Istri Tangguhku Adalah Sahabat Adikku

Istri Tangguhku Adalah Sahabat Adikku
eps 17


__ADS_3

Adetra memeluk nara yang terdiam, tatapan matanya kosong seolah sedang ada yang difikirkan olehnya.


Nara telah bersiap untuk istirahat, namun handphone miliknya berdering dengan nomor yang tidak dikenalnya, nara lebih memilih untuk tidak menanggapi nomor yang tidak dikenalnya, namun handphonenya terus berdering hingga pada akhirnya nara mengangkat panggilan tersebut.


"Selamat telah menempuh hidup baru, semoga kamu hidup bahagia bersamanya" terdengar suara lelaki dari seberang handphone tersebut.


"Terimakasih, tapi anda siapa? ada keperluan apa menghubungi saya malam-malam?" nara berusaha untuk tenang dan tidak takut.


"Kamu tidak perlu tahu siapa saya, saya hanya ingin membantu kamu"


"Mambantu?" dengan bingung


"Ya, saya ingin membantu kamu, maaf saya terlambat menghubungi kamu" terdengar suaranya bergetar seperti kecewa.


"Memangnya apa yang anda ketahui tentang saya? sehingga anda ingin membantu saya?"


"Saya tau kamu memiliki begitu banyak kesulitan, dari kepergian kedua orang tua, perjodohan, dan besok kamu akan gagal mendapatkan beasiswa"


Nara sesaat terdiam mengetahui bahwa dirinya akan gagal mendapatkan beasiswa, seakan dunianya akan hancur jika itu terjadi.


"Ka kamu tau dari mana jika saya gagal mendapatkan beasiswa?" dengan suara bergetar, tanpa sadar air matanya mengalir begitu saja, tidak lama kemudian pesan di wahstApp nara masuk.


"Silahkan kamu lihat tentu kamu tau siapa yang mengirim foto itu kedalam grup angkatan" nara melihat fotonya yang menggunakan gaun disaat pernikahannya, terlihat foto profil tersebut adalah foto bintang, nara baru menyadari bahwa dirinya tidak ada didalam grup tersebut.


"Dari mana kamu mendapatkan ini semua?" seakan tidak percaya.


"Karena ada seseorang disana yang dapat membantu saya," nara masih tidak bisa mempercayainya.


"Nara, walaupun kamu tidak mendapatkan beasiswa itu, saya percaya kamu akan meraih mimpi-mimpi kamu yang belum tercapai, saya akan membantu kamu untuk memasuki universitas yang mana kamu inginkan, dan satu hal lagi, apakah kamu percaya bahwa kamu memiliki seorang kakak laki-laki?"


"Apa?" terkejut


"Jika kamu ingin tau, jangan pernah kamu bertanya dengan ayahmu, tapi kamu bisa bertanya dengan riandy, dia tau semua" setelah mengatakan yang sulit untuk diterima oleh nara, panggilan itu berakhir begitu saja.


"Nara" huzaifi memegang tangan nara dengan lembut dan membangunkan nara dari lamunannya.


"Jika kamu tidak ingin bertemu dengan ayah, aku bisa membantu untuk menyampaikannya" dengan lembut

__ADS_1


"nggak perlu, aku bisa melewati ini semua, kamu nggak perlu hawatir" dengan tersenyum.


"Yasudah, jika sudah selesai kamu bisa hubungi aku agar aku menjemputmu nanti"


"Oke, aku pergi dulu, assalamualaikum" nara mencium tangan huzaifi layaknya istri pada umumnya.


Huzaifi melihat nara yang pergi memasuki kantor ayahnya, huzaifi memegang dadanya yang terus berdetak kencang. "Kak buruan ater aku pulang" pintanya.


"kamu naik taksi aja sana"


"tapi kak"


"nih ongkos nya" dengan kesal adetra pulang dengan taksi sedangkan huzaifi masih menunggu nara.


Dengan semua yang telah dilakukan, bintang tetap mendapatkan kegagalan, bintang pulang dengan kekesalannya karena gagal untuk merebut beasiswa nara, dirinya tidak pernah mengetahui bahwa adetra belajar dengan sungguh-sungguh walaupun dia selalu dibuly disekolah.


Bintang masuk rumah lalu melempar tasnya kesofa kemudian menghempaskan tubuhnya disofa panjang.


"Kamu udah pulang? gimana kamu berhasil mendapatkan beasiswa nara?" Dengan penuh harapan.


"Kok gagal sih? kamu pasti nggak pernah serius untuk dapetin beasiswa itu" dengan kecewa.


"Kenapa bunda selalu ingin aku melebihi dia? bunda terlalu terobsesi dengan nara" dengan perasaan kesal, bintang bangun dari sofa dan berdiri dihadapan bunda.


"Sebenarnya aku anak bunda atau nggak sih? atau aku hanya sebuah alat untuk menyatukan bunda dengan ayah? kenapa aku nggak terlahir menjadi anak kandung ayah? kenapa aku lahir tanpa mengetahui siapa ayah kandungnya?" perasaan bintang menjadi kacau dan bercampur aduk dengan kekesalannya.


"Kamu berani ya sama bunda?" tanpa disadari bunda menampar bintang dengan keras.


"Kenapa aku nggak terlahir menjadi nara? yang selalu dicintai dan disayangi, atau setidaknya menjadi adetra yang selalu dimanja oleh kedua orang tuanya" sambil memegang pipinya.


"Aku lelah bun, lelah dengan semua ini, aku berusaha menghasut mereka agar membully adetra, tapi apa? dia tetap mendapatkan kasih sayang yang utuh" dengan menangis.


"Bin bintang" bunda ingin memeluk bintang namun bintang menjauh dari bunda.


"Aku berusaha untuk menggagalkan pernikahan nara agar aku mendapatkan huzaifi, tapi apa semuanya gagal" dengan perasaan tertekan dan kecewa.


"Walaupun mereka telah menikah, aku akan menghancurkan rumah tangga mereka, agar aku bisa mendapatkan huzaifi, aku harus mendapatkan dia" dengan seringai.

__ADS_1


"Jangan pernah lakukan itu, jika itu terjadi, kamu akan ku habisi" seorang pria tampan masuk begitu saja.


"Siapa kamu?" bunda dan bintang saling melihat kebingungan.


"Kalian tidak perlu tahu siapa saya, akan tetapi satu hal yang harus kalian ketahui, jika kalian berani menyentuh nara walaupun hanya sehelai rambut, kalian akan menerima balasan yang lebih dari yang kalian lakukan!" pria tersebut menegaskan perkataannya dengan tatapan mematikan dan sikap dingin.


"Dasar, ibu dan anak tidak ada bedanya, hanya bisa menghancurkan kehidupan orang, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya kecuali terguling kejurang" pria itu pergi begitu saja tanpa mengatakan sepatah katapun.


Nara menatap ayah dengan senyuman namun ayah tetap merasa kecewa dengan kegagalan nara.


"Ayah, itu udah peraturan dari pemerintah, ayah nggak perlu hawatir, nara akan membuat ayah bangga dengan kesuksesan nara" berusaha membujuk.


"Oke, kamu harus janji sama ayah, kamu harus menjadi dokter yang profesional dan membuat ayah bangga dengan prestasi Kamu"


"Pasti dong, nara nggak akan kecewain ayah" dengan tersenyum lebar.


Terdengar suara ketukan dari luar, terlihat riandy masuk dengan seseorang orang yang belum pernah dilihatnya.


"Maaf pak, tuan rifaldi datang ingin bertemu".


Ayah melirik nara lalu menatap rifaldi dengan tajam, nara terus melihat rifaldi yang begitu tinggi dan tampan namun terlihat dingin sehingga membuat nara teringat huzaifi yang dingin namun perhatian, nara memalingkan wajahnya ketika rifaldi memandangnya.


"Maaf saya datang tidak membuat janji terlebih dahulu, saya tidak tahu bahwa anda sedang bersama putri anda"


"Nggak masalah kok, saya bisa keluar, ayah nara pulang dulu assalamualaikum" nara bergegas keluar dan menarik tangan riandy begitu saja, setelah keluar dari ruangan ayahnya nara baru menyadari bahwa dirinya menarik riandy dan melepaskan tangannya.


"Ah maaf, saya nggak sengaja" merasa malu.


"Tidak apa-apa, saya permisi melanjutkan pekerjaan saya dulu"


"Ah riandy, bisakah kita makan siang bareng? e,, se sebagai pertemanan" kebingungan untuk mengajak riandy.


"Maaf tapi saya sedang kerja"


"Aku akan meminta agar ayah memberikan izin, ada yang ingin saya bicarakan, dengan kamu, sebentar aja" dengan memohon.


"Baiklah" riandy menyetujui namun perasaannya mulai menaruh hati kepada nara, melihat nara yang tersenyum bahagia membuat riandy ikut bahagia.

__ADS_1


__ADS_2