
Elona tersadar dari kemurungannya, dan mendapati Art juga jadi ikut berpikir keras di sebelahnya dengan wajah yang ditekuk. Gadis itu jadi geli sendiri dibuatnya.
"Hahahah!"
"Kenapa?" tanya Art yang kebingungan karena tiba-tiba gadis di hadapannya itu tertawa melihatnya. Elona menggelengkan kepala.
"Maaf ya, kamu juga jadi ikut memikirkan masalahku, sampai mukamu ditekuk begitu hihi,"
Art memandang wajah Elona yang tertawa geli melihatnya. "Hey, aku sedang serius ingin membantumu!"
"Hehe, maaf. Terimakasih ya. Tapi tidak apa, tidak perlu terlalu cepat dipusingkan sekarang. Masih ada waktu banyak sampai siklus panen kedua tiba. Di saat itu tiba, semoga solusinya sudah ketemu."
Pandangan Elona teralihkan pada segelas susu yang sedari tadi berada di atas meja. Masih terasa hangat begitu gelasnya disentuh.
"Kamu mau minum susu?" Elona menyodorkan gelas tersebut pada Art.
"Susu?"
"Ini. Aku sedang tidak nafsu untuk meminumnya saat ini."
Art menerima dengan ragu pemberian segelas susu dari Elona. Baru kali ini ia ditawari segelas minuman yang bukan wine dari seorang gadis.
"Apa di rumahmu kamu sering minum susu?" tanya Elona. Art mengernyitkan dahinya.
"Maksudmu?"
"Ah, aku tidak bermaksud sombong..." Elona buru-buru meralat pertanyaannya. "Jangan salah paham, ya? Aku hanya ingin tahu kehidupan warga desa seperti apa, apa yang mereka makan dan minum, dan sebagainya."
Art menatap cairan susu putih di dalam gelas. Elona masih saja menganggapnya sebagai warga desa miskin. Tapi lelaki itupun tidak kunjung memperbaiki kesalahpahaman tersebut. Ia malah semakin membiarkan Elona beranggapan demikian supaya gadis itu mau dibantu untuk menggarap lahannya. Kalau ketahuan Art adalah Arthur Eckart seorang calon duke, Elona tidak mungkin mau menerima pertolongannya
"Y-yaa... begitulah." jawab Art terbata. Lalu ia mengambil nafas supaya tidak gugup.
Ibunya selalu mengatakan kalau Art itu tidak pandai berbohong dan bisa diketahui dari cara bicaranya yang tergagap. Tetapi sepertinya hal itu tidak berlaku pada gadis itu. Elona tetap saja tidak peka dan menganggap kalau Art bukanlah bangsawan hanya dari cara berpakaiannya saja.
"Kamu minum susu setiap hari?" tanya Elona lagi.
"Tidak setiap hari... err, susu cukup mahal untuk warga biasa." jawab Art. Ia mengambil referensi jawabannya dari salah satu prajuritnya yang dulunya adalah warga desa. Katanya, susu sapi memang tergolong sesuatu yang tidak terjangkau apabila dikonsumsi setiap hari oleh warga biasa.
Bagaimana dengan lelaki itu sendiri? Bukan hanya minum susu setiap hari, ia bahkan bisa membeli peternakan sapinya sekaligus. Tapi tentunya hal itu tidak dapat diungkapkannya, meskipun ia ingin sekali menunjukkan kekayaannya di hadapan Elona dan memberinya modal usaha cuma-cuma, supaya tidak murung lagi seperti sekarang ini.
"Oh, begitu... Kalau begitu, kamu minumlah. Besok setiap malam akan kusediakan satu gelas lagi untukmu saat kamu kemari." ucap Elona sambil tersenyum.
Art mengambil gelas susu di hadapannya dan meminumnya, sembari mengintip wajah Elona dari balik mulut gelas. Gadis itu menatap Art lekat-lekat, seperti ingin memastikan kalau pemuda itu meminum habis susu tersebut. Art sengaja meminumnya pelan-pelan, karena wajah Elona yang sedang menatapnya itu menurutnya sangat menggemaskan.
__ADS_1
Tetapi tiba-tiba, Elona membelalakkan matanya, seperti teringat akan sesuatu yang penting.
"Eh, aku lupa!! Tadi kan aku sempat minum dari gelas itu juga sedikit!"
"*UHUK!"
Perkataan Elona membuat Art terbatuk dari minumnya dan menyemburkan sebagian susu dari mulutnya, membuatnya membasahi dagu, leher, kerah tunik dan dadanya. Ia memandangi Elona dan gelas susu di tangannya bergantian.
Tepatnya, ia memandangi bergantian antara bibir Elona dan pinggiran mulut gelas yang baru saja disentuhnya dengan bibirnya sendiri.
Yang barusan itu... ciuman tidak langsung?!!
Art tenggelam dalam pikirannya, membayangkan seandainya itu bukan pinggiran mulut gelas melainkan bibir Elona langsung. Aliran darah yang tadinya sempat mengalir normal langsung deras kembali menuju muka bak air tanggul jebol. Wajah Art sangat merah saat ini hingga ke leher dan telinga.
"Aduh, maaf ya. Sini biar kubersihkan!" Elona panik melihat lelaki di hadapannya batuk sampai seperti itu. Ia segera mengambil sapu tangan dari balik saku gaun malamnya dan mendekati wajah Art. Dengan perlahan Elona mengusap wajah lelaki itu dengan sapu tangan tersebut, guna mengelap dagu dan lehernya yang basah karena susu.
Akibatnya, sekarang bukan hanya dagu dan lehernya saja yang basah karena perkataan Elona. Kini kepalanya juga jadi pusing karena tindakan gadis itu.
"Tu-tunggu! Tunggu! Hentikan!" Art yang panik menahan tangan Elona dan mengambil sapu tangannya. Elona jelas kebingungan melihatnya.
"Kenapa?"
"Biar aku sendiri saja!"
Ini seperti saat ia sedang berburu di hutan dan bersiap menyerang mangsanya. Biasanya, dengan kelihaian dan segala strategi, posisi Art selalu berada lebih unggul dari buruannya. Lelaki itu selalu mengejar, sementara buruannya berusaha melarikan diri. Dan pada akhirnya berhenti dan menyerah, lalu Art memangsanya.
Tapi kali ini tidak. Yang di hadapannya adalah seorang gadis. Art tidak menyangka bahwa gadis yang diburunya justru berbalik menyerang dengan segala kepolosan yang tidak disadarinya. Pemuda itu jadi tidak tahu harus melakukan apa. Baru kali ini, segala strateginya dalam berburu tidak berguna sama sekali.
Elona melihat Art yang melangkah menjauh darinya. Gadis itu jadi merasa kalau Art tidak mau disentuh olehnya.
"Maaf, kamu merasa jijik ya? Biar kuambilkan gelas yang baru, ya. Sekali lagi maaf," ucap Elona merasa bersalah, membuat pemuda itu salah tingkah.
"Bukan! Tidak usah ambil yang baru! Aku mau yang ini saja! Mau kubawa pulang!" Art jadi menyerocos tidak jelas.
"Mau dibawa pulang? Apanya?"
"Kamu!! Eh, maksudnya..." Art menjadi panik. Lalu ia menunjuk gelas di tangannya, "Gelasnya! Iya, gelasnya! Untukku saja, ya!"
Elona malah jadi semakin bingung. "Itu kan gelas murah?"
"Tidak apa-apa! Aku suka!" jawab Art cepat. Ia berniat mau menjadikan gelas yang terbuat dari perunggu itu sebagai pajangan di kamarnya selamanya.
"Kamu tidak merasa jijik?" tanya Elona lagi, Art mengangguk dengan cepat, berusaha untuk tidak meninggalkan ruang salah paham bagi Elona.
__ADS_1
"Mana mungkin aku jijik sama kamu, malahan justru aku su-"
"Su...?"
"Bukan apa-apa!!" Art dengan cepat menenggak sisa susu dalam gelas yang ada di tangannya. Ia berdoa supaya kepanikan dan rona merah di wajahnya ikut turun ke perut bersamaan dengan susu yang diminumnya.
Setelah selesai, ia mendekat kembali ke meja dan meletakkan gelas kosong tersebut di atasnya. Art menutupi wajahnya dengan satu tangan dan menghela nafas berkali-kali supaya tenang.
Gadis ini... semua tindakannya benar-benar tidak baik untuk kesehatan jantungku. Tapi kalau tidak bertemu dengannya sehari saja, malah keseluruhan tubuhku yang jadi tidak sehat. Sebenarnya, apa yang terjadi padaku?!!
"Hmm, mungkin aku akan coba membawa susu untuk para pekerja saat istirahat. Lumayan kan, untuk mengembalikan stamina yang hilang." usul Elona. Art menganggukkan kepalanya.
"Ide bagus."
*****
Keesokan harinya, Elona membawa 30 liter susu dalam tiga drum air besar yang diangkut dari kediamannya. Ia juga menyiapkan gelas-gelas yang sesuai dengan jumlah pekerja di lahan.
"Ayo semuanya, istirahat dulu ya, aku bawa susu dari rumah. Masih segar!" Elona berteriak memanggil para pekerja.
Para pekerja pun datang menghampiri dan mengambil gelas masing-masing satu, lalu mengambil susu dari keran di bagian bawah drum air tersebut.
Mereka semua berkumpul dan bercanda di sekitaran tempat peristirahatan.
"Sudah lama sekali aku tidak minum susu!"
"Iya, aku juga! Biasanya kalau ada uang lebih pun, aku hanya bisa minum segelas dalam tiga hari sekali."
"Aku jadi ingin membawa pulang segelas untuk anakku yang masih kecil di rumah."
Elona mendengarkan semua percakapan tersebut. Berbeda dengan di bumi ketika harga susu dapat terjangkau oleh hampir semua kalangan, tapi tidak dengan di dunia ini.
Para warga biasa memenuhi kebutuhan kalsium mereka tidak dengan minum susu, melainkan memakan ikan-ikanan atau sayuran lain seperti brokoli. Susu merupakan barang yang tergolong cukup mahal, karena hanya dikonsumsi oleh para bangsawan.
Para pekerja berterimakasih pada Elona dan melanjutkan penggarapan lahan setelahnya. Elona terlihat puas dengan apa yang dilakukannya. Sisa susu dalam drum tinggal sedikit, karena tadi para warga antusias untuk meminumnya, bahkan minta tambah untuk dibawa pulang segelas.
Elona melihat keseluruhan gelas-gelas kosong yang isinya sudah diminum habis. Gadis itu membantu para pelayan mengumpulkan gelas-gelas tersebut. Namun Elona merasa ada hal yang aneh.
Padahal ia yakin kalau sudah membawa jumlah gelas yang cukup untuk semua pekerja, satu orang satu gelas. Tapi saat ini, di atas nampan di hadapannya, ada satu gelas yang tersisa. Gelas tersebut masih bersih dan kesat, seperti tidak pernah dipakai siapapun.
Siapa warga yang tidak ikut minum susu tadi?
*****
__ADS_1