Istri Tangguhku Adalah Sahabat Adikku

Istri Tangguhku Adalah Sahabat Adikku
eps 1


__ADS_3

Hujan turun dengan lebat membasahi pusat kota. Nara duduk terdiam dengan air mata yang terus mengalir diwajahnya sambil bersandar dikaca jendela rumah sakit.


"Nara" terdengar suara lelaki paruh baya mendekatinya dengan tenang dan berusaha untuk kuat, "hari ini kamu sudah boleh pulang, kamu nggak perlu hawatir, ayah akan menggantikan peran papah dan Tante kamu yang akan menjadi mamah kamu jangan bersedih terus, kasian mamah papah kamu pasti sedih lihat kamu seperti ini" dengan memeluk nara yang bersedih.


Setelah menyelesaikan administrasi, nara pulang dengan ayahnya, sepanjang jalan nara hanya diam melihat luar jendela, sesampai dirumah ayah membantu nara keluar dari mobil.


"hati hati" dengan penuh kasih sayang


"mulai sekarang kamu tinggal dengan ayah, apapun keperluan kamu katakan ke ayah" Nara hanya menganggukkan kepalanya, "bintang, antarkan kakak kamu kekamar"


"oke yah" dengan penuh semangat dan ceria.


"kenapa dia tinggal bareng kita?"kesal "bagaimanapun juga dia sudah seperti anakku juga, nara anak kakakku darah daging kakakku dia juga sedarah dengan ku, hanya kita keluarga satu satunya"


"tapi mas kamu harus minta pendapat aku dulu dong, jangan sesukamu aja"


"suka atau tidak, nara tetap akan tinggal dengan kita!" tegasnya sambil pergi meninggalkan istrinya yang kesal dengan keputusannya.


Dengan jadwal dan pekerjaan yang padat membuat huzaifi harus lembur setiap hari dan tidak ada waktu bersantai seperti laki-laki pada umumnya, "sekretaris hans, bagaimana dengan keadaan adetra disekolah?" dengan hawatir "untuk saat ini nona adetra baik-baik saja, anda menghawatirkannya kenapa tidak melihatnya ke sekolahnya?" sarannya


"kau tau pekerjaan ku begitu padat, untuk pacaran saja sulit" tanpa sadar sekretaris hans tertawa lepas mendengar perkataan atasannya.


"Berani kau menertawakan aku?" dengan tatapan tajam namun sekretaris hans hanya tersenyum melihat atasannya "jika boleh memberi saran sebaiknya anda merelakan nona tiara, bagaimanapun juga bapak harus melanjutkan hidup" ujar sekretaris hans, "hah...... sudah saatnya kau pulang, biasanya kau semangat untuk pulang" mengalihkan pembicaraan sambil mengambil foto diatas mejanya, "pak, memang sulit untuk merelakan orang yang kita cintai, bagaimanapun juga anda harus melihat kedepannya"


"ya aku mengerti pulanglah, kau pasti lelah"


"terimakasih pak, saya permisi" pergi meninggalkan huzaifi yang di penuhi bayangan tiara yang pernah mengisi hatinya.


Keesokan harinya nara sudah siap untuk satu sekolah dengan bintang, semua terasa baik -baik saja namun tatapan mata tidak suka tantenya membuat nara harus kuat,


"Nara, sarapan dulu"


"Nara sarapan disekolah aja yah, takut telat hari inikan nara siswa baru"

__ADS_1


"ya sudah Bareng ayah aja"


"bintang juga ikut" dengan tergesa-gesa


"kamu bareng bunda aja, habiskan sarapan kamu dulu" sambil berjalan menuju nara


"apa salahnya sih mas, lagian bintang juga uda selesai sarapan, mereka juga satu sekolah, apa salahnya kalau bareng, anak kandung kamu itu bintang" Nara semakin tertekan dengan sikap tantenya, tak tahan dengan semuanya nara bergegas keluar rumah dan mencari taksi.


"kamu keterlaluan, sudah aku katakan dia sudah seperti anakku juga,"


"bintang aja nggak pernah kamu antar sekolah, tapi nara kamu antar sekolah, sebenarnya anak kamu siapa sih?" kesal


"sudahlah ayo bintang ayah antar kamu kesekolah" menahan amarah


Suasana kelas sangat ricuh membuat nara tidak yakin untuk berinteraksi dengan baik terhadap teman satu kelasnya. "hari ini kita kedatangan teman baru, perkenalkan diri kamu" pinta gurunya


"nama saya nara, salam kenal semuanya"


Sepanjang pelajaran nara terus memperhatikan gurunya dengan serius karena dirinya pindah disaat kelas XII semester dua sehingga membuat nara harus ekstra belajar untuk menggapai cita-citanya, tanpa sadar jam belajar berakhir, semua murid berduyun-duyun menuju kantin.


"hei adetra, kekantin dong belikan kita makanan, kita lapar nih" pinta seorang siswi,


"baiklah mana uangnya?" dengan wajah polos


"ya pakai uang kamu dong, bukannya kamu orang kaya?" dengan nada tinggi


"baiklah" pasrah begitu saja


"tunggu" Nara menahan tangan adetra


"bukan kalian punya kaki? kenapa nggak kalian beli sendiri?" dengan tatapan tajam dan dingin "eh kamu anak baru, nggak usah sok hebat deh, kamu pindah di akhir semester pasti karena punya banyak masalah" tertawa sinis, "kalau iya kenapa? kalau kamu nggak punya uang nih aku kasih" Nara melempar uang kewajah mereka lalu menarik tangan adetra pergi dari kelas.


Nara membawa adetra ketaman sekolah dan duduk bersantai "terimakasih kamu udah bantu aku" dengan gemetar "lain kali kamu harus lawan mereka, jika kamu diam saja akan membuat mereka senang," dengan nada datar "apa kamu sudah makan? aku bawa bekal, mau makan bersama?" ragu

__ADS_1


"nggak perlu, kamu makan saja"


"kriuuuuuuuuuuk" suara perut nara tidak bisa berbohong, "nggak papa kamu makan saja, sepertinya kamu nggak sarapan" memberikan bekalnya kepada nara, melihat ketulusan adetra, nara memakan bekal yang diberikan adetra, satu suap masuk dengan perlahan, sesaat nara terdiam, rasa makanan tersebut seperti masakan mamahnya.


"gimana? enakkan? ini masakan kakakku, dia pandai memasak apapun" dengan ceria, nara melihat sisi adetra yang berbeda, dia terlihat baik dan ceria namun karena teman sekelasnya membuat adetra murung ketakutan.


"terimakasih bekalnya"


"aku senang karena kamu suka" dengan tersenyum bahagia, "kamu terlihat berbeda dengan adetra yang dikelas tadi"


"ya karena aku terlalu takut, mereka sangat kasar dan selalu menjahili aku"


"kamu harus melawannya jangan diam saja"


"walaupun kamu terlihat dingin dan kaku tapi kamu sangat hangat " nara menatap adetra, dulu dirinya seperti adetra yang selalu tersenyum dan tertawa tanpa beban, namun kini untuk tersenyum saja sulit baginya.


"yei guru pada rapat kita boleh pulang" teriakan seluruh murid dengan bahagia. "kamu langsung pulang ra"


"nggak tau"


"kalau gitu ikut aku yuk"adetra menarik tangan nara membawanya untuk jalan-jalan ke Mal SKA, "foto yuk" adetra mengajak nara foto bareng, "senyum dong" untuk pertama kalinya nara berfoto tersenyum dengan orang yang baru dikenalnya semenjak kepergian kedua orang tuanya.


"wah bagus banget fotonya" nara hanya tersenyum tipis melihat foto mereka berdua "oh iya boleh minta nomor telepon kamu nggak?" dengan penuh harapan, nara memberikan nomor telponnya "udah ku kirim di whats app ya" dengan tersenyum


"oh iya kamu kelahiran tahun berapa? aku tahun 2006,karena aku paling kecil karena itu aku selalu dibuly"


"aku 2004"


"aku udah menduga, bolehkah aku memanggil kakak?" berharap dengan tersenyum, "kenapa" dengan ekspresi keberatan, "karena aku ingin kamu jadi kakak Perempuanku, aku nggak akan menyulitkan kamu, jika nggak boleh nggak papa" cemberut


"terserah kamu aja " pasrah


"serius? terimakasih kak" memeluk nara dengan bahagia, belum pernah merasakan kebahagiaan yang telah pergi kini datang sedikit demi sedikit untuknya. Nara membalas pelukan adetra untuk pertama kali baginya dengan teman sekelas.

__ADS_1


__ADS_2