keluarga Vandyke di permukaan kayunya, beserta beberapa pengawal, tiba di pekarangan kediaman Locke.
Elona telah siap di halaman depan. Louis Vandyke pun turun dari dalam kabin dan menghampirinya. Betapa terpananya lelaki itu begitu melihat kecantikan Elona yang sekarang, berbeda sekali dengan penampilannya saat berada di pabrik.
Louis meraih tangan kanan Elona dan mengecup punggungnya seraya berkata, "Kamu cantik sekali hari ini."
Elona tersenyum ceria mendengarnya. Kemudian, dengan menawarkan tangannya, Louis membantu Elona menaiki kabin kereta kuda. Dan mereka berdua pun pergi menuju pusat kota.
*****
"Kamu mau es krim?"
Saat ini, Louis mengajak Elona mengunjungi pusat perbelanjaan mewah di Kota Armelin. Terdiri dari berderet-deret toko di sepanjang jalan bernama Jalan Permata. Tentunya selain toko permata, banyak juga toko-toko lain seperti butik, restoran, dan masih banyak lagi. Jalan Permata terletak di pinggiran kota yang berbatasan langsung dengan laut, di bagian selatan kota. Begitu strategis untuk berjalan-jalan sembari menikmati pemandangan laut dengan burung-burung camarnya.
"Oh, Louis, aku mau yang rasa-"
"Strawberry, kan?! Aku sudah tahu," potong Louis sebelum Elona bisa menyelesaikan kalimatnya. Elona tersenyum tak percaya, kalau ternyata Louis masih mengingat rasa yang disukainya.
"Padahal aku suka yang rasa cokelat..." komentar Tara sambil menggerutu dalam pikiran Elona.
"Kan aku yang dibelikan, bukan kamu." sahut Elona.
Louis yang tiba-tiba mendengar Elona berbicara sendiri langsung menoleh ke arah gadis itu.
"Kamu bicara dengan siapa?"
"Ah, tidak. Aku hanya menggumam sendiri, hehe!" jawab Elona mengelak.
Setelah membeli es krim, Louis dan Elona pergi memasuki pertokoan yang menarik. Mereka berdua banyak membeli aksesoris dan pernak-pernik kerajinan Armelin. Sepanjang jalan, keduanya berjalan bergandengan tangan, kadang berlarian seperti anak kecil, seperti saat-saat mereka berdua baru pertama kali saling bertemu, saat usia 8 tahun.
Selesainya berjalan-jalan di area pertokoan, kini mereka menikmati angin laut dengan berjalan lambat-lambat di sekitaran tembok laut, ditemani matahari senja yang berearna jingga.
"Aku tidak pernah berjalan-jalan di sekitar sini. Padahal aku yang memimpin kota ini, tapi sepertinya kamu yang lebih tahu, ya! Hehehe!" Elona terkekeh, mengingat tadi yang memiliki usul untuk pergi ke Jalan Permata adalah Louis dan bukan dirinya.
"Yah, aku juga mencari tahu, sih. Aku meminta ajudanku untuk bertanya ke warga sekitar penginapan, area mana yang seru untuk jalan-jalan." sahut Louis sambil tersenyum.
Elona menatap syal merah yang dikenakan Louis sedari awal berjalan-jalan. Gadis itu teringat akan sesuatu.
"Syal itu..." ucap Elona ragu-ragu. Louis menyentuh syal yang dikalungkannya di leher tersebut.
__ADS_1
"Ah, kamu mengingatnya? Padahal sedari tadi kamu seperti tidak mengenali syal ini." sahut Louis.
"Itu... syal yang kuberikan padamu dulu, kan? Yang kurajut sendiri...?"
Louis menganggukkan kepalanya. "Benar."
"Tapi... katamu, dulu kamu tidak suka warna merah, kan? Lalu kamu menolaknya... ternyata masih kamu simpan?"
Louis mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya.
"Iya, masih kusimpan. Karena secara kualitas, ini bagus." Louis memuji syal tersebut, membuat Elona tersipu malu.
Kemudian, Louis melepaskan syal tersebut dari lehernya, lalu mengalungkannya ke leher Elona. Warna merahnya jadi begitu kontras dengan dress biru yang sedang ia kenakan.
"Louis...?"
"Kamu sudah seperti Elona yang dulu. Kemarin saat di ladang, kamu seperti orang yang berbeda." kata Louis.
Tentu saja berbeda, karena Elona yang kemarin dan sekarang adalah dua orang yang berbeda. Tapi mana mungkin hal itu dikatakan pada Louis.
"Ah, iya, hehehe..." Elona hanya bisa tertawa menanggapinya.
Louis menyentuh kedua ujung syal yang menggantung dari leher Elona, membelainya sesaat, lalu mendekatkan wajahnya sendiri pada wajah gadis itu.
"Elona..."
"Iya?"
"Sekali lagi, aku ingin mengatakan maaf untuk semua perlakuanku yang dulu..." ucap Louis dengan lembut.
Elona tersenyum. "Aku sudah memaafkanmu. Aku juga ingin meminta maaf, dulu aku terlalu terpaku dengan diriku sendiri, sampai-sampai tidak memedulikan kesedihan dan keluh kesahmu."
Wajah Louis semakin mendekat, hingga jarak beberapa senti saja.
"Lalu... apa aku masih ada tempat di hatimu?" tanya Louis tiba-tiba.
"Louis..."
"Apa kamu mau, mengulangi lagi semuanya denganku dari awal?"
"Tapi aku-"
"Elona..."
Louis menyela perkataan Elona dengan memanggil namanya, kini hidung mereka saling bersentuhan. Begitu banyak hasrat dalam diri Louis untuk mengecup bibir manis Elona. Sedangkan Elona, begitu lama ia tak berjumpa dengan lelaki yang sangat dicintainya ini, dan begitu rindunya ia ingin diperlakukan seperti ini oleh Louis, membuatnya begitu terlena dengan kata-kata Louis.
"Elona, kendalikan dirimu! Ingat, jangan kembali pada Louis! Elona!" Tara berusaha memperingatkan dari dalam diri Elona, tetapi sia-sia. Elona Locke tidak mendengarkan kata-katanya.
Bibir mereka hampir saja saling bersentuhan, ketika seseorang tiba-tiba berteriak dari arah belakang.
"Louis!!"
Louis dan Elona begitu terkejut dan segera tersadar dari buaian perasaan masing-masing. Elona mengambil satu langkah menjauh dari Louia, sedangkan lelaki itu segra menoleh ke belakang. Begitu terkejutnya ia, ketika melihat sosok yang memanggilnya itu, yang seharusnya tidak berada di Armelin.
"Kiara?!!"
*****
...\=\= original writing by @author.ryby \=\=...
...\=\= cover art by @fuheechi_ \=\=...
__ADS_1
(Ryby: mau survey dikit, kalau misalkan cerita Elona ini terbit cetak, di antara kalian ada yang mau beli ga ya? misalkan aja. tlg komen di bawah ya.))