Isekai: Putri Marquess Jadi Pengusaha Tempe

Isekai: Putri Marquess Jadi Pengusaha Tempe
Bab 56. Mimpi


__ADS_3

Louis terhenyak mendengarkan Elona yang begitu emosi mengingat perlakuanya terhadap gadis itu terdahulu. Ia tidak bisa berkata apapun lagi. Dan Louis mengakui bahwa memang benar apa yang dikatakan Elona, kalau dulu dia memperlakukan mantan tunangannya itu dengan sangat buruk.


Louis menghela nafas sejenak dan menghembuskannya perlahan. "Baik. Aku terima. Memang aku yang salah. Jadi, kerjai aku sesukamu sekarang. Aku akan menebus seluruh dosaku."


Elona sedikit terkejut dan tidak menyangka bahwa mantan tunangannya itu akan menerima dengan lapang dada. Gadis itu mengibaskan rambutnya dan membalikkan badan.


"Sudahlah. Sudah cukup waktuku bermain-main denganmu. Aku sibuk. Kerja yang benar, akan kutagih hasilnya sebulan kemudian."


Elona pun pergi ke arah pabrik, meninggalkan Louis yang sedang sibuk membajak lahan sendirian.


*****


"Untuk membuat tempe, pertama kupas dulu kacang kedelai dari kulitnya seperti biasa, lalu rebus sampai empuk. Setelahnya, letakkan kacang kedelai yang sudah empuk tipis-tipis dan merata di atas sisi daun waru yang berkapang. Lalu, tutup dengan daun waru lain dengan kapangnya menghadap bawah. Diikat, lalu diamkan selama 24 jam. Sampai sini, ada yang belum paham?"


"Kami paham, Nona."


Elona tersenyum senang mendengarnya, saat para pekerja ia contohkan membuat tempe dengan daun waru di pabrik. Setelah tempe siap, gadis itu berencana untuk membuat kecap juga di masa mendatang, mungkin beberapa bulan setelah tempe dipasarkan. Dan dengan begitu, selesailah empat produk kedelai paling dasar yang ia tahu. Sisanya hanya tinggal dimodifikasi saja seperti tahu putih, tahu kuning, tahu sutra, tempe bongkrek dan semacamnya.


Elona melangkah keluar dari pabrik untuk mencari udara segar. Sekarang ia sudah mulai terbiasa dengan bau limbah tahu yang tercium di area pabrik, meskipun masih sering keluar untuk menghirup udara bersih.


"Elona,"


Dari kejauhan, Art tampak memanggil. Lelaki yang akhir-akhir ini memenuhi hati gadis itu datang dan menghampirinya. Lalu tiba-tiba, ia mengeluarkan setangkai mawar putih dari balik punggungnya dan memberikan bunga itu untuk Elona.


"Ah... terima kasih..." Elona hanya bisa tertunduk dan tersipu malu dibuatnya. Dan hal itu membuat Art memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana dan mencubit pahanya sendiri saking gemasnya.


"Oh, kamu sudah mengajarkan para pekerja cara membuat tempe?" tanya Art. Elona mengangguk.


"Iya, baru saja."


"Setelah itu, masih ada resep baru lagi yang lain?"


"Ada, namanya kecap. Semacam saus untuk penyedap rasa. Tapi, aku akan membuatnya masih nanti-nanti." sahut Elona ceria.


Art tersenyum mendengarnya. Selalu menyenangkan baginya melihat Elona yang menceritakan kegiatannya sembari tersenyum. Selama ini para gadis yang dikenalnya selalu hanya berbicara tentang pakaian dan perhiasan. Tapi dengan Elona, Art bisa membicarakan manisnya hasil kerja keras demi membantu orang banyak.


Dan calon istri seperti inilah yang ia cari. Yang bukan hanya cantik, tapi juga memiliki wawasan bagaimana cara menyejahterakan rakyat. Hal itulah yang menurut Art pantas menjadi pendamping baginya kelak nanti ia diangkat sebagai duke.


Apa yang ayah dan ibunya lakukan selama ini untuk menjodohkannya denga para gadis cantik itu sebenarnya juga tidak salah, tapi saat itu mereka belum bertemu dengan Elona. Art juga heran, kenapa selama ini, ia tidak pernah tahu tentang keberadaan gadis di hadapannya ini. Ia juga bingung darimana Elona mendapatkan semua pengetahuan yang dimilikinya selama ini.


Sejujurnya Art juga merasa, bahwa bukan dirinya saja yang menyimpan rahasia, tapi gadia itu juga. Dan lelaki itu sungguh penasaran, siapa itu Tara yang disebutkan oleh Elona dalam mimpinya di waktu lalu.


"Jadi, setelah kecap itu, semuanya selesai?" tanya Art melanjutkan perbincangan.


"Iya, untuk resep-resep dasar makanannya sudah selesai. Susu kedelai, tahu, tempe, kecap. Setidaknya, hanya empat itu yang aku tahu caranya, hehe..." jawab Elona.


"Semuanya akan stabil dalam sebulan?" tanya lelaki itu lagi.


"Iya, kira-kira begitu." Elona menganggukkan kepala.


"Elona..." Art memanggil nama gadis itu dengan lembut dan dalam, sama seperti di dalam goa kemarin. Lelaki itu membelai pipi gadis itu dengan tangannya, membuatnya terkejut dan merona merah.


"Iya, Art...?" suara Art yang begitu lembut mengingatkan Elona pada kejadian di goa.


"Apa ada hal yang kamu sembunyikan dariku?" tanya lelaki itu tiba-tiba. Mata Elona membelalak seketika itu juga, dan ia menjadi gugup.


"A-apa maksudmu? A-aku..."


"Kalau punya juga tidak apa-apa. Tapi... apa kamu mau membaginya denganku?" tanya Art kembali.


Elona tampak menundukkan kepalanya. Ia tak yakin bahwa lelaki di hadapannya ini akan percaya begitu saja apa yang akan dikatakannya.


"Itu... sebenarnya... itu..."


"Sshh. Kalau belum siap sekarang, ya tidak perlu dikatakan sekarang." ucap Art.


"Tapi-"

__ADS_1


"Aku juga punya rahasia yang selama ini kusembunyikan darimu." sela Art memotong perkataan Elona.


Gadis itu pun mengernyitkan dahinya. "Kamu punya rahasia?"


Art menganggukkan kepala. Lelaki itu membelai rambut Elona dan merapikan helaian yang keluar dari selipan telinga.


"Sebulan lagi. Kalau semua urusanmu dengan ladang dan pabrik kedelai ini telah stabil, apa kamu mau, kalau kita saling berbagi rahasia masing-masing?"


Elona mengangguk pelan. "Baiklah..."


Dan aku akan langsung melamarmu detik itu juga, pikir Art.


*****


Art ingin sekali mengecup bibir Elona sekali lagi. Diedarkannya pandangan ke sekitar, berjaga-jaga tidak akan ada yang fokus pada apa yang akan dilakukannya setelah ini. Ia takut kalau barangkali saja ada Stefan yang datang tiba-tiba seperti waktu itu.


Namun bukan Stefan yang ia lihat, melainkan mantan tunangan Elona yang bernama Louis Vandyke yang tampak dari kejauhan.


"Lho, mau apa dia di sini?!" ucap Art sambil mendengus kesal. Spontan saat-saat romantisnya bersama Elona buyar dan digantikan dengan amarah.


Elona terkejut dengan kemarahan Art dan mencari sumbernya. Matanya juga tertuju pada Louis yang sedang sibuk menggarap lahan dalam diam sendirian.


"Oh, itu, jadi kemarin itu..." gadis itu pun menceritakan segalanya pada Art, tentang apa alasan mantan tunangannya itu datang kemari dan kenapa sekarang ia berada di ladang.


"Lalu, kamu biarkan saja dia, begitu?!" tanya Art tidak habis pikir.


"Yah, mau bagaimana lagi. Lagipula, aku jadi punya kesempatan membalas semua perlakuannya padaku dulu, hihi!"


Art masih menunjukkan raut wajah sebal. Ia setuju saja kalau Elona ingin mengerjai mantannya itu. Tapi ia juga tidak ingin ada keberadaan Louis di sekitar Elona.


Melihat lelaki di sebelahnya itu terlihat merajuk, Elona menggamit lengannya. "Tidak usah cemberut begitu,"


"Siapa yang cemberut?!" sahut Art, yang jelas-jelas berkebalikan dengan tindakannya saat ini.


"Itu, marah-marah begitu...."


Elona tertawa geli melihat Art yang ternyata memiliki sifat gengsi yang tinggi. Gadis itu pun menghela nafas.


"Jangan marah-marah, lagipula, aku tidak akan kembali padanya," ucap gadis itu, membuat Art menoleh ke wajahnya.


"Kenapa? Bisa saja kan, kalau nanti yang terjadi malah sebaliknya?" tanya lelaki itu. Elona pun menggelengkan kepalanya.


"Tidak akan. Lagipula..." gadis itu menatap mata Art lekat-lekat. Wajahnya bersemu merah merona.


"... kan ada kamu."


Art langsung mematung begitu mendengar perkataan Elona barusan. Sedetik kemudian, tetesan darah mengalir dari dalam kedua lubang hidungnya.


"Kyaa! Art, hidungmu berdarah!" Elona tergesa-gesa memberikan sapu tangannya pada lelaki itu.


Art menerima sapu tangan tersebut, lalu ia berjongkok dan menutup wajahnya dengan tangan, membuat Elona semakin khawatir.


"Art, kamu sakit? Ada apa?"


Lelaki itu melirik Elona, sambil masih menutupi mimisannya dengan sapu tangan. Art memandang gadis itu dengan tatapan tak habis pikir.


"Cukup aku saja yang merayumu, jangan sebaliknya... kalau kamu yang merayuku, begini akibatnya, terlalu bahaya..."


"Eh?!"


*****


Satu bulan kemudian.


"Elona, aku sudah menyelesaikan semuanya." ucap Louis.


Sebulan berlalu begitu cepat. Pekerjaan Louis sama sekali tidak ditengok oleh Elona selama kurun waktu tersebut. Saat ini, Louis sendiri yang menghampiri gadis itu. Elona bahkan hampir saja melupakan keberadaan mantannya itu bila tidak dihampiri seperti ini.

__ADS_1


"Oh, oke. Biar kuperiksa." kata Elona. Mereka berdua pun pergi ke area yang dikerjakan oleh Louis. Semuanya tergarap rapi dan telah dikapuri, siap untuk ditanami tumbuhan baru bulan depan saat kapur limestonenya sudah meresap ke dalam tanah.


"Kerja bagus. Hebat juga kamu." Elona memuji laki-laki itu, membuatnya tersenyum. Sesaat kemudian, gadis itu ingin kembali ke area pabrik namun ditahan oleh Louis.


"Begitu saja?"


Elona mengernyitkan dahinya. "Memangnya mau apa lagi?"


"Aku kerja keras sebulan ini tanpa bimbingan sama sekali, lho. Apa kamu akan melakukan hal yang sama pada salah satu wargamu? Tidakkah kamu pikir itu adil?" Louis mengatakan pembelaannya.


Elona berpikir sejenak, lalu menghela nafas dan berkata, "Baiklah. Apa yang kamu inginkan?"


Louis begitu gembira mendengarnya. "Kalau begitu, besok, satu hari saja, aku ingin kita jalan-jalan di kotamu ini."


Elona terkejut mendengarnya, dan langsung menolak. "Tidak, terima kasih. Aku sibuk!"


"Kumohon, Elona. Satu hari saja. Aku kan ingin mengenalmu lebih dekat, tapi kamu membiarkanku bekerja sendirian selama sebulan, dan aku jadi jarang bertemu denganmu karena itu. Tujuanku jadi tidak tercapai. Kumohon, aku tidak akan meminta lebih! Setelah itu, aku tidak akan mengganggumu lagi!"


Louis mengucapkan serentetan alasan mengapa permohonannya itu harus diterima. Dan Elona menatapnya dengan perasaan tidak suka.


"Itu bukan urusanku. Sudahlah, aku sibuk. Karena pekerjaanmu membajak lahan sudah selesai, aku akan memberikanmu pekerjaan baru di pabrik, itupun kalau kau mau. Kalau tidak, juga tidak apa-apa, kamu bisa pergi kapanpun."


Gadis itupun pergi berlalu begitu saja, dan meninggalkan Louis yang terdiam dalam kecewa.


*****


Malam harinya, sebelum tidur, Elona menatap ke dalam cermin. Ia memandangi wajahnya yang sudah tidak gembul lagi. Sudah setahun lebih ia hidup di dalam tubuh ini. Selama setahun itu pula, ia berjuang menguruskan badannya dan membangkitkan Kota Armelin.


Elona pun tersenyum, mengingat semua hasil pencapaiannya. Titik epilog webtoon ketika ia digantung mati sudah jauh terlewat. Elona tidak menyangka, ia berhasil mengibah takdir antagonis dalam webtoon Cerita Hati. Dan ia tidak sendirian, banyak orang yang telah membantunya. Stefan, Iris, Mai, Ryndall, dan juga Art. Gadis itu tanpa sadar tersenyum sendiri ketika mengingat nama yang terakhir itu.


Rahasia apa ya, yang ingin dikatakan Art padaku? 'Sebulan lagi' yang waktu itu, harusnya sekarang-sekarang ini, kan? Aku jadi tidak sabar...


Tapi tadi Art tidak terlihat sekalipun di ladang. Tumben sekali, pergi kemana dia?


Elona memutuskan untuk pergi tidur, dan gadis itu memejamkan matanya. Dan ia pun bermimpi.


*****


Elona tiba-tiba merasa dirinya terbangun. Ia berada di sebuah tepian danau, yang tak asing baginya, yaitu di belakang mansionnya di Armelin. Namun di sana ada sebuah cermin yang tingginya dari kepala hingga kaki.


Elona pun menghampiri cermin itu. Alangkah terkejutnya ia, bahwa yang dipandangnya itu bukanlah tubuh Elona Locke dalam webtoon, melainkan dirinya sendiri yang bernama Tara.


Tubuhnya yang kurus dan wajah yang begitu tirus karena kurang makan, membuatnya mengenang kembali kemalangannya yang dulu terjadi di bumi.


Ini... aku? Kenapa aku jadi Tara lagi? Apa ini mimpi?


Tara mengerjap-ngerjapkan matanya tak percaya. Ia mengedarkan pandangan ke sekitar. Lingkungannya memang tepian danau, tapi ada yang berbeda. Seperti berada di dimensi lain. Yang diinjaknya ternyata bukan rerumputan, melainkan hamparan cahaya yang begitu luas.


"Tara,"


Seseorang memanggilnya dari arah belakang. Tara begitu waspada dan segera menoleh. Tampak di sana, sosok yang ia sangat kenal, yang tubuhnya telah ia rasuki selama setahun belakangan ini.


"Elona...?" Tara mengucapkan nama itu, berusaha memastikan. Meskipun ia telah berjuang menguruskan tubuh Elona selama setahun ini, tapi yang ada di hadapannya itu adalah sosok Elona Locke yang masih saja gemuk. Persis tubuh yang dirasukinya saat awal-awal Tara masuk ke dunia fantasi ini.


Elona Locke yang gemuk itu pun tersenyum, lalu menghampiri Tara.


"Tara, akhirnya kita bisa bertemu ya, meski dalam keadaan seperti ini."


"Kamu..."


"Iya, aku adalah Elona Locke. Dan kita sekarang berada di dalam mimpimu. Salam kenal, ya."


*****


...\=\= original writing by @author.ryby \=\=...


...\=\= cover art by @fuheechi_ \=\=...

__ADS_1


((Ryby: sekedar peringatan biar ga kaget. Karena ini sudah memasuki tahap konflik final, mulai besok dan seterusnya, tulisanku akan sangat bikin gregetan dan emosi kalian akan sangat naik turun. Jadi, bertahan ya bacanya, sampai tamat. Terimakasih banyak. 🤗))


__ADS_2