
"jika kamu ingin segera keluar dari rumah itu, kita susun rencana dahulu, pertama saya harus bertemu dengan orang tua kamu maksud saya ayah kamu, bagaimanapun juga saya harus terlihat baik agar mendapatkan restu darinya"
"itu aku yang akan mengurusnya"
"baiklah, jika begitu pembicaraan kita selesai"
Nara tidak yakin dengan rencana ini, jika dia diam saja tantenya akan melakukan segala cara untuk dirinya pergi dari rumah itu,
"kamu tidak pulang? saya akan mengantar anda pulang"
"tidak terimakasih"
"baiklah saya tidak akan menawarkan untuk kedua kalinya" huzaifi pergi begitu saja tanpa ada rasa simpati, nara hanya bisa pasrah dengan keadaan yang sedang dihadapinya.
Nara terus menerus larut dalam keadaan yang memaksa dirinya harus kuat menghadapi segala tantangan yang dihadapi olehnya, dari kejauhan huzaifi melihat nara yang duduk dengan meratapi nasibnya sendiri yang akan menjadi istri kontraknya,
"sepertinya dia sedang tertekan dengan keadaan yang memaksa dirinya untuk tetap tenang dan berusaha untuk kuat walaupun sebenarnya dirinya sedang mencari perlindungan"
"sekretaris hans, kau bisa membaca pikiran orang ya? seolah kamu sudah mengetahui yang di fikirannya"
"maaf pak saya mungkin lancang, bukan kah sudah terlihat dari wajahnya yang terlihat sedang berusaha untuk bangkit dari kegelapan yang menyelimuti dirinya, seperti anda yang tidak bisa merelakan nona tiara".
Setelah mendengar perkataan sekretaris hans, membuat huzaifi harus melakukan segala cara untuk membuat nara bisa aman bersama dengannya.
setelah menenangkan fikirannya, nara mendapatkan pesan dari ayahnya bahwa ayahnya akan keluar kota untuk bisnisnya di kantor cabang, nara sesekali menyeka air matanya yang akan tumpah.
Nara beranjak dari kursinya untuk pulang sebelum tantenya mengomelinya, ketika nara baru keluar dari kafe, mobil hitam berhenti di hadapannya "ayo naik, saya akan mengantar anda pulang" pinta huzaifi tanpa melihat lawan bicaranya "tidak perlu saya bisa pulang dengan taksi" namun huzaifi tetap membukakan pintu mobil untuk nara.
"ayo naik, tidak mudah saya membukakan pintu mobil untuk orang lain."
"saya tidak meminta anda untuk membuka pintu mobil" huzaifi semakin kesal namun tetap menahan amarahnya, sekretaris hans hanya tertawa pelan melihat tingkah atasannya, "ayo cepat, banyak orang yang memperhatikan kita" huzaifi menarik tangan nara untuk masuk ke mobil.
"kita berangkat pak?"
"iya, ayo jalan"
"nona nara bisakah katakan dimana rumah anda?"
"perumahan cindakia memasuki gerbang emas"
"oh baiklah, terimakasih "
__ADS_1
Nara hanya melihat luar jendela mobil yang terlihat kendaraan yang begitu ramai hingga membuat kemacetan yang panjang, tanpa sadar mereka tiba di tujuan
"terimakasih telah mengantar saya pulang"
"sama-sama, saya pamit pulang dulu, masuklah diluar sangat dingin"
"ya" nara hendak membuka pintu namun tantenya telah membuka pintu terlebih dulu.
"baru pulang? gimana dengan laki-laki itu?"
"assalamualaikum tante" pandangan Tante beralih kepada huzaifi"perkenalkan saya huzaifi, pacarnya nara," dengan santai tidak terlihat aktingnya hingga membuat mereka tersipu "pacar?" tidak percaya
"benar, maaf karena baru bisa datang sekarang dan tidak menghadiri pemakaman kedua orang tua nara, saya sangat meminta maaf " seolah menyesal
"jika Anda pacarnya seharusnya anda berada di sisi nara disaat nara membutuhkan anda " seakan marah dan kecewa
"karena itu saya ingin meminta restu tante untuk menikahi nara, saya tidak bisa melihat nara sedih lagi, saya ingin berada disisinya hingga menua, orang tua saya akan datang akhirnya pekan"
"ha .. lihat nanti jika saya ada waktu" pergi meninggalkan mereka yang masih dipintu,
"baik tante kalau gitu saya pamit" huzaifi melihat nara dengan tersenyum "kamu harus istirahat, pasti kamu lelah, aku pulang dulu, assalamualaikum".
Melihat cara huzaifi yang begitu santai dan tenang membuat nara lupa bahwa itu adalah akting huzaifi untuk membantunya.
"bukannya itu memudahkan rencana tante supaya aku bisa sesegera mungkin untuk keluar dari rumah ini?"
"sudahlah, tante males ladenin kamu, oh iya hari ini keluarga tante datang, kamu nginap diluar aja deh"
"tapi"
"nggak ada tapi-tapi" Tante memaksa nara keluar dari rumah dan pintu langsung ditutup begitu saja, nara bingung harus kemana karena tidak mungkin dia kembali kerumah kedua orang tuanya, karena dirinya belum siap untuk melihat kenangan bersama kedua orang tuanya.
Setelah selesai mengantar nara, huzaifi memutuskan untuk membicarakan pernikahan tersebut kepada kedua orang tuanya. "mah, pah aku mau nikah"
"serius nak?" seakan tak percaya
"iya mah, aku capek harus dijodohkan terus menerus"
"ya sudah, kapan kita datang kerumahnya?"
"dia masih sekolah kelas XII, dia yatim piatu, orang tuanya meninggal karena kecelakaan aku ingin bersamanya, membantu dia untuk menggapai cita-citanya"
__ADS_1
"kasihan sekali, lalu dia tinggal dengan siapa?"
"dengan tantenya mah, tapi tantenya keberatan dengan kehadirannya"
"ya sudah kita segerakan pernikahan ini"
"mamah sependapat dengan papah"
"tapi ada syaratnya mah pah, jangan ada yang tau pernikahan ini karena aku takut dia dibuly temannya"
"kamu tenang saja" huzaifi tersenyum tipis"makasih mah, pah".
Adetra masih sibuk dengan kafenya yang ramai dengan pengunjung, hingga membuat dirinya kelelahan "adetra, seharusnya kamu istirahat, belajar untuk persiapan kuliah"
"iya aku tau kok kak, gimanapun juga aku harus melihat kafe, setidaknya sekali seminggu"
"kok bisa sih aku punya pacar yang keras kepala gini"
"kak reyhan, kalau kamu muak sama aku katakan" kesal
"ini yang nggak bisa aku ninggalin kamu karena kamu terlalu manis" adetra Merapikan barang-barang yang berserakan dimeja dan membersihkannya.
"aku pulang dulu"
"ya uda yuk aku antar" sambil membantu merapikan
"nggak usah kak, kalau ketahuan kak huzaifi aku bisa diamuk, lagian kakak harus selesaikan kerjaan yang tertunda itu, nanti klayen kakak ganti pengacara loh"
" ya sudah, hati-hati dijalan"
"oke, Babai" adetra masuk kedalam mobil yang telah menunggunya, "kak Ari kita pulang sekarang ya, aku capek banget" sesekali adetra melihat kebelakan memastikan reyhan sudah pulang, baginya memiliki pacar seorang pengacara sangat mustahil baginya, walaupun dirinya selalu dibuly dan ditindas, adetra tidak ingin reyhan mengetahui itu semua, jika reyhan mengetahuinya pasti teman sekelasnya memiliki masalah hukum dengannya dan huzaifi akan mengetahui dirinya memiliki pacar.
Adetra terkejut melihat nara yang berjalan sendirian disaat cuaca mendung dan dingin "kak ari berhenti" seketika ari menginjak rem mendadak, "ada apa?" ketika ari melihat kebelakang adetra sudah keluar dari mobil.
"kak nara" dengan sekuat tenaga berlari mendekati nara, nara melihat adetra dengan wajah sembab, "kakak kenapa? kenapa jalan kaki? kakak nangis? apa terjadi sesuatu?" adetra memeluk nara untuk menenangkannya.
"kakak mau kemana biar aku antar ketujuan"
"aku nggak punya tujuan" terdengar suaranya yang serak basah karena menangis.
"kalau gitu kakak ikut aku pulang kerumah aja, mamah papah pasti bolehin kok," adetra meyakinkan nara untuk ikut pulang dengannya.
__ADS_1
"terimakasih"
"justru aku yang berterima kasih kepada kakak, karena kakak adalah kakakku" dengan tersenyum