
Seperti biasa huzaifi sibuk dengan pekerjaan yang padat namun tetap memperioritaskan adiknya yang mengirimkan pesan kepadanya, "mulai sekarang kakak nggak perlu hawatir lagi, karena aku udah punya teman baru, namanya nara dia baik banget ke aku, aku kirim fotonya ya" huzaifi melihat foto adetra yang tersenyum bahagia dengan teman barunya, karena usianya yang lebih muda dikelasnya membuat teman sekelasnya sesuka hati untuk menindasnya.
"sekretaris hans cari tahu tentang nara teman baru adetra, laporkan semua yang menyangkut dengannya, jangan sampai ada yang terlewat sedikitpun" ujarnya dengan tegas dan dingin. "baik pak"
"lakukan sekarang"
"baik pak saya permisi dulu" huzaifi hanya mengerakkan jari telunjuk seolah mengatakan untuk lakukan secepatnya.
Jam menunjukkan jam dua siang, sudah saatnya jam pulang namun nara enggan untuk pulang, jika dirinya tidak pulang ayahnya pasti hawatir kepadanya, mau atau tidak dia harus pulang demi ayahnya yang telah tulus menyayanginya,
"Nara kamu sudah pulang nak?"
"assalamualaikum yah" mencium tangan ayah "wa'alaikum salam sayang, kamu sudah makan siang?" dengan penuh perhatian,
"udah yah bareng temen, ayah nara masuk kamar dulu"
"ya sudah" nara hanya tersenyum tipis didepan ayah.
"enak ya makan diluar bareng temen baru" sindir tantenya, nara hanya diam tidak memperdulikan perkataan tantenya yang menyakiti hatinya. "kamu kenapa seperti itu kepada nara? memangnya nara salah apa kekamu? sampai kamu membencinya?" tegurnya, "ya karena kamu lah, siapa lagi yang nggak peka selain kamu, denger ya mas, kamu tuh terlalu perhatian kenara, nggak pernah sejarahnya kamu nganter anak sekolah, apa lagi nanyain udah makan apa belum, nggak pernah kamu seperhatian itu ke bintang nggak pernah sama sekali" belum sempat suaminya menjelaskan ia langsung pergi begitu saja.
Mendengar pertengkaran ayahnya membuat nara semakin ingin pergi dari rumah tanpa ada yang tau oleh siapapun. Untuk mengatasi kesedihannya nara memutuskan untuk belajar mengejar pelajaran yang tertinggal.
Berusaha untuk menggapai cita-citanya dan berusaha mencari cara untuk segera mendapatkan tujuan hidup, tanpa sadar jam sudah menunjukkan untuk makan malam. "nara, sudah waktunya makan malam, ayo makan dulu" pintu ayah sambil mengetuk pintu kamar.
"Nara udah makan yah, ayah makan aja, nara mau istirahat setelah sholat isya"
"beneran kamu sudah makan?" hawatir "iya yah, nara uda makan kok" walaupun sebenarnya dirinya sedang kelaparan, nara tetap menahan laparnya karena tidak ingin ayah terus memberikan kasih sayangnya kepada dirinya saja. setelah sholat isya nara memutuskan untuk tidur.
__ADS_1
"kakak tumben pulang, biasanya kakak selalu pulang ke rumah kakak sendiri" dengan mencibir, huzaifi hanya diam tidak menghiraukan cibiran adiknya. "kak, menurut kakak teman baru aku gimana? cantikkan? dia tuh baik banget mau bantu aku yang lagi ditindas, padahal dia anak baru di sekolah tapi dia nggak takut dengan mereka"
"bagus kalau ada teman yang sebaik itu di sekolah kamu " lalu pergi begitu saja tanpa ada reaksi yang khusus. "dasar kulkas, pantes aja nggak ada pengganti kak Tiara" huzaifi menghentikan langkah kakinya di depan pintu kamar "setidaknya aku bisa setia untuk satu orang yang aku cintai" walaupun tidak terdengar oleh adiknya, akan tetapi adetra memahami luka dan kehilangan huzaifi yang begitu dalam, dengan hanya melihat sikap dingin dan tegas huzaifi.
Keesokan harinya nara sengaja terlambat keluar dari kamar agar ayahnya tidak menunggunya, setelah memastikan ayah telah berangkat kerja nara keluar dari kamar bersiap untuk berangkat sekolah.
"Nara" sesaat nara menghentikan langkahnya
"nanti siang datang kekafe seni, temui kenalan tante untuk membicarakan perjodohan kalian" sesaat nara terdiam membisu ketika mendengar tantenya ingin dirinya sesegera mungkin untuk keluar dari rumah tersebut dengan cara perjodohan.
"bunda, kak nara masih sekolah, lagian ayah pasti marah besar" berusaha membantu
"jangan sampai ayah tau dong, kalau ayah tau liat aja nanti, tante nggak akan tinggal diam"
"kak, jangan pergi temui laki laki itu, kakak harus selesai sekolah dulu" rengeknya
"aku akan datang, tante tenang aja" lalu pergi begitu saja.
"sudah saya terima semua informasi tentang nara, nona nara adalah putri Suparman pemilik perusahaan A yang memegang saham terbesar diperusahaan kita, kedua orang tuanya meninggal ketika mereka kecelakaan beberapa waktu lalu, saat ini nona nara tinggal dengan tuan suherman yang merupakan adik dari tuan suparman, namun istri beliau tidak begitu menyukai nona nara karena suaminya terlalu memberikan kasih sayangnya kepada nara" jelasnya, huzaifi melihat profil kehidupan nara sebelumnya ketika bersama kedua orang tua disaat semasa hidupnya.
"akan tetapi" sekretaris hans diam sejenak
"ada apa"
"karena kasih sayang pak suherman yang berbeda untuk anak kandungnya membuat istrinya semakin membenci nona nara, sehingga menjodohkan nara dengan pria yang tidak baik dan suka berjudi"
"bagaimana bisa menjodohkan anak yang masih sekolah" kesal
__ADS_1
"ini yang saya dapatkan dari orang suruhan kita" huzaifi berfikir sejenak untuk membantu dan menguntungkan juga untuk dirinya.
"dimana dia akan menemui pria itu?"
"dikafe seni pak"
"persiapkan semua untuk menemui nara, hentikan pria itu jangan sampai pria itu menemui nara"
"baik pak" huzaifi kembali melihat foto nara dengan adetra yang terlihat berbeda.
"maafkan aku tiara, aku harus melakukan ini untuk adetra, selain kamu hanya nara yang bisa membantu adetra disaat kesulitan" sembari mengusap foto tiara
jam sudah menunjukkan pukul setengah dua siang, nara ragu untuk menemui pria pilihan tantenya, namun jika tidak melihatnya dahulu kesempatan untuk keluar dari rumah itu akan sulit, setelah sekian lama menimbang, nara tetap datang kekafe seni.
"Nara" seseorang memanggil dengan dingin dari kejauhan, terlihat berbeda dengan fikirannya, orang yang akan bertemu dengannya pria dingin dan kaku,
"silahkan duduk" tanpa ragu nara duduk dihadapan pria dingin tersebut.
"langsung saja, tanpa basa-basi, saya huzaifi" memberikan kartu namanya, "untuk tujuan saya datang menemui kamu untuk nikah kontrak" Nara terdiam mendengar perkataan huzaifi "apa untungnya untuk saya?" berusaha untuk kuat dan tenang "tentu kamu akan keluar dari rumah itu, bukankah itu yang kamu inginkan?" Nara terkejut dan matanya terbelalak, karena huzaifi tau tujuan yang diharapkannya, nara berusaha untuk berfikir sejenak
"bagaimana anda tau?" penasaran
"kamu tidak perlu tahu"
"tapi saya memiliki syarat"
"katakan"
__ADS_1
"pertama, saya sedang sekolah dan butuh biaya sekolah, anda harus selesaikan itu hingga saya kuliah, kedua saya tidak ingin diatur kebebasan saya dan jangan ikut campur urusan pribadi saya" huzaifi hanya menganggukkan kepalanya.
"tidak masalah, syarat yang saya ajukan pertama, jangan sampai ada yang mengetahui pernikahan ini, teman sekolah atau teman apapun itu, kedua, kamar kita terpisah jangan sesekali kamu akan masuk kekamar saya, terakhir jangan pernah berharap saya akan jatuh cinta dengan kamu, ingat ikuti dengan baik, jika kamu menemukan pria impian kamu , kita bisa mengurus surat perceraian" demi mendapatkan ketenangan nara menyetujui semua syarat yang diajukan huzaifi, walaupun sakit saat mendengar kata perceraian.