Istri Tangguhku Adalah Sahabat Adikku

Istri Tangguhku Adalah Sahabat Adikku
eps 21


__ADS_3

Ting ...


Nara mengambil handphonenya yang menerima pesan WhatsApp.


"Istirahatlah yang cukup, jangan bergadang itu tidak baik untuk kesehatan" nara hanya tersenyum tipis membaca pesan dari huzaifi.


"Siapa kak?" Mengintip pesan WhatsApp nara namun nara menutup handphonenya sehingga adetra tidak dapat melihatnya.


"Dari siapa sih kak?" Semakin penasaran.


"Mau tau aja" dengan tersenyum bahagia dan menyimpan handphonenya. Keduanya saling berebutan handphone dan didampingi dengan candaan.


Terdengar ketukan pintu hingga membuat nara dan adetra berhenti berebutan ketika melihat mamah menghampiri mereka.


"Mamah, ada apa mah?" Sambil mengembalikan handphone nara.


"Nggak ada, cuma ini udah malem, sebaiknya nara kekamar untuk istirahat, dan kamu udah harus istirahat juga"


"Tapi mah, kak nara tidur bareng aku" dengan rasa kecewa.


"Iya mah, malam ini aku tidur bareng adetra" sambil memeluk adetra.


"Kamu nggak perlu hawatirkan dia, adetra udah besar udah biasa tidur sendiri, jangan terlalu memanjakan dia, sebaiknya kamu kekamar dan beristirahat" nara hanya tersenyum dan tidak bisa membantah perkataan mamah.


"Kalau gitu nara kekamar dulu mah"


"Iya" nara melihat adetra yang cemberut namun nara tidak bisa berbuat apa-apa, nara melambangkan tangan lalu keluar dari kamar adetra dan melihat sekeliling ruangan yang telah sepi karena semua orang sudah pergi untuk tidur.


Nara memutuskan untuk ketaman belakang untuk menghirup udara malam sebelum tidur, terlihat bulan yang begitu terang namun kesepian karena tidak ada terlihat bintang-bintang yang mengelilinginya.


"Kamu belum tidur?" Terdengar suara seperti Huzaifi dari kegelapan.


"Kamu kok disini?" Nara terkejut melihat huzaifi yang duduk santai dikursi.


"Kamunya aja yang nggak sadar aku duduk disini, lagian kamu ngapain keluar bukannya kamu takut gelap"


"eng enggak kok, lagian terang karena cahaya bulan" sambil menunjuk bulan di langit.

__ADS_1


"Aku nggak tau kenapa, aku merasa malam ini kamu berada" sambil melihat bulan.


"Berbeda?" Dengan ekspresi bingung dan menghampiri nara yang melihat bulan.


"Ya, malam ini kamu seperti orang lain, bukan huzaifi yang aku kenal, kata-kata yang keluar dari mulutmu berbeda dengan orang yang aku kenal" sambil melihat huzaifi dengan tersenyum tipis.


"Apa yang membuat aku berbeda?" Dengan penasaran dan melihat nara yang menatap wajahnya.


"Ya kamu selalu dingin, selalu berkata yang perlu kamu katakan, tidak begitu banyak berbicara" dengan berkata jujur.


"Lalu kamu?"


"Ada apa dengan ku?" Dengan bingung


"Bukannya kamu juga seperti itu, dari tadi pagi kamu lebih banyak diam, bersikap dingin dan ekspresi kamu selalu datar tidak seperti nara yang sekarang".


Nara hanya tersenyum mendengar kejujuran huzaifi dan menatap wajahnya dengan tatapan dingin.


"Karena aku mengikuti kamu, jika kamu membangun dinding yang dingin, aku akan membangun dinding lebih tinggi dan yang lebih dingin karena aku tidak ingin melanggar janji kita berdua, aku nggak mau menjadi nara yang sekarang untuk kamu karena aku tau, kamu bukan milikku" nara tersenyum tipis dan pergi meninggalkan huzaifi sendirian yang terdiam dengan kata-kata Nara.


"Adetra, kamu sudah besar nak, kamu nggak boleh mengganggu kakak kamu, beri mereka peluang untuk bersama, kamu tau pernikahan mereka karena diawali kontrak, apa kamu ingin mereka seperti ini terus?" Sambil menyelimuti adetra.


"Jika kamu sayang mereka, biarkan mereka bersama agar tubuh cinta diantara mereka" mamah terus menasehati adetra.


"Iya mah, aku nggak akan ulangi lagi"


"Ya sudah, istirahatlah, mamah keluar dulu,"


"Iya mah" mamah keluar dari kamar adetra dan adetra memutuskan untuk tidur.


Bara melihat rifaldi yang masih sibuk dengan komputernya hingga lupa untuk istirahat.


"Fal, udah waktunya untuk istirahat, kerjaan bisa dilanjutkan besok" sembari memberikan makanan ringan untuk rifaldi.


"Duluan aja sana, aku lagi ngurusin pendaftaran nara untuk masuk universitas" tanpa melihat bara disampingnya.


"Emangnya kamu tau jurusan yang mau nara masuki?" Sambil melihat komputer rifaldi.

__ADS_1


"Dia mau jadi dokter, semua tentang dirinya aku tau semuanya, aku hanya datang terlambat untuk membantunya"melihat bara sesaat dan melanjutkan kesibukannya dengan komputer, bara terus melihat rifaldi yang selalu menyalahkan dirinya karena tidak bisa membantu nara.


"Besok kamu harus kestudio, nara akan datang untuk belajar, pastikan kamu datang karena ini kesempatan bagus untuk kamu"


"Jam berapa" menghentikan kesibukannya.


"Jam delapan pagi" rifaldi melihat jam tangannya yang telah menunjukkan jam sebelas malam, rifaldi bergegas menyelesaikan semuanya.


"oke, aku yang akan mempersiapkan semuanya besok" sambil membereskan berkas diatas mejanya, lalu bersiap untuk tidur.


Huzaifi masuk kekamarnya berniat untuk tidur, namun langkah kakinya terhenti ketika melihat nara yang telah tertidur dikamarnya, huzaifi perlahan menuju kasur karena takut nara terbangun karenanya, huzaifi mengangkat selimutnya dengan hati-hati lalu berbaring disebelah nara.


Untuk pertama kalinya mereka tidur satu ranjang, jantung huzaifi kembali berdetak kencang, hingga membuat huzaifi berusaha untuk tenang, huzaifi melihat nara yang telah terlelap.


"Ku pinang engkau dengan bismika allahumma ahya wabismika amut, aku sadar memilikimu itu hanya sebuah mimpi, karena didalam hatiku masih berada dimasa lalu, bukan dimasa sekarang" bisik huzaifi ditelinga nara kemudian huzaifi mengambil bantalnya dan tidur dikarpet.


Keesokan harinya, nara terbangun disubuh hari, Nara masih terbayang bisikan huzaifi ditelinganya, nara melihat huzaifi yang tertidur tanpa selimut tanpa ragu nara mengambil selimut dan menyelimuti huzaifi yang masih tertidur.


"Ku terima pinanganmu dengan Alhamdulillahhillazi akhyaana ba'da maa amaatanaa wa ilaihin nusyuur, mengharapkan mu untuk mencintaiku adalah sebuah mimpi untukku, maka aku harus terbangun sekarang juga, karena ku tau, cintamu saat ini bukan untukku" nara membisikkan ditelinga huzaifi seperti huzaifi lakukan tadi malam sebelum tidur, nara mengecup pipi huzaifi lalu pergi meninggalkan huzaifi yang masih tertidur.


Huzaifi membuka matanya setelah nara pergi meninggalkannya, hatinya terenyuh ketika mendengar nara berbisik di telinganya dengan suara lembutnya.


Rifaldi sedang mempersiapkan alat lukis untuk nara yang akan datang belajar bersamanya, rasa tidak sabar dan seakan tidak percaya bahwa nara akan belajar bersama dengannya membuat rifaldi sangat bahagia.


"semua udah siap?"


"ya, apapun yang dilakukan untuknya akan aku lakukan, persiapan untuk masuk universitas juga sudah ku persiapkan"


"aku yakin, nara akan memaafkan kamu yang terlambat untuk menjaganya"


"bara, apa nara sudah memberi kabar kapan dia akan datang?" serasa tak sabar ingin bertemu dengan adiknya yang disayanginya.


"pagi ini, dia udah di perjalanan"


"terimakasih kamu telah membantu ku" sambil tersenyum, untuk pertama kalinya rifaldi tersenyum dihadapan bara.


Huzaifi memperhatikan sekelilingnya namun tidak terlihat keberadaan nara, semua orang telah berkumpul di ruang makan untuk sarapan, namun hanya nara yang tidak terlihat disana.

__ADS_1


__ADS_2