
Hari mulai gelap, karyawan mulai merapikan meja mereka lalu bersiap untuk pulang, sebaliknya huzaifi masih sibuk dengan pekerjaan yang padat diatas mejanya.
"masih sibuk? perlu aku bantu?." Tara berdiri di pintu sambil melihat huzaifi yang tidak merespon kehadirannya. "jika tiara yang datang kamu pasti menyambutnya dengan tersenyum, memangnya apa yang membuat kamu lebih dingin bagaikan es?" menghampiri huzaifi yang masih sibuk dengan komputernya. "tak bisa kah kamu sedikit hangat untukku?" sembari meraba bahu huzaifi.
"cukup tara, aku tidak pernah melihat kamu sebagai pasangan, melainkan hanya sebatas teman" menghentikan tangan tara yang mulai nakal.
"aku mempertahankan kamu diperusahaan ini karena kinerja kamu bagus, jika kamu bosan dengan kerjaan ini, kamu boleh keluar dari perusahaan ini" sambil merapikan semua berkas diatas mejanya lalu pergi, ketika ingin keluar dari ruangan huzaifi kembali melihat tara.
"jika terus seperti ini, aku tidak akan segan-segan untuk memecat kamu, dan satu lagi, ini kantor, kamu harus mengetahui siapa teman siapa atasan, mau kamu kakak tiara atau teman kecilku, itu tidak bisa membuat semau kamu!" huzaifi menegaskan semua yang seharusnya tara pahami dengan baik, lalu pergi meninggalkan tara yang tidak bisa melihat kehangatan huzaifi untuk dirinya.
Nara masih duduk didepan Indomaret dengan menyantap makanan ringan dihadapannya, sambil belajar untuk ujian besok pagi, nara masih terbayang wajah kecewa ayah yang dikhianati oleh istrinya sendiri, setelah selesai makan ayah kembali kekantor sedangkan dirinya masih terdiam dengan memikirkan masa depan yang harus dijalankan dengan baik, mengingat keputusan ayah yang akan bercerai membuat nara bingung harus bagaimana menghadapi tantangan dunia ini.
"kenapa kamu tidak pulang?" nara melihat wajah dingin huzaifi yang telah berdiri dihadapannya. "ka kamu sejak kapan berdiri disitu?" terkejut.
"sudah dari tadi, kenapa kamu tidak pulang setelah makan siang dengan ayah?" nara tidak memperdulikan huzaifi yang berada dihadapannya.
"ayo pulang" namun nara tidak bergeming sedikitpun, "sepertinya kamu sudah berani dengan saya ya" menatap tajam. "hehehe...." tertawa mengejek, "memangnya aku takut?" dengan tersenyum masam, melihat nara yang tidak seperti biasanya, membuat huzaifi semakin penasaran dengan nara yang tidak dapat ditebak.
"nona nara, sudah waktunya untuk pulang"
"em.. silahkan anda pulang dahulu tuan es" ejeknya, melihat nara yang terus menerus meledeknya, membuat huzaifi semakin tertarik untuk berdebat dengan nara.
"sepertinya ada yang berbeda dengan anda tadi siang, saat saya menghubungi anda, suara anda sangat lembut seakan saya berdebar dengan kata" dengan tersenyum lalu mendekati wajah nara yang mulai memerah.
"sayang kuuu" nara menutup wajahnya dengan bukunya karena malu, melihat nara yang malu membuat huzaifi tersenyum.
__ADS_1
"ayo pulang, jika ingin belajar dirumah saja"
"kriuuuuuuuuuuk" terdengar suara perut nara yang begitu kencang, hingga membuat huzaifi tersenyum tipis, "ayo makan dulu sebelum pulang, makanan ringan tidak akan membuat kamu kenyang" jelasnya dengan berjalan dahulu, sedangkan nara masih menahan malu, kemudian mengikuti huzaifi untuk makan malam.
Setelah makanan terhidang, nara kembali mengingat ayah yang kini makan malam sendirian, "kenapa? apa makanannya tidak seperti yang kamu inginkan?"
"a.. bukan gitu, ini enak kok"
"ada apa? apa kamu ada masalah?" terus memperhatikan nara yang mengaduk-aduk makanannya.
"mmm nggak kok, semua baik-baik aja" terlihat jelas dimata huzaifi bawah nara berbohong. "apa terjadi sesuatu dengan ayah?" tebaknya, namun nara tidak mengelak.
"katakan apa yang terjadi"
"ayah minta pernikahan ini untuk dibatalkan" huzaifi terkejut dan terdiam seakan kecewa, "lalu keputusan kamu?" penasaran.
"waktu itu kita yang keras kepala untuk menikah, dan sekarang tiba-tiba membatalkan pernikahan, itu terlihat jelas aku yang mempermainkan perasaan Om dan tante." melihat nara yang memperdulikan perasaan kedua orang tuanya, membuat huzaifi tidak asing dengan kehangatan tersebut, dalam sekejap bayangan tiara seakan berada dihadapannya dengan tersenyum lebar.
"Tiara" tanpa sadar, huzaifi memegang pipi nara dengan lembut. "sepertinya kamu salah orang deh" huzaifi tersadar dari lamunannya lalu melihat jam seolah tak terjadi apa-apa.
"ehem... jika sudah selesai, ayo pulang, adetra dari tadi nanyain kamu"
"kamu merindukan mantan kamu ya? kenapa nggak kamu temui dia? walaupun dia sudah tiada, kamu bisa berkunjung ke makamnya"
"kamu? kenapa kamu tidak berkunjung ke makam kedua orang tua kamu?" nara terdiam sejenak kemudian tersenyum.
__ADS_1
"karena mereka udah tenang, aku yang belum bisa merelakan mereka, tapi karena aku juga yang menyebabkan kecelakaan itu" Nara teringat dengan jelas yang terjadi malam kecelakaan tersebut.
Malam itu hujan deras hingga membuat jalanan sepi kecuali mobil yang melintas. Nara bersama kedua orang tuanya sedang makan malam bersama diluar dengan penuh bahagia.
"pah, nara akan ikut lomba seni"
"seni?"
"ya, Universitas Riau mengadakan lomba dari jurusan bahasa Indonesia dan sastra, jadi nara mau ikut"
"tapi nara, itu nggak ada kaitannya dengan kedokteran, bukannya kamu mau jadi dokter?"
"apa salahnya sih pah, menurut mamah itu juga bagus kok, biarkan dia mengembangkan hobinya"
"papah nggak setuju, nara harus fokus dengan tujuannya yaitu dokter, yang tidak berkaitan dengan dokter nggak perlu ikut" dengan sedih nara pergi meninggalkan kedua orang tuanya yang sedang makan malam.
Mamah mengejar nara dan menenangkannya agar tidak sedih atas perkataan papah, "kamu jangan sedih, papah hanya hawatir kamu tidak fokus dengan cita-cita kamu yang ingin menjadi dokter" mamah memeluk nara dengan hangat, tidak lama kemudian ayah datang menyusul nara dan mamah untuk pulang.
Diperjalanan nara hanya diam dan melihat keluar jendela mobil, terlihat hujan yang masih turun dengan derasnya.
"kamu harus fokus untuk ujian, jangan sampai kamu gagal masuk universitas kedokteran, ingat, kamu yang ingin menjadi dokter!" tegasnya
"tapi pah, hanya ikut lomba seni itu juga nggak buruk, setidaknya beri nara sedikit kebebasan"
"sudahlah, mau sampai kapan kalian akan bertengkar?" berusaha melerai.
__ADS_1
"kebebasan? kamu itu masih sekolah, masih butuh bimbingan, jangan karena ini membuat kamu menyesal" karena tidak melihat jalan, membuat papah hilang kendali dan menabrak pembatas jalan hingga membuat mobil terguling.
Tanpa disadari air mata nara mengalir begitu saja, "kebebasan yang aku inginkan bukan seperti ini, aku ingin papah mengerti apa yang ingin ku lakukan, walaupun hanya sekedar lomba". Nara menangis terisak-isak hingga membuat huzaifi melepaskan jasnya dan meletakkan dikepala nara, agar orang tidak melihatnya yang sedang menangis. Huzaifi terus menunggu nara dan sesekali melihat jam ditanganya, dan kembali melihat nara yang masih tenggelam dalam kesedihannya.