Istri Tangguhku Adalah Sahabat Adikku

Istri Tangguhku Adalah Sahabat Adikku
eps 16


__ADS_3

Cahaya mentari pagi mulai menerangi bumi, huzaifi telah bersiap untuk berangkat ke kantor, "anda udah siap berangkat?" Huzaifi menghentikan langkah kakinya


"Silahkan sarapan dulu, sudah saya siapkan dan ini bekal untuk anda, saya akan menunggu di mobil" huzaifi masih diam ditempat.


"Bukankah ini nggak ada diperjanjian? Jadi tak masalahkan? Lagian masih ada waktu, Kalau nggak ingin memakannya anda bisa meninggalkannya nanti bisa saya buang" nara pergi menuju mobil.


Huzaifi mendekati meja makan dan melihat sarapan yang telah disiapkan oleh nara, sekilas melihat jam ditanganya lalu duduk untuk memakan sarapannya sambil melihat email yang dikirim oleh sekretaris hans, setelah selesai sarapan huzaifi bergegas menuju mobil dan tidak melupakan bekal yang telah disiapkan oleh nara.


Nara masih menunggu huzaifi sambil memainkan handphonenya, terlihat digrup WhatsApp yang heboh karena dirinya yang menggunakan gaun disaat pernikahannya, "ada apa? Apa ada masalah?" Tidak sadar huzaifi telah dimobil untuk berangkat mengantarkan nara kesekolah.


"Bukan hal yang serius" dengan tersenyum tipis, "sebaiknya kita berangkat sekarang sebelum terlambat" pintanya, huzaifi hanya berekspresi datar dan mengemudi mobilnya.


Suasana sekolah mulai membicarakan nara hingga membuat adetra tidak tahan mendengar olokan mereka, tidak lama kemudian nara tiba disekolah, adetra bergegas berlari menuju nara yang baru turun dari mobil.


"kak" adetra memeluk nara dengan erat,


"kamu nggak perlu hawatir, sebaiknya kita kekelas sekarang, semua orang menatap kita"


"Iya kak" tanpa melihat huzaifi yang masih melihat mereka, nara dan adetra pergi begitu saja, perasaannya tidak enak ketika semua siswa menatap kearahnya.


Sepanjang jalan menuju kelasnya, nara dan adetra berpegangan erat walaupun semua mata menatapnya dengan tajam.


"kak nara" bintang mendekatinya dengan sedikit berlari


"ada apa?"


"kakak dipanggil keruangan kepala sekolah" dengan hawatir, adetra melihat nara dengan hawatir, nara memperhatikan bintang dengan seksama, terlihat seperti biasanya setelah seolah-olah hawatir, akan terlihat senyuman diujung bibirnya, hanya nara seorang yang melihatnya.


Tanpa bicara nara pergi keruang kepala sekolah dan adetra mengikuti nara dari belakang, "assalamualaikum pak" nara dan adetra memasuki ruangan kepala sekolah, "wa'alaikum salam, silahkan duduk" nara dan adetra duduk sambil berpegangan tangan untuk saling menguatkan.


"Langsung saja, apa benar berita yang tersebar ini bahwa kamu telah menikah?" nara menghela nafas panjang dan meyakinkan hatinya untuk mengatakan semuanya.

__ADS_1


"Benar, saya telah menikah, akan tetapi saya tidak hamil diluar nikah, kami memutuskan ini karena kami tidak ingin hal yang tidak-tidak terjadi diantara kami, tentu bapak paham apa yang saya sampaikan!"


"ya saya paham maksud kamu, tapi kamu bisa kehilangan beasiswa, karena itu merupakan peraturan dari pemerintah" jelasnya, nara hanya tersenyum tipis mendengarnya.


"beasiswa kamu digantikan oleh adetra"


"nggak masalah pak, saya juga yakin bahwa adetra juga berhak mendapatkan beasiswa itu, kalau gitu saya dan adetra pamit, assalamualaikum" nara menarik tangan adetra untuk keluar dari ruangan kepala sekolah.


"Apa yang terjadi kak? Kenapa kakak dipanggil keruangan kepala sekolah?" dengan hawatir.


"Nggak ada, cuma pemberitahuan bahwa adetra mendapatkan beasiswa" mendengar jawaban nara yang tanpa ekspresi membuat bintang mengepalkan tangannya.


"Apa? bukannya kakak yang seharusnya mendapatkan beasiswa?" Kecewa.


Nara menatap bintang dengan tajam, dirinya mulai muak dengan akting dan semua yang telah dilakukan oleh bintang.


"Memangnya kenapa? kamu kecewa karena reaksiku nggak seperti yang kamu harapkan? aku udah muak dengan kamu, kamu nggak jauh beda dengan ibumu, saat aku dijodohkan kamu dengan orang pemabuk dan penjudi kamu sangat berharap aku akan menikah dengannya dan kamu sangat sebenarnya senang berharap aku akan sensara" nara mendekati bintang dan merapikan rambut bintang.


"Aku tau kamu kecewa karena rencana kamu selalu gagal, aku melihat jelas kebencian dari wajahmu saat aku keluar dan menghampirinya untuk memasang cincin, apa salahku denganmu? kenapa kamu terobsesi untuk menjadi lebih baik dari aku?" bintang menelan ludah melihat nara yang mengetahui semuanya.


"Kekacauan hari ini kamu yang melakukannyakan? berharap beasiswa itu jatuh ditanganmu dan aku malu dihadapan semua orang" nara memegang dagu bintang agar bintang bisa melihat matanya.


"Kalau kamu melakukan yang nggak berguna lagi, aku akan melakukan sesuatu untukmu lebih dari yang kamu lakukan, mengerti?!" bintang hanya menganggukkan kepalanya dengan rasa takut karena tatapan mata nara yang begitu dekat dengannya.


"Kak, kakak baik-baik ajakan?" bintang memegang tangan nara hingga nara terbangun dari lamunannya.


"Ya, aku nggak papa" nara mengusap wajahnya karena lelah menghadapi permainan bintang yang tidak ada ujungnya.


"Hai nara, aku dengan kamu gagal dapetin beasiswa karena kamu udah nikah ya? kasihan banget sih kamu" siswa yang selalu membully adetra datang menghampiri nara.


"Tidak perlu menghawatirkannya karena saya mampu untuk membiayai pendidikannya" tiba-tiba huzaifi muncul tidak tahu dari mana, melihat huzaifi yang datang untuk membela nara membuat bintang semakin kesal.

__ADS_1


"kak huzaifi datang? ada apa? kak nara dan adetra belum pulang kak" bintang mendekati huzaifi bermaksud ingin mencari perhatiannya.


"Saya tau, saya tahu itu, tidak perlu jelaskan, lagi pula saya sudah memberi tahu guru bahwa saya akan membawa nara dan adetra pulang"


"Kenapa kak? apa ada masalah?"


"Bukan urusan kamu, nara, adetra, ayo kemobil" huzaifi menggandeng tangan nara dengan lembut.


Bintang mengepalkan tangannya dengan geram, nara melihat huzaifi didepannya dengan memegang tangannya dengan lembut, jantungnya mulai berdetak kencang seolah akan terdengar oleh orang disekitarnya.


"Masuklah" huzaifi membukakan pintu untuk nara dan adetra.


"Terimakasih"


Setelah nara dan adetra masuk ke mobil, huzaifi menghidupkan mobil lalu pergi dari lingkungan sekolah.


Ayah masih sibuk dengan pekerjaannya, namun dirinya tertarik dengan ponselnya yang bergetar, terlihat seseorang telah mengirimkan berita tentang nara yang batal mendapatkan beasiswa karena telah menikah, dengan hawatir ayah langsung menghubungi nara.


"Nara, kamu baik-baik aja nak?" dengan hawatir.


"Nara baik-baik aja yah, ada apa yah?" suara nara dari handphone.


"Apa kamu gagal mendapatkan beasiswa?"


"ayah tau dari mana?" dengan terkejut.


"Sekarang kamu kekantor sekarang, ayah mau bicara dengan kamu!"


"Ayah, ayah nggak perlu hawatir, nara pasti kuliah, kalau nggak dapat beasiswa kan ada jalan yang lain" nara berusaha menenangkan ayahnya.


"kekantor sekarang" ayah mematikan telfonnya begitu saja.

__ADS_1


Kepala nara menjadi pusing karena memikirkan masalah tersebut, dari kaca spion, huzaifi memperhatikan nara secara diam-diam, terlihat nara yang sedang kesulitan menghadapi masalahnya.


__ADS_2