Istri Tangguhku Adalah Sahabat Adikku

Istri Tangguhku Adalah Sahabat Adikku
eps 8


__ADS_3

"kak nara" bintang berlari kecil menuju nara dan adetra dengan hawatir.


"tadi malam kakak tidur dimana? aku hawatir sama kakak" memeluk nara dengan erat, "aku nginap dirumah adetra, kamu nggak perlu hawatir"


"syukurlah kalau kakak nggak papa" tersenyum legah.


"oh iya bintang, sampaikan ketante, kalau nanti malam keluarga kak huzaifi akan datang untuk menentukan tanggal pernikahan"


"tapi kak, ini terlalu cepat, kakak masih punya masa depan" sedih


"terimakasih kamu udah perhatian dan baik" "bintang nggak setuju, aku akan menghubungi ayah, cuma dia yang bisa menghentikan kakak"


"jangan lakukan itu, karena itu akan merugikan aku dan kamu" dengan tersenyum


"sebaiknya kamu masuk kelas sekarang, bel sebentar lagi berbunyi"


"iya kak, kakak duluan aja sama adetra, lagi pula kita beda kelas"


"ya sudah kita duluan ya" bersama adetra untuk masuk kelas.


Bintang terus melihat nara yang telah pergi bersama adetra menuju kelasnya, seolah terasa sakit dan perih didalam hatinya, tidak tahu apa yang membuat dirinya sakit ketika melihat nara yang mulai tersenyum bahagia.


Bintang mengambil handphone didalam tasnya dengan penuh harapan, "hallo ayah, ini gawat, kak nara akan tunangan nanti malam, ayah harus segera pulang" dengan suara bergetar dan menangis.


"ayah harus mencegah pertunangan ini, kak nara masih punya mimpi yang belum tercapai" berusaha meyakinkan.


"ayah harus segera pulang, dan jangan hubungi kak nara kalau ayah pulang, nanti kak nara kabur dari rumah yah" pintanya dengan sedikit profokasi.


"ayah, jangan kasih tau kak nara kalau aku yang minta ayah pulang, aku takut kak nara marah, ayah hati-hati dijalan" bintang mematikan panggilan, dengan seringnya membuat dirinya yakin akan rencananya.


Malam yang ditentukan tiba, keluarga huzaifi telah tiba dirumah nara, dengan terkejut, seolah tidak percaya bahwa adetra adalah adik huzaifi yang membuat dirinya berdebar tidak karuan, bintang mencubit pipinya seakan tidak percaya, namun dirinya merasa sakit dengan cubitannya sendiri.

__ADS_1


"langsung saja, tanpa basa-basi lagi, saya sekeluarga ingin meminta nara untuk menjadi istri huzaifi, bagaimanapun juga, mereka sudah memiliki hubungan yang lama, karena itu, saya selaku kepala rumah tangga dan ayah dari huzaifi, ingin melamar nara menjadi menantu saya" dengan nada dingin seolah sedang memerintahkan bawahannya.


"seperti ini anda meminta restu saya sebagai wali nara? sungguh tidak sopan" kesal


"dimana letak tidak sopan? kami datang dengan niat baik, lagi pula bukankah ini yang anda inginkan?" menatap tajam


"Saya tidak setuju" terdengar suara lelaki paruh baya dari luar, nara mengangkat kepalanya saat mendengar suara yang tidak asing baginya, betapa terkejutnya ketika melihat ayahnya telah pulang dari luar kota, begitu juga tantenya yang diam membeku ketika suaminya telah tiba.


"Saya tidak setuju dengan pertunangan ini" mendekati nara yang masih terdiam, "nara masih sekolah, dia memiliki mimpi yang ingin dicapai" mengelus kepala nara dengan lembut, "bukankah anda memiliki anak perempuan yang masih sekolah? bagaimana menurut anda ketika dia akan menikah diusia muda?" nara bangun dari tempat duduknya mencoba untuk menenangkan ayahnya.


"Ayah, ini keinginan nara, izinkan nara memutuskan kehidupan nara sendiri"


"dengan menikah muda? itu nggak logis nak"


"logis atau tidak, ini keputusan nara, beri dia ruang untuk memilih keputusan"


"cukup, anda orang luar, anda tidak mengetahui apapun tentang keluarga saya"


"Sepertinya anda yang tidak mengetahui semua yang dilakukan istri anda"


"pah, cukup, papah dan mamah pulang dahulu bersama adetra" mencoba mengalihkan perhatian.


"tidak" menolak dengan keras "ini menyangkut kehidupan nara nantinya, bagaimana bisa anda tidak tahu bahwa nara diusir dari rumah?" mata ayah terbuka lebar karena terkejut.


"anda ayahnya, kenapa tidak anda tanyakan keadaannya? apa benar anda menyayanginya? sejauh mana anda memperhatikannya? bahkan anda tidak tahu nara dijodohkan dengan pria pemabuk dan penjudi?" dengan nada tinggi.


"dimana perhatian anda? katakan dimana?" ayah terkejut dengan kenyataan tersebut, membuat dirinya malu dihadapan tamu yang belum dikenalnya.


Nara menyeka air mata ayah yang tidak terbendungkan, "apa itu benar nak?" berharap semua itu hanya kebohongan.


"katakan itu hanya kebohongan belaka" namun nara hanya tersenyum dalam kepedihan "ayah, aku nggak papa, izinkan aku menikah, aku ingin hidup bahagia bersamanya, aku nggak mau kehilangan orang yang aku cintai, kumohon" memeluk ayahnya dengan erat menandakan semua itu benar.

__ADS_1


"ayah nggak perlu hawatir, mereka sangat baik" sambil melihat huzaifi yang sedang memperhatikannya "mereka menjaga aku dengan baik, menemani aku disaat aku dalam kesulitan" memandang adetra dengan tersenyum dan berusaha meyakinkannya.


"jika itu yang membuat kamu bahagia, ayah nggak bisa menolak, tapi kamu harus belajar dengan baik, gapai semua impian kamu" mengusap kepala nara, "aku janji, aku nggak akan mengecewakan ayah" tersenyum lebar.


Untuk pertama kalinya bagi huzaifi melihat nara yang tersenyum lepas tanpa ada beban, namun jika diperhatikan lebih dekat, senyuman itu memiliki arti yang sangat pedih bagi nara.


"Maaf jika saya lancang, hari sudah semakin larut, saya dan keluarga saya pamit, karena besok saya dan orang tua saya ada rapat penting, begitu juga nara dan adetra juga akan ada ujian, oleh karena itu saya pamit"


"ya silahkan, sebelumnya saya minta maaf karena saya terbawa emosi" sambil melirik istrinya.


"dan juga saya meminta izin untuk membawa nara juga" pintanya, nara terkejut dengan permintaan huzaifi yang ingin dirinya juga ikut dengan mereka.


"Tapi kalian baru tunangan kak" bintang menolak permintaan huzaifi.


"masih banyak urusan yang harus kami selesaikan, lagi pula, ayah ingin membicarakan pernikahan ini dengan baik bersama tante, bukankah begitu ayah" dengan kiasan dari huzaifi, ayah memahami maksud dari perkataan tersebut, sedangkan nara semakin tidak mengerti dengan huzaifi yang mudah memanggil ayah tanpa ragu.


"Tentu, masih banyak yang harus ayah bicarakan dengan tante, ayah izinkan nara ikut" huzaifi hanya tersenyum dengan perkataan ayah yang paham dengan maksud perkataannya.


"terimakasih ayah, kalau gitu kami pamit dulu, ayo nara" huzaifi mengulurkan tangannya "ta tapi ayah" bingung harus berbuat apa "kamu ikut aja, bukannya dia orang yang baik?" meletakkan tangan nara digenggaman huzaifi.


"Nara pamit yah, assalamualaikum"


"wa'alaikum salam" melihat nara yang pergi bersama keluarga huzaifi.


"ayah, kenapa izinkan kak nara pergi?" kesal


"kamu masuk kamar, ayah ingin bicara berdua dengan bunda"


"tapi yah"


"ayah bilang masuk kamar" bentaknya.

__ADS_1


Bintang terkejut dengan kemarahan ayah yang membuat dirinya takut dan berlari pergi masuk kekamarnya, sedangkan ayah melihat bunda yang gemetar ketakutan.


__ADS_2