
Suasana hati nara sangat kacau semua yang terjadi membuat dirinya takut untuk melanjutkan masa depannya, ketika nara masih duduk dilantai sambil menangis tiba-tiba listrik mati membuat nara semakin takut histeris, seolah ada seseorang yang menghampirinya dengan membawa pisau.
"jangan ganggu saya, kumohon jangan bunuh saya" Nara terus mundur dengan ketakutan, dadanya terasa sesak tidak dapat bernafas, pandangannya mulai buram, hanya terlihat seseorang berlari memeluknya dan membawanya pergi setelah itu nara tidak sadarkan diri.
"pah, sepertinya yang dikatakan huzaifi ada benarnya, jika mereka menikah huzaifi bisa melupakan tiara, dengan seiring waktu pasti akan ada rasa cinta yang tumbuh jika mereka terus bersama" mencoba memberikan jalan keluar" tapi mah, kak nara masih sekolah" berusaha menolak "adetra dengar dulu, bukankah nara dibenci tantenya bahkan diusir saat ayahnya tidak dirumah, jika mereka menikah kita bisa menjaga dia, dan huzaifi akan bisa merelakan tiara, kita yang akan membuat mereka saling mencintai" sesaat adetra berfikir dengan usulan yang diberikan oleh mamah, sedangkan papah menganggukkan kepalanya menandakan setuju.
"baiklah, bagaimanapun juga nara anak yang baik dan juga mau membantu adetra disaat kesulitan walaupun mereka baru kenal, papah ingin membantunya"
"tapi pah"
"adetra, bukankah kamu yang ingin menjodohkan mereka"
adetra hanya menghela nafas dan tersenyum dengan keputusan yang telah diambil.
"coba kamu hubungi nara"
"ya mah, aku telfon dulu" dengan semangat, namun nara tidak menjawab telepon darinya hingga membuat adetra sangat hawatir, adetra terus berusaha untuk menghubungi nara pada akhirnya telfonnya dijawab, "assalamualaikum kak nara" dengan semangat, namun adetra terdiam sesaat karena bukan nara yang menjawab telfonnya, "kak nara mana?" dengan hawatir, "apa rumah sakit? rumah sakit mana?" dengan panik "ya udah aku kesana sekarang" tanpa sadar adetra menangis seolah akan kehilangan nara.
"mah pah kak nara dirumah sakit, ayo kesana sekarang" rengeknya
"rumah sakit mana" ikut panik
"awal Bros Panam mah"
"ayo sekarang kesana"
"iya pah" dengan tergesa-gesa mereka berangkat menuju rumah sakit.
Nara masih tidak sadarkan diri membuat huzaifi semakin hawatir melihat kondisi nara saat diruangan gelap yang tidak bisa bernafas hingga pada akhirnya tidak sadarkan diri, "jangan mendekat, jangan bunuh aku, jangan" Nara terus menjerit namun dalam keadaan mata masih terpejam seolah mengalami mimpi buruk, huzaifi memeluk nara dengan erat "tidak perlu takut, saya ada bersama kamu, jangan hawatir" Nara terus menangis didalam pelukan huzaifi, tidak tahan apa yang ada di dalam pikiran huzaifi, detak jantung huzaifi terus berdetak dengan kencang seakan dirinya akan meledak.
__ADS_1
Nara mulai tenang perlahan huzaifi melepaskan pelukannya, begitu pula nara yang mulai tersadar langsung mendorong huzaifi untuk menjauh. "ehem .. kamu sudah bangun?" berusaha untuk tenang "ya, terimakasih " sambil merapikan hijabnya.
"kak nara" adetra nyelonong masuk dan memeluk nara "kakak nggak papa?" hawatir "ya aku nggak papa" dengan tersenyum
"huzaifi bawah nara pulang, administrasi udah papah selesaikan, adetra ayo pulang bareng mamah papah, dokter juga sudah mengizinkan nara pulang"
"tapi aku baru ketemu pah"
"nanti juga ketemu dirumah" adetra hanya bisa menuruti perintah papah dengan ekspresi sedih.
"harus jaga kakak aku dengan baik, jangan sampai lecet" pesannya
"memangnya dia barang?" dengan menyentil kening adetra "sakit tau" keluhnya lalu pergi mengejar kedua orang tuanya, sedangkan nara dan huzaifi saling menatap tidak mengerti.
"aku bingung apa yang terjadi dalam sekejap?" Nara bertanya dengan bingung
"entahlah saya juga tidak tahu" dengan mengangkat bahunya
"pulang?" melihat huzaifi dengan teleng dan tidak tahu pulang kemana.
"pulang kerumah orang tua saya"
"tapi mereka nggak setuju"
"ikuti saja apa yang mereka inginkan, jika tidak sesuai dengan keinginan kita, nanti kita cari solusinya" detak jantung huzaifi semakin kencang jika melihat nara yang ternyata begitu polos, karena tidak tahan lagi huzaifi pergi begitu saja meninggalkan nara, "kebiasaan, pergi gitu aja" bergegas mengikuti huzaifi dari belakang.
"bun, kak nara apa baik-baik aja diluar sana?" dengan hawatir, "kamu kenapa sih? bunda lakukan ini demi kamu, supaya kasih sayang ayah cuma untuk kamu" kesal
"tapi bun, kalau ayah tau kita bisa dimarahi"
__ADS_1
"ya tinggal bilang aja kalau nara keluyuran nggak jelas"
"tapi bun, kakak nara cuma punya kita, kalaupun dia pulang kerumahnya, pasti berat banget untuk dia"
"cukup, kalau kamu bicara tentang nara bunda kurung kamu dikamar" marah besar, bintang hanya bisa diam karena tidak ingin bunda melakukan yang berbahaya untuk nara dan dirinya.
sesampainya di rumah nara duduk bersebelahan dengan huzaifi sedangkan kertas perjanjian mereka sudah ada dimeja, "langsung aja, papah akan merestui kalian dengan syarat pertama, kalian tinggal satu rumah dan satu kamar, kedua tidak ada yang namanya nikah kontrak dan kertas ini batal" dengan merobek kertas perjanjiannya,
"aku nggak setuju pah" huzaifi memberontak
"kenapa tidak? bukannya ini menguntungkan semua pihak, nara memiliki keluarga baru yang utuh, adetra memiliki sahabat yang selalu ada untuknya, kamu bisa perlahan mengiklankan tiara, sedangkan kami memiliki menantu yang bisa menemani mamah saat papah sedang keluar kota" jelasnya
"tetap aku tidak setuju"
"terserah kamu, pilihan ada ditangan kalian" mamah papah beranjak dari tempat duduknya lalu pergi masuk kamar, sedangkan nara dibawa adetra kekamar untuk beristirahat.
Huzaifi masih memikirkan perkataan papah bagaimana caranya agar dirinya bisa membantah syarat yang diajukannya, sesekali huzaifi terbayang ketakutan nara yang membuat dirinya semakin ingin membantunya agar bisa ceria seperti sedia kala.
Ping... Suara pesan masuk di hendphone, huzaifi mengeceknya terlihat pesan dari nara "maaf jika saya lancang, kalau anda menyetujui syarat itu saya memiliki solusi, jika mereka datang kerumah kita berakting seperti layaknya pasangan suami istri sungguhan, jika hanya kita dirumah kita bisa memakai kamar yang terpisah seperti yang anda inginkan, jika anda tidak setuju syarat itu, saya akan mencari kos yang dekat dengan sekolah, karena saya baru memiliki ide untuk mencari kos dekat sekolah, sampai saya bisa menata hidup saya untuk kembali pulang " huzaifi merenungkan solusi yang diberi nara, hatinya gelisah ketika nara berencana untuk mencari kos-kosan agar dapat keluar dari rumah itu.
"kenapa aku sulit melepaskanmu? padahal Kamu hanya teman baru adikku, walaupun pada awalnya aku ingin kamu selalu ada untuk adetra tapi kenapa hatiku sakit ketika melihat kondisi psikologis kamu" hatinya merasa bimbang dengan keadaan nara.
"kak nara belum tidur?"
"belum ngantuk sih, sekalian mau belajar pelajaran yang ketinggalan, karena sulit untuk dapetin biayasiswa"
"kakak mau dapetin biayasiswa?" bangga
"iya, walaupun aku anak tunggal perusahaan A tapi aku nggak bisa seenaknya memakai uang perusahaan, lagian aku belum bisa mengambil alih perusahaan"
__ADS_1
"aku yakin kakak pasti bisa" dengan tersenyum memberikan semangat untuk nara yang sedang berusaha.