Isekai Online

Isekai Online
Chapter 31 - Kastil Ratu Iblis


__ADS_3

“Apa ini?”


“Dejavu?”


Tepat setelah jam pulang sekolah berbunyi. Hans yang kebetulan melewati pintu utama sekolahnya dikejutkan dengan Elliot Felder yang menunggu dirinya. Tangannya melambai sembari mengeluarkan kode kecil untuk memasuki mobilnya.


Hans yang menyadari dirinya menarik perhatian segera memasuki mobil Elliot.


Di tengah perjalanan kecil itu, Elliot memberi Hans sebuah kertas tipis berisi kontrak kecil diantara mereka. Melihat daftar perjanjian yang panjang itu, membuat mata Hans sedikit kelelahan. Tapi, ia tetap membaca barisan daftar panjang itu untuk mengetahui isinya. Terkadang, perjanjian yang disetujui tanpa mengetahui isinya merupakan senjata yang mematikan.


“Ini kedua kalinya aku terculik seperti ini, ngomong-ngomong kita akan pergi kemana?” tanya Hans sembari membaca kontrak perjanjian.


“Siapkan mental dan pikiran mu, kita akan memasuki istana Ratu Iblis dan membahas kontrak lanjutan bersama member Queen Order. Yah, kurasa mereka akan terlambat satu atau dua jam.”


“Hanya untuk memastikan, apa aku akan diantar pulang setelah urusan itu selesai?”


“Tenang saja, kendaraan ku ini siap-sedia kok.”


“Well, aku tidak mengerti kenapa grup idol menerima tawaran promosi seperti ini.”


“Asal kau tahu, di dunia idol, popularitas adalah segalanya. Kau harus melakukan apa pun agar orang-orang mengingat mu.”


“Kenapa itu terdengar sangat merepotkan, Oh! Bagaimana dengan program yang sedang kau rekam? Sesuatu yang disebut reality show itu?”


“Berjalan dengan baik, hanya saja, kenapa kau tidak berinteraksi dengan mereka?”


“Mereka?” balas Hans kebingungan.


“Mereka yang ku maksud adalah anggota Queen Order, beberapa teman sekelas mu yang lain saling berkomuniskasi dengan mereka. Hanya kau saja yang belum pernah berbicara dengan mereka. Bisa di bilang, kau ini seperti karakter sampingan di dalam acara itu.”


“Siapa yang bilang aku tidak berkomunikasi dengan mereka? Bukankah tadi pagi aku berbicara dengan anggota mereka?”


“Okita? Yah, dia itu pengecualian. Lagipula, berbicara dengan bantuan ku tidak masuk ke dalam hitungan.”


“Berbicara tentang Okita, apa yang terjadi dengannya?”


“Apa maksudnya?” tanya Elliot yang tiba-tiba menatap Hans.


“Saat dia berbicara dengan kita, dia terlihat tertekan saat mendengar Isekai Online dan kekerasan di dalamnya, apa ada sesuatu yang pernah dialaminya?”


“Oh, itu, Uh.. bagaimana cara untuk menjelaskannya.”


“Well, jika itu masuk ke dalam daftar perlindungan informasi. Aku tidak ingin melanjutkannya, lagipula ini hanya rasa penasaran kecil ku saja. Karena, aku pernah memiliki teman seperti ini.”


“Ini bukan cerita yang perlu di rahasiakan sih, bahkan Okita sendiri pernah menceritakannya. Jadi, ini bukanlah cerita yang perlu di rahasiakan. Dia pernah mengalami kekerasan dalam rumah tangga dan sangat sensitif jika melihat kekerasan secara langsung.”


“Well, kalau begitu.. apa kau dan sifat masokis mu ditahan saat berada di dekatnya?”


“Huh? Masokis? Siapa?” Elliot tampak tidak paham dengan apa yang Hans katakan.


Hans yang melihat ekspresinya hanya terdiam dan menghiraukan tingkah lakunya.


...


...


...


Terjadi keheningan di sepanjang perjalanan mereka, hingga Elliot mulai memecah suasana.


“Ini mengingatkan ku pada sesuatu, kau bilang kemarin tidak pernah melakukan kekerasan, bukan?” tanya Elliot.


“Eh? Kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu?” balas Hans.


“Rasanya sedikit aneh disini, bukankah kau membunuh seorang NPC di dalam Isekai Online?”


“Ya, lalu?” balas Hans dengan singkat.


“Bukankah itu sebuah tindakan kekerasan?” ucap Elliot sembari menatap sinis Hans.


“Tentu saja, bukan! Apa kau tahu definisi kekerasan dan membunuh? Itu sudah dua hal yang berbeda. Jika dilihat dari definisnya, kekerasan adalah tindakan berupa serangan, perusakan, penghancuran, terhadap fisik seseorang. Dalam hal ini, kita melakukan kekerasan selama orang itu masih hidup. Namun, berbeda dengan pembunuhan dimana kita melakukan suatu dengan tujuan untuk menghilangkan nyawa seseorang. Jadi, kekerasan dan pembunuhan adalah dua hal yang berbeda.”


“Tapi, tidak jarang kekerasan berujung pembunuhan, kan?”


“Huh, yang seperti itu sudah di luar dari definisi pembunuhan. Jika ada seorang korban pembunuhan yang ditemukan dalam kondisi yang dipenuhi luka. Itu masuk ke dalam kategori penyiksaan dan bukan kekerasan. Dalam hal ini, mereka sengaja memberi luka fisik yang menimbulkan rasa sakit dan penderitaan. Tapi masih hidup juga.”


“Jika dipikir kembali, penyiksaan dan kekerasan dua hal yang terlihat sama namun berbeda. Tunggu! Kenapa kita membahas sesuatu yang mengerikan seperti ini?”

__ADS_1


“Ya, siapa coba yang memulainya?”


“Semua ini salah, Okita! Jika dia tidak mengalami kekerasan. Kita tidak akan membahas tentang ini!”


Mendengar Elliot yang begitu mudahnya menyalahkan orang lain membuat Hans terdiam. Dalam pikirannya terdapat sebuah pertanyaan besar.


Kenapa ada seseorang seperti ini?


Kenapa orang semacam ini menjadi Idol Manager?


Kemana isi kepalanya?


Tapi, jika semua ini hanyalah candaan ringan untuk memecah suasana. Hans sedikit mengerti kenapa seseorang yang selalu bersama Elliot sedikit kasar. Yah, tingkat kekasarannya sedikit bisa ditoleransi dengan kelakuan Elliot yang seperti ini.


“Oh, jadi ini alasan kenapa kau bisa menjadi seorang masokis” guman kecil Hans.


“Heh? Huh? Apa?” Elliot yang sedikit mendengar gumam kecil Hans pun bertanya-tanya tentang apa yang baru saja diucapkan oleh Hans.


Tak terasa perjalanan kecil mereka sampai di tempat tujuan, sebuah gedung tinggi yang penuh dengan aktivitas orang-orang yang berlalu-lalang. Saat memasuki ruang parkir bawah tanah, Elliot memberikan Hans sebuah setelan jas hitam.


“Ini.. pakai armor mu. Kita akan memasuki wilayah Ratu Iblis. Jika kau tidak memakainya, kau akan mati seketika!” ucap Elliot dengan nada yang serius.


“Oh, kau juga perlu senjata cadangan ini!” Elliot lalu memberi Hans sebuah tanda pengenal dan sebuah pin khusus.


Sebuah pin bertuliskan “Assistant Manager” terasa mencolok dengan coraknya yang berwarna hitam-putih.


“Sejak kapan aku menjadi asisten mu?” tanya Hans.


“Ikuti saja! Kau akan menyamar untuk memasuki kastil ini. Jika kau memakainya, orang-orang yang merepotkan tidak akan menghalangi jalan mu. Percaya padaku!” mendengar kalimat ini, Hans seketika merasakan intuisi sebuah kejadian yang tidak bisa dihindari akan terjadi.


“Kenapa aku merasakan ini lagi? Dan kenapa bendera flag ini bangkit?” mendengar Hans yang sedikit panik membuat Elliot bertanya-tanya.


“Kau kenapa?” tanya Elliot.


Hans mempersiapkan mentalnya untuk menghadapi masalah yang akan terjadi, ia berjalan keluar sembari melepas seragamnya dan beralih mengenakan jas yang diberikan Elliot. Dari pantulan kaca mobil, Hans sedikit menyesuaikan penampilannya agar terlihat rapih. Dan dengan pin khusus yang diberikan, Hans mengaitkannya pada jas hitamnya.


Sesuatu tampak kurang dari penampilannya.


“Em.. apa kau punya kacamata?” tanya Hans.


“Kacamata biasa atau kacamata hitam?”


Elliot berjalan menuju mobilnya dan meraba sela-sela kecil penyimpanan dan mendapati sebuah kotak kacamata. Ia lalu berjalan menuju Hans dan memberikan kacamata yang diminta.


“Ah, terimakasih. Dengan ini, setidaknya tidak ada yang mengenaliku.”


Hans lalu menyesuaikan posisi gaya rambutnya agar sesuai dengan tipe kacamata yang diberikan.


“Tidak buruk juga” puji Elliot yang menyadari perubahan Hans.


“Siapa sangka kau memiliki bakat seperti ini, apa kau mantan agen mata-mata?” lanjut Elliot.


“Nah, yang seperti ini tidak perlu menjadi agen mata-mata kan?” balas Hans.


Hans dan Elliot berjalan memasuki gedung melalui lift bawah tanah. Di dalam perjalan kecilnya menuju ruang rapat, beberapa pasang mata yang kebetulan memasuki lift mereka mulai melirik Hans. Penampilan Hans ini tampak menawan dan berkelas. Namun, sangat disayangkan jika berdiri disamping Elliot. Beberapa orang bahkan memberanikan diri untuk mengambil gambar Hans dan menyebarkannya.


Saat pintu lift terbuka, Hans menyadari dia berada di lantai 100. Perjalanannya ternyata cukup panjang, namun itu masih belum cukup untuk mengendurkan konsentrasinya. Saat ia melangkah, sebuah aura yang mencekam dapat dengan mudah ia rasakan. Rasa yang begitu dingin dan membuatnya gugup.


“Jadi, ini kastil Ratu Iblis?” tanya Hans.


“Benar, cukup membuat mu merinding bukan?” balas Elliot.


Hans mengamati keadaan sekitar. Tampak disekililingnya diisi dengan orang-orang yang mengenakan setelan jas. Dilihat dari aktivitas dan kelelahan ekspresi wajahnya, mereka seolah terlihat bekerja untuk hidup.


Elliot segera berjalan di depan Hans, dengan ekspresi serius di wajahnya, ia mulai melangkah untuk memandu Hans. Hans yang mengerti ekspresi serius itu pun mengikutinya. Tatapan mata yang menyorot Hans pun dapat dirasakan, sekali lagi ia menjadi pusat perhatian yang menghebohkan.


Mereka tiba di sebuah ruang rapat, isi ruangan itu dipenuhi dengan orang-orang yang sibuk mengurus berkas. Beberapa diantaranya memiliki jabatan yang terpasang di pin mereka. Sosok Elliot yang memasuki ruangan ini pun mengundang perhatian mereka, terutama tentang pria yang dibawanya ini.


“Hey Elliot! Darimana saja kau! Ratu kita mencari mu tahu!” ucap salah satu rekan Elliot.


Elliot menanggapi ucapan itu dengan santai dan duduk di salah satu kursi yang berisi namanya. Hans pun berdiri di belakangnya dan sebisa mungkin untuk tidak melakukan gerakan berlebihan.


Elliot mengambil beberapa berkas yang ada di depannya dan menyerahkannya pada Hans.


“Pelajari ini, siapa tahu mereka akan menjahili mu” sembari mengatakan itu, Elliot kembali memeriksa berkas lain.


Hans yang menerima berkas itu pun mau tidak mau harus membacanya. Isi berkas itu tidaklah penting, itu hanya berisi tentang rencana promosi yang akan dilakukan antara Isekai Online dan Queen Order. Bisnis semacam ini ternyata memiliki keuntungan yang cocok untuk seorang idol. Mengincar target anak muda dan berkolaborasi dengan sebuah game.

__ADS_1


Hans pun mulai kebingungan. Jika ini sudah direncanakan. Kenapa Elliot memintanya untuk membantunya memecahkan Quest yang terjadi di Isekai Online.


Sejauh pengalaman yang Hans tahu, berkolaborasi dengan permainan memiliki tujuan tersendiri, contohnya seperti event special, karakter special, senjata special, item special, dan beberapa barang special lain yang bisa digunakan untuk menambah nilai exclusive barang itu di dalam game.


“Elliot, hanya sedikit memastikan. Permintaan mu tentang Quest yang dibicarakan tadi pagi itu masih belum sepenuhnya disetujui?” tanya Hans.


“Ya begitulah..” jawab Elliot singkat.


“Jadi begitu, pantas saja kau menyuruh ku untuk mempelajarinya. Kalau begitu, kenapa kita tidak menggunakan rumor itu?”


“Rumor yang mana?”


“Rumor tentang Player yang mati di dalam game dan arwahnya terkurung di dalam game. Jika misteri ini terungkap, bukankah promosi yang seperti film pendek sangat menarik?”


“Kau yakin yang seperti itu aman untuk segala usia? Target kita ini mencari penggemar loh.”


“Kesampingkan itu, setidaknya ada satu orang yang tertarik dengan cerita ini dan tampaknya dia sudah berharap tentang ini. Apa kau ingin menghancurkan harapannya?”


“Siapa?” tanya Elliot.


“Okita” balas singkat Hans.


“Ugh! Ini sedikit sulit.”


Tiba-tiba saja, beberapa orang mulai memasuki ruang rapat ini. Beberapa orang yang sibuk pun bergegas duduk di kursinya. Hans yang menyadari perubahan ini pun secara tidak langsung menatap wajah mereka. Sebuah ekspresi kecemasan dan ketakutan muncul di wajah mereka.


Seorang wanita muda masuk ke dalam ruangan ini. Langkah kakinya terdengar begitu berat, tubuhnya terlihat tinggi, dan pakaian yang ia kenakan sangat mempesona. Ia lalu duduk di sebuah kursi yang menjadi perhatian ekor mata Hans. Di lihat dari posisinya, ia mungkin Ratu Iblis yang dimaksud oleh Elliot.


Wanita itu meraba sakunya dan mengeluarkan kotak rokok. Hans melihat ruangan ini dan mendapati adanya pendingin ruangan yang menyala. Satu buah batang rokok menyala, asap yang tebal dan mengepul itu membuat Hans merasa tidak nyaman. Namun, ia tidak bisa berbuat banyak.


Tangan wanita itu meraba sakunya sekali lagi, sebuah pistol kecil keluar dari sakunya. Kejadian ini memperburuk suasana ruangan ini. Hans yang tampak tidak asing dengan pistol itu pun merasa lega.


Tiba-tiba saja, pistol itu mengarah pada Elliot dan menembakkan isinya.


Sebuah noda berwarna merah terlihat di kepala Elliot.


“Dari mana saja kau?” tanya wanita itu.


“M-Maaf, ada beberapa kendala yang terjadi. Ngomong-ngomong.. tolong jangan kasar di depan asisten baru ku ini” balas Elliot sembari mengeluarkan sapu tangan dan membersihkan noda di kepalanya.


“Kenapa sih perusahaan kita di isi orang-orang semacam kalian?” lanjut wanita itu.


“Dan.. siapa kau?” tatapan wanita itu kini menatap Hans.


Hans yang sedari tadi berdiri mulai menatap wanita itu, “Aku hanyalah asisten cadangan orang bodoh ini.”


Mendengar balasan yang unik dari Hans, wanita itu tertawa.


“Yah, dia memang bodoh! Jadi jangan tambahkan orang-orang bodoh di perusahaan ini!”


Hans tidak menjawabnya. Suasana kembali serius setelah wanita itu berhenti tertawa.


Tiba-tiba saja, pintu ruangan ini terbuka. Member Queen Order datang bersamaan dan mengisi tempat duduk mereka, kecuali Okita. Ia tidak langsung duduk tapi memutari Hans dan mengamati sekelilingnya.


“Etto.. Hans? Apa yang kau lakukan disini?” tanya Okita.


Seketika itu juga, beberapa member Queen Order terkejut melihat Okita yang menyadari perubahan Hans. Di mata mereka, Hans tampak berbeda saat di kelas. Hans di kelas dan Hans di depan mereka seperti dua identitas yang berbeda, namun Okita berhasil menyadarinya.


“Yah, entah kenapa aku dipekerjakan menjadi Asisten Manager. Bahkan aku terkejut saat mendengarnya” balas Hans.


“Hmm.. kalau begitu tidak apa-apa. Senang rasanya bekerja dengan seseorang yang ku kenal. Oh! Selamat datang di kantor Agency kami” ucap Okita sembari mengulurkan tangannya.


Hans meraih tangannya dan berjabat tangan.


“Senang juga bisa bekerja dengan seseorang yang ku kenal, hanya saja.. apa itu benar?”


“Uhm??” Okita terlihat kebingungan dengan pertanyaan Hans.


“Aku dengar perusahaan ini di isi orang-orang bodoh” jawab Hans.


“Oh, yang itu memang benar kok. Orang-orang disini terlalu bodoh. Bahkan CEO kita harus menembak kepala mereka untuk membuat otak mereka bekerja.”


“O-Ohhh..” jawaban Hans ini semakin memperjelas keberadaannya di sini.


“Sial! Aku terjebak disini!” gumam kecil Hans.


Dalam hati kecil Hans, ia ingin menyampaikan keluh kesahnya seperti, “Kenapa aku berada di surga para masokis ini sih?”

__ADS_1


[...]


__ADS_2