Isekai: Putri Marquess Jadi Pengusaha Tempe

Isekai: Putri Marquess Jadi Pengusaha Tempe
Bab 72. Cameo


__ADS_3

“Mau apa lagi kamu kemari?”


Kiara melemparkan pertanyaan tajam pada Elona yang baru saja memasuki ruangan. Ada dua buah kursi besi di dalam ruangan, satu di sisi pengunjung, dan satu lagi di sisi narapidana. Dua orang prajurit berdiri di sudut ruangan, masing-masing berlawanan sisi.


Elona masuk dan duduk di salah satu kursi yang ada. Gadis itu menatap Kiara, lalu menghela nafas.


“Duduk aja. Daripada berdiri terus kayak gitu, pegel nanti.” ucap Elona.


Sudah lama dia tidak berbicara informal dengan kata-kata slang khas Indonesia pada seseorang. Semenjak tinggal di dunia fantasi ini, pelajaran etika bangsawan mengharuskan dirinya untuk selalu bicara formal dan dengan kalimat baku. Bahkan kalimat baku juga diucapkan oleh warga yang non-bangsawan. Terakhir kali Elona berbicara dengan sangat informal sewaktu bertemu Geri untuk terakhir kalinya, itu pun juga saat di bumi.


Kiara duduk di kursinya dengan perasaan waspada. Elona memandangnya dengan santai.


“Aku dulu tinggal di Jakarta. Kamu?”


“Bandung.” jawab Kiara singkat.


“Namaku Tara, kamu?” tanya Elona lagi.


“Namaku Wulan…” nada suara Kiara mulai melemah dan rileks.


“Udah ngulang berapa kali baca webtoon Cerita Hati?”


“Kamu berapa kali?” Kiara bertanya balik sebelum menjawab.


“Aku dua kali.” jawab Elona. Mendengar hal itu, Kiara menatap Elona dengan mengejek.


“Aku udah ga bisa diitung pake jari! Aku baca ulang terus-terusan! Aku menang!” seru Kiara penuh kemenangan.


“Usia sebelum kemari?” tanya Elona lagi sambil menatap Kiara dengan sebal.


“16 tahun. Kamu?” kali ini Kiara yang bertanya.


“Usiaku 20 tahun! Aku masih lebih tua dari kamu! Hahahaha!” Elona tertawa mencibir, yang disambut dengan decakan lidah oleh Kiara, “Tch!”


Seusai tawanya, tanpa diantisipasi oleh Kiara, Elona menundukkan kepalanya dan berkata,


“Karena aku lebih tua, aku yang harus minta maaf lebih dulu. Aku minta maaf karena mengabaikan perkataanmu soal Louis. Aku sangat menyesal membiarkannya sampai cedera seperti itu. Maafkan aku.”


Kiara terperangah melihat Elona menundukkan kepala di hadapannya. Dinding di hatinya rubuh seketika.


“Aku juga minta maaf. Aku terlalu gegabah sampai meledakkan pabrik kedelai Kak Tara seperti itu.” ucapnya seraya menundukkan pandangan matanya.


Elona menyunggingkan senyum ketika Kiara menunjukkan penghormatan padanya dengan memanggilnya ‘Kak Tara’.


“Ngomong-ngomong, 16 tahun kok ngerti soal biogas dari limbah tahu?” tanya Elona penasaran.


“Papaku dulu punya pabrik tahu di daerah Sumedang. Aku sering diajak ke sana waktu kecil, jadi aku ngerti dikit-dikit.”


Elona jelas menampakkan keterkejutan di raut wajahnya. Kemudian, gadis itu berpikir cukup lama, sebelum akhirnya bertanya lagi, “Kamu mau bebas dari sini?”


“Ya mau lah, Kak!” sahut Kiara tanpa berpikir panjang.


“Hmm oke kalau gitu. Aku akan cabut tuntutanku, tapi ada syaratnya!” ucap Elona lagi. Kiara mengernyitkan dahinya.


“Apa syaratnya?”


“Hehehe, tunggu besok ya!” Elona tertawa.

__ADS_1


Kiara menatap Elona dengan ngeri. “Kok kayaknya aku mencium adanya rencana licik ya di sini?”


Kengerian Kiara dibalas dengan tatapan licik Elona.


*****


Elona berjalan keluar ruang pertemuan gedung penjara dengan perasaan riang, meninggalkan Kiara sendiri. Ketika dia ingin kembali ke kamar selnya, seorang prajurit pengawal mencegahnya.


“Ada seorang pengunjung lagi.” ucap si pengawal.


Kiara mengernyitkan dahinya. “Siapa?”


Pintu ruang pertemuan terbuka, dan seseorang yang sangat Kiara rindukan hadir di sana. Louis Vandyke.


Louis berjalan memasuki ruangan. Tatapan matanya pada Kiara terasa menusuk. Kiara hanya bisa menghadapinya dengan takut-takut.


“Hai.” sapa Louis singkat. Kiara hanya menundukkan kepala tanpa menjawabnya.


Louis menghela nafas melihat Kiara yang ketakutan menghadapinya seperti itu. Lelaki itu pun memulai percakapannya dengan hati-hati.


“Jadi… kamu berasal dari dunia lain?”


“… iya.” jawab Kiara lemah.


“Aku adalah karakter dalam cerita yang kamu baca itu?” tanya Louis lagi. Kiara hanya menganggukkan kepala tanpa berani menatap pemuda itu.


“Kita menjadi pasangan?” tanya lelaki itu lagi.


“Iya….”


“Kita… saling mencintai?”


“Kita menjadi pasangan kekasih?” kali ini, Louis bertanya sembari menautkan jemarinya ke tangan Kiara yang memegang jeruji.


“Iya, Louis… Kita sangat bahagia di sana…”


“Kita menikah?”


“Iya….”


“Punya anak?”


“Ceritanya berakhir saat pernikahan kita…. tidak ada sekuelnya…”


“Hmm...” Louis tersenyum dengan lembut. “Antara aku dan karakter dalam cerita itu, mana yang lebih kamu cintai?”


"Kamu...! Aku benar-benar mencintai kamu dengan tulus!" Kiara berseru di antara isak tangisnya.


“Jadi... kamu mau, kalau kita mengulang semuanya lagi dari awal?” tanya Louis tersenyum sembari menghapus air mata yang mengalir di pipi Kiara.


Gadis itu menganggukkan kepalanya, “Iya, aku mau…”


“Kalau begitu, tersenyumlah. Kamu lebih cantik kalau tersenyum.”


Dalam isak tangisnya, Kiara tersenyum sambil memegang erat tangan Louis seakan tak mau melepaskannya lagi.


*****

__ADS_1


Beberapa hari kemudian, di aula konferensi istana.


“Sidang lanjutan pemutusan hukuman terdakwa Lady Kiara Perez, karena melakukan peledakan pabrik kedelai milik Lady ELona Locke, akan dimulai!”


Suasana sidang kembali ramai, meski tidak seramai sewaktu sidang pertama. Telah hadir di sana Elona, Louis, Arthur, dan keluarga Kiara.


Kiara memasuki ruangan dengan mengenakan dress hitam polos yang sama yang pernah dilihat Elona saat waktu bertemu di penjara. Kemudian dia berdiri di podium tengah, langsung menghadap ke arah raja dan dewan pengadilan.


“Atas permintaan si korban, yakni Lady Elona Locke, tuntutan atas terdakwa Lady Kiara Perez telah dicabut! Dan Lady Kiara Perez akan dibebaskan bersyarat setelah menandatangi kontrak perjanjian dengan Lady Elona Locke.”


Suara audiens bergemuruh di ruangan. Yang Mulia Raja Valcke melanjutkan, “Dengan ini kasus persidangan peledakan pabrik kedelai telah ditutup!”


Diakhiri dengan ketukan palu sebanyak tiga kali, para hadirin pun keluar dari aula konferensi.


Setelah menandatangani surat perjanjian di hadapan para anggota dewan pengadilan dan Yang Mulia Raja, Kiara sebagai orang yang paling terakhir untuk keluar dari aula. Dan begitu dia melangkahkan kaki keluar ruangan, Elona telah hadir di koridor untuk menyambutnya. Di sebelah Elona juga terdapat Louis dan Arthur, dan juga kedua orangtuanya.


“Kiara…! Maafkan Mama ya, Sayang…” Penny Perez menghambur ke arah Kiara dan memeluknya dengan erat.


“Sudahlah Ma, aku tidak apa-apa. Aku memang salah, dan Mama sudah benar untuk datang memberikan kesaksian.” Kiara menjawab ibunya seraya tersenyum.


Ayahnya pun berada di sebelahnya dan berkata, “Putri kita sudah dewasa, ya.”


Kiara tersenyum sumringah mendengarnya.


Kiara melihat Elona berada di balik punggung ibunya. Gadis itu pun menghampiri Elona. Tetapi, begitu setengah jalan, Kiara memperhatikan Arthur lekat-lekat. Perlahan, Kiara mendekati Elona sambil tersenyum aneh, lalu menarik Elona sedikit menjauh dari Louis dan Arthur.


“Oohh, pantas aja Kak Tara bisa meninggalkan Louis, udah dapat gantinya ya,” bisik Kiara di telinga Elona. “Aku ga nyangka Kak Tara bisa kenal dengan karakter itu!”


“Oh iya, aku lupa mau tanya kemarin, apa kamu pernah lihat karakter Arthur dalam cerita?”


“Lho, Kak Tara ngga tau, tentang si Arthur itu?” tanya Kiara balik.


Elona menggelengkan kepala tak mengerti. “Ngga, aku ngga ingat.”


“Dia itu cameo. Munculnya di bab tigapuluhan. Dia itu figuran penting. Wajar sih, kalau ngga inget, soalnya perannya cuma muncul sekali.”


Elona menerawang jauh, mengingat-ingat setiap detail yang terjadi di webtoon favoritnya itu. Matanya membelalak begitu mengingatnya.


“Oh! Oh! Aku ingat!”


“Nah, kan! Hebat Kak Tara bisa menemukan si karakter cameo!”


Mereka berdua saling tertawa, membuat Arthur dan Louis yang berdiri tak jauh dari mereka merasa kebingungan.


Sepulangnya dari istana, Arthur yang satu kabin dengan Elona saat menaiki kereta kuda, menghampiri gadis itu supaya bisa duduk satu bangku dengannya.


“Ada apa?” tanya Elona begitu melihat pemuda itu tersenyum-senyum sendiri.


Arthur pun mengeluarkan sesuatu dari dalam kantung celananya. Sebuah kotak yang seharusnya pemuda itu serahkan pada gadis itu dulu.


“Aku tidak mau cuma jadi pacar saja. Kita tunangan, ya!”


*****


...\=\= original writing by @author.ryby \=\=...


...\=\= cover art by @fuheechi_ \=\=...

__ADS_1


((Ryby: epilog besok ya. siap-siap. Jam 3 pagi. 😂))


__ADS_2