Istri Tangguhku Adalah Sahabat Adikku

Istri Tangguhku Adalah Sahabat Adikku
eps 22


__ADS_3

"De, kamu lihat kak nara nggak?" sembari duduk di sebelah adetra, sedangkan adetra tidak merespon pertanyaan huzaifi.


"De, kamu lihat apa nggak?" Mengulangi pertanyaannya yang sama, adetra hanya nyengir melihat huzaifi lalu melanjutkan sarapannya.


"Tadi nara pamit sama mamah, katanya ada pertemuan bareng temen sekolahnya dulu" jelas mamah sambil memberikan sarapan untuk huzaifi.


"Pertemuan?" Dengan penuh tanya.


"Iya, tadi aku mau ikut, tapi nggak enak aja, mereka bertemu untuk melepaskan rindu karena nggak pernah bertemu lagi semenjak kak nara pindah, jadi aku nggak mau menjadi pengganggu" sambil mengunyah makanannya.


"Mamah kira kamu tau"


"Mungkin huzaifi nggak ingat" mengalihkan pembicaraan.


"Ya jelas nggak ingat, kakak itu udah semakin tua" ejeknya.


"Kamu" sambil menyentil kening adetra.


"Auw, sakit tau" keluhnya.


Ting ...


Suara pesan dari WhatsApp masuk, huzaifi menghentikan sarapannya ketika melihat foto nara bersama lelaki yang berbeda dengan yang dilihatnya saat keluar dari kantor ayahnya, huzaifi bergegas pergi mencari nara.


"Kamu mau kemana?"


"Ada kerjaan di kantor mah" dengan sedikit berteriak dari kejauhan.


"Kerjaan apaan dihari libur gini" ucap adetra dengan mencibir.


Diperjalanan huzaifi menghubungi nara yang pergi tanpa memberi tahunya terlebih dahulu, ditambah bertemu dengan pria yang berbeda dengan yang dilihatnya waktu itu, huzaifi terus menghubungi nara namun tetap tidak ada jawaban dari nara.


Rifaldi melihat handphone nara yang terus berdering hingga membuat dirinya terganggu.


"Angkat handphone anda, mungkin ada hal yang penting" sambil melirik nara.

__ADS_1


"Saya angkat telfon dulu kak" nara mengambil handphonenya lalu keluar untuk mengangkat telepon dari huzaifi.


"Ada apa" jawabnya dengan datar.


"Kamu dimana? Kenapa pergi tanpa memberi tahu aku terlebih dahulu? Dan satu lagi, kamu bersama siapa disana?" Terdengar suara huzaifi dari seberang handphone dengan nada panik dan penasaran.


"Memangnya kenapa saya harus memberi tahu anda terlebih dahulu, bukankah diperjanjian kita tidak boleh mengganggu urusan pribadi pihak lain? saya mau kemana dengan siapa Ini hak saya, bukankah begitu?" Nara mematikan telfonnya lalu berbalik untuk kembali kestudio lukis.


Namun nara terhenti ketika melihat rifaldi yang sekilas melihatnya lalu pergi.


"Apa dia dengar pembicaraan aku tadi? Kenapa aku harus takut? Toh dia belum tahu aku adiknya" nara bergegas kembali ke kursinya dan melanjutkan lukisannya.


Ting...


Sebuah pesan masuk diwhstapp nara, terlihat pesan dari huzaifi yang mengirimkan sebuah foto, nara melihat fotonya yang sedang melukis dan ditemani dengan rifaldi yang berdiri didepan seolah menjadi modelnya.


"Nggak ada yang aneh dengan foto ini, tapi dia dapat foto ini dari mana?" Dengan penuh tanya.


"Nara, kelas kita cukup sampai sini, besok kita bisa mulai kembali"


Diperjalanan begitu macet hingga membuat nara lama diperjalanan, seharian hanya melukis membuat nara bosan, karena dirinya lebih suka dengan kerajinan tangan dari pada melukis.


Tidak lama kemudian nara tiba di rumah, hari telah gelap dan Suasana sekeliling rumah juga sangat gelap hanya ada satu lampu emergency dan terletak di ruang tamu, terlihat ada sekretaris hans yang sibuk menyiapkan pekerjaan yang tertunda karena ada satu masalah, nara hanya bisa menghampiri mereka tanpa suara, karena dirinya trauma karena kegelapan.


Tidak lama kemudian lampu emergency juga mati, pada akhirnya huzaifi mengambil lilin didapur dan menyalakan lilin tersebut.


Sesekali huzaifi melirik nara yang berusaha untuk tenang didalam cahaya yang remang-remang, nara melihat pantulan bayangan huzaifi didinding, posisinya tidak jauh dari bayangan huzaifi, nara memperhatikan huzaifi yang sedang sibuk dengan sekretaris hans, tanpa fikir panjang bayangan nara mendekati bayangan huzaifi seolah mereka berciuman, sekretaris hans melihat yang nara lakukan dan mengambil gambar tersebut.


"Maaf pak, sepertinya saya harus segera pulang, karena saya memiliki janji" sekretaris hans merapikan berkas-berkasnya.


"Oke, kita lanjutkan lagi besok dikantor"


"Baik pak, saya pamit dulu, assalamualaikum"


"Wa'alaikum salam"

__ADS_1


Setelah sekretaris hans pergi huzaifi merapikan pekerjaannya, tidak lama kemudian lampu kembali menyala, nara menjadi tenang walaupun tubuhnya terasa kedinginan.


Ting...


Pesan WhatsApp dari sekretaris hans masuk untuk huzaifi, terlihat sebuah foto yang membuatnya malu.


"Sebaiknya hubungan kalian diperjelas segera, jika tidak semua akan lenyap dalam sekejap mata" pesan dari sekretaris hans.


Huzaifi menghampiri nara yang akan beranjak dari tempat duduknya, "nara" huzaifi menahan nara lalu memperlihatkan foto yang diambil oleh sekretaris hans, bola mata nara terbelalak ketika melihat foto bayangannya yang mencium bayangan huzaifi.


"Apa maksud dari semua ini?"


"e ini foto bayangannya" dengan kebingungan, lalu huzaifi mengalihkan foto berikutnya yang terlihat keberadaan mereka berdua dan bayangan tersebut.


"Kenapa kamu melakukan ini? apa kamu tidak malu dilihat orang? apa rasa malu kamu sudah hilang?" nara sangat sedih dengan perkataan huzaifi yang telah menusuk hatinya.


"Ya, rasa malu ku telah hilang, lagipula kenapa? ada yang salah? aku tidak mencium kamu, hanya bayangan ku yang mencium pasangannya, dimana kesalahan ku, apa dia salah mencium suaminya?" dengan air mata yang mengalir.


"Aku tahu aku telah melanggar perjanjian kita, karena itu aku bangun dinding tinggi agar aku tidak jauh mencintai kamu, namun aku salah, siapa sangka karena dinding itu aku semakin mencintai kamu, aku manusia normal, aku juga ingin memiliki cinta seutuhnya, aku tidak ingin seperti ini, jika aku boleh memilih biarkan aku yang mati dari kecelakaan, bukan kedua orang tua ku" nara berteriak dan menangis sejadi-jadinya kemudian pergi masuk ke kamarnya dengan penuh air mata.


Huzaifi terdiam mematung mendengar perkataan nara, seakan dunianya ikut hancur karena ulahnya sendiri.


Nara hanya bisa menyeka air matanya, tubuhnya terasa semakin kedinginan, tanpa ragu nara mematikan AC dikamarnya.


Terdengar handphonenya berdering, nara mengambil handphonenya lalu mengangkat telepon tersebut.


"Halo assalamualaikum kak"


"Wa'alaikum salam nara, maaf aku mengganggu, aku hanya mau sampaikan bahwa pendaftaran universitas sudah aku lakukan, kamu bisa melihatnya diwhstapp" terdengar suara rifal yang bersemangat.


"Terimakasih kak" dengan suara bergetar.


"Nara, kamu sakit? atau kamu diperlakukan tidak baik oleh suami kamu?" dengan hawatir.


"Ternyata kakak tahu segalanya tentang aku, aku tak apa, dia tidak melukai fisik ku, tapi dia melukai hati ku, aku tahu pernikahan ini karena kontrak, agar aku bisa keluar dari rumah ayah, aku memilih jalan ini, dengan balasan aku bisa menjaga adiknya dari bullying walaupun dia tidak mengatakannya tapi aku tahu itu," dengan suara terisak-isak.

__ADS_1


" jika bukan karena aku mamah papah pasti ada bersama ku, siapa yang ingin hidup seperti ini? aku manusia normal aku memiliki perasaan, jika aku bisa memilih biarkan aku yang mati bukan mereka" air mata nara kembali mengalir tidak terbendungkan.


__ADS_2