Isekai: Putri Marquess Jadi Pengusaha Tempe

Isekai: Putri Marquess Jadi Pengusaha Tempe
Bab 45. Hanya Teman


__ADS_3

"Sayang..."


"Apa..."


"Hehe... Stefan..."


" Iya, Iris... ada apa..."


"..."


Elona baru saja memasuki ruang kerja ketika ia melihat Iris terus menggamit mesra tangan Stefan, dan kakaknya itu membiarkannya saja sembari mengecek laporan bisnis kedelai Elona. Tetapi rona merah yang tampak di kedua pipi pria tersebut tak dapat disembunyikannya, meski ia berusaha untuk tidak menghiraukan tingkah istrinya saat ini. Biasanya, Stefan adalah orang yang selalu bisa menyembunyikan emosi apapun, terutama bila sedang berkonsentrasi.


Iris terus-terusan memanggil nama Stefan dengan nada yang manja sambil bergelayut di lengannya. Stefan hanya menggubrisnya dengan menjawab "Apa...", lalu disambut dengan senyuman Iris yang seperti anak kecil. Lalu nama Stefan dipanggil lagi. Begitu terus berulang kali, membuat Elona yang melihatnya merasa heran.


"... kalian kenapa?" tanya Elona bingung.


Pertanyaan Elona membubarkan kemesraan Stefan dan Iris. Menyadari adik iparnya itu memasuki ruangan, Iris langsung menjauhkan diri dari suaminya. Wanita itu mendorong kursi berodanya ke mejanya sendiri dan langsung fokus pada kertas-kertas di atas meja. Sedangkan Stefan langsung berdeham dan memperbaiki kerah kemejanya, lalu bersikap seolah tidak ada apapun.


Ya, memang wajar bila suami istri bermesraan. Tetapi permasalahannya, Elona tidak pernah melihat yang seperti itu dari hubungan Stefan dan Iris. Pernikahan mereka selalu tampak seperti dua orang sahabat saja dan tidak lebih. Elona tidak tahu apa penyebabnya bisa seperti itu, dan kini ia juga tidak tahu mengapa semuanya tiba-tiba berubah dalam satu malam seperti ini.


Elona semakin mengernyitkan dahinya tak mengerti. Tapi ia tak mau ambil pusing. Ia berusaha untuk cuek dengan apa yang dilihatnya tadi.


"Kakak sedang mengerjakan laporan pabrik?" tanya Elona begitu melihat Stefan berkutat dengan kertas-kertas di atas meja.


"Iya, aku sedang mengecek perhitungannya." jawab lelaki itu. Di dunia ini tidak ada komputer dan Microsoft Excel maupun Google Spreadsheet, jadi seluruh perhitungan akuntansi laporan keuangan harus dikerjakan secara manual.


"Biar aku saja, Kak, yang mengerjakannya. Kalian berdua pergilah berjalan-jalan ke kota. Terutama Kak Iris, kan Kakak belum pernah keliling Kota Armelin!" usul Elona.


"Benar juga, sih... aku belum sempat berjalan-jalan selama di sini." ucap Iris.


"Hmm, mungkin kita bisa pergi ke rumah beberapa kenalanku di kota ini. Kalau untuk jalan-jalan di kota sebaiknya dimulai besok pagi-pagi saja." ujar Stefan.


"Baiklah. Kalau begitu, kalian berdua istirahat saja selama di sini. Kak Stefan dan Kak Iris tidak boleh banyak berpikir selama di sini ya."


"Tapi-"


"Ini perintah dari pemimpin sementara Kota Armelin! Kuperintahkan kalian untuk bersenang-senang selama di sini!" potong Elona sembari bergaya memerintah. Iris pun tergelak melihatnya.


"Baiklah, Nona Locke! Kami akan bersenang-senang dulu, ya!" ucap Iris, lalu menggamit lengan Stefan yang masih saja berusaha membantu adiknya menghitung neraca pembayaran.


"Sana, Kak Stefan juga!"


"Iya, iya! Tapi kamu jangan lupa istirahat, ya. Jangan memaksakan diri. Makan kalau sudah waktunya!" pesan Stefan sebelum ia meninggalkan ruang kerja bersama Iris.


Elona pun duduk di kursinya. Ryndall memasuki ruangan dan menghampiri nona mudanya itu dengan membawa berbagai macam kertas dan surat-surat.


"Nona, ini perhitungan tambahan untuk pabrik tahu yang baru. Aku sudah memperbaiki beberapa kesalahan. Mohon dicek lagi."


"Baiklah, Kak Ryndall."


*****


Siang berganti senja. Stefan yang biasanya bekerja sebagai salah satu staff dewan kerajaan, dan Iris yang biasanya mengatur seluruh keuangan rumah tangga, kini bisa bersantai di Armelin. Mereka menghabiskan waktu berjalan-jalan di sekitaran mansion dan mengunjungi beberapa rumah kerabat di kota.


Stefan dan Iris pulang dengan membawa beberapa bingkisan dari para kerabat tersebut Saat memasuki koridor ruang depan, Stefan melihat Ryndall yang keluar dari ruang kerja dengan wajah yang pucat. Sekretarisnya itu tampak kelelahan sekali.


"Ada apa, Ryndall? Kenapa wajahmu begitu?"


Ryndall yang disapa oleh tuannya langsung menghela nafas panjang.


"Maafkan aku, Tuan. Tapi Nona Elona ternyata lebih parah dari anda." ucapnya seraya memperbaiki letak kacamata di hidungnya.


Stefan menatapnya tak mengerti, "Apa maksudmu?"


"Nona sangat gila kerja, Tuan. Seharian ini ia terus bekerja tanpa keluar dari ruangannya sedikitpun."

__ADS_1


"Tanpa keluar... itu berarti dia melewatkan makan siangnya?!"


"Benar, Tuan. Dan Nona cukup sering melakukannya, sejak bisnis kedelainya melesat dan populer."


"Apa?!! Anak itu...! Sudah kubilang jangan memaksakan diri!"


"Stefan! Tunggu!"


Stefan tidak mendengarkan apa kata istrinya dan langsung tergesa-gesa pergi ke ruang kerja tempat adiknya berada. Tinggallah Iris sendirian di koridor.


"Hah... kakak dan adik sama saja..." Iris menghela nafas. Kemudian, wanita itu menoleh ke arah pelayan yang sedari tadi berdiri di belakangnya.


"Kemana lagi, ya, daerah dekat sini yang belum aku kunjungi?" tanya Iris pada pelayan tersebut. Sang pelayan pun tampak berpikir sejenak.


"Umm... Nyonya sudah mencoba pergi ke danau di belakang mansion? Pemandangannya cukup indah. Waktu masih menguruskan badannya, Nona Elona sering pergi kesana untuk lari sore."


"Oh, danau ya? Stefan pernah cerita kalau waktu kecil dia sering main ke danau... apa mungkin itu danau yang dimaksud?"


"Bisa jadi, Nyonya. Danau terdekat di sini hanya yang berada di belakang mansion itu, berbatasan dengan tepian hutan." jelas sang pelayan.


"Baiklah, ayo temani aku ke sana!"


*****


Suasana tepian danau sangat asri dengan berbagai pepohonan yang selaku tampak hijau dan segar, karena di Armelin tidak ada musim dingin, berbeda dengan di ibukota. Apalagi ini sudah mendekati akhir tahun. Wajah Iris tampak selalu lebih pucat bila musim dingin datang, dan wanita itu tidak menyukainya. Maka, bisa melihat pemandangan seindah di danau ini lengkap dengan cuaca yang hangat membuatnya sangat bergembira.


Iris pergi ke danau dengan seorang pelayan dan dua orang prajurit. Ia menyusuri tepian danau dengan sangat senang.


"Hati-hati Nyonya, nanti terpeleset!" sang pelayan memperingatkan. Iris tertawa mendengarnya.


"Tenang saja, aku akan hati-hati. Lagipula, kalau terpeleset, aku bisa berenang, kok!" ucapnya riang.


Tak lama, Iris melihat seekor kuda berjalan mendekat ke arahnya, dengan seseorang di atas pelananya. Dan Iris sangat mengenali wajah seseorang tersebut.


"Lho, Arthur??"


Iris pun tertawa mencibirnya, "Memangnya siapa yang kamu harapkan? Elona? Hahahahah!"


Iris tersadar kalau seorang pelayan dan dua orang prajurit masih berada di belakangnya saat ini. Melihat perbincangannya dengan Arthur akan mengarah tentang Elona, Iris segera meminta pelayan dan dua prajurit tersebut menjauh dari tepian danau, supaya mereka tidak sewaktu-waktu keceplosan membeberkan semuanya pada Stefan. Kalau tidak, suaminya itu akan marah besar.


Mendengar sepupunya itu malah menggodanya, Arthur jadi kesal. "Diam kau, Iris! Sudah seharian ini aku tidak bertemu dengannya!"


"Aduh, aduh... lelaki yang satu ini sedang kasmaran, ya? Baru tidak bertemu sehari saja langsung kesal begitu...!" Iris semakin jumawa menggoda Arthur, membuat pemuda tersebut melemparkan pandangan keki ke arah sepupunya itu.


"Harusnya sebagai sepupuku, kamu membantuku untuk bisa dekat dengan Elona!" sahut Arthur.


Kali ini Iris tersenyum mencemooh, "Percuma walau dekat juga, cintamu itu juga tidak akan kemana-mana, hanya bergerak di tempat!"


"Apa maksudmu?! Aku kan sedang berusaha supaya Elona juga menyukaiku!"


"Percuma!" tandas Iris tanpa segan, "Karena orang yang kamu cintai itu tidak melihatmu sebagai seorang pria. Jangankan membuatnya jatuh cinta padamu, Elona bahkan menganggapmu hanya teman dari awal! Hahahaha!"


"Kenapa kau menyebalkan sekali, sih!! Hentikan ketawamu itu! Tidak lucu!" Arthur terlihat makin naik pitam saat ditertawakan sepupunya itu.


Tiba-tiba, Iris menatap Arthur lekat-lekat, lalu bertanya, "Mau kubantu supaya ia melihatmu sebagai laki-laki, tidak?"


Mata Arthur membulat seketika. "Apa? Bagaimana caranya?"


"Jawab aku dulu. Kamu mencintai Elona, kan?" Iris bertanya mengonfirmasi, dan Arthur pun wajahnya memerah seketika itu juga.


"I-iya..."


"Apa? Tidak dengar!" Iris semakin menggodanya.


"Iya!"

__ADS_1


"Tidak dengar!"


"Iya aku mencintai Elona! Aku sangat mencintainya!!" suara Arthur menggelegar di danau, membuat Iris segera menutup mulutnya.


"Jangan teriak-teriak, bodoh! Nanti Stefan dengar dan kemari!!"


"Kan kamu tadi yang menyuruhku! Menyebalkan!" Arthur berkata gusar. Iris pun tergelak dan tak habis pikir melihat tingkah sepupunya itu.


"Baiklah, akan kubantu supaya Elona melihatmu lebih dari sekedar teman. Tapi, ada syaratnya."


"Aduh, apa lagi, sih?" Arthur mendengus kesal.


"Katakan kalau Iris yang paling cantik sejagat."


"Iris paling licik sejagat!"


"Apa kau bilang?!"


"Iya iya, Iris paling cantik sejagat! Tapi tetap lebih cantik Elona!"


"Ya bolehlah... hohoho!" Iris tersenyum puas sekali bisa menggoda sepupunya selalu jahil padanya dari kecil itu.


*****


"Elona, istirahatlah!" Stefan saat ini berada di ruang kerja dan memarahi adiknya yang tak juga kunjung beranjak dari kursinya. Elona masih saja bekerja ketika hari sudah larut malam.


"Tinggal sedikit lagi, Kak. Soalnya ini akhir bulan. Aku sedang mengerjakan laporan upah pekerja di ladang dan-"


"Iya, kan masih bisa besok! Nanti biar kubantu! Kalau tahu kamu akan seperti ini, lebih baik aku tadi membantumu saja daripada pergi ke kota!" seru Stefan.


"Jangan, Kak! Kalian kan butuh penyegaran dari penatnya ibukota! Kalian harus nyaman selama di sini!" Elona masih saja bersikeras.


"Jadi tidak nyaman saat kami sadar kalau kamu bekerja keras sedangkan kami malah bersenang-senang sendiri!"


"Hey sudah, sudah!" Iris masuk ke dalam ruangan dan meleraikan pertengkaran. "Kalian ini sama-sama peduli satu sama lain, tapi malah jadi bertengkar!"


Iris mengambil nafas panjang, lalu berjalan menghampiri Elona di mejanya.


"Apa yang dikatakan Stefan itu benar. Kamu harus istirahat, sayang... Jangan seperti ini! Ingat, istirahat yang cukup juga bagian dari pola hidup dan manajemen stress yang baik!"


Elona sedikit terkejut. Apa yang dikatakan Iris ada benarnya. Meskipun tubuhnya sudah langsing sekarang, tapi pola hidup dan manajemen stressnya harus tetap dikontrol supaya ia tidak kembali ke penyakit psikologisnya yang dulu.


"Baiklah..." ucap Elona, lalu merapikan berkas-berkas di atas meja. Stefan mengambil nafas lega melihatnya. Ia sedari tadi marah-marah pada Elona yang keras kepala, ternyata bisa diselesaikan oleh istrinya dalam satu kalimat saja.


"Bagaimana kalau besok Elona saja yang menemaniku jalan-jalan? Boleh kan Stefan?" tanya Iris. Stefan langsung mengangguk setuju.


"Ide bagus. Di sini yang butuh penyegaran itu kamu, Elona, bukan aku!"


"Tapi, Kak-"


"Tidak ada tapi-tapi! Besok kamu yang temani Iris jalan-jalan. Belilah apapun yang kalian suka. Biar aku yang mengerjakan pekerjaanmu di rumah."


Elona terdiam begitu kakaknya memotong perkataannya. Iris memberikan dorongan terakhir, "Kan kamu yang lebih mengenal kota ini... apa kamu tega membiarkanku jalan-jalan sendirian?"


Sesaat kemudian, Elona menganggukkan kepalanya, "Baiklah..."


"Yay! Kalau begitu, besok kita bersiap pagi-pagi, ya...!" Iris berseru senang.


Wanita itu senang bukan hanya karena Elona bersedia menemaninya jalan-jalan, tapi karena ia tahu bahwa rencananya untuk membuat Elona semakin dekat dengan Arthur akan segera terlaksana. Iris pun tertawa dalam hatinya.


Arthur, kamu akan sangat berhutang budi padaku, hihi...


*****


...\=\= original writing by @author.ryby \=\=...

__ADS_1


...\=\= cover art by @fuheechi_ \=\=...


__ADS_2