
Nara memegang tangan ayah dengan erat, melihat nara yang menatapnya dengan sedih membuat ayah semakin sakit dengan semuanya.
"kamu nggak perlu hawatir, ayah baik-baik aja" dengan tersenyum.
"Bagaimana ayah tau semua ini?"
"Waktu itu bintang terluka dan membutuhkan banyak darah, saat itu tante melarang ayah menolong bintang, dengan alasan ayah yang kurang tidur, nggak baik untuk mendonorkan darah, namun ayah tetap memaksa, sebaliknya dia tetap tidak ingin ayah melakukan tugas ayah sebagai seorang ayah" nara menggenggam tangan ayah untuk menguatkannya.
"ayah mana yang nggak hawatir melihat anaknya sekarat, saat itu dokter mengatakan darah ayah tidak cocok, ayah fikir itu adalah kesalahan dokter, dan saat itu ayah harus kekantor karena ada rapat penting, pada akhirnya kemarin ayah melakukan tes DNA"
"apa bintang tau semua ini?"
"ayah nggak tau soal itu" nara tidak tahu harus bagaimana untuk menghibur ayahnya yang sedang sedih, begitu banyak masalah yang terus menghampiri selih berganti.
"nara, bisakah kamu batalkan pernikahan ini?" penuh harapan
"ayah, semua sudah dipersiapkan, nara nggak bisa memutuskan sepihak"
"pernikahan ini terjadi karena ayah, maafkan ayah yang lalai"
"ayah, jangan seperti ini, nara nggak bisa melihat ayah yang sedih"
"ayah merasa bersalah dengan kedua orang tua kamu yang gagal menjaga kamu"
"semua sudah berlalu, untuk sekarang apapun keputusan ayah, nara akan mendukungnya" dengan tersenyum, dengan saling mendukung membuat keduanya kembali melihat masa depan yang akan lebih cerah.
tok tok tok...
Terdengar ketukan pintu dari luar, seorang karyawan menbuka pintu "pak sudah waktunya untuk rapat" seorang karyawan mengingatkan.
"saya segera keruangan, siapkan semua untuk rapat"
"baik pak"
"gimana dengan ujiannya? kamu harus fokus jangan fikirkan yang lain"
"ujian nara lancar, semua selesai dengan mudah" tersenyum lebar
"baguslah" mencubit hidung nara, "ayah rapat dulu, kalau mau menunggu ayah, tunggu disini nanti kita makan siang bareng"
"oke yah" ayah pergi meninggalkan nara sendirian yang kembali belajar untuk persiapan ujian berikutnya.
__ADS_1
Adetra terus menghubungi nara namun handphone nara tidak aktif hingga membuatnya sangat hawatir, adetra menghubungi huzaifi agar mencari nara.
"kak, kak nara nggak bisa dihubungi, tadi selesai ujian kak nara langsung buru-buru pergi," jelasnya
"dia sudah dewasa, kamu tidak perlu menghawatirkan yang tidak penting"
"kakak, gimanapun juga ini darurat, kalau terjadi sesuatu gimana?" kesal
"sudahlah, kakak ada rapat" huzaifi mengakhiri panggilan membuat adetra semakin kesal.
"awas aja nanti" menggerutu dengan handphonenya. "adetra, kamu kenapa? kok sendirian aja? biasanya bareng kak nara"
"tadi kak nara buru-buru pergi selesai ujian, aku hubungi handphonenya nggak aktif"
"nggak biasanya kak nara seperti itu"
"karena itu aku hawatir banget" adetra terus berusaha menghubungi nara walaupun hasilnya nihil, sebaliknya bintang tersenyum seringai.
Nara masih sibuk dengan bukunya hingga tidak sadar ayah telah berdiri dibelakangnya, "masih belajar?" ayah mengelus kepala nara dengan lembut, "ayah" mendongak melihat ayah yang tersenyum lalu merapikan buku-bukunya, "ayah udah selesai rapat?"
"udah" sambil melihat jam.
"waktunya makan siang, yuk kita makan" namun nara melihat seorang pria disamping ayah hingga membuat nara merasa canggung.
"oh iya, ini riandy, dia sekretaris ayah dan merupakan sekresi papah kamu dulu" ayah memperkenalkan pria tersebut.
"Riandy" mengulurkan tangannya. "Nara" menjabat tangan riandy. "riandy, saya akan makan siang diluar dengan nara, tolong selesaikan laporan mengenai rapat tadi"
"baik pak, kalau gitu saya permisi"
"silahkan" riandy keluar mengerjakan perintah yang diberikan, "ayo nara" ayah mengambil handphone diatas mejanya lalu keluar dengan nara.
Dijalan nara teringat handphonenya belum dinyalakan, "oh iya" bergegas mengambil handphone dan menyalakannya
"ada apa?"
"nggak ada yah, nara lupa nyalakan handphone, karena tadi ujian handphone dimatikan, nara juga lupa bilang ke adetra kalau nara kekantor ayah" jelasnya
"tapi nara, dari siapa kamu tau ayah akan bercerai?" penasaran. "dari bintang yah" ayah berfikir sejenak. "jika kamu tau dari bintang, berarti dia mendengar semua pembicaraan malam itu, nggak dapat dipungkiri bahwa bintang mendengar hasil tes DNA ini" ayah merasa bersalah dengan bintang, bagaimanapun juga dirinya sangat menyayangi bintang.
Huzaifi menjadi hawatir dengan perkataan adetra, walaupun sebenarnya dirinya tidak ingin ikut campur urusan pribadi nara, namun huzaifi tetap menghawatirkan nara, huzaifi mencoba menghubungi nara namun handphone nara tidak aktif, beberapa kali menghubungi nara yang tidak aktif membuat huzaifi kesal dan hawatir.
__ADS_1
"pak, sudah waktunya untuk rapat" seorang karyawan masuk keruangan huzaifi dengan membawa laporan kerjaannya.
"ini kantor, biasakan mengetuk pintu dahulu sebelum masuk" memberi peringatan kepada karyawan tersebut.
"huzaifi, apa kamu seperti ini juga dengan tiara? hah menjengkelkan sekali"
"tara, apa kerjaan kamu sedikit? sepertinya kamu kekurangan kerjaan" menatap tajam.
"lakukan saja tugas kamu dengan baik"
"dengan tiara kamu sangat hangat dan penyayang, kenapa denganku kamu dingin seperti es? apa kurangnya aku?" huzaifi bangkit dari tempat duduknya dan mendekati tara.
"aku menganggap kamu sebagai teman nggak lebih dari itu, jadi jangan buang-buang waktu berhargamu" lalu pergi meninggalkan tara.
Huzaifi masih mencoba menghubungi nara yang sulit dihubungi, hingga akhirnya membuahkan hasil. huzaifi menghentikan langkah kakinya untuk mengobrol sebentar dengan nara. "kenapa kamu sulit dihubungi?"
"tadi ujian, semua handphone di matikan"
"kamu dimana? kenapa pergi tanpa mengatakan sesuatu dengan adetra?"
"aku sama ayah mau makan siang, lagian aku buru-buru ada urusan kak, jangan marah dong, nanti gantengnya luntur lo" nara berusaha membuat romantis seakan hubungan mereka sangat baik dan bahagia agar ayah tidak curiga.
Sesekali nara melirik ayah yang sedang melahap makan siangnya, sebaliknya huzaifi merasa berbeda dengan perkataan nara, seakan yang hilang kini datang menemuinya, kekosongan dan yang kurang seolah telah diisi dengan kehadirannya.
"ah... ya sudah, lanjutkan makan siang kamu, jangan pulang terlambat" berusaha tenang
"okeh sayang kuuuu" sedikit menghaluskan suaranya dan melihat ayah yang tersedak mendengar ucapannya. "ayah, ini minumnya" nara memberikan minum didepannya kepada ayah.
Tanpa disadari huzaifi tersenyum mendengar perkataan nara, huzaifi mengakhiri panggilan dengan tersenyum.
"pak, semua sudah menunggu diruang rapat"
"baiklah" huzaifi masuk keruangan untuk rapat. Nara merasa geli dengan tingkahnya sendiri, jika mengingat tingkahnya tadi membuat nara tidak bisa melihat huzaifi karena malu.
"Nara kamu sakit?" melihat nara dengan serius "nggak yah, nara baik-baik aja"
"wajah kamu memerah, kamu demam?" hawatir "a... nggak kok yah" menutup wajahnya karena malu.
Adetra dan bintang masih menunggu nara untuk menghubungi mereka, namun bintang bosan menunggu hingga akhirnya memilih untuk pulang duluan. "det, aku pulang duluan ya, bunda pasti udah nungguin, aku takut bunda marah"
"ya udah, hati-hati dijalan ya"
__ADS_1
"oke" bintang melambangkan tangan dan pergi. Setelah menjauh dari adetra wajah bintang berubah menjadi kesal.