Isekai: Putri Marquess Jadi Pengusaha Tempe

Isekai: Putri Marquess Jadi Pengusaha Tempe
Bab 55. Tidak Peduli


__ADS_3

Sementara itu, di kediaman Locke di Armelin.


"Hei,"


Mai sedang menyapu di lantai teras di sekitaran halaman depan, ketika ia tiba-tiba merasa dipanggil seseorang. Seekor kuda berjalan masuk ke dalam pekarangan kediaman Locke dan menghampiri Mai. Gadis pelayan itu melihat sosok yang menaiki pelana kuda tersebut, dan seketika itu juga teringat dengan apa yang terjadi beberapa bulan lalu.


David Sanders, sang sekretaris dari kediaman duke Eckart. Lelaki itu dengan santainya datang dan menghampiri Mai setelah turun dari kudanya. Wajah gadis pelayan itu merah padam seketika.


"Kok aku menyapa malah tidak dijawab?" tanya David dengan wajah datar, sangat berkebalikan sekali dengan Mai saat ini.


"Ma-ma-mau apa kamu?! Nona Elona sedang tidak ada di rumah!" sahut Mai gugup. David menyunggingkan senyumnya.


"Aku tidak mencari nonamu itu," jawab David. "Aku mencarimu."


"A-a-aku?!!"


David merogoh saku celananya yang bagian belakang, lalu mengeluarkan dua carik kertas kecil, dan memberikannya pada Mai. Gadis itu tidak menerimanya dan malah memandangnya curiga.


"Apa ini?" tanya Mai penasaran.


"Tiket theater." jawab David santai. Kemudian, tangannya meraih tangan Mai untuk maju ke depan, dan meletakkan dua kertas tiket itu ke dalam genggaman Mai.


"Dua hari lagi, kita akan pergi melihat pertunjukannya. Ini tiket untuk kursi terbaik."


"Eh? Eh??" Mai sangat gugup ketika tangannya dipegang oleh David, apalagi ketika lelaki itu ternyata ke kediaman Locke untuk mengajaknya berkencan.


"A-aku kan belum bilang setuju untuk ikut! Lagipula, aku tidak kenal siapa dirimu, kecuali sebagai sekretaris Tuan Arthur!"


"Hahaha!" David terkekeh mendengar ucapan Mai. Lalu tangannya menjabat gadis itu.


"Perkenalkan, namaku David, dari keluarga Viscount Sanders. Kamu boleh tanya apa saja tentangku, tapi aku akan jawab nanti, 2 hari lagi, setelah kita selesai dari theater."


Lelaki yang biasanya bermuka datar dan tanpa ekspresi itu sekarang sedang tertawa melihat tingkah Mai yang gugup. Dan gadis itupun mengakui kalau tawa David yang sangat jarang terlihat itu membuatnya tampak begitu tampan di mata Mai.


"Tapi, kenapa aku...?" Mai bertanya. Ia masih saja tidak habis pikir. Lelaki di hadapannya ini rupawan dan memiliki penghasilan mapan sebagai sekretaris keluarga duke. Pasti banyak perempuan yang mengantri untuk bisa berkencan dengannya.


David mengernyitkan dahinya. "Jelas karena aku suka padamu, kan?!"


"E-eh?! Tapi... aku kan hanya pelayan..." ucap Mai pelan.


"Memangnya kenapa?" tanya David balik dengan cuek. "Kalau aku suka, ya berarti aku suka. Dan aku tidak seperti Tuan Arthur yang lamban. Kalau aku ingin sesuatu, aku akan bergerak cepat dan efisien."


"Jadi, kamu mau tidak, pergi denganku lusa?" tanya David lagi dengan memberi sedikit penekanan.


"Tapi, pekerjaanku-"


David tiba-tiba mengibaskan tangannya. "Begini saja, kamu mau datang atau tidak, aku akan tetap menunggu di depan pintu masuk gedung pertunjukannya."


"Kalau aku tidak datang...?"


"Yah, akan kutunggu sampai gedungnya tutup." jawab David tidak peduli.


"Eh, kok begitu..." Mai pun berpikir sejenak sembari menatap dua helai tiket di tangannya. Lalu gadis itu berkata pelan, "Baiklah... aku akan minta ijin dulu dari Nona Elona..."

__ADS_1


Lelaki di hadapan Mai langsung tersenyum. "Oke, kalau begitu sampai jumpa lusa."


Mai pun menatap punggung David di atas pelana kuda yang semakin lama semakin menjauh dari jarak pandangnya. Wajahnya masih saja memerah. Gadis itu mencubit pipinya sendiri. Ia merasakan sakit.


Ternyata ini bukan mimpi, pikirnya.


*****


"Nona, a-apa aku boleh minta ijin untuk pergi lusa besok?"


Mai bertanya pada nona majikannya dengan sedikit kegugupan. Elona memandanginya dengan heran.


"Boleh saja... tapi, dengan siapa?" tanya Elona penasaran. Jarang sekali ia melihat pelayan pendampingnya itu berwajah merah seperti ini.


"De-dengan Tuan David Sanders, Nona..."


"David Sanders... oh! David yang bekerja pada Duchess Nania?"


"Ah, iya..." ucap Mai. Nona majikannya itu tidak sepenuhnya salah. David memang bekerja untuk keluarga Eckart, tapi untuk Arthur secara spesifik. Tapi Mai tidak berani mengoreksinya.


"Hee, sejak kapan kamu jadi dekat dengannya?" tanya Elona menggoda pelayannya itu. Seketika itu juga, wajah Mai menjadi gugup kembali.


"Ah, eh, itu..."


"Hehe, aku hanya menggodamu saja. Pergilah. Aku mengijinkan!"


"Terima kasih, Nona!" ucap pelayan itu, lalu langsung keluar dari kamar majikannya.


Louis itu orang yang bila sudah memiliki keinginan, meski ditolak bagaimana pun juga, lelaki itu akan mengejarnya. Elona tahu sekali sifatnya yang satu ini. Itu sebabnya ia membiarkan Louis dan memberikan kesempatan padanya untuk mengenalnya lebih dekat. Bukan karena gadis itu tidak tegas atau memberi harapan, tapi justru dengan cara itu, Elona bisa membalas perlakuan lelaki itu padanya terdahulu.


Dituliskannya rencana-rencana kerja yang akan dilakukan Louis seorang, yang seharusnya dilakukan oleh dua orang pekerja. Elona ingin membuka lahan baru pada hektaran tanah selanjutnya. Lumayan sekali, ia sekarang bisa mendapat seorang pekerja gratisan untuk melakukan hal itu.


Rasakan kau!


*****


Keesokan paginya, Louis datang mengenakan pakaian sebiasa mungkin yang ia punya, dengan mantel cokelat tebal menyelimuti tubuhnya. Ia baru datang pukul 7:00, sedangkan Elona sudah datang bersama para pekerja yang lain tepat pukul 6 pagi.


"Elona," sapa lelaki itu. Elona sudah memandangnya dengan sinis begitu Louis menginjakkan kaki di ladang.


"Jam berapa sekarang?" tanya Elona datar.


"Jam tujuh pagi," jawab Louis. Ia bingung kenapa gadis di hadapannya bisa menatapnya sinis begitu.


"Kemarin kuminta kamu datang jam berapa?"


"Ah, jam enam... maafkan aku, Elona, aku kesiangan." ucap Louis memohon maaf.


Jelas saja lelaki itu kesiangan. Ia belum bisa beradaptasi dengan kamar hotel yang ditempatinya menginap selama di Armelin. Dan juga, selama ini ia memang terbiasa memulai harinya pukul 7:00, ketika ia harus berlatih pedang bersama ayahnya di rumah.


Tapi Elona tampak tak peduli. Ia menghampiri Louis dan menarik kerah baju lelaki itu dengan kasar ke arahnya. Dan gadis itu pun melotot serta mendengus geram padanya.


"Kamu pikir, di sini kamu bisa seenaknya, begitu? Kalau aku minta datang jam 6, ya jam 6! Apa kupingmu itu tidak dikorek sampai tidak bisa mendengar dengan benar?! Atau egomu yang terlalu tinggi, sampai kamu meremehkan apa yang kukatakan, hah!!"

__ADS_1


Louis benar-benar terkejut ketika menghadapi Elona yang marah-marah seperti itu.


"Maafkan aku, Elona... aku janji tidak akan mengulanginya lagi..."


"Bagus. Sebaiknya bukan cuma berjanji, karena sekali lagi kamu tidak datang tepat waktu, silahkan angkat kaki dari kota ini!" Elona pun mendorong kerah dalam genggamannya, membuat Louis hampir tersungkur ke tanah, kalau saja ia tak pandai menjaga keseimbangannya.


"Pekerjaan kita ini menyangkut hajat orang banyak, jangan sampai ada yang dirugikan hanya karena keegoisanmu itu." Elona menutup amarahnya dan memberi penekanan.


Louis hanya bisa tertegun, karena kalimat terakhir gadis itu ada benarnya. Elona hanya memikirkan nasib warganya, dan bisa-bisanya Louis datang terlambat.


"Baik, aku janji aku tidak akan mengulanginya lagi." jawab Louis yakin..


"Bagus. Sekarang lepas mantelmu itu. Kita tidak memerlukannya di sini. Ambil cangkul dan garu di sebelah sana. Dan ini," Elona memberikan segulungan kertas pada Louis. "Ini adalah daftar kerjamu selama sebulan ini."


Louis membuka gulungan itu. Di sana tertera bahwa dalam kurun waktu satu bulan, ia harus selesai membuka lahan sebanyak 1,5 hektar, membajaknya, dan mengapurinya. Dan semua itu harus dilakukannya sendirian. Ia terperangah membacanya.


"Lahan sebanyak ini, aku sendirian??"


"Tidak suka? Silakan pergi dari kota ini." jawab Elona singkat.


"Tapi, Elona aku... tidak mengerti caranya."


"Akan kutunjukkan. Ayo."


Elona pun mencontohkan dengan singkat cara membajak tanah dan mengapurinya. Saat giliran Louis mencoba melakukannya dan salah, Elona mengejeknya.


"Ternyata ototmu saja yang besar, tapi kamu tidak tahu yang seperti ini."


Dan berkali-kali, Elona menganggap Louis melakukan kesalahan. Berkali-kali itu pula, gadis itu meneriakinya dan mengejeknya, hingga habis sudah kesabaran lelaki itu.


"Elona... aku tahu aku melakukan banyak kesalahan, tapi aku kan sudah berusaha. Jadi, kamu tidak perlu meneriakiku seperti itu..." ucap Louis dengan nada kesal yang berusaha ia tahan sedari tadi.


Mendengar hal itu, Elona terkekeh, membuat lelaki berambut hitam itu heran melihatnya.


"Kenapa?" tanya Louis penasaran. Elona menghentikan tawanya.


"Akhirnya kamu sadar juga. Sebenarnya, yang kamu lakukan dari tadi sudah benar. Aku hanya ingin mengerjaimu saja."


"Apa?!! Tapi kenapa-"


"Kenapa, katamu? Kamu lupa, dulu saat aku sudah berusaha mati-matian membuatmu bangga padaku dan bahagia melihatku sebagai tunanganmu, apa yang kamu katakan? Kamu bilang, kamu tidak peduli, bukan?


Sekarang, kamu bilang kamu sudah berusaha? Akan kukembalikan kata-kata itu padamu sekarang.


Aku tidak peduli!!"


*****


...\=\= original writing by @author.ryby \=\=...


...\=\= cover art by @fuheechi_ \=\=...


((Ryby: Akan ada revisi dlm teknis pertanian di bab2 sebelumnya, misalnya jumlah hektar yang digarap dan semacamnya. Akan ada perubahan di angka2, tapi tidak merubah plotnya. Jadi kalau ada angka yg kalian ingat sebelumnya dan di bab2 sekarang ini jadi tidak cocok, itu berarti sudah ada revisi ya gaes. Biar kalian ga kaget. Terima kasih. Selamat membaca sampai tamat.))

__ADS_1


__ADS_2