Isekai: Putri Marquess Jadi Pengusaha Tempe

Isekai: Putri Marquess Jadi Pengusaha Tempe
Bab 34. Harga


__ADS_3

"Selamat siang, Paman dan Bibi semuanya! Hari ini kita panen, ya!"


"Ya!!"


Riuh tepuk tangan terdengar setelah Elona membuka kegiatan lahan hari ini. Akhirnya, setelah seratus hari berlalu sejak penanaman benih, tanaman kacang kedelai di lahan bekas galian tambang pasir yang terbengkalai itu kini telah memperlihatkan hasil. Tanaman-tanaman itu tumbuh dengan sangat baik, dan kacang-kacang kedelai yang muncul di bagian bawahnya pun terlihat dalam kondisi yang siap untuk dipanen.


Para warga bertepuk tangan karena mereka benar-benar tidak menyangka kalau selama ini apa yang dikatakan nona muda di hadapan mereka itu, tentang pH tanah, pengapuran dan segala macamnya adalah benar. Seolah-olah anggapan bahwa tanah lahan tersebut dikutuk tidak pernah ada.


Elona sendiri pun sebenanrya tidak cukup menyangka kalau perkiraan angka pH tanah yang dia hanya duga-duga sebelumnya adalah benar. Tidak sia-sia kakaknya sampai meminjam uang pada bank untuk melunasi 60 ton limestone demi pengapuran tanah.


"Aku tidak menyangka, kita benar-benar sudah jadi petani di lahan terbuang ini!" ujar salah satu warga.


"Benar! Aku harus memanggil putraku pulang ke kota ini lagi. Daripada dia di kota sebelah menjadi buruh tani, lebih baik ia menggarap lahan di kota sendiri!" sahut warga yang lain.


Elona berdeham untuk menenangkan para warga. "Perjuangan kita belum selesai. Hari ini kita akan memanen semua tanaman kedelai. Maka dari itu, aku sudah meminta kalian untuk membawa sabit dari rumah masing-masing. Bagi yang tidak memilikinya, aku juga sudah menyiapkan beberapa yang siap pakai."


Elona menunjuk pada sabit-sabit yang terjejer di atas meja. Para warga yang datang dengan tangan kosong pun menghampiri dan mengambilnya satu persatu.


"Nona, apa harus pakai sabit? Kan bisa langsung dicabut pakai tangan," tanya salah satu warga.


"Kalau langsung pakai tangan, nanti kesuburan tanahnya berkurang, Paman. Maka dari itu, kita pakai sabit dan memotongnya di pangkal batang seperti ini."


Elona lalu berjalan ke arah salah satu tanaman kedelai yang siap panen. Kedelai siap panen memiliki dedaunan yang menguning dan beberapa malah sudah rontok. Elona memberi contoh bagaimana cara memotongnya batang tanaman kedelai tersebut dengan rapi dan mengangkatnya. Tampak di bagian bawah, polong kacang kedelai yang dipanenya sudah berwarna kuning kecokelatan.


Pekerjaan lahan pun dimulai, dan semua pekerja mengikuti instruksi yang Elona berikan. Setelah dipotong batangnya, kacang-kacang tersebut kemudian diangkut dengan cara diikat terlebih dahulu, lalu dibawa ke sebuah area kosong yang kering. Kemudian setelahnya, kedelai-kedelai tersebut dijemur supaya kandungan airnya berkurang. Karena bila tidak, kacang bisa berjamur dan menjadi beracun.


Setelah dikeringkan, kemudian kacang dirontokkan supaya kulit luarnya terkelupas. Dan terakhir adalah pemilahan kacang berdasarkan kualitasnya dan penyimpanan. Karena Elona belum memiliki tempat khusus untuk pembuatan susu kedelai sendiri, maka semua kacang tersebut diangkut ke kediaman Locke. Untuk sementara waktu, dapur rumahnya tersebut telah menjadi pabrik susu kedelai kecil.


Tentunya, semua ini dikerjakan dalam waktu yang tidak singkat. Setelah satu minggu, 20 hektar berhasil dipanen dengan sempurna, dan jumlah kedelai yang dihasilkan mencapai 20 ton.


*****


"Nona, karung-karung ini mau diletakkan di sebelah mana?" tanya sang pengemudi gerobak sapi saat tiba di halaman mansion kediaman Locke. Tinggal satu gerobak tersisa yang mengangkut 125 karung kacang kedelai seberat 20 kilogram masing-masing, dari delapan gerobak yang ada. Tujuh gerobak lainnya telah pergi dari kediaman Locke setelah menurunkan semua karung yang mereka bawa di gudang.


"Uh, letakkan di sana dulu saja." Elona mulai kewalahan untuk menghadapi karung-karung kedelai yang berdatangan. Untuk sementara, semua karung tersebut disimpan terlebih dahulu di gudang makanan di mansionnya.


"Nona, gudang makanan sudah penuh. Bahkan sebagian terpaksa dimasukkan ke dalam satu kamar di dalam mansion karena tidak kebagian tempat di gudang. Apa masih ada lagi yang akan datang?" Wilson si kepala pelayan bertanya dengan wajah khawatir.


"Tidak, Paman. Yang tadi itu sudah gerobak terakhir." sahut Elona. Wilson tampak berpikir.


"Kalau saya boleh menyarankan, sebaiknya ada tempat tersendiri bagi kacang-kacang itu untuk disimpan."

__ADS_1


"Iya, aku paham, Paman. Tapi untuk membangun tempat khusus itu sendiri akan mengeluarkan biaya tambahan." Elona tampak murung. Tapi tak lama, wajahnya kembali menunjukkan keoptimisan.


"Setidaknya, sekarang aku sudah punya bahan-bahan mentahku sendiri untuk pembuatan susu kedelai. Aku tidak perlu lagi membelinya dari pasar seperti kemarin-kemarin, jadi keuntungan penjualan akan bertambah!" seru Elona.


"Untuk sementara, akan kusulap rumahku ini jadi pabrik susu kedelai kecil. Sampai nanti modalku siap untuk membangun sebuah tempat sendiri."


*****


Tok!


Langit telah menunjukkan senja menuju malam, dan Elona telah terbiasa dengan kehadiran seseorang di kamarnya di waktu-waktu seperti ini. Bunyi yang terdengar barusan menunjukkan bahwa ada seseornag yang hendak masuk ke kamarnya melalui jendela.


Elona beranjak ke arah jendela. Dan benar saja, seseorang yang dimaksud telah ada di dahan pohon yang berhadapan dengan jendela kamar gadis itu. Elona membuka kedua daun pintu jendela kamarnya lebar-lebar.


"Art! Ayo masuk!" seru Elona setengah berbisik. Lelaki itu pun dengan sigap melompat ke dalam kamar.


"Halo." sapa Art, sembari mengibaskan rambutnya dengan tangan, berjaga-jaga barangkali ada serangga yang hinggap di sana setelah lelaki itu bertengger di dahan pohon.


"Hai, duduklah." Elona tersenyum seraya mempersilahkan Art untuk duduk di hadapannya. Dua gelas susu kedelai putih hangat telah siap di atas meja.


"Silakan diminum, ya. Aku sudah siapkan satu gelas tambahan untukmu kali ini. Aku terpaksa berbohong pada pelayan tadi dengan mengatakan aku mau minum dua gelas sekaligus, hehe!" Elona tertawa kecil.


Art tersenyum menanggapinya, meski dalam hatinya ia sedikit kesal.


Art membayangkan dapat meminum lagi dari satu gelas yang sama dengan Elona. Lamunannya pun buyar ketika gadis itu menanyakan tentang kafe Satu Sesapan.


"Bagaimana penjualan susu kedelainya? Tidak ada masalah, kan?"


Elona mempercayakan Art sebagai pengantar laporan hasil penjualan susu kedelainya dari kafe ternama tersebut. Karena gadis itu menilai bahwa Duchess Nania Eckart sebegitu percayanya juga pada Art sampai-sampai sang nyonya tersebut mau menerima produk asing dalam kafenya.


Tentu saja mau, karena Art adalah putra dari keluarga Eckart itu sendiri. Tapi mana mungkin ia memberitahukannya pada Elona.


Malam ini, Art tidak datang dengan tangan kosong. Lelaki itu mengeluarkan segulungan kertas dari dalam tas kainnya dan memberikannya pada Elona.


"Ini laporan hasil penjualan bulan lalu."


Elona menerima dan membuka gulungan tersebut. Tertera di sana bahwa hasil penjualan begitu menguntungkan, sampai-sampai gadis itu terkejut.


"Ini... harga susunya 3 perak kecil?!"


Elona berusaha menghitung kasar mata uang di dunia fantasi ini dan mengonversinya ke uang rupiah. Di dunia tempatnya saat ini, ada enam jenis koin sebagai mata uang, yaitu perunggu kecil, perunggu besar, perak kecil, perak besar, emas kecil dan emas besar. Satu koin perunggu kecil sama dengan 100 rupiah. Dikalikan sepuluh maka jadilah satu perunggu besar, alias 1000 rupiah. Begitu seterusnya hingga koin emas besar.

__ADS_1


Sewaktu mengecek di pasaran, kacang kedelai mentah hanyalah berharga sekitar 7 perunggu besar, alias 7 ribu rupiah perkilonya. Kurang lebih sama dengan harga di bumi. Tadinya Elona mengira kalau susu kedelai pergelas juga akan dihargai semahal-mahalnya sekitar 10 ribu rupiah, atau 1 perak kecil. Gadis itu tidak menyangka kalau susu buatannya dihargai sebanyak 30 ribu rupiah di sini per gelasnya.


"Ini mahal sekali!" Elona memekikkan suaranya, dan sedetik setelahnya gadis itu menutup mulutnya. Bisa-bisa Ryndall datang dan memergokinya bersama seorang laki-laki di kamarnya, lalu mengadukannya pada kakaknya.


"Itu harga yang wajar, kok! Ingat, ini adalah kafe Satu Sesapan, nomor satu di kalangan bangsawan. Kami menjaga kualitas makanan kami dengan sangat baik. Di samping itu, pelayanan dan lingkungan kafe sangat ramah dan nyaman. Pengunjung harus membayar mahal untuk semua itu!" seru Art dengan bangganya.


"Hmm, benar juga, sih. Baiklah..." Elona menganggukkan kepalanya. Gadis itu pun mengerti dan menganggap Kafe Satu Sesapan ini sama seperti kafe-kafe mahal di Jakarta, dimana harga segelas es teh di dalam menunya bisa dihargai sampai 30 ribu pergelas. Padahal kalau dipesan di warteg hanya berkisar 5 ribu rupiah.


"Oh, Art. Aku ada ide!" seru Elona tiba-tiba.


"Apa?" jawab Art sambil meminum susu kedelai bagiannya.


"Aku ingin jalan-jalan ke Kota Rudiyart. Kamu temani aku, ya?"


"Apa?! Kenapa?" tanya Art. Wajahnya terlihat panik.


"Ingin jalan-jalan saja, sekalian mengunjungi Kafe Satu Sesapan. Aku ingin melihat tanggapan langsung para bangsawan ketika meminum susu kedelai itu."


"Kamu mau ke Kafe Satu Sesapan juga?!"


Art tidak bisa menyembunyikan kepanikannya. Selama ini tidak masalah kalau ia hanya menutupi rambutnya dengan kain, karena ia berada di Kota Armelin. Para pekerja itu tidak terlalu mengenali wajahnya. Tapi kalau di Kota Rudiyart, itu semua jadi lain cerita.


Semua warga tahu dia adalah Arthur Eckart bahkan ketika dirinya memakai jubah berpenutup kepala pada saat dirinya hendak pergi berburu. Ia dan keluarganya memilih untuk tinggal di kota tersebut ketimbang di ibukota meski mereka juga punya mansion di sana. Para warga pun bangga bahwa kotanya terpilih untuk ditinggali oleh sebuah keluarga duke. Maka, tidak mungkin ada warga yang tidak akan mengenalinya.


"Aku mohon, temani aku, ya. Soalnya kamu lebih mengenal kota itu." Elona memohon dengan mata berbinar. Meski Art tidak kuat, ia harus bisa menahannya.


"Tapi aku tidak terlalu kenal kota itu! Aku tidak tahu segalanya, apalagi tentang kafe itu!" Art berusaha menolak dengan tegas.


Namun sedetik kemudian hatinya meleleh ketika Elona menggenggam tangannya dan berkata, "Soalnya aku cuma punya teman kamu saja... mau ya?"


Art menutup matanya. Kata-kata Elona terus menggema di kepala, dengan editan sesuka hatinya.


"Soalnya aku cuma punya teman kamu saja..."


"Soalnya aku cuma punya teman kamu..."


"Soalnya aku cuma punya kamu..."


"Baik! Aku siap! Ke ujung dunia pun juga aku temani!" serunya lantang. Elona terlihat gembira melihatnya.


"Benarkah? Horee!"

__ADS_1


Art memutuskan sesuatu yang langsung ia sesali setelahnya. Sekarang, ia harus berpikir dengan keras, bagaimana caranya agar para warga dan karyawan kafe tidak mengenalinya selama ia berjalan-jalan di Rudiyart.


*****


__ADS_2