
Cahaya obor saling bersinar, melingkari semak-semak dan pintu masuk hutan sebagai pembatas. Papan larangan di dirikan dengan tinta darah berwarna merah menyala di malam hari. Ini adalah peringatan terakhir yang bisa di lakukan oleh penduduk desa.
Penduduk di malam itu berkumpul di balai desa, tempat dimana Kepala Desa mengumpulkan mereka untuk satu tujuan.
“Kita akan pergi dari desa ini.”
Kata-kata yang dingin dan singkat itu terdengar jelas di telinga penduduk desa. Tidak ada yang bisa memprotes kata-kata itu, melainkan persetujuan dalam keheningan mereka. Baru-baru ini, sosok korban baru ditemukan, namun kondisinya jauh berbeda dari sebelumnya. Tubuhnya dipenuhi cairan berwarna hitam menggumpal dan berjalan seperti mayat hidup.
Awalnya, penduduk desa merasa khawatir dengan kehadirannya dan memilih untuk mengurungnya. Namun, seiring berjalannya waktu. Situasi di luar kendali pun terjadi. Sosok yang mereka kurung itu mulai memberontak lalu menyerang warga desa. Kejadian itu mengakibatkan kepanikan massal.
Penduduk desa mulai khawatir dengan keadaan desanya yang semakin memburuk.
“Kepala Desa, apa ini akhir dari desa kita?” tanya salah satu penduduk desa.
“Tidak, ini bukan akhir dari desa kita. Sampai keadaan hutan kita mereda, kita akan kembali pulang ke desa ini.”
__ADS_1
“Tapi, kemana kita akan pergi?” pertanyaan itu memecah suasana. Mereka tidak tahu harus tinggal kemana lagi. Mereka bisa saja mendirikan tenda darurat sembari menunggu bantuan, namun harga diri mereka lebih tinggi daripada melakukan itu.
Sebisa mungkin, mereka akan terus bertahan untuk menghadapi masalah mereka.
“Bagaimana jika kita menyewa seorang Player untuk membersihkan hutan kita?” pertanyaan yang datang tiba-tiba itu menarik perhatian semua penduduk.
“Ide yang bagus, tapi bisakah kita membayarnya?” balas Kepala Desa.
“Kalian pasti menyadarinya bukan? Desa kita tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk membayar seorang Player.”
“Sepertinya tidak ada pilihan lain selain meninggalkan desa ini” ucapan Kepala Desa ini pun menjadi akhir pembahasan malam ini.
Sebuah lolongan monster yang memecah suasana.
Merasa hutan mereka sudah tidak aman lagi dan pertumbuhan monster yang berkembang pesat. Desa ini akan berubah menjadi desa mati dalam hitungan hari. Mereka tidak memiliki kekuatan untuk melawannya, mereka berharap untuk bisa memutar waktu sebelum korban berjatuhan.
__ADS_1
Namun, sesuatu yang sudah terjadi akan sulit untuk di ubah.
Tiba-tiba saja, suara gemuruh pun bergema. Burung-burung berterbangan dalam kepanikan. Dari dalam balai desa, mereka menyaksikan sesuatu yang mengerikan terjadi di depan mereka.
Mereka melihat sesuatu melayang di langit dan berkumpul membentuk sosok manusia yang terbuat dari tulang. Tulang-tulang itu bergerak membentuk tengkorak yang dilalap api berwarna merah.
Mata di dalam tengkorak itu menyala-nyala dan memberi teror menakutkan. Kegelisahan, ketakutan, dan teror kematian melahap tubuh mereka.
Pemandangan itu menjadi satu-satunya teror pembuka di desa tersebut. Hingga, tatapan mata itu menatap balik mereka seolah memberi pertanda jika mereka adalah korban selanjutnya.
Karena kejadian ini, penduduk desa yang tidak tahan lagi pun bergegas meninggalkan desa dan berlari menuju Ibukota Kerajaan Nestrad.
Karena kejadian ini, Ketua Guild Master Adventure pun memutuskan untuk menyelidiki masalah ini dan membuat sebuah Quest yang tak masuk akal untuk Player.
[Emergency Quest – Hunt The Giant Skeleton! Reward: 10 Koin Emas]
__ADS_1
[...]