Isekai Online

Isekai Online
Chapter 30 - Sisi Lain Internet


__ADS_3

“Ini hanyalah omong kosong belaka, bukan?”


Tepat setelah jam istirahat pertama di mulai. Okita bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Hans. Karena tindakan yang tidak biasa ini, ruang kelas yang semula hening, seketika berubah menjadi canggung.


Bahkan anggota Queen Order yang mengerti sifat Okita pun terkejut dengan kejadian ini.


Hans yang merasa jam istirahatnya terganggu pun menatap Okita dengan tatapan dingin. Melihat Okita yang datang membawa laptop yang terbuka di tangannya, Hans tanpa sengaja menatap layar monitor laptop itu.


Sebuah pembahasan yang terjadi di Forum Isekai Online ternyata membawa Okita menyelam menelusuri barisan komentar hingga ke komentar pertama. Sebuah kegigihan dan motivasi yang luar biasa dan jarang digunakan pada tempat yang tepat.


Hans membuka kotak makanannya, beberapa roti yang masih tersisa pun ia lahap. Di tengah pembicaraan yang sedikit menghebohkan itu, Hans menatap Okita sembari memberi roti yang tersisa.


“Apa kau mau?” ucap Hans sembari mengulurkan tangannya.


“Tidak usah!” Okita langsung menolak pemberian Hans dan duduk di samping Hans.


Hans yang tidak menunjukkan reaksi apa pun hanya terdiam, ia justru kebingungan dengan tingkah laku Okita yang menarik perhatian ini. Bahkan Will Isaac yang ingin mendekati Hans pun tertahan beberapa meter darinya.


Hans ingin membuat situasi ini menjadi lebih santai tanpa adanya aura yang bermasalah seperti ini.


“Em.. ada apa?” tanya Hans.


Pertanyaan itu cukup bodoh dan Hans memahaminya. Namun, untuk mengetahui pemikiran seorang wanita yang berbeda. Maka, ia harus berani bertanya.


“Orang-orang ini! mereka tidak memilik sopan santun dalam bertutur kata!”


“Hah?” Hans melirik lebih jauh lagi dan membaca isi laptop yang ada di dekatnya.


Sebuah barisan komentar kasar yang dipenuhi dengan agama, politik, suku, dan kata-kata makian berada di dalamnya. Hans melihat komentar yang ditinggalkan oleh akun Okita namun balasan yang di dapatkan berupa kata-kata kasar.


“Apa kau punya akun sosial media yang lain?”


“Untuk apa?” tanya Okita.


“Sejak dulu, Forum dengan kebebasan membuat akun anonim seperti ini memiliki kebebasan berkata-kata yang sulit dikendalikan. Tidak jarang pembahasan yang berbahaya di dalam komentar bisa saja ditemukan. Dalam kasus ini.. sesuatu yang kau sedang alami. Membuat akun lalu dibalas dengan kata-kata yang menusuk. Ini pengalaman pertama mu?” tanya Hans sembari menekan Okita.


“Kuh! Kenapa mereka seperti itu? bukankah peraturan mengenai internet sudah di tetapkan?”


“Peraturan itu memang sudah di tetapkan, namun jika kasusnya tidak begitu berat dan berada di Forum anonim. Peraturan semacam itu sangat sulit diterapkan. Well.. kau punya kekuatan untuk melawannya bukan?”


“Maksudnya?”


“Forum Isekai Online memiliki dua akun yang berbeda, pertama akun anonim yang kau buat dan akun dengan ID Character yang digunakan dalam permainan. Akun anonim memang biasa digunakan untuk tujuan seperti ini, sedangkan akun dengan ID Character.. kau bisa melihat di beberapa baris kolom komentar balasan mu terdapat akun seperti itu.”


“Uhuh? Terus?” lanjut Okita yang penuh dengan rasa penasaran.


“Jika tidak salah, Queen Order akan melakukan kerjasama dengan Isekai Online bukan? Kau bisa menggunakan kekuatan kerjasama mu untuk mendapat akses khusus melakukan akses banned pada akun-akun itu.”


“Haaaaaa~” Okita tampaknya masih kebingungan dengan penjelasan Hans.


“Singkatnya, kau bisa menghukum akun-akun ini dengan melakukan akses banned. Jika aku tidak salah ingat, kontrak perjanjian kalian itu membuat sebuah karakter baru dengan class berbeda dari Player lain. Dengan class baru itu, sistem yang kalian pakai akan berbeda dengan lainnya. Atau.. kau bisa membeli jasa ku untuk melacak orang-orang ini dan memberi mereka hukuman yang kau inginkan” balas Hans dengan senyuman.


“Uh... sepertinya tidak usah.”


“Memangnya, apa yang sedang kau lihat sih?”


“Oh.. hanya ini.”


Hans melihat secara langsung topik pembahasan yang dibaca Okita. Topik itu adalah topik yang dibahas bersama Elliot. Sebuah misteri yang terjadi di dalam game Isekai Online, dimana terdapat Player yang mati dan arwahnya terjebak di dalam game. Namun, entah kenapa isi komentar di dalamnya merupakan kalimat yang keluar dari pembahsan dan Okita membuat akun anonim untuk meluruskan arah topik pembahasan.


Sayangnya, itu tidak sesuai dengan keinginannya.


“Okita, kau ini pecinta misteri ya?”


“D-Darimana kau tahu?”


“Berbicara tentang misteri, sepertinya teman kita, Yuuki Saku dan Will Isaac memiliki pengalaman lebih banyak. Secara teknis, mereka berdua adalah Veteran Isekai Online yang akhir-akhir ini mengajak seorang detektif mencari korban penculikan namun mereka pergi menjelajahi dungeon.”


“Guhu!”


“Kuk!”


Mendapat reaksi yang cukup keras dari Yuuki Saku dan Will Isaac yang berdiri di belakangnya, Okita lalu berbalik melihat mereka berdua.


“H-Halooo..”


“Selamat Pagi, Okita.”

__ADS_1


Yuuki Saku dan Will Isaac yang mendengar pembicaraan Okita dan Hans pun ingin bergabung. Namun, karena di hari sebelumnya mereka terlalu fokus pada insting permainan mereka yang secara tidak sengaja meninggalkan Hans untuk menyelesaikan kasus hukuman mereka.


Hans tentu saja memiliki kemarahan tersendiri. Namun, itu berhasil ditutupi dengan ekspresi wajahnya yang datar.


Hans tidak ingin hidupnya dipenuhi masalah kecil seperti ini, setidaknya dia bisa mengerti bagaimana karakter Yuuki Saku dan Will Isaac. Selama itu tidak berkaitan dengan insting permainan mereka, maka mereka masih bisa dikendalikan.


Hans, Yuuki Saku, dan Will Isaac memiliki aura yang sedikit canggung. Hans hanya melirik mereka berdua dan kembali fokus menikmati jam istirahatnya.


“Er.. Hans.. untuk kejadian kemarin. Aku sungguh minta maaf. Untuk itu, aku membawa beberapa makanan untuk permintaan maaf. Walaupun aku meminta saran dari Kotori tapi dia yakin kau akan menerima ini” Yuuki Saku membawa beberapa bungkus rumput laut kering yang siap dimakan.


“Oh? Kau masih bisa merasa bersalah rupanya?” balas Hans dengan nada sarkastik.


“Guhu!” seperti panah yang menusuk tubuhnya. Yuuki Saku merasakan rasa sakit di bagian dadanya.


“Ahahaha! Hans.. aku juga minta maaf atas sikap ku kemarin. Siapa sangka ada dungeon seperti itu jadi aku ingin sedikit menelusurinya.”


“...” Hans memandangi Will Isaac, berbeda dengan Yuuki Saku yang membawa makanan sebagai permintaan maaf. Will Isaac memakai tangan kosong untuk meminta maaf. Tentu saja, Hans membalasnya dengan senyuman dan tatapan yang menghapus keberadaan Will Isaac.


“Kau datang sendirian, Saku? Bukankah kau punya teman satu lagi? Siapa itu namanya? Aku tidak ingat. Apa dia tidak masuk hari ini?”


“Kuk!” nada sarkastik yang dilontarkan Hans bukanlah anak panah yang menusuk tubuh Will Isaac, melainkan sebuah anak panah balista yang menghancurkan perisai mental tubuhnya.


Melihat Will Isaac yang tiba-tiba tersungkur ke lantai. Beberapa orang yang melihatnya sedikit bertanya-tanya tentang apa yang sedang terjadi. Secara mengejutkan, Will Isaac bangkit dari keterpurukannya itu dan pergi meninggalkan ruang kelas. Dari kejauhan, Will Isaac berlari menuruni anak tangga darurat dengan terburu-buru.


“Apa yang terjadi dengan Will Isaac?” tanya Okita.


“Entahlah, mungkin dia sedang terburu-buru” balas Yuuki Saku.


“Oh! Benar juga! Apa Yuuki Saku memainkan game Isekai Online juga?”


“Yah.. daripada dibilang memainkannya. Itu sebenarnya pekerjaan utama ku sebagai Player Profesional Wanita.”


“Y-Yuuki.. apa kau seperti orang-orang ini juga?”


“Em?”


Mendengar pertanyaan Okita yang ambigu, Yuuki Saku yang penasaran pun melihat isi laptop Okita.


“Tentu saja tidak! Wanita macam apa yang mengeluarkan komentar kasar seperti itu!”


“Y-Ya, itu ada benarnya sih. Kita tidak tahu siapa orang dibalik komentar-komentar seperti ini?”


“Benarkah? Padahal kita bisa menebak kepribadian orang hanya dari komentarnya. Sejauh yang ku baca, terdapat tiga akun kloningan yang digunakan oleh satu orang hanya untuk mempertahankan argumennya” ucap Hans sembari menikmati makanannya.


“Eh?”


“Eh??”


Yuuki Saku dan Okita saling bersahutan mendengar ucapan Hans.


“Jika kalian membacanya dengan perlahan, intonasi, tanda baca, kosa kata bahasa, dan teknik penulisan mereka sangat mirip. Ketiga akun di dalam sana memiliki susunan yang sama bahkan itu sudah cukup menunjukkan identitas mereka sebagai akun kloningan. Kecuali, jika mereka adalah akun bot yang sudah di atur menggunakan format yang sama.”


“...”


“...”


Yuuki Saku dan Okita yang penasaran dengan kata-kata Hans pun mengamati satu per satu barisan komentar. Mata mereka begitu fokus memperhatikan barisan kata yang tertulis.


“Ini hanya perasaan ku saja atau kau hanya mengada-ada, Hans” ucap Okita dengan nada yang meragukan perkataan Hans.


“Berikan pada ku..” balas Hans sembari membersihkan sisa-sisa makanannya yang telah habis.


Okita memberikan laptopnya ke pangkuan Hans, dengan menggunakan perangkat lunak berbasis teks, Hans mengumpulkan barisan komentar akun yang dimaksudnya lalu mengembalikannya kepada Okita.


Okita yang mendapat jawaban dari pertanyaanya itu pun terdiam membaca barisan komentar yang di kumpulkan Hans.


“Eh, ini benar-benar sama persis. Kenapa kau bisa tahu seperti ini, Hans?”


“Hanya kebiasaan lama.”


“Kebiasaan lama?”


“Dulu, aku memiliki seorang teman kelas yang sangat rasis dan dia selalu menggoda ku dengan kata-kata kasar yang dia keluarkan. Singkatnya, karena aku sudah tidak tahan dengan kata-kata kasarnya itu aku mulai mempelajari sejarah tempat kelahirannya, kebudayaan di tanah lahirnya, dan bahasa daerahnya, dan beberapa informasi tambahan lain yang ku dapat dari keluarganya. Dengan persiapan seperti itu, saat ia mulai berbicara kasar. Aku bisa membalasnya kata-kata rasisnya dengan akurat. Sesuatu seperti mata dibalas mata dan rasis dibalas rasis.”


“Ahahaha...” Yuuki Saku yang mendengarnya hanya tertawa canggung.


“Hans.. sebenarnya.. apa sih yang ada di dalam otak mu itu?” tanya Okita yang berusaha menyindir tingkah laku Hans.

__ADS_1


“Semenjak kejadian itu, kami berteman baik sampai sekarang. Selama tidak ada pihak yang merasa di rendahkan. Ini bukanlah masalah bagi kami.”


“Aku tidak tahu kenapa ada laki-laki seperti ini?”


“Oh, hanya informasi tambahan. Dia ini wanita. Harusnya aku yang bilang kenapa ada wanita seperti ini?”


“HAH?” Okita sedikit panik ketika mengetahuinya.


Di tengah-tengah kepanikan Okita, Will Isaac yang tiba-tiba membuka pintu kelas merubah suasana. Seragamnya tampak berantakan, aliran nafasnya tergesa-gesa, dan keringatnya yang mulai terlihat di sekitar wajahnya. Dia kembali membawa kantung plastik yang berisi makan ringan dan berjalan menuju Hans.


“Etto.. untuk kejadian sebelumnya.. aku minta maaf Hans. Terkadang saat mendengar dungeon baru, tubuh ku bergerak sendiri untuk menelusurinya. Jadi yah.. em.. maaf meninggalkan mu ditengah-tengah permainan.. hehe..” ucap Will Isaac sembari menyerahkan tanda simbolis permintaan maafnya.


“Oh, Will? Kau baru masuk?” balas Hans sembari menerima tanda permintaan maafnya.


“Well, sebenarnya aku tidak masalah jika kalian pergi seperti itu. Tapi, bayangkan saja jika kalian memiliki pasangan hidup dan sudah lama menikah tiba-tiba pasangan kalian pergi begitu saja tanpa penjelasan.”


“Hey, bukankah perumpamaan itu terlalu berat untuk masalah kecil seperti ini?” balas Will Isaac.


“Masalahnya adalah.. ini bukan menyangkut seberapa besar perkara ini melainkan rasa kepercayaan ku kepada kalian. Untuk permulaan, kalian sudah ku anggap sebagai teman kelas yang ku hormati tapi dengan kejadian seperti ini kurasa kalian masuk ke dalam posisi teman yang ingin ku hindari.”


“Guha!!”


“Krek!!”


Tanpa luka fisik yang terlihat, Yuuki Saku dan Will Isaac menerima serangan kejutan yang menembus tubuh mereka.


“Dengar.. aku benar-benar minta maaf, Hans. Kejadian seperti ini tidak akan terjadi lagi” bantah Will Isaac.


“Yah, ini tidak akan terjadi lagi karena aku tidak akan bermain dengan kalian lagi” balas Hans.


“Anoo.. sebenarnya aku ingin bertanya tentang hubungan kalian tapi tampaknya kalian sedang ada masalah?” tanya Okita yang sedari tadi mendengar percakapan Will Isaac dan Hans.


“Tidak ada yang spesial, hanya saja.. aku masih memendam rasa kecewa di tinggal oleh mereka. Padahal aku bersusah payah mencari korban penculikan.”


“Korban penculikan?!” mendengar kalimat penculikan yang keluar dari mulut Hans, mata Okita tampak bersinar dan haus dengan rasa penasaran.


“Itu hanyalah Quest untuk menemukan seseorang, awalnya mereka berdua ingin mengajari ku tapi pada kenyataanya mereka pergi entah kemana” kata-kata Hans ini semakin tajam dengan tatapan matanya yang melirik Yuuki Saku dan Will Isaac.


“Sebagai informasi.. ketika kita memasuki lingkaran teleportasi. Kita berpencar entah dimana” bantah Will Isaac.


“Y-Ya.. aku juga berpencar dengan adik ku dan bertemu di hutan saat keluar dari tempat itu” bantah Yuuki Saku yang menguatkan bantahan Will Isaac.


“Jadi, setelah kalian berdua keluar. Otak kalian berpikir untuk mengumpulkan anggota Guild dan menjelajahi dungeon?” kali ini, kata-kata Hans sedikit menekan keduanya.


“Uuuh~”


“Er...”


Yuuki Saku dan Will Isaac terdiam.


“Tapi.. setidaknya aku berterima kasih kepada kalian. Karena kalian, aku mendapat hadiah berupa sertifikat tanah dan bangunan.”


“HAH?”


“HEH?”


Yuuki Saku dan Will Isaac yang terkejut pun mulai mendekat ke arah Hans.


“B-Bagaimana bisa?”


Y-Ya, kenapa bisa dapat hadiah seperti itu?”


“Apa NPC Nekoya Inn se-sultan itu?”


“Kenapa kami tidak mendapat bagian?”


Tanya Yuuki Saku dan Will Isaac yang berurutan menghujani Hans dengan berbagai pertanyaan.


“Yah, jujur saja.. kasus itu bukanlah kasus penculikan biasa. Ini bukanlah penculikan acak, melainkan penculikan yang sudah direncakanan dan beberapa Player terlibat di dalamnya. Aku tidak tahu kenapa mereka bisa terlibat, tapi tampaknya NPC di Isekai Online memiliki fitur untuk merekrut Player dalam pekerjaanya dan itu digunakan untuk memasang jebakan sihir teleportasi di berbagai tempat. Dan..” Hans menghentikan kata-katanya.


“Kurasa.. kalian tidak perlu tahu apa yang terjadi dengan anak-anak itu” lanjut Hans.


“H-Hans.. apa kau sengaja untuk membuat kami mati penasaran?” tanya Will Isaac.


Mendengar pertanyaan Will Isaac, Okita kini memandangi Hans dengan tatapan yang dipenuhi rasa penasaran.


[...]

__ADS_1


__ADS_2