Istri Tangguhku Adalah Sahabat Adikku

Istri Tangguhku Adalah Sahabat Adikku
eps 4


__ADS_3

"kakak udah makan malam? gimana kalau kita makan malam dulu"


"ya sudah, kali ini aku yang traktir kamu" setelah menenangkan hati dan perasaannya


"kak ari kita makan malam dulu ya baru pulang"


"oke".


Adetra melihat nara yang duduk dengan tatapan kosong, walaupun disekolah bersikap dingin namun nara tetap fokus dengan tujuannya berbeda dengan nara saat ini, lebih banyak merenung dan diam saja.


"kak, kakak ada masalah?" hawatir


"aku akan menikah"


"apa? tapi kakak masih sekolah, perjalanan hidup kakak masih panjang, kenapa memilih menikah muda?" kecewa


"begitu banyak masalah dalam hidupku, kepergian orang tua membuat aku harus berfikir lebih dewasa, ditambah kebencian tante yang selalu membuat aku kesulitan, jika aku keluar dari rumah itu aku bisa bebasan menjalankan hidupku"


Adetra memeluk nara dengan erat dan berusaha untuk menghibur dan menenangkannya walaupun perjalanan hidup setiap orang berbeda.


"padahal aku ingin menjodohkan kakak dengan kakakku, tapi siapa calon kakak? apa kakak udah punya pacar?"


"ya aku punya pacar "


"ya semoga kakak hidup bahagia" dengan penuh harapan, nara hanya tersenyum tipis saja, "tidak mungkin aku mengatakan bahwa aku hanya nikmat kontrak, tidak semudah itu aku mengatakan semua kepada adetra" ucapan nara didalam hatinya.


"itu bukankah nona nara bersama nona adetra?" huzaifi hanya melihat sekilas saja


"biarkan saja"


"bukankah kita tadi sudah mengantar kerumahnya? apa terjadi sesuatu setelah kita pergi?"


"biarkan saja, lagi pula sebentar lagi dia juga akan keluar dari rumah itu"


sekretaris hans hanya pasrah melihat sikap dingin atasannya yang tidak memiliki belas kasih kepada nara.


"antarkan aku pulang setelah itu kau boleh pulang "


"baik pak" sesekali huzaifi melirik keluar jendela mobil melihat nara yang berjalan bersama adetra.


"bunda, kenapa kak nara belum pulang ya?" dengan rasa hawatir


"bunda suruh pergi, lagian nggak ada ayah, bunda lagi males lihat wajah dia"

__ADS_1


"tapi bun, kak nara pasti kesulitan, kasihan kak nara"


"udah kamu diam aja" dengan marah lalu pergi begitu saja tanpa melihat bintang yang menghawatirkan nara.


Setelah selesai makan, adetra membawa nara pulang bersama dengannya, karena ini adalah pertama kalinya membawa teman sekelasnya pulang kerumah.


"assalamualaikum mah, pah"


"wa'alaikum salam, kamu sudah pulang?"


"mah, aku bawa teman aku kerumah namanya kak nara " adetra memperkenalkan nara kepada kedua orang tuanya


"assalamualaikum om, tante"


"wa'alaikum salam"


"kalian sudah makan malam?"


"udah mah"


"ya udah, kamu bawa teman kamu kekamar untuk istirahat"


"iya pah, ayo kak" adetra memegang tangan nara untuk ikut kekamarnya, nara melihat adetra yang tulus membantunya.


"kenapa mah? apa ada acara keluarga?"


"kita akan bertemu keluarga pacar kakak kamu untuk pertunangannya"


"hah,,,,, serius mah?" terkejut


"iya "


"ha... okeh " masih tidak percaya


Adetra masih diam tak bergerak seolah menjadi patung, rasa penasarannya membuat dirinya ingin segera bertemu calon istri kakaknya, "ada apa? apa begitu serius sampai kamu terkejut begitu?" adetra hanya menghela nafas panjang "kita kekamar dulu aja deh, nanti aku ceritakan" adetra membuka pintu kamar bersiap loncat ke kasur untuk beristirahat.


"kenapa diam di pintu kak, mari masuk" adetra kembali mendekati nara dan membawanya untuk duduk di kasur


"kakak nggak perlu sungkan, anggap aja rumah sendiri" dengan tersenyum lebar sedangkan nara hanya bisa melihat kehangatan yang didapatkan dari orang yang baru dikenalnya, "semoga keluarga pria itu sebaik keluarga adetra" harapnya di dalam hati.


Karena didalam kamar, nara membuka hijabnya, terlihat jelas rambut panjang nara yang tergerai menutupi punggungnya, "wah, rambut kakak panjang ya" terpesona


"ya karena papah ngelarang aku untuk memotong rambut, baginya rambut wanita itu adalah mahkota "

__ADS_1


"kalau gitu aku harus mulai memanjangkan rambut ku" dengan semangat


"itu bagus " dengan tersenyum tipis.


"hah...."


"kamu kenapa?"


"aku penasaran siapa calon iparku, aku berharap dia sebaik kakak dan kak tiara"


"semoga dia lebih baik dari yang ada dibayanganmu" adetra hanya tersenyum mendengar perkataan nara.


"adetra dimana mah?"


"ada dikamar bareng temennya, untuk pertama kalinya dia bawa teman sekelasnya kerumah, tapi kamu tumben kerumah lagi"


"huzaifi juga anak mamah masak nggak boleh pulang"


"karena kamu jarang pulang, makanya mamak kamu seperti itu, lagi pula kamu baru dari sini,"


"ya pah, ada berkas yang tertinggal dikamar, pah mah huzaifi mau lihat adetra dulu dikamarnya" huzaifi lahan perlahan menuju kamar adetra, semua sudah seperti yang ada dipikirannya, nara akan kerumahnya bersama adetra.


Setelah didepan pintu yang terbuka, huzaifi mengetuk pintu kamar "de" panggilnya dengan menatap adetra, dengan terkejut nara reflek menutup rambutnya dengan selimut agar tidak terlihat oleh huzaifi, "kamu" nara menunjuk huzaifi dengan terkejut namun sebaiknya huzaifi hanya diam saja.


"kakak kenal kak huzaifi?" bingung


"di.. dia" ragu


"Nara pacar ku dan akan menjadi kakak ipar kamu" saking terkejutnya adetra terperangah mendengar penjelasan dari kakaknya, disisi lain nara malu dan menutupi wajahnya dengan selimut "kamu nggak boleh mempersulit nara disekolah" pintanya dengan santai tanpa ada ekspresi lalu pergi begitu saja.


"hei kak, jadi kamu ngapain kekamar ku?" dengan berteriak "hanya melihat kondisi kamu" berbalik melihat adetra dan nara yang masih bersembunyi di dalam selimut lalu pergi.


Setelah huzaifi pergi dari kamarnya, adetra melihat nara yang masih bersembunyi dibalik selimut, "kakak pacar kak huzaifi tapi aku nggak tau?" kecewa "tunggu jadi yang kakak ceritakan tadi kak huzaifi?" kesal


"maaf, aku nggak tau kalau dia kakak kamu, ceritanya panjang, aku nggak tau harus cerita dari mana " bingung


"ceritakan dari awal pertemuan, kak, tenang aja aku ada di pihak kakak, karena aku meragukan kak huzaifi, dia itu masih berlarut didalam kesedihannya karena kepergian tunangannya" Nara mengambil nafas panjang dan berusaha untuk kuat dan tenang menceritakan semua tentang pernikahan kontraknya dengan huzaifi karena dia yakin dan percaya bahwa adetra bisa menjaga rahasia.


Adetra mendengarkan semua cerita nara tanpa ada yang terlewatkan, setelah selesai menceritakan semuanya nara memperlihatkan surat perjanjian yang didapatkan dari huzaifi dikafe.


"apa-apaan ini, syarat dia kenapa seperti ini, kalau nggak mau nikah jangan merugikan orang lain dong" kesal


"aku nggak dirugikan kok, dengan seperti ini aku bisa keluar dari rumah itu, dan bisa bebas melakukan apapun yang menyenangkan tanpa ada yang memarahi aku lagi" adetra menyeka air mata yang mengalir di pipi nara.

__ADS_1


"aku bersyukur karena kakak yang akan menjadi kakak ipar aku, walaupun pada akhirnya nanti kakak bertemu dengan orang lain aku akan tetap menjadi yang terdepan untuk kakak" nara terharu dengan perkataan adetra seakan dirinya diberikan adik yang memahami dan membantu dirinya saat kesulitan.


__ADS_2