Istri Tangguhku Adalah Sahabat Adikku

Istri Tangguhku Adalah Sahabat Adikku
eps 19


__ADS_3

Satu jam berlalu, dua jam terus berjalan, sudah saatnya untuk sholat ashar, riandy memutuskan untuk sholat terlebih dahulu.


Pak Suparman dan pak suherman keluar dan menghampiri mobilnya, namun mobil terkunci hingga mereka menunggu riandy, tidak lama kemudian riandy tiba.


"Maaf pak saya pergi ke masjid sebentar"


"Tidak masalah, saya fikri kamu telah pergi"


"Tidak pak Suparman, saya tidak mungkin pergi apalagi kunci mobil masih sama saya, lagi pula dimobil begitu banyak berkas-berkas penting, tidak mungkin saya tinggalkan begitu saja" kedua pria paruh baya itu saling memandang dan tersenyum.


"Besok kamu datang keperusahaan A, temui saya"


"a... udah apa pak?" dengan polosnya.


"Tentu untuk bekerja, temui saya dan kamu akan mengetahui pekerjaan kamu nanti" ucapan pak Suparman


"Sungguh pak?" tidak percaya.


"Ya" sambil menganggukkan kepalanya.


"Terimakasih pak" sepontan riandy mencium tangan pak Suparman dan pak suherman.


"Pulanglah, besok jangan sampai telat"


"Baik pak" riandy pulang dengan bahagia, walaupun dirinya belum mengetahui bekerja sebagai apa.


Keesokan harinya, riandy telah rapi dengan pakaiannya dan telah siap untuk bertemu dengan pak Suparman, dengan didampingi seorang karyawan menuju ruang pak Suparman.


"Pak ada yang ingin bertemu" seorang karyawan masuk.


"Persilahkan dia masuk"


"Baik pak"


Riandy masuk keruangan terlihat pak Suparman yang sibuk dengan pekerjaannya. "Oh kamu sudah datang, silahkan duduk"


"Terimakasih pak"


"Langsung aja, hari ini kamu mulai bekerja sebagai sekretaris saya, kamu yang akan mengatur jadwal saya, dari rapat, pertemuan dengan klayen dan sebagainya" sesaat riandy terdiam tidak percaya.

__ADS_1


"Sebagai sekretaris pak?" Memastikan


"Ya, saya mempercayai kamu sebagai sekretaris dan jangan kamu abaikan kepercayaan saya!" Tegasnya


"Baik pak, saya tidak akan mengecewakan anda" dengan percaya diri.


Namun riandy fokus dengan foto yang diatas meja, terlihat dua foto yang berbeda namun tetap ada pak Suparman disana.


"Ini foto putra anda pak? dia sangat tampan" terlihat seorang anak laki-laki yang tampan dan berwibawa walaupun masih kecil, disisi lain seorang anak perempuan yang anggun dan ceria.


"Ya, dia putra saya anak pertama saya, ibunya meninggal disaat dia masih SMP kelas VII, saya memutuskan untuk menikah lagi berharap dia mendapatkan kasih sayang seorang ibu, namun dia pergi dari rumah dan memilih tinggal dengan neneknya, dan ini putri saya, dia anak yang ceria" menatap kedua foto tersebut dengan penuh sebuah harapan.


"Apa anda tidak ingin menyatukan kedua kakak beradik ini pak?"


"Ingin, tapi itu tidak semudah itu, rifaldi anak yang pendiam dan dingin, saya takut mereka tidak bisa bersatu seperti minyak dengan air". Riandy hanya diam melihat atasannya yang merindukan putranya.


Nara menunduk terdiam dengan cerita riandy, air matanya mengalir mengetahui papahnya menyembunyikan semua darinya.


"Orang yang kamu cari adalah rifaldi, yang datang keruangan tadi pagi" nara mengangkat kepalanya dengan terkejut.


"Laki-laki tampan dan dingin tadi adalah kakak ku?" tidak percaya namun hatinya sedikit bahagia.


"Terimakasih" dengan perasaan bahagia.


"Aturlah janji dengan pekerjaan, karena dia tidak mudah untuk ditemui, dia menyukai seni, seperti lukisan atau Kreativitas seperti kerajinan tangan"


"Terimakasih, kamu telah membantu saya"


"Saya hanya bisa membantu sampai sini, ini nomor sekretaris rifaldi namanya bara, kamu bisa menghubunginya" memberikan nomor handphone bara.


"Sekali lagi terimakasih" dengan tersenyum bahagia


Melihat nara dengan pria lain membuat huzaifi seakan tidak bisa merelakan nara untuk hidup dengan pria lain, huzaifi semakin merasa aneh dengan dirinya sendiri, tidak seperti biasanya dirinya merasa kecewa hanya karena melihat nara bersama dengan pria lain.


"Jika dilihat-lihat, sepertinya anda sedang cemburu pak, apa anda tidak menyadari itu?" huzaifi menatap sekretaris hans yang hanya tersenyum.


"Laporan yang saya minta sudah selesai?" dengan tatapan dingin.


"Tentu sudah saya selesaikan" sekretaris hans memberikan laporan yang telah disiapkan sebelumnya.

__ADS_1


"Pak, bukankah anda telah menikah? artinya anda telah menemukan masa depan yang baru, jika anda seperti ini terus anda akan kehilangannya, jangan bohongin perasaan anda pak" huzaifi menghentikan kesibukannya sejenak.


"Hans, ini kantor, bisakah kamu membicarakan pekerjaan saja?"


"Oke sepertinya kita bisa mengobrol seperti teman, mau sampai kapan kamu mau seperti ini? lihat hatimu yang paling dalam, terlihat jelas kamu cemburu melihat nara dengan pria lain, bukan alasan jika hanya menolong nara yang kesulitan hingga kamu memutuskan untuk sebuah pernikahan" sekretaris hans berusaha membuka hati huzaifi untuk melihat kenyataan.


"Kamu bukan huzaifi yang saya kenal, kamu akan hawatir jika menyangkut nara, kamu segera meninggalkan pekerjaan jika menyangkut nara, kamu akan menunda rapat penting hanya untuk nara, mau sampai kapan kamu melihat kebelakang? tetap diam ditempat kamu menunggu tiara, cobalah lihat kedepan, berlari kemasan depan, raih tangannya yang ada didepanmu" perkataan sekretaris hans membuat huzaifi terbayang wajah nara yang ketakutan dalam kegelapan, perubahan nara yang dingin untuknya membuat hatinya terasa sakit.


"Silahkan jika anda ingin memecat saya, setidaknya saya telah mengatakan isi hati saya agar anda bisa melihat kenyataan, bukan angan-angan" sekretaris hans keluar dari ruangan huzaifi.


Rifaldi masih memikirkan cara untuk mendekati nara dan perlahan memberi tahu identitas dirinya kepada nara.


"Rifaldi, ada pesan WhatsApp dari nara" rifaldi melihat pesan yang ditunjukkan bara.


"Dia ingin belajar melukis?" Dengan ragu.


"Bukankah ini kesempatan bagus untuk kamu, ini saatnya kamu mendekatinya, seiring waktu kamu dan nara bisa memahami kesulitan kalian masing-masing."


"Beri alamat studio lukis kita"


"Oke" bara membalas pesannya dan memberi alamat studio mereka.


Melihat pesatnya langsung direspon membuat nara bahagia, nara mengirim pesan ke nomor asing yang belum diketahuinya.


"Bisakah kita bertemu?" dengan penuh harapan orang asing tersebut bisa ditemui.


"Maaf, untuk saat ini saya sedang sibuk, jika tiba saatnya kita akan bertemu" melihat balas pesan tersebut membuat nara kecewa.


"Boleh saya tau siapa nama kamu?"


"Namaku rifal, kamu bisa memanggil ku kakak, karena aku jauh tua dari kamu" untuk pertama kalinya orang asing memintanya untuk memanggil kakak.


"Baiklah, aku akan memanggil mu kakak, dan terimakasih kamu telah membantu ku"


"Tak perlu berterimakasih, ini sudah seharusnya ku lakukan sejak awal"


Melihat jawab rifal membuat nara penuh tanya, siapa sebenarnya rifal tersebut, dari mana dia mendapatkan informasi tentang dirinya, dan siapa orang dalam disekolahnya, sehingga dia bisa masuk kedalam grup angkatan sedangkan dirinya tidak ada didalam grup tersebut.


Adetra sedang menunggu reyhan yang akan datang menemuinya, namun reyhan belum juga datang. "kok dia belum datang? padahal udah seharusnya sampai" adetra masih menunggu reyhan yang nggak kunjung datang.

__ADS_1


__ADS_2