Istri Tangguhku Adalah Sahabat Adikku

Istri Tangguhku Adalah Sahabat Adikku
eps 15


__ADS_3

"Nara, kamu sudah selesai nak?" dengan lembut


"Belum mah, soalnya kak nara kebayanya hilang"


"Kok bisa hilang?" dengan panik


"Nara juga nggak tau mah, selesai dari kamar mandi kebayanya udah nggak ada" mamah menjadi panik mendengar penjelasan dari nara


"Mamah tenang aja, kak huzaifi udah siapin gaun untuk kak nara kok"


"Ya udah, sekarang siap-siap, soal tamu undangan dan yang lain mamah yang urus, adetra bantu nara bersiap"


"Oke mah"


"mah, boleh nggak kalau pas akat nikah, nara dikamar aja? setelah selesai akat nara baru keluar" pintanya dengan sedikit memohon


"ya sudah" dengan tersenyum.


Adetra membantu nara untuk bersiap, tidak lama setelah itu terdengar suara huzaifi yang sedang melakukan akad nikah, tanpa disadari air mata nara mengalir begitu saja ketika mendengar huzaifi yang sedang melakukan akad nikah, nara seperti tidak percaya bahwa dirinya telah menjadi seorang istri.


"Kak" adetra mengusap air mata nara dengan tisu, "udah waktunya kita untuk keluar" nara menganggukkan kepalanya dan keluar dari kamar.


Semua mata tertuju kepada nara yang begitu cantik dan anggun, para tamu undangan terpesona dengan keindahan yang diciptakan oleh yang maha kuasa.


Huzaifi tersenyum manis melihat nara yang telah berdiri dihadapannya, tanpa ragu huzaifi mengenakan cincin kawin dijari manis nara lalu mencium kening nara dengan lembut.


Melihat nara yang bersanding dengan huzaifi membuat bintang merasakan kecewa dan kesal, bintang mengepalkan tangannya dengan rasa amarah yang mendalam, seberusaha apapun dirinya untuk menggagalkan pernikahan tersebut, namun tetap dirinya yang mendapatkan kegagalan, dengan masuk kamar nara dan menyembunyikan kebayanya, berharap membuahkan hasil yang diinginkannya, namun tetap dirinya yang tidak bisa berbuat apa-apa.


Tidak terasa acara telah selesai, para tamu undangan mulai berpamitan pulang, begitu juga ayah berpamitan untuk pulang.


"Nara, semoga kamu bahagia nak, terus berusaha untuk meraih kesuksesan walaupun kamu sudah berkeluarga, pernikahan bukan penghalang untuk meraih impian, dan kamu sudah menikah, kamu harus hormati suami kamu dan kedua orang tuanya, sayangi adiknya seperti adikmu sendiri" pesannya.


"Makasih yah, aku nggak akan mengecewakan ayah, nara janji" dengan tersenyum


"Kamu harus tempati janji itu" dengan tersenyum.

__ADS_1


Huzaifi terus melihat bintang yang pergi begitu saja hingga membuat huzaifi curiga dengan bintang.


"Ayah pulang dulu, huzaifi jaga nara"


"ayah nggak perlu hawatir, aku akan menjaga nara"


"Alhamdulillah, kalau gitu ayah pamit pulang, assalamualaikum"


"Wa'alaikum salam" nara melihat ayah yang pulang dengan bintang, dirinya merasa bahagia dan sedih semua bercampur aduk menjadi satu.


"Mah, pah, aku dan nara akan tinggal di rumah ku, karena itu aku dan nara pamit"


"kak, tapikan itu terlalu cepat, aku masih mau bareng kak nara" merasa kecewa


"kamu bisa datang kapan saja, rumah itu selalu terbuka untuk kamu"


"tetap aja, aku masih mau tidur bareng kak nara" rengeknya


"Adetra, kamu udah dewasa, nggak seharusnya kamu bertingkah seperti anak kecil" papah menegurnya


"de, nggak seharusnya kamu seperti itu"


Melihat ekspresi adetra membuat nara tersenyum, "ada masanya kita akan tidur bareng lagi, kamu jangan cemberut gitu" nara mencubi pipi adetra.


"aduh... sakit kak" mengadu dengan raut wajah cemberut, melihat tingkah nara yang begitu perhatian kepada adetra, membuat huzaifi bersyukur telah memilih nara agar dapat menemani adetra.


"Mah pah, kalau gitu kami pamit pulang, assalamualaikum" huzaifi dan nara mencium tangan mamah papah, sebelum pergi nara kembali melihat adetra yang masih mempertahankannya, nara mendekati adetra dan memeluknya dengan erat.


"Jangan cemberut gitu, kalau dia lihat kamu seperti ini, aku pasti kena amukan pacar kamu" bisik nara ditelinga adetra, lalu pergi menghampiri huzaifi yang telah menunggunya didalam mobil.


"bye bye" nara melambangkan tangan berpamitan, adetra yang melihatnya membalas lambaian tangan nara.


"bye bye" dengan suara keras.


Setelah pulang dari acara pernikahan nara, bintang berdiam diri di dalam kamarnya, hatinya masih tidak bisa menerima bahwa huzaifi menikahi nara, masih terbayang didalam ingatan bintang, senyuman manis dan tulus yang diberikan oleh huzaifi untuk nara membuat hatinya bergetar ingin memilikinya.

__ADS_1


"Ada masanya aku akan mendapatkan dia" dengan senyuman jahat.


Setelah sampai di rumah huzaifi, nara masih terdiam mematung merasa semua ini seperti mimpi, "nara, apa yang kamu fikirkan? ayo masuk, jangan diam saja" huzaifi membuka pintu dan membawakan koper nara kekamar.


"Ini kamar kamu, kamu bisa menggantikan pakaian kamu, setelah itu kita bicarakan perjanjian kita" huzaifi pergi begitu saja tanpa melihat lawan bicaranya.


"Selalu gitu, selesai bicara langsung pergi, kebiasaan" merasa kesal, sesaat nara berbaring di atas kasur, masih terbayang senyuman huzaifi yang begitu menarik hati, namun dalam sekejap semua itu berubah dengan sikap huzaifi yang dingin.


"apaan sih? ngapain aku mikirin itu? udah jelas itu semua adalah akting dia, kenapa aku terbawa suasana?" seketika nara duduk karena memikirkan akting huzaifi yang begitu baik hingga seakan tidak ada celah.


"Sebaiknya aku fokus dengan hidupku kedepannya" nara bangkit dari kasur untuk menukar pakaian dan menghapus makeup hingga bersih.


Setelah selesai nara keluar dari kamarnya tanpa menggunakan hijabnya, tanpa ragu nara duduk dihadapan huzaifi, melihat nara yang tidak memakai hijabnya membuat huzaifi terpesona, walaupun hanya menggunakan pakaian tidur namun terlihat cantik ketika rambut panjang nara tergerai bebas.


"kamu tidak memakai hijab?"


"nggak, lagian kita udah nikah, hal yang wajar kalau aku nggak memakai hijab didepan suamiku sendiri" tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran nara berkata demikian, namun huzaifi mendengar kata suami membuatnya masih belum siap untuk kehidupan sebagai pasangan hidup.


"baiklah langsung saja, pertama, seperti yang kita sepakati, kita tidur dengan kamar terpisah, jika papah dan mamah datang kita harus akting layaknya pasangan suami istri, kedua, jangan pernah sentuh barang pribadi saya, apapun itu, ketiga, kita makan masing-masing dan kamu tidak perlu menunggu saya untuk makan malam atau sarapan"


Nara menghela nafas panjang lalu menatap huzaifi dengan tersenyum tipis.


"nggak masalah saya terima persyaratan itu, syarat dari saya pertama, jangan ikat kebebasan saya, kedua, jangan pernah ikut campur urusan pribadi saya, ketiga, seperti yang diperjanjian waktu itu, saya masih sekolah saya ingin disekolahkan hingga sarjan"


Keduanya saling menatap satu sama lain dan menyetujui persyaratan yang telah diajukan, setelah selesai tanda tangan surat perjanjian, nara pergi masuk kamar untuk beristirahat.


Adetra duduk terdiam ditepi kolam renang, adetra merasa kesepian tanpa ada terdengar suara nara.


"Kamu kenapa sayang?" mamah menghampiri adetra yang menyendiri.


"Nggak ada mah, sepi aja nggak ada kak nara, biasanya aku selalu barengan kak nara"


"kamu nggak boleh seperti itu, mereka udah menikah, udah sewajarnya mereka tinggal bersama, dengan seperti itu mereka akan saling jatuh cinta"


"ya, mamah ada benarnya juga" dengan tersenyum, adetra berharap suatu hari nanti kakaknya akan mencintai nara dengan setulus hati.

__ADS_1


__ADS_2