Istri Tangguhku Adalah Sahabat Adikku

Istri Tangguhku Adalah Sahabat Adikku
eps 7


__ADS_3

Suasana pagi yang damai membuat nara seakan sedang bermimpi indah tanpa ada keributan dipagi hari, ketika akan bersiap untuk sekolah, nara baru menyadari bahwa seragam sekolahnya dirumah.


"kak, pakai seragam sekolah aku aja, aku punya dua, yang ini kebesaran sama aku, jadi kakak pakai aja"


"makasih kamu udah bantu aku" tersenyum


"tentu aku bantu kakak, gimanapun juga kakak juga udah bantu aku disekolah" balas tersenyum, "kalau gitu aku ganti baju dulu ya" "oke." dengan senang hati.


Huzaifi dan kedua orang tuanya sudah menunggu nara dan adetra diruang makan, "kenapa mereka lama sekali? apa yang mereka lakukan?" lelah menunggu "papah seperti nggak tau adetra aja, dia itu memang lama untuk bersiap-siap, harus dandan dong biar punya teman," jelasnya. Akan tetapi berbeda dengan huzaifi, dirinya memikirkan nara yang tidak memiliki seragam sekolah, sontak huzaifi berdiri ingin menemui nara, "kamu mau kemana nak" mamah melihat huzaifi yang akan pergi, huzaifi menghentikan langkah kakinya ketika melihat nara dan adetra telah menghampiri mereka diruang makan, "sepertinya ada yang ketinggalan dikamar" mencari alasan "tapi... biarkan saja nanti aku ambil setelah sarapan" kembali duduk.


Mamah dan yang lainnya hanya tersenyum melihat tingkah huzaifi yang terlihat canggung dengan tingkahnya sendiri, "nara ayo sarapan dulu" nara teringat ketika ayah memintanya untuk sarapan bersama, nara melihat adetra yang tersenyum sambil memegang tangannya, lalu memperhatikan mamah adetra yang sedang memberikan sarapan kepada huzaifi, "ada apa?" sambil melihat nara yang hanya diam, "apa tidak sehat?" hawatir "e... nggak om, sa saya nggak biasa sarapan, sa saya sarapan saat jam istirahat nanti" berusaha menjelaskan, takut dengan semua yang telah terjadi dalam kehidupannya, membuat nara lebih berhati-hati dalam memilih keputusan dan langkah hidupnya.


"itu nggak baik, ayo sarapan dulu" pintanya "terimakasih tante, nanti saya akan sarapan disekolah" berusaha menghindar


"adetra, bawa nara duduk untuk sarapan!"


"baik mah, ayo kak" menarik tangan nara, mau atau tidak, nara mengikuti adetra untuk sarapan bersama, "kakak duduk sini" mempersilahkan nara duduk di samping huzaifi, dengan ragu nara duduk di sebelah huzaifi yang begitu fokus dengan sarapannya.


"Tante nggak tau apa yang kamu suka, tapi lain kali tante akan membuatkan kesukaan kamu" dengan tersenyum


"terimakasih tante"


"makanan kesukaan kak nara apa?"


"nggak terlalu memilih sih, jika ditanya apa yang paling disukai, kakak lebih suka nasi goreng dengan telur mata sapi setengah matang, walaupun sederhana tapi itu sangat nikmat sekali" dengan tersenyum sambil membayangkannya.


"lain kali kamu bisa meminta tante untuk membuatkannya"


"terimakasih tante"

__ADS_1


"nara, sampaikan kepada wali kamu, malam ini untuk pertemuan keluarga dan penentuan tanggal pernikahan kalian"


"baik om" seketika nara kehilangan nafsu makannya, akan tetapi nara tipe orang yang tidak ingin mumbazir makanan, sehingga memaksakan dirinya untuk menghabiskan makanannya.


"kalau gitu kamu harus belajar memanggil mamah papah mulai sekarang" seketika huzaifi tersedak dengan permintaan mamahnya, "kamu kenapa nak? ayo minum dulu" hawatir "nggak papa mah, uhuk... uhuk..." sambil terbatuk, dengan sigap nara mengambil air minumnya dan memberikan kepada huzaifi "minum dulu" mata keduanya saling bertemu, "anda tidak apa?" hawatir "ah.. ya terimakasih" huzaifi mengambil air lalu meminumnya.


"mah, pah aku berangkat kerja dulu"


"hati-hati dijalan"


"ayo adetra, nara kita juga harus berangkat juga, jika tidak kalian akan terlambat"


"a... nggak perlu om, saya naik taksi aja" Kembali berusaha menghindar. "nara bareng aku aja pah" pintanya "tapi adetra nggak bisa karena ada yang ingin dicari sebelum kesekolah kak"


"jika tidak bisa kamu bareng papah aja, nara sama kakak" usulnya "yasudah sekarang ayo jalan" sembari keluar rumah dan masuk kemobil dengan disusul adetra yang telah salam mencium tangan mamahnya.


"mah, huzaifi berangkat dulu, assalamualaikum" cium tangan "wa'alaikum salam" begitu juga nara yang berpamitan "terimakasih sarapannya tante"


"a.. ba baik mah" tersenyum lebar namun canggung "saya pamit dulu, assalamualaikum" cium tangan "wa'alaikum salam" bahagia, nara bergegas mengejar huzaifi yang telah menunggu dimobil.


"maaf, anda bisa pergi duluan, saya akan naik taksi aja, lagian arah jalan kita berbeda nanti anda pasti terlambat"


"naik!"


"apa?" terkejut


"naik sekarang juga!" sedikit memaksa


"saya bisa naik taksi aja" huzaifi menatap nara dengan tajam hingga membuat nara takut dan menurut, lalu mereka berangkat.

__ADS_1


"apa seperti ini dirimu? menolak semua yang ditawarkan dengan niat baik?"


"a.. Bu bukan itu maksud saya" berusaha menjelaskan, "saya cuma nggak mau nanti akan ada yang dirugikan dengan kehadirannya saya" mengingat semua yang telah diberikan oleh ayahnya kepada hingga membuat kecemburuan mendalam didalam hati tantenya.


"tidak semua orang sama, jangan samakan keluarga saya dengan keluarga kamu, yang hanya melihat kelebihan saja, jika tidak ada gunanya dicampakkan begitu saja."


"maaf" sedih, huzaifi melihat nara yang kembali murung "kita bicara lagi nanti" nara hanya diam saja tidak bereaksi, melihat huzaifi yang berbicara tanpa memikirkan perasaan seolah huzaifi sangat kejam tidak memiliki perasaan sedikitpun untuk orang yang berada di dekatnya, tidak lama kemudian mereka tiba disekolah, nara turun dari mobil dan berlari kecil mengejar adetra yang telah menunggu dirinya.


"kenapa kakak lama sekali? aku nggak berani masuk kelas" sedikit cemberut


"dijalan macet, maaf ya, jangan cemberut gitu dong nanti jadi jelek" menghibur


"ya udah yuk masuk kelas"


"yuk" kembali ceria, dari kejauhan huzaifi masih melihat nara dan adetra yang penuh bersemangat sambil bercanda tawa.


Kemudian huzaifi pergi sambil tersenyum tipis, bintang melihat huzaifi yang tersenyum mempesona membuat dirinya berdebar, "kak, apa boleh aku bertanya tentang pribadi?"


"tentu"


"apa kakak memiliki perasaan kepada kak huzaifi? walaupun hanya sedikit?" Nara terdiam sejenak sembari melihat adetra, "perasaan? kalau memikirkan itu aku nggak begitu yakin"


"kenapa nggak yakin kak?" penasaran


"ya karena awalnya ini pernikahan kontrak, tapi karena syarat yang diajukan om dan tante membuat ini begitu rumit"


"kak, jangan pikirkan itu, yang pasti ada nggak rasa yang terasa dihati kakak?" berusaha profokasi, sesaat nara teringat tatapan mata huzaifi dan pelukan hangat ketika menolong dirinya saat dalam keadaan genting, tanpa disadari wajah nara merah merona ketika membayangkannya.


"kakak sakit?" memegang dahi untuk mengeceknya "a... nggak kok"

__ADS_1


"tapi wajah kakak merah merona?, kakak mikirin apa sampai merona begitu" menggoda "a.. bukan apa-apa, ayo kekelas" meras malu, "a.. kakak ayo cerita" penasaran


bintang melihat kebahagiaan nara yang terpancar dari tingkahnya yang selalu bercanda dengan adetra, dinding besar yang dibangun bisa runtuh sekejap oleh adetra " kak nara" bintang memanggil dengan perasaan sakit karena dirinya tidak pernah berhasil menghancurkan dinding besar dan dingin itu.


__ADS_2