
"Apa yang kamu lakukan terhadap nara?" tatap tajam. "me memangnya apa yang bisa aku lakukan dengannya?" berusaha untuk tenang.
"Selama aku pergi apa yang terjadi?" berusaha menahan amarahnya. "a aku cuma memintanya untuk, untuk menginap di rumah temannya" mencari alasan.
"jangan bohong" teriaknya hingga membuat bintang terkejut didalam kamar dan mencoba mengintip pembicaraan kedua orang tuanya.
"jika bintang tidak menghubungi aku, nggak akan aku tau kamu menjodohkan nara dengan pria bajingan" dengan amarahnya yang menggebu-gebu.
"itu karena kamu, kasih sayang kamu hanya fokus dengan nara, sampai lupa dengan bintang" dengan nada tinggi.
"coba kamu jelaskan ini" ayah mengeluarkan surat tes DNA dari tasnya.
"a apa ini?" mengambil surat tersebut dan membacanya, mata bunda terbelalak melihat surat tes DNA yang menyatakan bahwa bintang 99,98% bukan anak biologis ayah.
"katakan, siapa ayah kandung bintang? katakan!" seakan tersambar petir disiang bolong, kaki bintang lemas mendengar pembicaraan kedua orang tuanya, air mata bintang mengalir deras hingga tak dapat dibendung.
"selama ini kamu membohongi aku?"
"a aku bisa jelasin mas" mencoba membujuk "jelasin apa? semua sudah jelas, jika bukan karena kamu yang menolak aku donor darah untuk bintang, aku nggak akan tau semua ini" amarahnya semakin memuncak.
"dan sekarang kamu memperlakukan nara seperti itu?" kesal. "kalau bukan kamu yang pilih kasih, aku nggak akan melakukan ini" membela diri. "nara lebih baik dari pada bintang, sudah jelas aku pamannya yang memiliki hubungan darah dengannya."
"jangan samakan bintang dengan nara" bentaknya dengan penuh amarah. Ayah mengepalkan tangannya karena amarahnya. "tentu mereka berbeda, nara anak dari pernikahan sah, sedangkan bintang?" tersenyum tipis. "kamu" menampar ayah dengan keras.
"waktu itu aku fikir karena kelahiran prematur, ternyata ini jawaban yang benar, aku nggak peduli siapa ayah kandung bintang, seharusnya aku lebih hati-hati untuk memilih pasangan, aku akan mengurus perceraian kita, untuk kedepannya jangan temui aku maupun nara." ayah pergi meninggalkan bunda yang masih terdiam mematung.
Bintang masih menangis disebalik pintu dengan rasa kebencian kepada nara. Adetra melihat nara disampingnya yang bersandar di bahu huzaifi telah tertidur lelap karena kelelahan menghadapi berbagai masalah.
"kakak pasti ada alasan karena meminta izin untuk kak nara ikut dengan kita"
"ayahnya sedang marah besar, tak baik untuk nara yang sedang kacau seperti ini"
"apa mungkin karena kakak hawatir kak nara sedih?" menggodanya
"ini lumrah untuk setiap orang untuk menolong"
"hah... kakak selalu formal, apa nggak bisa kakak seperti layaknya seorang kakak yang penyayang?" cemberut
"bukankah aku menyayangimu?" dengan tatapan dingin.
__ADS_1
"mah, kenapa anak mamah satu ini kayak gini sih? nyebelin." mengeluh.
"karena papah dulu seperti itu"
"ehh papah penuh karisma dan penyayang ya mah, huzaifi aja yang terlalu beku" mengelak. semua orang tertawa didalam mobil, sebaliknya huzaifi menutup telinga nara agar tidak terbangun.
Sesampainya di rumah huzaifi menggendong nara yang tertidur dan membawanya kekamar adetra. Dengan perlahan huzaifi meletakkan nara dikasur agar tidak terbangun lalu menyelimutinya. "terimakasih kak, udah bantu kak nara," dengan tersenyum lebar. "sebaiknya kamu istirahat, besok kamu ujian" pesannya dan meninggalkannya "oke kak" bersiap untuk tidur disampin nara.
Keesokan harinya nara dan adetra telah siap untuk berangkat kesekolah dengan penuh semangat untuk ujian, setelah selesai semua mereka keluar dari kamar lalu keruang makan untuk sarapan bersama.
"aduh anak-anak mamah udah pada siap untuk sekolah"
"iya dong mah, hari ini kita ujian nasional, doa'in ya mah" jawab adetra dengan penuh semangat
"tentu dong, ayo sebelum berangkat sarapan dulu, mamah udah siapin kesukaan kalian" nara melihat sarapan yang telah disiapkan untuknya, sama seperti yang dikatakan sebelumnya.
Nara memakan satu suap, nasi goreng yang terasa familiar di lidahnya, dan berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh.
"nara, gimana rasanya?"
"enak, enak banget" menyeka air matanya yang akan terjatuh. "kakak nggak papa?" hawatir, "ya, nggak papa" berusaha untuk tersenyum.
"sebelum berangkat, ini bawa bekal, ini untuk nara ini untuk adetra"
"makasih mah" adetra memeluk mamah dengan manja, "jangan tegang, fokus kerjakan soal yang mudah dahulu" pesannya lalu memeluk nara dengan hangat hingga membuat nara semakin merindukan kedua orang tuanya.
"kalau gitu kita berangkat ya mah"
"iya sayang"
"assalamualaikum." Nara dan adetra mencium tangan mamah lalu pergi berangkat sekolah.
Perkataan ayah masih terngiang di benak bintang hingga membuatnya tidak bisa tidur, matanya yang sembab karena menangis semalaman membuatnya ingin balas dendam, kebenciannya semakin meluap ketika melihat nara yang tersenyum dengan orang-orang yang menyayanginya. "kak nara" bintang mendekati nara dan adetra seolah merindukannya.
"bintang, mata kamu kenapa? kamu habis nangis?" hawatir
"nggak kok det, tadi malam aku begadang karena belajar" tersenyum
"kenapa kamu menghubungi ayah dan memberi tau semuanya?" dengan tatapan dingin "karena aku nggak mau kakak menikah muda" tidak sanggup menatap wajah nara.
__ADS_1
"apa yang terjadi tadi malam?"
"nggak ada kak"
"katakan yang jujur" memaksa
"ayah marah besar, dan mereka akan bercerai kak, aku nggak tau harus bagaimana menghadapi ini semua kak" melihat bintang yang kebingungan, membuat nara jauh lebih bingung harus apa yang diperbuat untuk mencegah perceraian tersebut.
Tidak lama kemudian bel berbunyi, "ayo kekelas, fokus ujian dulu, soal ayah nanti kita pikirkan" pintanya, dengan semangat bintang menganggukkan kepalanya lalu pergi kekelas, sebaliknya nara yang tidak bisa fokus.
Sepanjang masa ujian, nara terus memikirkan ayahnya, karena bagaimanapun juga, hanya ayah yang ada untuknya kini, setelah selesai ujian nara keluar dari kelas, adetra yang melihat nara yang terburu-buru membuatnya hawatir.
Dengan pakaian seragam sekolah semua karyawan melihat nara dengan tatapan penasaran, "mbak apa pak CEO ada?"
"ada, apa anda sudah membuat janji?" namun nara tidak mendengarkan pertanyaan karyawan tersebut dan menerobos masuk.
"hai nona, anda dilarang masuk" teriaknya, dengan santai, nara tidak memperdulikannya, karyawan tersebut mengejar nara yang menerobos masuk keruangan ayah.
"ayah." Nara duduk dihadapan ayah dengan kecewa. "maaf pak, saya sudah melarangnya"
"tidak apa, dia putri saya, lakukan kembali kerjaan anda"
"baik pak" karyawan tersebut pergi.
"ayah akan bercerai dengan tante?"
"kamu tahu dari mana?" tanpa ekspresi
"itu nggak penting, yang jelas jawab, apa benar ayah akan bercerai?"
"iya"
"kenapa? kenapa ayah harus bercerai? bagaimana dengan bintang?" dengan perasaan kecewa.
"kenapa dengan bintang? apa dia ada masalah?" tetap melanjutkan pekerjaannya. "kenapa ayah semudah itu untuk memutuskan sesuatu? apa ayah nggak memikirkan perasaan bintang? dia butuh kedua orang tuanya yah" menangis.
ayah berhenti dengan kerjaan komputernya, namun ayah hanya mengeluarkan surat tes DNA tanpa memberikan penjelasan.
Nara membacanya dengan teliti, terasa hancur dan sakit dengan kenyataan tersebut, nara melihat ayahnya yang kembali sibuk dengan komputernya.
__ADS_1