
"Elona, sudahlah, tenangkan dirimu dulu! Kita lihat dulu kondisinya! Sudah, jangan menangis!"
Sudah sepuluh menit berlalu, dan Stefan masih saja berusaha untuk menenangkan Elona yang tiada hentinya menangis sejak mereka meninggalkan kediaman Locke. Begitu mendengar kalau pabrik kedelai Locke mengalami kebakaran, Stefan, Ryndall dan Elona langsung menaiki kereta kuda dan pergi menuju lokasi kejadian. Dan Elona tak henti-hentinya menangis karena hal itu.
Sesampainya di lokasi, para warga telah berkerumun, mengelilingi bangunan pabrik yang telah menjadi puing-puing yang menghitam. Para warga telah membantu mengambilkan air dan menyiram apinya, namun tetap saja banyak hal tidak dapat terselamatkan. Bahkan masih ada jejak asap yang terlihat mengepul di udara.
Produk mentahan sebagian bau hangus karena gosong terbakar, dan produk jadi yang masih disimpan di lantai atas dan belum sempat didistribusikan ke kedai-kedai, tumpah berhamburan ke lantai.
Elona menatap itu semua, dan badannya langsung ambruk ke tanah karena tak kuat menerima kenyataan. Dengan sendu dna mata nanar, ia berlutut meratapi nasib pabriknya yang telah hancur.
"Elona!" Stefan berteriak ketika melihat adiknya yang semakin menangis.
"Kakak... pabrikku, Kak... hasil kerja kerasku... semuanya hilang..."
Elona memeluk Stefan sambil bersimbah air mata. Stefan membalasnya dengan rangkulan erat sembari mengedarkan pandangan ke sekitar.
"Kamu pulanglah! Ryndall, antarkan Elona sampai ke rumah!" titah Stefan.
"Ayo, Nona!" ucap Ryndall seraya mengulurkan tangan.
"Tapi, Kak Ryndall, aku ingin mencari tahu siapa pelakunya..."
"Urusan itu serahkan saja padaku!" seru Stefan. Kemudian ia mengalihkan pandangan pada pra prajurit yang ikut datang untuk mengawal mereka.
"Pengawal!! Periksa seluruh tempat ini, sampai seluk beluk dan pojokan terkecil sekalipun. Cari tahu apa ada yang bisa jadi petunjuk tentang si pelaku. Kalau ada yang mencurigakan, apapun itu, laporkan padaku!"
"Baik, Tuan! Siap laksanakan!!"
"Ayo, Nona!" Ryndall pun menuntun Elona yang berjalan dengan lemas sambil masih memandangi sekitar. Ladang kedelainya masih utuh meski pabrik pengolahannya telah hancur. Elona terus mengedarkan pandangan hingga berhenti ke suatu titik.
"Kak Ryndall, aku mau kesana sebentar..." kata gadis itu sambil menyeka air matanya. Ryndall pun menganggukkan kepala sambil terus menemani majikannya tersebut.
Elona berjalan ke suatu titik area, yang seharusnya belum digarap sama sekali. Tapi nyatanya, area tersebut telah selesai dibajak. Tanaman-taman lama milik warga yang gagal panen dulu sudah dicabuti, dan tanahnya sudah dibolak-balikkan dengan rapi. Yang tersisa hanya belum dikapuri saja, karena di gudang tidak ada persediaan stok kapur pertanian yang tersisa. Kira-kira, ada setengah hektar yang telah selesai digarap oleh seseorang.
Ini... siapa yang melakukannya?
Elona tiba-tiba teringat akan perkataan Kiara, mengenai Louis yang bekerja siang dna malam tanpa henti di ladangnya demi menebus dosa. Spontan Elona membelalakkan matanya.
"Jangan-jangan... ini Louis yang melakukannya? Dia membajak semua ini sendirian?!" gumam Elona tak percaya, yang tak sengaja didengarkan oleh Ryndall dan diiyakannya.
"Saya mendapat laporan dari salah aatu pekerja, bahwa Tuan Vandyke tetap bekerja hingga larut malam, dan mulai bekerja lagi keesokannya pagi-pagi sekali, Nona." ucap sang sekretaris, membuat Elona begitu terkejut.
"Lalu, sekarang dimana dia?" tanya gadis itu cepat.
"Menurut para pekerja, tubuh Tuan Louis tumbang dan mengalami cedera, lalu dia dipulangkan ke ibukota dan dibawa ke rumah sakit di sana sejak 2 hari lalu."
"Ya ampun..." Lagi-lagi kaki Elona lemas dan berlutut di tanah sambil memandangi hasil kerja Louis di ladangnya.
__ADS_1
Aku benar-benar jahat... Aku hanya ingin dia jera sedikit karena telah melukai Elona. Aku tidak tahu kalau ternyata dia sampai separah itu...
*****
"Elona, dari hasil penyelidikan, tidak ditemukan bahan apapun yang bisa memicu ledakan di tempat kejadian."
Stefan mengungkapkan fakta setelah ia kembali pulang ke kediaman Locke di Armelin dan menemui adiknya di ruang kerja.
Elona menatap Stefan dengan lesu. Pikirannya penuh dengan segala kerugian yang harus ia tanggung sebelum ia membangun sebuah pabrik lagi.
"Jangan lesu begitu! Aku tetap menemukan sebuah petunjuk!"
Stefan mengeluarkan sebuah kantung kain dari dalam jasnya, dan mengeluarkan apa yang ada di dalamnya. Dua buah anak panah, yang satunya memiliki mata besi yang sangat runcing, dan lainnya memiliki mata yang telah terbalut sumbu yang mudah terbakar.
"Ini..." Elona terperangah tak percaya. Stefan balas menganggukkan kepala.
"Ada seseorang yang melepaskan kedua anak panah ini, dan ke arah yang sama, yaitu pipa gas pembuangan limbah tahu. Menurut hasil dugaan, pelakunya melubangi pipanya dulu dengan anak panah yang runcing ini, lalu setelahnya melepaskan anak panah berapi ke lubang pipa tersebut, dan terjadilah ledakan."
"Apa?!"
Stefan menyadari bahwa Elona tampak tak bisa menerima kenyataan yang telah terjadi. Dengan segera ia menyimpan kembali kedua anak panah tersebut ke dalam kantung, lalu menghampiri Elona.
"Kamu sebaiknya pulanglah ke ibukota. Untuk sementara waktu, tenangkan dirimu. Biar aku yang mengurus semuanya di sini." ucap Stefan.
"Tapi, Kak-"
Stefan terdiam sejenak, sebelum akhirnya melanjutkan dengan kata-katanya yang sendu, "Aku sudah kehilangan satu adikku karena depresi. Aku tidak mau kehilangan satu lagi."
"Kakak..." Elona menatap Stefan lekat-lekat. Seandainya ini terjadi di bumi, ia tidak akan pernah memiliki kakak sebaik pria di hadapannya saat ini.
"Baiklah, aku akan pulang ke ibukota. Sekalian aku ingin menemani Kak Iris dan mengelus-elus perutnya, hehe!" ucap Elona tersenyum.
"Nah, yang ceria begitu, ya! Ya sudah persiapkan segalanya. Aku akan memesankan tiket kapal untuk jadwal keberangkatan pagi hari."
*****
Para pelayan mengemasi barang-barang Elona serta kebutuhan lainnya yang gadis itu akan gunakan selama di perjalanan. Beberapa pelayan sibuk berjalan kesana kemari di dalam kamarnya, dan Elona hanya memandangi mereka dengan lesu.
Gadis itu membuka jendela kamarnya, dan tampaklah tepat di luar jendela, sebuah pohon besar yang dahannya menjorok ke arah jendela kamar. Dahan yang selalu dijadikan tempat bertengger oleh sesosok laki-laki yang belakangan ini mengisi hati Elona.
Art... aku tidak mendengar kabarnya lagi sejak hari itu. Apa dia masih marah padaku, ya?
Aku sebentar lagi akan pergi dari Armelin. Sebaiknya kutemui dia untuk berpamitan. Kalaupun dia masih marah dan tak mau menemuiku lagi, paling tidak aku sudah berusaha.
"Pelayan, tolong siapkan kereta kuda, ya. Aku ingin pergi ke Kota Rudiyart."
Elona bersiap-siap untuk pergi ke Kota Rudiyart yang jaraknya benar-benar bersebelahan dengan Kota Armelin. Elona tidak pernah mengetahui tempat tinggal Art yang sebenarnya. Lelaki itu hanya mengatakan kalau ia tinggal di sebuah desa, dan dia cukup dekat dengan keluarga Duke Eckart. Jadi, ke sanalah tujuan Elona sekarang.
__ADS_1
Namun, ternyata tidak ada siapapun di mansion tersebut. Hanya ada beberapa pelayan dan prajurit yang tengah berlatih tak jauh dari pekarangan depan. Pintu mansion tertutup rapat seolah tak ada penghuni sama sekali.
"Ah, Nona Elona...?" sapa seorang prajurit yang tengah beristirahat dari latihannya hendak untuk mengambil minum.
"Kamu... Sam? Temannya Art yang membantuku di ladang juga kan?" tanya Elona sambil berusaha mengingat-ingat. Sam adalah salah satu teman Art yang sering datang ke ladang bersama lelaki itu.
"Kamu prajurit di sini?" tanya Elona lagi. Matanya menyelidiki prajurit pria yang sedang memakai pakaian latihan prajurit dengan lambang Eckart, dari atas hingga bawah.
"Ah, eh... iya..." Sam pun kebingungan menjawabnya. Pasalnya, bila sedang ada Elona di hadapan mereka, Art lah yang menyetir percakapan agar mpara prajurit ini tidak salah bicara soal identitas majikannya itu. Tapi sekarang tuan mudanya itu sedang tidak ada di tempat, jadi Sam juga bingung harus berbuat apa.
"Kemana Art? Sejak kemarin aku tidak melihatnya!" tanya Elona lagi.
"O-oh itu... Tuan- eh, maksud saya, Art, dia sedang tidak ada di sini sekarang." jawab Sam gelagapan.
"Oh ya? Kemana dia?"
"Err... dia pergi ke ibukota, iya ke ibukota, baru kemarin berangkat!"
"Hmm begitu..." Elona mengedarkan pandangannya sejenak ke sekitaran rumah.
"Rumahnya kosong, ya? Duchess Nania ada?"
"Um... Tuan dan Nyonya juga sedang pergi ke ibukota, Nona."
"Ah, mereka pergi bersama? Ada acara apa?" tanya Elona semakin penasaran.
"Eh, itu... saya tidak tahu, Nona!"
"Sam!!" seorang prajurit lain memanggil Sam dari kejauhan, membuat pria itu menghela nafas sangat lega. Ia jadi punya alasan untuk kabur dari sang nona muda.
"Sudah dulu ya, Nona! Saya masih harus berlatih lagi!"
"Eh, tunggu!"
Tanpa mendengarkan Elona lagi, prajurit itu melesat ke bilik pelatihan di sisi mansion, meninggalkan Elona yang kebingungan sendiri.
Art pergi ke ibukota? Kenapa dia tidak mengabariku? Sebegitu marahkah dia padaku sampai aku tidak diberitahu sama sekali...?
Tapi, katanya dia pergi dengan Tuan dan Nyonya Eckart... ada perlu apa ya mereka kesana? Apa Tuan dan Nyonya memerlukan jasa dan tenaga Art, sampai-sampai mereka mengajaknya seorang anak penjaga kuda untuk ikut bersama?
Dalam kebingungan dan kesedihan karena tidak bisa bertemu dengan lelaki yang mengisi hatinya itu, Elona pulang dengan tangan kosong. Kemudian, ia kembali bersiap-siap menuju ke ibukota juga.
*****
...\=\= original writing by @author.ryby \=\=...
...\=\= cover art by @fuheechi_ \=\=...
__ADS_1