
Bintang masih tidak menerima dengan kenyataan yang pahit ini, rasa kecewa, iri dan kebencian telah tertanam di dalam hati dan pikirannya, bintang melihat ayah yang telah pulang dari kantor, bergegas bintang menghampiri ayahnya.
"ayah udah pulang?"
"ya, kamu belum tidur?"
"belum yah, lagi belajar untuk ujian besok"
"jangan memaksakan diri, kalau lelah kamu bisa istirahat dulu"
"iya yah" dengan tersenyum.
"oh iya bintang, apa kamu mendengar pembicaraan ayah dan bunda?" bintang terdiam, takut akan kemarahan ayah, baginya itu untuk pertama kalinya dirinya melihat ayah marah besar.
"maafkan bintang yah"
"bintang, kamu masuk kamar sana, belajar jangan sampai kamu kalah dengan nara"
"tapi bun"
"masuk" bentaknya, karena takut dengan kedua orang tuanya, bintang bergegas masuk kamar dan menguncinya.
"kenapa bunda galak banget, nggak biasanya, apa lagi minta aku ngalahin kak nara" bintang rebahan dikasur dengan suasana hati yang kesal dengan semuanya, "lagi pula, ayah penyayang, kenapa aku bukan anak kandung ayah? aku harus cari tahu siapa ayah kandung ku" bintang menyusun rencana untuk masa depannya, namun semua buyar karena pertengkaran ayah dan bunda yang kembali mengambil perhatiannya.
"jam segini baru pulang? yakin kamu kerja mas? aku lihat kamu makan siang bareng perempuan, siapa dia? pacar kamu?" curiga bercampur kemarahan.
"apa hubungannya dengan kamu? setelah surat cerai keluar, kamu harus angkat kaki dari rumah ini!" tegasnya
"nggak bisa gitu dong mas, aku ini istri kamu, yang nemani kamu untuk kesuksesan kamu"
"menemani? ini yang kamu sebut menemani?" ayah mengeluarkan foto bunda dengan pria lain dari tas, sekejab membuat bunda terdiam karena terkejut.
"apakah dia ayah kandung bintang? atau dia pria lain yang selalu membawa kamu jalan-jalan dan melupakan suami kamu?"
"cukup mas"
__ADS_1
"cukup apa? cukup semua bukti yang telah aku dapatkan?" bintang keluar dari kamar dan mengambil foto diatas meja.
"bintang" dengan sedih bintang berlari keluar dari rumah, ayah bergegas mengejarnya.
Mata sembab dan memerah membuat nara malu memperlihatkan wajahnya kepada huzaifi. "sudah selesai?" nara hanya menganggukkan kepalanya dengan menutup wajahnya. "ayo kita pulang" huzaifi menyodorkan saputangan kepada nara, dengan rasa malu nara mengambil saputangan tersebut untuk membersihkan ingusnya, lalu huzaifi mengulurkan tangannya dengan tatapan hangat, nara meraih tangan huzaifi lalu mereka pulang.
Didalam mobil, nara melihat handphonenya yang memiliki sepuluh panggilan tidak terjawab dari adetra.
"ah... sepuluh panggilan tidak terjawab, kenapa nggak kamu kasih tau aku?" kesal
"tidak mungkin kamu mengangkat panggilan dengan suara terisak-isak karena menangis" nara hanya diam dan cemberut.
"setidaknya kamu merasa tenang setelah menangis"
"ya kamu benar, tapi sepertinya ini bukan jalan kerumah." melihat jalan yang berbeda.
"kita kerumahku, coba kamu lihat jam, sekarang semua orang sudah tidur, lagi pula aku sudah mengirimkan pesan untuk adetra, bahwa kamu sedang bersamaku" nara baru menyadari bahwa dirinya menangis begitu lama.
"bukan kah itu bintang?" nara melihat arah yang ditunjuk huzaifi. "iya, itu bintang, berhenti sebentar" Nara melihat bintang yang berjalan sendirian sambil menangis.
"untuk apa? ingin melihat aktingnya?"
"maksud kamu apa?"
"dia bukan orang baik seperti yang kamu lihat, dia tidak ada bedanya dengan ibunya"
"maksud kamu?"
"kamu terlalu baik atau terlalu bodoh? jika kamu melarang dia untuk menghubungi ayah dan memberi tahu kamu akan menikah apa yang kamu hawatirkan?" nara berfikir sejenak.
"awalnya aku takut ayah akan marah dan kecewa" dengan ragu-ragu.
"jika bunda memaksa bintang untuk menikah dengan pria bajingan apa yang kamu lakukan?" lagi-lagi nara berfikir sejenak atas pertanyaan huzaifi yang menurutnya tidak masuk akal.
"tentu aku meminta bintang nggak menemui pria itu"
__ADS_1
"jika bintang tetap ingin?"
"aku akan membawanya lari dari rumah" dengan jawaban yang diberikan, sesaat nara tersadar akan satu hal, dengan sikap bintang yang selalu ingin tampil lebih baik dari segi apapun, membuat nara mengerti dengan pertanyaan huzaifi.
"apa yang dapat kamu simpulkan dengan pertanyaan ini?"
"mungkin karena dia ingin lebih baik dari aku" huzaifi menghela nafas panjang, lalu melihat nara dengan serius.
"tidak ku sangka, ternyata kamu memang bodoh" menyentil kening nara.
"sakit tau" sembari mengusap keningnya.
"yang jelas, jika dia sengaja menghubungi ayah dan memberi tahu semua, dia ingin ayah kecewa dengan keputusan kamu yang tergesa-gesa, kedua, dia hanya ingin terlihat dia cemas dan menghawatirkan kamu, namun pada akhirnya dia ingin kamu sengsara, coba kamu bayangkan, jika kamu menikah dengan pria penjudi dan pemabuk, apa tanggapan ayah? pada saat itu bintang belum tahu siapa calon kamu" mendengar semuanya membuat nara paham dengan sikap bintang yang memberi tahu perceraian tersebut, namun tidak memberi tahu tentang hasil tes DNA.
ketika memikirkan semua yang telah dilakukan bintang, kini nara memahami maksud dan tujuan bintang. Tidak lama kemudian mereka tiba di tujuan, huzaifi melihat nara yang tertidur lelap karena lelah menghadapi masalah yang sulit diselesaikan.
Huzaifi membuka pintu rumah terlebih dahulu kemudian menjemput nara dan mengendongnya masuk kerumah, huzaifi terus menatap wajah nara yang tertidur pulas, dengan tersenyum huzaifi meletakkan nara dikamar dengan perlahan agar nara tidak terbangun. "selamat malam nara" dengan tersenyum lalu menyelimutinya. setelah memandang wajah nara sekian detik, huzaifi keluar dari kamar.
Keesokan paginya, setelah siap dengan persiapan sekolah, nara keluar dari kamar untuk menemui huzaifi, namun huzaifi masih tertidur di sofa dengan pakaian sholatnya, untuk membalas kebaikan huzaifi, nara menyiapkan sarapan untuk huzaifi.
"Rapi dan bersih juga dapurnya." Melihat dapur yang rapi dan bersih membuat nara kagum dengan kerapian huzaifi, untuk menyiapkan sarapan, nara membuka kulkas melihat apa yang bisa dibuat dari bahan yang tersedia, namun semua mengecewakan dirinya karena kulkas tersebut hanya berisi buah-buahan dan air mineral.
"pantesan dapurnya rapi dan bersih, nggak taunya cuma ada buah dan air mineral doang, aku tarik kekaguman aku dengan kebersihan ini". Nara melihat jam yang menunjukkan jam enam pagi, nara memasak nasi terlebih dahulu lalu bergegas keluar mencari warung sayur
Setelah berkeliling mencari dan bertanya dengan tetangga, akhirnya menemukan warung sayur, nara bergeser membeli bahan yang dibutuhkan lalu pulang sesegera mungkin.
Karena terdengar kebisingan dari dapur, membuat huzaifi terbangun dari tidurnya, dari kejauhan terlihat nara yang sedang sibuk dengan sayuran membuat huzaifi tertarik untuk melihatnya.
"kamu sedang apa?"
"emangnya kamu nggak bisa liat? ya lagi masak lah" sambil mengupas bawang,
"kamu nggak papa? kamu kenapa nangis?" sedikit hawatir.
"aku nggak nangis, ini cuma karena bawang, udah sana siap-siap, abis itu sarapan, nanti kita bisa telat" nara mencuci wajahnya karena mengupas bawang membuat matanya berair, sedangkan huzaifi hanya tersenyum lalu pergi untuk bersiap.
__ADS_1