Isekai: Putri Marquess Jadi Pengusaha Tempe

Isekai: Putri Marquess Jadi Pengusaha Tempe
Bab 57. Melayang


__ADS_3

"Iya, aku adalah Elona Locke. Dan kita sekarang berada di dalam mimpimu. Salam kenal, ya."


Tara masih memandangi Elona dengan bingung. Ia lalu mencubit pipinya sendiri. Tidak sakit. Melihat hal itu, Elona jadi tergelak.


"Hahaha, sudah kubilang kan, ini di dalam mimpi." kata Elona sambil tertawa.


"Tapi kalau mimpi," Tara menunjukkan keraguannya, "... kenapa kamu ada di sini?"


Elona tersenyum saat Tara bertanya begitu, ia berjalan ke arah danau dan duduk di tepiannya, lalu mencelupkan setengah kakinya ke air danau. Elona mengambil nafas sejenak, lalu menatap ke arah hamparan cahaya yang terpantul dari permukaan air danau tersebut.


"Kamu tahu, Tara, sebenarnya, jiwaku selama ini melayang." ucap Elona.


Tara menatap gadis gemuk itu dengan bingung. Ia pun ikut duduk di sebelahnya.


"Melayang?"


"Iya. Seperti... apa ya? Aku hidup di dalam tubuh ini, tapi aku tidak memegang kendalinya. Yang memegang kendali adalah kamu, aku hanya bisa menonton saja selama ini."


"Tapi... kenapa bisa begitu?" tanya Tara penasaran. Elona menggelengkan kepalanya.


"Entahlah. Sejak kejadian pelabrakan Kiara di aula sekolah dan aku mengalami sesak nafas, jiwaku telah melayang. Begitu tersadar, tubuhku bergerak dengan sendirinya dan aku mengetahui segalanya. Apa yang terjadi padamu, pikiranmu, kata hatimu, apa yang kamu lakukan... semuanya!" jelas Elona.


Tara menatap Elona tak percaya, dan menyimpulkan sesuatu. "Berarti, melayang di sini adalah..."


"Iya, mungkin aku saat itu sedang sekarat. Aku bisa saja mati setelahnya. Tapi, ternyata takdir berkata lain. Kamu diutus untuk menggantikanku dan menjalani tubuhku. Jadi... terima kasih untuk itu, ya!" Elona menoleh ke arah Tara dan tersenyum.


Namun, Tara membalas senyuman Elona dengan tatapan ngeri, karena ia jadi berpikir hal lain.


"Lalu sekarang... kamu mau mengambil kembali tubuhmu...?"


Melihat Tara yang bertanya dengan ketakutan, lagi-lagi Elona tertawa, kali ini sampai meneteskan air mata di pelupuknya.


"Tidak, tidak! Bukan begitu! Tubuh ini sudah jadi milikmu, jadi tenang saja! Hahaha!"


"Oh, syukurlah..." ucap Tara, lalu langsung menutup mulutnya dengan satu tangan, "Eh, maaf, aku bukan bermaksud untuk lega karena telah mengambil alih tubuhmu! Aku hanya lega karena tidak jadi berpisah dengan orang-orang yang kusayangi di dunia ini..."


Elona tersenyum dengan lembut. "Tidak apa, aku mengerti. Tapi..."


"Tapi apa?" tanya Tara penasaran.


"Kamu tidak salah juga soal aku yang ingin mengambil kembali tubuhku. Tapi, aku hanya akan melakukannya untuk satu hari saja." sahut Elona.


Tara mengernyitkan dahinya tak mengerti. "Maksudmu?"


"Izinkan aku mengambil alih tubuh ini selama satu hari saja. Aku ingin menemani Louis berjalan-jalan di kota untuk yang terakhir kalinya..."


"Apa?!! Tapi Louis kan-"


"Iya, aku tahu. Menurut cerita yang kamu baca, Louis itu selalu jahat padaku kan?! Hihi!" ucap Elona sambil terkekeh.

__ADS_1


"Kenapa kamu malah tertawa! Kan dia yang sudah menyebabkan kamu tersiksa selama ini!"


"Oh, tidak begitu cerita sebenarnya," Elona mencegah Tara untuk berpikir yang tidak-tidak tentang Louis lebih lanjut.


"Cerita yang kamu baca itu tidak menggambarkan semuanya. Kalau kamu gali memoriku lebih dalam lagi, dulu saat masih kecil, aku lah yang sering menyusahkan dia."


"Apa maksudmu?" tanya Tara tak mengerti. Elona menjawabnya dengan senyuman lembut dan tatapan sendu.


"Sebenarnya, Louis itu bukanlah orang jahat. Dia hanya tertekan. Setelah aku kehilangan ayah dan ibuku, aku jadi kehilangan sandaran hidup. Aku mencari-cari orang untuk bisa berbagi cerita mengenang kedua orangtuaku.


Saat ditunangkan dengan Louis, aku senang sekali! Aku jadi punya teman bercerita! Aku selalu bicara dan bicara dan bicara tentang hal apapun yang bisa membuatku terkenang akan orangtuaku.


Tanpa kusadari, hal itu membebani Louis. Tapi dia diam saja dan masih berusaha menemaniku, karena saat itu ia masih punya sosok ibunya sebagai tempat mengadu. Hingga suatu saat ibunya tiada, ia melampiaskan rasa tertekannya padaku. Karena ternyata aku selalu bicara tentang diriku sendiri, tak pernah tentangnya.


Jadi... aku yang tidak bisa menerima kenyataan bahwa orangtuaku tiada, ternyata telah sangat membebani orang yang aku cintai..."


Elona menjelaskan panjang lebar tentang kepribadian Louis yang sebenarnya. Seketika itu juga, Tara merasa tidak enak telah mengerjai Louis di ladangnya selama sebulan ini.


"Lalu, yang mau kamu lakukan besok adalah...?" tanya Tara lagi.


Elona mengambil nafas dan menghembuskannya perlahan. "Aku ingin berada di sisi Louis untuk yang terakhir kali. Aku juga ingin mengucapkan maaf dan terimakasih padanya, karena selama ini telah berusaha menjadi tunangan yang baik untukku, meskipun tak bertahan lama.


Dan juga aku... ingin mengucapkan selamat tinggal padanya... karena setelah ini, tubuh ini akan sepenuhnya milikmu. Dan aku tidak akan ada lagi di dunia ini..."


"Apa maksudmu?!"


"Sebelum bertemu denganmu di sini, ada sayup-sayup terdengar suara, yang mengatakan kalau jiwaku tidak bisa lagi berlama-lama di dunia ini, karena aku sudah lama mati. Mungkin yang berbicara itu dewa. Entahlah. Nantinya kemana jiwaku akan pergi, bukan jadi kehendakku lagi..."


"Maafkan aku yang tidak bisa berbuat apapun untukmu... maafkan aku yang pernah membencimu sebagai antagonis dalam cerita yang kubaca... maaf..."


Detik itu juga, Elona Locke ikut menangis di pundak Tara. Dua dunia yang berbeda bersatu dalam pelukan hangat dan perasaan yang sama.


"Jadi, kamu mau mengambil alih tubuh ini lusa?" tanya Tara lagi, dan Elona mengiyakan.


"Iya. Aku ingin menikmati jalan-jalan di kota bersamanya. Melihat pemandangan, berbelanja, dan makan siang bersama. Itu saja, cukup."


"Baiklah..." sahut Tara. "Kalau begitu, besok akan kusampaikan padanya kalau aku akan menyetujui ajakannya pergi ke kota."


*****


Keesokan harinya.


Art berangkat pagi-pagi sekali dari kediaman mewahnya di Kota Rudiyart menuju pabrik kedelai di Kota Armelin. Setelah seharian kemarin ia tidak datang sama sekali, pagi ini ia telah bersiap-siap. Ia berangkat dengan tunik rakyat biasa dan penutup kain di kepala yang telah menutupi identitasnya selama setahun lebih.


Yang berbeda adalah, kali ini ia membawa sekotak kecil yang dibalut dengan kain beluduru merah. Kotak tersebut berisikan cincin termahal yang sudah dipesannya secara khusus pada desainer perhiasan ternama.


Kali ini, pasti akan kuungkapkan semua rahasia ini pada Elona. Nanti kalau ternyata dia masih tetap menerimaku, aku akan melamarnya langsung detik itu juga...


Namun, ternyata rencananya tidak akan berjalan semulus itu.

__ADS_1


Kuda yang dinaikinya baru saja memasuki area tepian di ladang ketika Art melihat gadis pujaannya itu berbicara dengan Louis Vandyke, mantan tunangannya. Samar-samar, ia mendengar percakapan mereka.


"Soal ajakanmu yang kemarin untuk berjalan-jalan di kota... baiklah, aku akan mengabulkannya." ucap Elona. Dan hal ini langsung membuat Louis gembira seketika.


"Sungguh?" Louis berusaha memastikan, dan Elona pun mengiyakan.


"Iya. Satu hari saja, kan?!"


"Iya, satu hari saja! Aku akan menjemputmu besok, ya!"


Begitu panas hati Art melihatnya. Saat Louis telah pergi, Art langsung turun dari kudanya dan menghampiri Elona. Lalu dengan cepat Art menarik lengan gadis itu sampai ke pinggiran ladang yang banyak pepohonannya.


"Art?! Ada apa?? Kenapa kamu menarikku?" Elona bertanya tak mengerti.


Sesampainya mereka berdua di sebuah pohon besar, Art menghadapkan punggung Elona pada pohon tersebut dan mengunci pergerakan gadis itu dengan tangannya yang ditekan ke batang pohon.


"Apa yang kamu lakukan?! Ada rencana apa kamu dengan Vandyke itu besok?!" tanya Art gusar.


"Itu... dia memintaku menemaninya berjalan-jalan di kota selama satu hari." ucap Elona. Kepalanya menunduk karena takut Art marah padanya.


Dan benar saja, urat nadi Art sampai terlihat di lehernya saking marahnya, "Apa?! Kenapa kamu setuju?? Kamu ingin kembali padanya?!"


"Bukan!!" Elona langsung menolaknya setengah berteriak.


"Lalu apa?!"


"Ada alasan lainnya... tapi, aku tidak bisa menjelaskannya karena terlalu rumit... kamu pasti tidak akan mengerti..."


Tiba-tiba, dalam satu gerakan, Art menyentuh tengkuk Elona dan menariknya ke arah wajah lelaki itu. Bibirnya mengecup paksa bibir merah muda Elona. Art melum@tnya dengan ganas, hingga Elona sampai kehabisan nafas.


"A-art! Hentikan!" karena tidak tahan dengan ciuman kasar itu, Elona pun mendorong tubuh Art untuk menjauh.


Namun, bukannya meminta maaf, Art malah menatap balik gadis itu dengan tatapan sendu dan amarah yang bercampur jadi satu.


"Aku bisa mengerti! Aku pasti bisa mengerti! Karena aku yang selalu ada di sisimu selama ini, bukan dia!! Tapi sepertinya kamu tidak pernah melihat semua itu!!"


"Art, aku..." Elona ingin menjawabnya, namun hanya hening yang tersisa di sana.


Lalu lelaki itu pergi dengan marah. Ia langsung kembali ke kudanya dan mengemudikannya dengan cepat dan meninggalkan ladang. Kotak beludru itu masih tersimpan rapi di saku celananya. Jangankan diberikan, kotak itu bahkan tidak sempat diperlihatkan pada si calon penerima.


"Art! Tunggu!"


Tetesan air mata jatuh dan mengalir dengan hangat di kedua pipi Elona. Pelupuk mata dan kerongkongannya serasa panas. Mood untuk hari itu hancur sudah berkeping-keping. Gadis itu pun berkata lirih dalam hati.


Yang ingin berjalan-jalan dengan Louis bukan aku... tapi Elona... tapi kamu bahkan tidak mengetahui namaku yang sebenarnya...


*****


...\=\= original writing by @author.ryby \=\=...

__ADS_1


...\=\= cover art by @fuheechi_ \=\=...


__ADS_2