
Rayan pulang lebih cepat dari biasanya. Ia turun, setelah mobil terparkir di garasinya.
"Nur, aku pulang," panggilnya, dengan meregangkan dasi yang Ia pakai.
"Hey, sayang. Kau sudah pulang?" sambut Mami Bian pada putranya.
"Ya, Nur mana?" tanya Rayan. Mami Bian pun mengecap kesal, karena selalu saja Aida yang ada dalam fikiran nya.
"Tidur." jawabnya jutek. "Dia sedang menikmati menjadi Nyonya rumah ini. Duduk, makan, dan tidur. Semua hanya tinggal memerintah pelayan."
"Ya, sebelum ini, Nur bahkan menjadi tulang punggung untuk Ray. Mencari uang untuk Rayan agar dapat pengobatan yang layak." bela Rayan pada Istrinya. Tak banyak bicara lagi, Ia pun segera naik ke atas menemui sang Istri.
Pintu kamar Ia buka. Aida tengah begitu nyenyak di ranjangnya. Tampak begitu cantik bagi Rayan, yang menatapnya tanpa mengedipkan mata. Ia membuka kancing lengan dan melonggarkan bagian leher jasnya, lalu naik merangkak menghampiri sang istri.
__ADS_1
Kecupan demi kecupan lembut mendarat di bibir tipis itu. Tak hanya di bibie, tapi juga di kening. Aida menggeliat, lalu membuka matanya menatap Rayan yang telah berada di atasnya.
"Udah pulang? Kok ngga bangunin Aida?" tanya nya lembut. Telapak tangan nya pun mengusap wajah Rayan. Wajah yang semakin bersih dibandingkan ketika bersama nya dulu.
"Hmmmh, wangi." pujinya, menciuum pipi Rayan sedikit.
Rayan tak menjawab. Ia justru menarik selimut yang tadinya hanya sebatas pinggang Aida, hingga menutupi lehernya. Tuubuhnya sendiri pun Ia turunkan, merayap tenggelam mencari bagian yang paling Ia sukai ditubuuh indah itu. Aida menggeliat, ketika terasa bahwa Rayan mulai menyesap setiap inci tubuhnya, hingga beberapa lama bergulat disana.
Aida mulai sigap membuka satu persatu kancing kemeja suaminya. Ray pun melakukan hal yang sama. Entah hanya perasaan nya saja, atau memang tubuh Aida terasa semakin menggemaskan dan menjadi candu untuknya. Apalagi, kedua anak kembar yang selalu menjadi pavoritnya itu.
Rayan terus saja bergerilya disana. Ia masih mendominasi sang istri dalam kungkungan nya. Aida hanya membalas, ketika Ray menghampiri bibirnya dengan begitu gemas. Saling membeliit lidah dan bertukar salivaa dengan indah. Sesekali Ia melentik kan tubuhnya, agar Ray semakin dapat menguasai dirinya.
Desaahan Aida semakin kuat, apalagi ketika Ray mulai menyatukan keduanya. Ia mengecupi kaaki mulus Aida yang Ia angkat ke pundaknya. Rintiihan hangat dan begitu merdu, semakin menggairahkan di sertai segala aktifitas Ray di syurganya itu.
__ADS_1
"Tatap aku, Nur." pintanya, mengusap bibir Aida yang memerah alami karena gigitan nya sendiri.
Ya, Aida menatapnya dengan tajam. Dengan senyuman manisnya dan merangkulkan kedua tangan nya di leher Rayan yang telah menguasai Ia sepenuhnya saat ini.
Rayan kemudian mengangkat tubuh Aida, membawanya kedalam pangkuan nya. Aida tak melepas pelukan nya sama sekali, justru malah menekan kepala Rayan yang bergerilya memainkan lidah pada si kembar dengan begitu bebas. Sementara, Ia sendiri tengah aktif dengan penyatuan mereka.
"Kau bebas bersuara disini. Tak akan ada yang mendengarmu," bisik Ray padanya. Sementara tangan nya di pinggul Aida, mendorongnya agar bergerak dengan lebih cepat.
Dan terang saja, Aida mengeraang dengan kuat. Merengkuh tengkuk Ray agar semakin dekat dengan nya. Ray sendiri ingin berteriak, tapi ia sumpal dengan benda yang ada di hadapannya itu.
Mereka melepaskan bersama, dengan tubuh penuh peluh dan keringat. Meski sebenarnya, Ac menyala dengan begitu dingin.
Aida menghela nafas panjang, tubuhnya ambruk memeluk Ray yang masih bersandar di bahu ranjang mereka. Kecupan lembut kembali Ray berikan di ceruk leher Aida. Tapi, kali ini Ia tak mau meninggalkan tandanya disana.
__ADS_1