
Tepat di hadapan ku, sosok kerangka manusia yang bergerak hidup terlihat dengan jelas.
Seperti yang dikatakan oleh Lilith, mereka menempatkan tengkorak-tengkorak itu pada ruangan khusus. Ruangan yang ia maksud adalah ruang kaca yang di isi dengan lingkaran sihir di sekelilingnya.
“Jadi, ini adalah penjara isolasi sihir?” tanya ku.
Teknologi sihir bagi ku sangat aneh, berbeda dengan teknologi modern yang berlandaskan ilmu pengetahuan dan hukum fisika. Sihir bekerja di luar logika manusia, memperdalam logika sihir harus mengorbankan pemikiran teoritis dan logika umum.
Lilith berubah ke bentuk normal. Ia kembali memakai pakaian Maid dan kembali melayani ku sebagai Masternya. Di sisi lain, Arvis masih terdiam setelah menerima hukuman kecil dari Lilith.
“Benar sekali, Master Hans. Ini adalah penjara sihir yang dirancang khusus untuk mengurung siapa pun termasuk seorang Dewa atau Dewi yang berkeliaran di dunia ini.”
Eksistensi seperti Dewa pun bisa di kurung di dalamnya? Penjara ini terdengar sangat menakutkan. Jika saja SCP-Foundation memiliki penjara ini, makhluk penelitian mereka tidak akan lepas setiap saat.
“Ugu! Tubuh ku sakit sekali..” Arvis bangkit dari keterpurukannya. Ia meregangkan badannya dan melakukan gerakan kecil untuk meredam rasa sakit.
“Maaf atas kelakuan kasar ku, Master Hans. Tolong maafkan Maid bodoh ini” gadis bernama Arvis itu duduk bersimpuh dan meletakkan kepalanya di lantai.
“Aku akan memaafkan mu, jika kau membantu ku mengurus mereka” jawab ku.
Arvis mengangkat kepalanya. Dengan ekspresi wajahnya yang tersenyum kecil. Ia memandang ku dengan tatapan yang sepertinya merendahkan ku.
“Sepertinya.. Master ku kali ini memiliki ketertarikan pada tengkorak” ucapnya dengan nada yang menyindir ku.
“ARVISSS~!” Lilith berdiri di belakang ku. Tanpa melihatnya, aku bisa merasakan aura yang mengintimidasi menyelimuti tubuh Lilith.
Sepertinya, mengurus Maid-Maid ini jauh lebih merepotkan daripada memecahkan sebuah kasus.
“T-Tapi.. Master terdengar seperti seseorang yang mempunyai ketertarikan pada tengkorak! Bahkan ada salah satu diantara kita yang hobi mengkoleksi tengkorak!” jawab Arvis yang sedikit panik.
“Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan, tapi aku bukan nekrofilia!” balas ku dengan tegas.
“Benarkah? Lalu.. kenapa Master menyuruh ku untuk mengurus tengkorak-tengkorak ini? aku pikir Master tertarik dengan mereka, ternyata ada alasan lain dibaliknya?” tanya Arvis.
“Sebelum menjawab pertanyaan mu. Apa kau pernah mendengar tentang Antropologi Forensik?” tanya ku kepada Arvis. Untuk menjawab pertanyaannya, aku memberikan pertanyaan balik ke Arvis.
“Antropologi Forensik? Apa itu?” ucap Arvis dengan rasa penasaran.
“Well.. itu yang akan ku lakukan pada tulang-tulang ini. Aku memang tertarik dengan mereka, namun rasa tertarik ku lebih ke arah tentang bukti fisik yang tertinggal di dalam tulang. Untuk itu, kau perlu membantu ku saat melakukan analisis sederhana menggunakan ilmu Antropologi Forensik. Antropologi Forensik adalah cabang antropologi biologi yang berbasis osteologi dan anatomi manusia. Secara garis besar, ilmu ini digunakan untuk mengidentifikasi sebuah individu untuk kepentingan hukum dan peradilan. Dalam kasus ini, kita akan mencoba untuk mencari informasi yang tertinggal di dalam tengkorak-tengkorak ini” ucap ku.
“O-Oh??” jawaban yang ku dapat hanyalah kebingungan yang terlihat jelas di wajah Arvis.
“Beberapa hari lalu, seorang Guild Master Adventure yang tidak ku kenal memberi informasi mengenai adanya keanehan yang terjadi di sekitar rumah baru ku. Keanehan yang ia maksud adalah kemunculan sosok yang di duga tengkorak raksasa. Jika logika kita masih berjalan dengan benar, tengkorak raksasa itu adalah suatu individu dengan ras tertentu yang memiliki badan besar atau..” aku sedikit menghentikan kata-kata ku dan memasang ekspresi serius.
“Tumpukan tengkorak lain yang membentuk satu kesatuan sehingga terlihat besar. Setelah melihat bukti ini, aku sangat yakin dengan opsi pilihan kedua. Itu adalah kumpulan tengkorak yang membentuk tengkorak raksasa kan?” lanjut ku.
Mendengar ucapan ku ini, wajah Siera, Lilith, dan Arvis menjadi serius. Sepertinya, deduksi sederhana ku tepat sasaran.
“Master Hans, beberapa hari yang lalu, kami mendengar dari Upper Class Maid jika ada tengkorak raksasa menyerang Diamond Doom. Upper Class Maid berhasil menghalau serangan itu dan menemukan tengkorak-tengkorak ini di taman bunga” jawab Lilith.
“Kerja yang bagus untuk informasi ini, sekarang.. mari kita intip seberapa besar informasi yang tertinggal di tulang mereka. Aku tidak ahli tentang ini, namun dari sudut pandang ku. Aku akan mencoba menggali informasi yang tertinggal.”
“Ah! Master Hans. Aku juga ingin membantu! Walaupun aku tidak tahu apa-apa tapi aku memahami Demon Ancient Rune” ucap Lilith.
“Demon Ancient Rune?” aku kembali teringat dengan barang bukti yang kutemukan pada kasus sebelumnya.
“Lilith, apa yang kau maksud dengan Demon Ancient Rune itu?” tanya ku.
“Eh? Lihat baik-baik, Master Hans. Di Bagian kepala mereka terdapat ukiran huruf dari Demon Ancient Rune.”
Mendengar ucapan Lilith, aku mengamati bagian tengkorak kepala mereka. Sebuah ukiran kasar berupa simbol aneh terukir di kepala mereka.
“Uwah, lagi-lagi kasus aneh” gumam ku.
Aku mengambil nafas yang lumayan panjang. Kasus semenarik ini sepertinya sudah sering terjadi di dunia ini. Penyelidikan normal tidak mungkin dilakukan karena adanya campur tangan sihir di dalamnya. Apakah aku harus meminta bantuan Player Veteran?
Tidak, itu terdengar seperti aku menyerah dengan keadaan aneh ini.
“Master Hans, apa yang harus kami lakukan?” tanya Lilith.
“Well.. kali ini.. kita akan mengamati kondisi tengkorak-tengkorak ini” jawab ku.
__ADS_1
“Antropologi Forensik, ini pertama kali aku mendengarnya, Master Hans.”
“Tentu saja, ilmu Antropologi Forensik tidak berasal dari dunia ini.”
“Eh??” Lilith dan Arvis menjawab bersamaan.
“Di tempat ku berasal, tulang manusia bisa ditemukan secara acak. Terkadang, kami tanpa sengaja menemukan tumpukan tulang di taman bermain, tempat pembuangan sampah, dan setelah dilakukan penelusuran ternyata itu adalah tempat bersejarah atau tempat eksekusi mati dari masa lalu. Ilmu ini hadir untuk memperjelas apakah tulang itu berasal dari manusia atau hewan karena ada beberapa hewan di tempat ku berasal yang memiliki karakteristik mirip seperti manusia.”
“Seperti Monster berbentuk Humanoid?” tanya Lilith.
“Humanoid kah.. bahkan struktur tulang manusia dan elf hampir sama. Apa yang membedakannya?” tanya Arvis.
Aku tidak memikirkan ini sebelumnya, bagaimana dengan bentuk kerangka dari Monster Humanoid? Jujur saja, ini membuat ku penasaran dengan bentuk anatomi mereka.
“Pertanyaan yang bagus, apa perlu kita mencari tahu perbedaanya?”
“Master Hans, tolong jangan membuat ku ketakutan disini” ucap Siera.
Karena Siera bertindak pasif tanpa suara, aku hampir melupakan kehadirannya.
“Siera.. kau ingin membantu juga?” tanya ku sembari menatap Siera.
“Apa itu perintah?” tanya Siera.
“Undangan lebih tepatnya.”
“Kalau begitu, aku ingin membantu.”
Aku sedikit mengamati setiap perbedaan tengkorak-tengkorak itu. Antropologi Forensik merupakan ilmu yang sangat berguna untuk menyelidiki sebuah tengkorak, di sebuah buku yang ku baca. Di sebuah lokasi kebakaran rumah, Antropologi Forensik berperan penting untuk identifikasi korban dari bahan bangunan yang hangus terbakar, karena informasi utama yang bisa di dapat dari Antropologi Forensik adalah rekontruksi kejadian dan memahami individu yang mati seperti jenis kelamin, keturunan ras, perawakan, usia saat kematian, kondisi patologis, dan cedera traumatis.
Pertanyaan penting ada di dalam kepala ku. Apakah Isekai Online memakai data akurat untuk NPC mereka, seperti jumlah tulang yang mendekati tulang manusia asli?
Jumlah tulang yang dimiliki oleh orang dewasa rata-rata berjumlah 206 tulang. Tulang terbuat dari bahan organik sekitar 30% dan anorganik 70%. Bagian utama tulang seperti kolagen memberi tulang elastisitasnya dan bagian anorganik atau mineral yang sebagian besar terbuat dari hidroksiapatit membentuk kalsium fosfat sehingga tulang menjadi kaku. Apakah sifat tulang ini masih terikat dengan NPC Isekai Online?
Sekilas, aku melihat sebuah pantulan mata anak panah yang tumbuh di dalam tulang. Tengkorak yang mendapat luka trauma itu memiliki postur tulang dewasa.
“Eh, ini menarik..” ucap ku tanpa sadar.
“Tengkorak ini, dilihat dari kondisi tengkoraknya. Dia seperti mantan Adventurer yang berhenti ketika sebuah anak panah mengenai kakinya. Itu pasti sangat sakit, aku tidak bisa membayangkan seberapa besar rasa sakitnya itu hingga pertumbuhan tulang miliknya mampu menutupi anak panah itu.”
“Apakah itu sakit?”
“Lilith.. tulang manusia adalah jaringan hidup. Terbuat dari berbagai jenis sel osteoblas dan osteoklas yang membentuk tulang baru atau menghancurkan tulang lama. Tulang cenderung memperbaiki diri mereka ketika terluka dan itu butuh proses yang cukup memakan waktu. Karena tulang yang terus tumbuh ini, orang ini pasti merasakan rasa sakit setiap kali tulang-tulang miliknya mencoba menghancurkan anak panah yang tertinggal di dalam tulang. Aku sedikit kasihan dengannya.”
“Kenapa dia tidak mencoba mencabutnya?”
“Lilith.. kau pasti belum pernah merasakan terluka oleh anak panah kan? Anak panah memiliki beberapa keuntungan jika menembus daging manusia. Jika kita mencabutnya, maka pendarahan besar akan terjadi dan resiko sisa-sisa anak panah yang tertinggal di dalam tubuh sangat besar. Mungkin itu yang terjadi pada dirinya.”
“Maaf.. Master Hans. Pemahaman ku tentang manusia sangat sedikit.”
“Tidak apa-apa Lilith, jadikan ini pelajaran khusus. Setidaknya, aku berharap mayat-mayat ini tidak menderita penyakit yang berbahaya. Jika saja aku memiliki alat yang bisa menganalisis isotop oksigen, strontium, dan sulfur. Mungkin kita bisa melihat sisa-sisa penyakit yang di derita tengkorak-tengkorak ini” mendengar perkataan ku. Lilith, Arvis, dan Siera segera menjauhi tengkorak-tengkorak itu.
“Kenapa kalian berlari menjauh?” tanya ku.
“M-Master.. apa itu benar?”
“Master.. tolong jangan menakuti kami!”
“Master Hans, mungkin ini agak sedikit berlebihan tapi menakuti kami dengan penyakit itu tidak lucu.”
Lilith, Arvis, dan Siera melancarkan protes kecil mereka. Mungkin ini salah ku juga, aku tidak memperingati adanya penyakit yang mungkin masih tertinggal di tengkorak itu.
Jadi, NPC bisa terserang penyakit dari mayat? Berbeda dengan penyakit yang disebabkan oleh virus, penyakit yang disebabkan oleh mayat bisa merusak lingkungan. Kasus terburuknya pernah dialami oleh Eropa, mereka terkena penyakit mematikan dan tidak mengurus mayat yang terbaring di jalanan. Hasilnya? Sebut saja penyebaran penyakit yang semakin tinggi dan pemakaman yang layak adalah dibakar. Tapi, itu adalah sejarah masa lalu yang pernah terjadi. Dengan kemajuan ilmu kesehatan, peristiwa memalukan itu mungkin tidak terjadi lagi.
“Tenang saja, selama kalian tidak menyentuhnya secara sembarangan. Kalian akan baik-baik saja.”
Kali ini, Arvis yang bergetar ketakutan. Melihat reaksi tubuhnya, dia telah melakukan sesuatu pada tengkorak-tengkorak ini.
“Arvis..” aku memanggilnya.
“Apa yang telah kau lakukan?” lanjut perkataan ku.
__ADS_1
“Hiek!!” Arvis terlihat sangat panik.
“Katakan saja, Arvis. Well, jika kau tidak mengatakannya, aku akan mengetahuinya setelah menganalisis mereka.”
Mendengar jawaban ku, Arvis terdiam dan membungkuk di depan ku.
“Maafkan aku, Master Hans! Tanpa sengaja aku bermain-main dengan mereka!” mendengar jawaban yang keluar dari mulut Arvis. Lilith kembali berubah ke Mode Demon dan menggenggam kepala Arvis dengan tangannya.
“Arvis.. bukan kah sudah ku bilang untuk tidak menyentuhnya?” ucapan Lilith terdengar lembut dan tenang, tapi tidak dengan tangannya.
Lilith membawa tubuh Arvis ke pojok ruangan dan melakukan edukasi ringan yang penuh kasih sayang.
Aku mengamati tengkorak-tengkorak itu kembali, pengakuan Arvis mengenai dirinya yang bermain-main dengan mereka ternyata terlihat sangat jelas di dalam. Beberapa tengkorak memiliki retakan yang cukup besar seperti dihantam oleh benda tumpul yang berat.
“Begitu rupanya, sepertinya kita kehilangan bukti lain dan post-mortem interval akan sulit dilakukan.”
“Post-mortem interval?” tanya Siera.
“Post-mortem interval atau waktu yang telah berlalu sejak kematian seseorang. Ketika waktu kematian tidak diketahui, interval dapat diperkirakan, dan perkiraan waktu kematian ditetapkan. Tapi, karena Arvis telah bermain-main dengan mereka. Barang bukti lama tertutup dengan barang bukti yang baru.”
“Maaf kan kecerobohan kami, Master Hans. Jika saja kami tahu itu sangat penting, mungkin Arvis akan menahan dirinya untuk bermain-main dengan mereka” balas Siera.
“Sekarang, aku ingin bertanya sesuatu yang penting. Apa kau tahu cara membedakan tengkorak pria dan wanita? Untuk anak-anak, membedakan mereka akan sangat sulit tapi jika tengkorak dewasa, perbedaan tengkorak itu terlihat sangat jelas.”
“Aku tahu, tengkorak wanita memiliki pinggul yang lebar kan?”
“Oh, kau tahu yang satu ini. Apa kau tahu alasan kenapa pinggul wanita lebar?”
Siera menggelengkan kepalanya, saatnya menyampaikan fakta yang sulit dibantahkan, “Itu karena pinggul wanita diciptakan lebar untuk anak mereka.”
Mendengar jawaban ku, Siera mulai salah tingkah. Apa membahas anak dihadapan wanita adalah topik yang sensitif? Aku perlu mengingat ini. Jangan sampai aku membuat musuh hanya karena membahas topik anak.
Jika saja mereka bukan tengkorak rusak, aku ingin menguji pemahaman ku tentang Antropologi Forensik. Berdasarkan buku Antropologi Forensik yang pernah ku baca, membedakan tengkorak kepala manusia dan tempurung kura-kura ternyata cukup sulit. Itu karena tempurung kura-kura memiliki karakteristik yang sama seperti tengkorak kepala manusia.
Membedakan usia sangat mudah dilakukan. Dari segi fisik dan tampilan, usia dewasa dan remaja memiliki jejak pertumbuhan tulang tersendiri. Terlebih, jejak pertumbuhan gigi yang tertinggal menjadi kunci jawaban mengenai usia mereka.
Lalu membedakan pria dan wanita? Siera bahkan mengetahui perbedaan mereka. Organ kelamin kita sebenarnya menjawab pertanyaan itu, sudut berbentuk U dan V disekitar panggul kita menjawab semua pertanyaan itu. Jika ingin memastikannya, ada beberapa test yang bisa dilakukan.
Beruntungnya, tidak ada anak-anak yang ditemukan. Tulang anak-anak sangat merepotkan untuk ditebak.
Jika Arvis tidak bermain-main dengan mereka dan menutup luka trauma lama dengan luka trauma yang baru, itu akan sangat membantu ku.
Aku ingin menganalisis lebih dalam lagi, tapi Class Detective ku tidak memiliki alat yang mendukung. Tengkorak-tengkorak ini membuat ku penasaran terutama dengan asal-usul mereka. Untuk itu, aku akan menghabiskan setiap Koin Emas yang tersisa untuk identifikasi menggunakan System CODIS.
Mungkin kerugian yang ku alami sangat tinggi, tapi jika kerugian itu menutup semua rasa penasaran ku dan mendapatkan informasi yang baru.
Kenapa tidak dilakukan?
Seseorang akan bertanggung jawab dengan menarik satu per satu tulang hidup ini.
“Arvis..” aku memanggil Arvis dengan nada yang lembut.
Lilith tampaknya masih sibuk mendidik ulang Arvis.
“Waktunya bekerja!” lanjut ku.
Dari kejauhan, ekspresi wajah Arvis yang ketakutan dan kelelahan terlihat. Sebenarnya, apa yang telah dilakukan Lilith? Kenapa Arvis ketakutan seperti itu.
Biarkan itu menjadi masalah mereka.
Sekarang, aku ingin bersenang-senang dengan tulang yang tak memiliki rasa sakit ini.
“Siera, apa kau pernah memutus jari tangan sebelumnya?” tanya ku pada Siera.
“Huh?”
Ya, itu adalah reaksi normal untuk merespon pertanyaan aneh ku.
Waktunya bersenang-senang dengan System CODIS!
[...]
__ADS_1